Kau adalah milikku. Jika aku tidak mendapatkannya, maka tidak siapa pun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BumbleBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kacau
“Lepaskan aku!” Megan meronta, berusaha melepaskan diri. Tapi semakin ia berusaha, semakin kuat Luna menarik rambutnya.
“Kenapa kau kembali? Untuk memamerkan perubahanmu? Katakan, apa Pax menggila?”
“Apa yang kau katakan, dan lepaskan rambutku, Luna!”
Luna menyeringai iblis, melepaskan jambakannya lalu mendorong tubuh Megan hingga membentur dinding. “Kau tahu bahwa aku tidak pernah menyukaimu.”
“Aku juga demikian,” Megan mengusap bahunya yang terasa sakit akibat benturan di dinding.
“Dan sejak kapan mulutmu jadi pintar menjawab,” Luna kembali menyerang dengan mencengkram wajah Megan, hingga kuku panjangnya melukai wajah mulus Megan hingga mengeluarkan darah.
"Agh! Kau keterlaluan, Luna!"
***
“Kenapa kalian berdua harus ikut?” gerutu Paula kepada kedua saudaranya yang mengekor dengan santai di belakangnya dan juga Alena.
“Aku lapar,” sahut Pax enteng, matanya tidak bisa lepas dari Alena yang sudah kembali mengumpulkan nyawanya sepenuhnya dan kembali cuek seperti biasa.
“Dan kau?” Paula menoleh pada Pollux.
“Menemani Pax,” sahutnya tidak kalah lempeng.
“Dan di mana Megan?” kembali Paula mencoba menghubungi Megan dan panggilannya diabaikan bahkan setelah dua kali.
“Aku ke toilet sebentar,” pamit Alena, walau pun ia terlihat tenang, tapi percayalah ia bisa merasakan tatapan Pax yang menghujam ke arahnya. Ia butuh ruang untuk sesaat.
“Baiklah, kami akan menunggu di sini,” Paula duduk di kursi yang ditarik Pax khusus untukknya.
“Kalian di sini?”
Triplets kompak menoleh ke sumber suara. Aaron berdiri tidak jauh dari mereka. Ia milirikkan matanya sekilas kepada Paula, ini adalah pertemuan pertama mereka sejak malam itu.
“Kau sedang berkencan?” tanya Pax, sembari menolehkan kepalanya ke kiri ke kanan untuk mencari kekasih sepupunya itu.
Alih-alih menjawab, ia justru menarik napas dalam, “Baiklah, aku permisi,” ia masih sempat mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala Paula yang dari tadi enggan untuk melihatnya. “Selamat bersenang-senang, princess.” Ia pun segera berlalu.
Dengan langkah cepat, Aaron berjalan menuju toilet wanita, dan ia semakin mempercepat langkahnya begitu mendengar pekikan dari dalam toilet. Aaron membelalakkan matanya, Luna dengan seorang wanita sedang bergulat di lantai. Megan berusah melerai keduanya, dan pekikan itu berasal dari mulut wanita itu.
“Apa-apaan ini,” suara Aaron membuat ketiga wanita itu menatap ke arahnya. Luna yang kebetulan berada dalam kuasa Alena, dengan segera bertindak sebagai korban. Ia menangis, dan Aaron segera menarik Alena agar menyingkir dari atas tubuh Luna.
Megan membantu Alena merapikan rambut, dan juga pakaiannya yang kancing kemejanya sudah berhamburan entah ke mana. Untung saja Alena mengenakan tank top di dalamnya.
“Aaron,” Luna segera memeluk Aaron, membenamkan wajahnya di dada pria itu.
“Apa yang terjadi, Meg?” tanya Aaron dengan melayangkan tatapan pada Alena dan Megan secara bergantian.
“Luna menyerangku, Kak, dan Alena membantuku...”
“Bohong,” tangis Luna, “Dia berbohong, Aaron. Lihatlah wajahku, ada bekas tamparan, bukan?”
“Kau juga menancapkan kukumu di wajah Megan, kampret!” tuding Alena. “Apa kau kekasihnya?” Alena berpaling menatap Aaron. “Saranku, berhati-hatilah terhadap kekasihmu, dia bisa menyerang kapan saja dan aku sudah dua kali melihatnya. Sepertinya kekasihmu sedikit tidak waras.”
“Kau yang gila, sialan!” Luna tiba-tiba menerjang Alena hingga keduanya kembali terjatuh. "Kau muncul tiba-tiba dan menyerangku!"
"Hal yang sama kau lakukan pada Megan." Alena menyerang balik. Tidak membiarkan kuku Luna melukai wajahnya.
"Aku tidak akan memaafkanmu, brengsek!"
"Kebetulan aku tidak tertarik untuk meminta maaf."
Aaron berusaha melerai keduanya, tapi Alena justru menendangnya dan itu terjadi beberapa kali. Ponsel Megan berbunyi, panggilan dari Paula, dengan segera ia meminta Paula datang dengan memanggilkan security.
Alih-alih membawa security, Paula justru membawa Pax dan Pollux dan sama seperti Aaron ketiganya terbelalak kaget.
Melihat Aaron yang kewalahan melerai keduanya, Pollux dengan sigap menghampiri. Bernasib sama seperti Aaron, Pollux juga mendapatkan tendangan maut dari Alena. Kedua pria itu terjatuh.
Alena dan Luna kembali berguling-guling, dan kini Luna berada di atas tubuh Alena, menjambak rambut wanita itu.
“Luna, hentikan!”
Dua kata bernada dingin itu ternyata mampu menghentikan Luna. Wanita itu mendongak, melihat Pax sudah berdiri di sana dengan wajah jengah.
Melihat Luna yang menghentikan kegilaannya, Alena pun tidak menyerang lagi. Pollux mendekati, membantunya untuk berdiri.
“Kau baik-baik saja?” tanya Pollux dengan nada khawatir.
Alena mengangguk, “Megan terluka,” ucapnya seraya menoleh ke arah Megan, terlihat Pax sedang membersihkan darah di wajah gadis itu.
Plak!
Bunyi tamparan membuat Pax, Pollux, Alena, dan Megan kompak menoleh.
“Paula!” sentak Aaron.
“Jangan membentaknya, sialan!!” Pax dan Pollux kompak menatap sengit ke arah kakak sepupu mereka. Aaron mengusap wajahnya kasar. Jika sudah seperti ini, ia tidak tahu harus berbuat apa.
“Kenapa kau menamparku?” lirih Luna dengan cucuran air mata.
“Kenapa? Pertanyaan bodoh macam apa itu. Harusnya aku yang bertanya kenapa kau selalu membuat kekacauan, dan kenapa kenapa kau harus melukai teman-temanku?” amuk Paula.
Luna tersenyum getir, “Teman-temanmu juga melukaiku, dan teman-temanmu yang terluka itu juga masih hidup. Lalu bagaimana denganku?”
“Luna, hentikan,” Aaron menarik Luna ke dalam pelukannya. “Sebaiknya kita pergi,” Aaron menuntun Luna untuk ke luar dari dalam toilet.
“Kenapa, Aaron?” lirihan Paula membuat langkah Aaron terhenti. “Kenapa selalu membelanya?”
“Karena kau seorang pembunuh!” sambar Luna.
“Perhatikan ucapanmu!” Desis Pax sembari melangkah cepat ke arah Paula.
“Kenyataannya memang begitu, dia berusaha untuk membakarku, Ayahku yang malang justru berusaha menyelamatkannya.”
“Luna, hentikan. Aku mohon!” Aaron mulai panik, Alena terlihat bingung, sementara Megan tidak tahu harus berbuat apa. Situasi jadi kacau.
"DIA MEMANG PEMBUNUH. GADIS MANJA YANG TIDAK BOLEH SALAH. KEMBALIKAN AYAHKU!!"
Paula tiba-tiba histeris, ia terduduk, menutup kedua telinganya. Dadanya mulai sesak, seakan ia memang berada di tengah-tengah kobaran api. Pax dan Pollux berusaha menenangkannya. Tidak berhasil, napas Paula mulai memburu. Tidak tahan melihat keadaan Paula, Pax berdiri, menatap tajam ke arah Luna seakan siap untuk membunuhnya. Dengan langkah cepat Pax menghampiri Luna.
“Api... api... api itu membakar tubuh ayahku hidup-hidup, kau membuatku sebatang kara.”
“Luna, aku mohon, Luna, hentikan ini.” Mohon Aaron dengan sangat.
Pax yang sudah berdiri di hadapannya, siap melayangkan tamparannya.
Brak!
Sebelum tamparan itu mengenai wajah Luna, Pax ambruk. Pria itu pingsan, begitu juga dengan Paula dan Pollux.
Alena dan Megan terpekik, tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Triplets pingsan tidak sadarkan diri.
Aaron menarik napas panjang, tubuhnya meluruh ke lantai, dengan kepala tertunduk, ia menahan segala emosi yang berkecamuk di hatinya.
“Haruskah aku membunuhmu, Luna” lirihnya.