Dibuang dan dicap sebagai ancaman oleh militer korup karena membangkitkan Morthas—Malaikat Maut Kelas Misterius yang arogan dan ditakuti sejarah—Kael Ardyn diselamatkannya oleh guild terlarang di luar dinding peradaban. Bersama tiga jiwa abnormal lainnya, Kael harus melatih ranah jiwanya di Lapisan Kedua yang mematikan. Ini adalah kisah persekutuan empat jiwa yang siap mengguncang hukum dunia yang korup!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RITUAL SINKRONISASI JIWA
BAB 6: RITUAL SINKRONISASI JIWA
Kael mengepalkan kedua tangannya erat-erat.
Ujung jarinya memutih, menahan beban kenyataan yang baru saja dihantamkan ke dalam benaknya.
Ia menatap telapak tangannya sendiri yang masih diselimuti garis-garis tipis memar spiritual. Kael sadar sepenuhnya bahwa dirinya terlalu lemah saat ini.
Di hadapan ekosistem raksasa penuh intrik dan ancaman miliaran Beast ciptaan Vitallion di luar sana, statusnya tak lebih dari sebutir debu.
Namun, didikan keras militer yang mengalir di darahnya menolak untuk membiarkan Kael tenggelam dalam keputusasaan.
Ia mengerti betul bahwa di dunia ini tidak pernah ada jalan pintas untuk menjadi kuat.
Jika ingin mengendalikan Morthas tanpa membiarkan jiwanya hancur terkoyak, Kael harus belajar. Ia perlu memahami kekuatan berbasis konsep abstrak itu dengan keringat dan usahanya sendiri.
Kael mengalihkan pandangannya, menatap lurus ke arah Elena.
Tatapan matanya yang semula dingin melunak menjadi pancaran ketulusan yang jarang ia perlihatkan.
"Terima kasih, Elena. Sekarang aku sudah mengerti banyak hal," ucap Kael tulus.
Mendengar ucapan terima kasih itu, tubuh Elena sempat menegang selama satu detik. Rona merah samar mendadak muncul di ujung telinganya.
Namun, sedetik kemudian, garis wajahnya kembali mengeras, menutupi kecanggungannya dengan topeng keangkuhan yang biasa.
Gadis itu mendengus keras, melipat tangannya di dada seiring aliran aura api tipis yang bergolak di sekitar jubah abunya.
"Untuk apa kau berterima kasih padaku?" sahut Elena dengan nada ketus yang sengaja dibuat-buat.
Ia memberikan jeda panjang, lalu melanjutkan dengan penekanan berat pada satu kata tertentu,
"Aku di sini bertindak sebagai... Se...ni...or...mu!"
"Jadi, sudah menjadi kewajiban mutlak bagiku untuk memberi tahu aturan dasar dunia ini kepada anak baru yang merepotkan sepertimu," tambah Elena.
Tanpa menunggu balasan dari Kael, Elena berbalik dengan hentakan kaki yang anggun.
Ia berjalan cepat ke arah tepi beton lapangan tempat Hugo sedang sibuk memeras sisa-sisa air dari jubah tambunnya.
Hugo yang menyadari langkah kaki penuh ancaman itu langsung mendongak, menatap Elena dengan mata bulatnya yang polos sekaligus ngeri.
"Kenapa kau melihat-lihatku seperti itu, Hugo?" semprot Elena, matanya menyipit tajam menatap pemuda gemuk itu.
"Apa kau belum puas berenang? Atau kau memang sengaja ingin membuat jubahmu hangus dan berubah menjadi mammoth bakar lagi hari ini, hah?!"
"Eh! Ti-tidak, Elena! Ampun!" seru Hugo panik.
"Aku cuma sedang mencari tanaman air yang menyangkut di rambutku kok!"
Ia buru-buru bangkit dan berlari menjauh dengan gerakan zig-zag yang menggelikan, membuat Ren yang baru selesai berlatih tertawa terpingkal-pingkal di ujung arena.
Setelah momen penuh tawa dan ketegangan ringan itu berlalu, Hugo dan Ren kembali memandu Kael untuk melanjutkan langkah mereka mengitari seluruh sudut markas Guild Scar Horizon.
Mereka menyusuri barak-barak latihan dari pahatan batu gunung murni, gudang penyimpanan logistik zirah purba, hingga menara pengawas tinggi yang berbatasan langsung dengan kabut kelam Lapisan Kedua.
Sepanjang perjalanan, sepasang mata Kael merekam setiap interaksi di sekitarnya.
Para anggota guild saling melempar ejekan kasar, berbagi jatah roti gandum tanpa sekat kasta, dan tertawa bersama di tengah kepungan dunia luar yang mengerikan.
Di tempat ini, Kael merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan selama hidup di bawah belenggu dingin Kerajaan Barat—rasa hangat yang asing namun menenangkan.
Ini bukan sekadar organisasi pemberontak atau markas militer bayaran. Ini adalah sebuah rumah. Tempat di mana ada teman, keluarga, dan titik tujuan untuknya pulang setelah pertempuran usai.
Rasa hangat itu tertanam kuat di hatinya ketika malam tiba dan Kael kembali melangkah masuk ke dalam kamar batunya.
Suasana kabin kembali hening.
Kael duduk bersila di atas ranjang kayu, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan gejolak pikirannya.
Ia merogoh kantong kecil di pinggangnya, mengeluarkan sebutir Kristal Inti Beast yang memancarkan pendaran cahaya perak kebiruan yang murni.
Kael memejamkan mata. Detak jantungnya melambat seiring mulainya ia memicu teknik meditasi jiwa.
Perlahan, energi murni dari kristal di genggamannya mengalir masuk melalui pori-pori kulit, merayap menyusuri pembuluh darah spiritual menuju pusat Ranah Jiwanya.
Kael memfokuskan seluruh kesadarannya untuk menambal, memperkokoh, dan mempertebal dinding wadah jiwanya yang sempat retak akibat tekanan sabit Morthas.
Detik demi detik berganti menjadi menit. Menit melesat menjadi jam.
Kael tenggelam begitu dalam ke keheningan meditasi spiritualnya, mengabaikan pergantian siang dan malam di dunia nyata.
Waktu terus mengalir secara organik hingga tanpa terasa, tiga hari penuh telah berlalu dalam satu tarikan napas batin yang panjang.
Pada hari ketiga meditasi, Kael perlahan membuka sepasang kelopak matanya.
Embusan napas tipis keluar dari bibirnya, menciptakan riak udara kecil di dalam kamar. Manik matanya berkilat lebih jernih dan tajam dari sebelumnya.
Ia mengepalkan tangan dan tersenyum tipis.
Wadah jiwa Ranah Perunggu miliknya kini berada di tingkat stabilitas yang sangat kokoh. Fondasinya tidak lagi goyah; retakan-retakan spiritual itu telah menutup sempurna, siap menahan benturan energi yang lebih besar.
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pintu yang berat dan teratur memecah keheningan kabin.
Kael bangkit dari ranjang, merapikan jubah abunya yang bersih sebelum membuka pintu.
Di depan pintu, berdiri salah satu instruktur senior guild dengan ekspresi sangat serius. Instruktur itu menatapnya dengan pandangan takjub.
"Luar biasa. Tiga hari penuh kau tidak bergerak sama sekali dari posisimu," puji sang instruktur.
"Jika dihitung sejak hari pertamamu tiba di markas ini dalam kondisi koma, hari ini tepat adalah hari ketujuh jiwamu berada di tempat ini."
"Hari ketujuh..." gumam Kael pelan, menyadari betapa cepatnya waktu berlalu ketika seseorang tenggelam dalam ranah spiritual.
"Benar. Dan Grand Master Alden memanggilmu untuk segera datang ke Aula Altar utama sekarang juga," lanjut sang instruktur, nadanya berubah formal.
"Para tetua dan beberapa petinggi senior Guild Scar Horizon sudah menunggu di sana."
Mendengar kata 'altar', dada Kael berdesir tajam. Ia tahu persis arti panggilan ini. Inilah saatnya.
Tepat di hari ketujuh ini, menjadi waktu yang dijadwalkan untuk ritual kebangkitan dan sinkronisasi dengan Morthas.
Saat insiden berdarah di altar Kerajaan Barat seminggu lalu, Kael langsung jatuh koma dan belum sempat menjalin komunikasi batin ataupun mengikat kontrak darah yang sah dengan entitas di dalam dirinya.
Hari ini, di tempat yang baru, ia harus menuntaskan apa yang telah dimulai.
Kael melangkah keluar kamar, berjalan dengan ritme kaki yang mantap menyusuri koridor batu yang panjang menuju aula utama.
Di sepanjang jalan, atmosfer markas terasa sedikit berbeda, lebih sunyi namun penuh antisipasi.
Saat melewati koridor luar lapangan, Kael melihat Hugo yang berdiri di dekat pilar batu besar.
Pemuda gemuk itu tidak berani mendekat karena ketatnya penjagaan, namun ia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, memberikan acungan jempol mantap dengan senyuman lebar.
Tak jauh dari sana, berdiri Elena yang sedang bersandar pada pembatas dinding batu.
Sejak Kael muncul di ujung koridor, sepasang mata merah menyala milik gadis itu terus memperhatikan langkah Kael tanpa berkedip.
Namun, begitu Kael menoleh dan membalas tatapannya, Elena dengan gerakan cepat langsung membuang muka, berpura-pura sibuk menatap formasi awan hitam di langit luar dinding.
Kael hanya tersesenyum tipis di dalam hati melihat tingkah seniornya itu.
Sementara itu, di ujung arena latihan bawah, suara hantaman keras masih terdengar. Ren si rambut merah, seperti biasa, sedang berada dalam mode gilanya untuk berlatih.
Pemuda itu melompat mundur dari hantaman gada kayu seorang senior berperingkat Perak.
Wajah Ren dipenuhi lebam dan tubuhnya bercucuran keringat, berakhir menjadi samsak hidup demi menaikkan batas Ranah Perunggunya, namun matanya tetap menyala penuh gairah bertarung.
Langkah kaki Kael akhirnya membawanya tiba di depan sepasang pintu ganda besi purba yang besar.
Dengan sekali dorongan dari penjaga, pintu itu terbuka, memperlihatkan sebuah aula melingkar yang sangat luas.
Di bagian tengah ruangan, terdapat sebuah formasi altar batu kuno yang dikelilingi oleh ukiran simbol-simbol pelindung spiritual yang rumit.
Di sekeliling aula, duduk beberapa pria dan wanita paruh baya dengan jubah abu-abu gelap berlapis zirah ringan—para petinggi dan tetua Scar Horizon yang memancarkan tekanan aura Ranah Emas yang pekat.
Di ujung altar, Grand Master Alden berdiri tegak dengan tongkat kayu berkepala kristal di tangannya.
Begitu melihat Kael masuk, sang Master langsung melangkah maju, membuat seluruh ruangan seketika hening tanpa suara.
"Kau sudah datang, Kael. Apakah wadah jiwamu sudah siap?" tanya Grand Master Alden, suaranya bergaung berat menembus setiap sudut atap aula.
Tatapan mata tuanya tampak sangat serius, tanpa ada lagi sisa kekehan ramah seperti hari-hari sebelumnya.
"Ingat kata-kataku kemarin. Makhluk dari Kelas Misterius tidak akan pernah mudah untuk diajak bicara. Mereka adalah ego dari hukum alam itu sendiri."
Grand Master Alden menambahkan dengan penekanan, "Kau harus menundukkan kesombongannya dengan keteguhan jiwamu, atau kau yang akan terseret masuk ke dalam kegelapan abadi mereka."
Kael berjalan dengan langkah konstan, menaiki anak tangga altar satu demi satu hingga akhirnya berdiri tepat di titik pusat formasi lingkaran purba tersebut.
Angin spiritual yang dingin mendadak berembus dari bawah kakinya, memainkan ujung rambut dan jubah abunya.
Kael tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjawab pertanyaan sang Master. Ia tidak membutuhkan banyak bicara lagi hari ini.
Di dalam ruang gelap hati dan pikirannya, Kael sudah menetapkan keputusan mutlak sejak melangkah keluar dari kamar.
Ia memejamkan mata, memicu aliran energi wadah jiwanya yang telah sekokoh baja, bersiap menarik kesadarannya turun ke dalam dimensi terdalam untuk menemui Morthas