Selama dua tahun Luna Inara Jasmine hidup dalam kebohongan sang suami, Raka Alvaro Mahendra. Sang suami mengatakan jika dirinya impoten.
Namun suatu hari Luna justru mengetahui kenyataan pahit jika sang suami sebenarnya tidak impoten dan memiliki hubungan bahkan anak dari wanita lain.
Bagaimana kisah mereka? Yuk lanjut baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepercayaan yang Mulai Runtuh
"Katakan sejujurnya atau aku akan membuatmu merasa malu!" ucap Luna.
PLAK!
"Cukup, Luna!"
Tamparan dan teriakan Raka menggema di seluruh ruangan ballroom. Semua orang terkejut, sebagian menutup mulutnya, tidak percaya dengan tindakan Raka. Ada pula yang membenarkan tindakan Raka karena menganggap Luna sudah keterlaluan.
Sementara itu, Luna terdiam. Ia nampak sangat terkejut dengan tindakan Raka yang tanpa peringatan menampar wajahnya. Rasa sakit langsung menjalar ke seluruh tubuhnya, bukan hanya di pipinya saja. Luna tidak percaya jika sang suami tega menampar dirinya demi membela wanita lain.
Dadanya terasa sesak seperti terhimpit bebatuan besar. Mata Luna memanas, bahkan sudah dipenuhi oleh cairan bening. Bisa dipastikan dalam sekali kedipan cairan bening itu akan lolos dari matanya.
Beberapa saat kemudian, tangan Luna perlahan menyentuh pipinya yang terasa panas.
Dia menamparku untuk membela wanita lain?
Luna memejamkan matanya. Pada saat yang bersamaan tetesan cairan bening keluar dari matanya, jatuh dan langsung membanjiri pipinya.
Ini sudah kesekian kalinya Raka membela Vanessa dari pada dirinya, membuatnya yakin jika suami dan sahabatnya itu memiliki hubungan yang lebih dari sekedar rekan kerja.
"Luna." Arumi naik ke atas panggung untuk memberikan dukungan pada sahabatnya itu. "Luna … kamu baik-baik saja?"
Luna mengangguk lantas menatap Raka dengan matanya yang basah. Tatapannya dingin, tetapi terlihat dengan jelas ada kekecewaan di sana.
"Kamu tega menampar aku demi wanita lain?" tanya Luna. Nada bicaranya menunjukan jika dirinya sangat kecewa. "Kamu membela wanita ini lagi?"
"Ini karena kamu sudah keterlaluan, Luna," ucap Raka.
"Aku keterlaluan?" Luna menunjuk dirinya sendiri. "Dia yang sudah mencuri desainku."
"Kamu jangan mengarang cerita," ucap Raka. "Sejak kapan kamu bisa membuat desain."
"Aku sudah sering menunjukkannya padamu," ucap Luna. "Tapi kamu tidak mau melihatnya meski itu hanya sebentar."
"Kamu pikir aku percaya," ucap Raka. "Kamu bahkan tidak lulus kuliah."
Luna seketika terdiam. Ucapan Raka seperti anak panah yang melesat cepat dan menancap tepat di jantungnya membuat rasa sakit di hatinya bertambah dan tidak bisa dilukiskan dengan apa pun.
"Pak Raka, tolong jangan seperti itu. Dia itu istrimu," ucap Vanessa. "Aku tidak mau ada yang menuduhku memiliki hubungan spesial denganmu."
Pada kenyataannya itu memang benar.
Ia lalu menoleh ke arah Luna. "Aku tidak mencurinya, Luna. Kenapa kamu begitu tidak percaya padaku?" imbuh Vanessa. Ia memasang wajah sedih agar semua orang yakin bahwa dirinya tidak bersalah.
Luna menggeleng. "Aku ingat sekarang."
"Waktu itu kamu datang ke rumahku untuk meminta maaf padaku. Aku pergi sebentar dan pada saat itu kamu mencurinya. Pantas saja waktu itu kamu buru-buru sekali untuk pulang."
"Ya Tuhan, Luna. Kita berteman sudah cukup lama. Kenapa kamu bisa menuduhku mencuri? Lagi pula kamu tidak memiliki bukti."
"Ini buktinya!" Luna menunjukkan dua lembar kertas di tangannya.
"Luna, jika kamu terus seperti ini … jangan salahkan aku jika aku menyeretmu secara paksa dari tempat ini," ancam Raka.
Luna kembali menatap Raka. Tidak ada lagi tatapan penuh cinta, hanya tersisa kebencian di matanya. "Aku tidak menyangka kamu lebih percaya wanita lain dari pada istrimu sendiri."
"Jangan membawa status keluarga dalam bisnis ini, Luna."
"Tapi itu benar hasil kerja kerasku, Mas! Desain ini milikku, impianku juga!"
Raka menggeleng dengan tatapan kesal seolah kesabarannya sudah di ambang batas. Ia lantas memanggil keamanan untuk membawa Luna keluar dari tempat itu.
"Kamu benar-benar ingin mengusirku dari sini demi wanita lain, Mas?"
"Kamu yang memaksaku, Luna."
"Kamu gila! Bagaimana bisa kamu berbuat tidak adil begini pada istrimu sendiri!" maki Arumi. "Aku bisa bersaksi jika Luna memang pandai membuat desain pakain. Aku sudah kenal Luna sangat lama."
"Jangan ikut campur!" ucap Raka.
Setelah itu, Raka memberikan isyarat pada dua petugas keamanan untuk membawa Luna.
Namun sebelum dua petugas keamanan itu menyentuh Luna, suara tegas dan berat memenuhi ruangan.
"Enough!"
Semua mata menoleh ke asal suara. Terlihat Bara melangkah masuk dengan diikuti oleh Ares dah beberapa bodyguard. Langkahnya begitu tegas membuat semua orang segan hanya untuk sekedar bertanya dan tatapannya begitu dingin seolah mampu membekukan seluruh ruangan.
Beberapa orang memilih menyingkir, seperti membuka jalan untuk mereka.
Langkah Bara berhenti tidak jauh dari panggung. Tatapannya langsung mengarah kepada Raka dan sekitarnya seolah ingin memberikan peringatan keras pada semua orang.
"Jika ada yang berani menyentuhnya, aku akan mematahkan tangannya!"
Semua orang yang mendengarnya memilih mundur dan menjauh. Mereka tahu siapa yang sedang bicara saat ini. Jika ingin hidup lebih lama lagi, maka jangan berani mengusik seorang Bara Mahendra.
Bara lantas melangkah ke atas panggung, tetapi tidak berdiri di samping Raka melainkan Luna.
"Are you, oke?" tanya Bara dengan suaranya yang lembut. Tatapan dan nada bicaranya berubah saat berhadapan dengan Luna.
Luna mengangguk pelan. "Iya."
"Pria itu sudah menampar Luna. Aku tidak menyangka ada suami yang begitu tega mempermalukan istrinya di depan semua orang untuk membela wanita lain," adu Arumi.
Raka menggeleng. "Itu tidak benar, Pa."
"Luna yang membuat keributan lebih dulu," ucap Raka. "Dia menuduh Vanessa mencuri desainnya."
"Sudah aku bilang berkali-kali ini, Mas. Ini desainku! Dan dia sudah mencurinya," balas Luna. Nada bicaranya kini merendah seolah sudah lelah dengan drama itu. "Kenapa kamu tidak percaya padaku, Mas?"
"Aku memang tidak mencurinya, Luna," elak Vanessa.
Kesabaran Luna seolah lenyap begitu saja. Ia lalu menghapus air matanya dan menatap dingin dan penuh kemarahan pada Vanessa juga Raka.
"Pa …," panggil Luna.
"Papa ingat aku pernah mengatakan ada berapa desainku yang hilang?" tanya Luna. "Desain impianku?"
Bara mengangguk pelan.
"Itu, Pa." Luna menunjuk ke arah gaun pengantin dan perhiasan yang dipakai oleh salah satu model Imperia Mode. "Dan ini adalah desainku yang hilang itu."
Luna menunjukkan dua lembar kertas di tangannya kepada ayah mertuanya.
Bara mengambil kertas itu dari tangan Luna dan melihatnya dengan seksama.
"Om —"
Bara menunjukkan telapak tangannya yang terbuka, memberikan isyarat pada Vanessa untuk diam. "Kita tidak sedekat itu."
Vanessa beringsut mendengar nada suara datar dan dingin milik Bara.
"Kamu yakin ini milikmu?" tanya Bara.
Luna mengangguk penuh dengan rasa percaya diri.
"Sekarang berikan bukti jika desain itu benar milikmu," tantang Vanessa.
"Baik, aku bisa membuktikannya sekarang juga," balas Luna.
"Tapi sebelum itu aku mau memberikan satu kali kesempatan lagi padamu, Vanessa" ucap Luna. "Mengaku jika ini bukan milikmu atau kubuat kamu malu sampai tidak berani untuk menampakkan wajahmu di depan semua orang?"
"Aku tidak takut," balas Vanessa.
"Oke, kalau itu sudah menjadi pilihanmu."
Luna lantas kembali melihat ke arah Bara. "Pa … Papa bawa buku desainku?"
Bara mengangguk yang langsung dibalas senyuman oleh Luna.
Setelahnya Luna melihat ke arah Vanessa dengan senyuman miring seolah mengejek Vanessa. "Pa … setiap aku membuat desain, aku selalu memberikan tanda kepemilikan. Papa bisa cek, ada tanda yang sama di sini dan desain-desain yang aku serahkan ke Papa."
emmmm kaya ga deh vanes ga jadi malu secara Raka mana mau lihat orang tersayang tersakiti
OMG kalau terjadi she so dammm sad man