Di bawah nama besar Marga Vareksa—keluarga yang dikenal memiliki kekuasaan tak terbatas, koneksi ke segala penjuru, dan hati yang sekeras batu—Areksa Vareksa kini berdiri di puncak kekuasaan sebagai CEO termuda dalam sejarah perusahaan. Dingin, tajam, tak segan menyingkirkan siapa saja yang berani mengganggu jalannya. Bagi dunia luar, ia adalah sosok yang menakutkan; kejamnya mewarisi setiap tetes darah keluarganya, tak ada ruang untuk belas kasih—apalagi cinta.
Namun takdir punya cara paling kejam untuk membalas masa lalu.
Ia dijodohkan dengan putri dari keluarga konglomerat sekelas Vareksa. Dan saat wajah gadis itu terlihat jelas, dunia Areksa seakan berhenti berputar: Zevanna. Mantan kekasihnya—yang pernah ia sakiti, yang pernah ia tinggalkan tanpa kata, yang masih menyimpan luka mendalam akibat sifatnya yang liar dan tak terkendali.
Zevanna juga sama terkejutnya atas perjodohan itu dengan Areksa, si mantan mesum. Salah satu yang Zevanna benci. Akankah mereka bersatu kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 : Kedatangan Ibu Mertua
Pagi tadi, Zevanna bangun dalam keadaan tempat di sampingnya sudah kosong. Kata Pak Haris, suaminya memang sudah berangkat ke kantor pagi-pagi sekali, seolah-olah sengaja nggak mau melihatnya.
Ketukan heels yang berirama konstan dan tajam di atas lantai marmer lobi utama memecah keheningan benteng Dharmawangsa menjelang siang itu.
Zevanna, yang baru saja menyelesaikan sarapannya, mendadak tersentak pas melihat Pak Haris bergegas menuju pintu depan dengan raut wajah yang luar biasa tegang.
Pintu terbuka, dan sesosok wanita paruh baya dengan keanggunan yang mengintimidasi melangkah masuk. Nyonya Besar Helena Vareksa. Ibu kandung Areksa.
Helena mengenakan setelan tweed berwarna hitam-putih klasik khas Chanel, lengkap dengan rambut yang disanggul rapi tanpa sehelai pun yang mencuat. Sepasang matanya yang setajam elang warisan genetik yang diturunkan mutlak ke Areksa langsung menyapu ruangan sebelum akhirnya mengunci sosok Zevanna.
"Selamat siang, menantuku," suara Helena terdengar rendah.
Zevanna refleks menegakkan punggungnya, lalu melangkah maju dengan sopan. "Selamat siang, Nyonya Vareksa."
Helena mengangkat sebelah alisnya, menyerahkan tas tangan Hermes-nya ke Pak Haris tanpa menoleh. "Panggil aku Mama, Zevanna. Kamu sudah menandatangani kontrak dan akta pernikahan itu. Secara hukum, kamu ini menantuku. Dan tugas pertamaku adalah memastikan kamu nggak mempermalukan nama Vareksa di hadapan publik."
"Mama nggak suka berbasa-basi sama orang yang baru Mama kenal. Jadi, mari Mama tunjukkan apa saja yang harus kamu lakukan biar pantas jadi Nyonya Muda Vareksa."
Tanpa memberikan kesempatan buat Zevanna mencerna situasi, Helena langsung menggiringnya ke ruang tengah yang luas. Beberapa pelayan diperintahkan buat memindahkan sofa, menyisakan area kosong yang panjang kayak runway.
"Keluarga Vareksa itu nggak cuma dinilai dari berapa banyak angka di rekening mereka, tapi dari gimana cara mereka membawa diri," ucap Helena dingin, berdiri di ujung ruangan dengan tangan terlipat di dada. "Areksa itu pria yang dominan. Dan sebagai istrinya, kamu nggak boleh kelihatan kayak domba lemah yang gampang didepak sama sosialita Jakarta. Coba jalan dari sana ke sini."
Zevanna menarik napas dalam, mencoba jalan sealami mungkin mendekati ibu mertuanya. Tapi baru tiga langkah, instruksi tajam Helena langsung menghentikannya.
"Berhenti!" Helena melangkah mendekat, matanya meneliti kaki Zevanna. "Posturmu terlalu tegang. Bahumu terlalu jatuh, dan langkahmu terburu-buru banget kayak dikejar penagih utang. Orang Vareksa itu jalan dengan ritme yang menguasai ruangan, bukan menyesuaikan diri. Ulangi."
Helena melangkah ke samping Zevanna buat memberi contoh. Gerakan tubuh Helena kelihatan begitu halus tapi memancarkan kekuatan yang mutlak, tiap langkahnya seolah mempertegas kalau dialah pemilik tempat ini.
"Dagu sedikit terangkat, tapi jangan kelihatan nantang. Pandangan lurus ke depan. Anggap lantai ini milikmu," perintah Helena tegas. Pas Zevanna mencoba menyamakan ritme dan postur tersebut, Helena diam-diam memperhatikan lekuk tubuh menantunya dengan tatapan menilai yang agak melunak, walau wajahnya tetap sedingin es.
"Bagus, Nana. Kamu memang yang terbaik," puji Helena.
Tidak hanya cara berjalan, Helena juga menguji cara Zevanna merespons ucapan.
"Kalau nanti di pesta makan malam ada cewek dari keluarga lain yang menyindir latar belakang panti asuhanmu, kamu mau bilang apa?" tanya Helena tiba-tiba dengan nada ketus.
Zevanna terdiam sesaat, lalu menjawab, "Aku bakal mengabaikannya, Ny—Mama."
"Salah!" potong Helena tajam. "Mengabaikan itu artinya kamu membenarkan tuduhan mereka karena takut. Cara membalas yang elegan buat seorang Vareksa itu pakai senyuman termanis, terus hancurkan harga diri mereka pakai fakta. Bilang ke mereka: 'Latar belakangku mungkin sederhana, tapi fakta kalau Areksa milih aku di antara ratusan cewek terhormat membuktikan kalau selera suamiku ada di atas standar Anda.' Paham?"
Zevanna tertegun. Di balik ketegasan dan kata-katanya yang menusuk, Zevanna sadar kalau Helena sama sekali nggak berniat merendahkannya. Wanita paruh baya ini justru lagi menanamkan taji dan perlindungan buatnya biar bisa bertahan di dunia elit yang kejam.
"Aku paham, Mama," jawab Zevanna, kali ini dengan kilatan mata yang lebih tegas.
"Sekarang, ikut aku ke kamar utama. Mama perlu memeriksa keseluruhan fisikmu," perintah Helena mutlak, berbalik menuju tangga.
Hah!?
Memeriksa keseluruhan fisik?
Telanjang dong!
Zevanna sempat terkejut dan merasa kewalahan, tapi dia tetap nurut dan mengekor di belakang ibu mertuanya. Di dalam kamar tidur yang luas, Helena meminta dua pelayan wanita pribadi yang dibawanya buat menyiapkan peralatan khusus di area walk-in closet.
"Lepaskan pakaianmu, Zevanna. Sisakan pakaian dalammu saja," ucap Helena tanpa ekspresi, duduk di kursi beludru sementara kedua pelayannya bersiap dengan pita ukur dan beberapa losion khusus.
Wajah Zevanna seketika merona merah karena malu, tapi dia tahu menolak Nyonya Besar Vareksa cuma bakal memperpanjang urusan. Dengan tangan sedikit gemetar, ia melepaskan sweter turtleneck-nya. Begitu sweter itu terlepas, mata Helena langsung menangkap bercak kemerahan yang kontras di leher jenjang Zevanna—jejak gigitan dan ciuman panas yang ditinggalkan Areksa semalam.
Suasana sempat hening. Zevanna menahan napas, bersiap menerima makian atau teguran. Tapi Helena justru mendengus pelan, seulas senyum tipis yang sarat arti terukir di sudut bibirnya.
"Putraku rupanya benar-benar mewarisi sifat nggak sabaran ayahnya," gumam Helena lirih, beralih menatap para pelayannya. "Pakai krim penyamar noda terbaik buat lehernya nanti. Jangan sampai tanda keliarannya itu kelihatan pas kamu membawanya keluar."
Kedua pelayan mulai melakukan pemeriksaan keseluruhan. Mereka mengukur proporsi tubuh Zevanna dengan sangat detail—mulai dari lingkar pinggang, kelurusan tulang belakang, sampai memeriksa kehalusan kulitnya. Helena memperhatikan setiap proses itu dengan mata yang teliti banget. Ia mendekat, menyentuh jemari Zevanna, memeriksa kebersihan kuku dan kelembutan kulit telapak tangannya.
"Secara fisik, kamu hampir sempurna. Struktur tulangmu bagus dan kulitmu terawat," nilai Helena setelah pemeriksaan selesai. Nadanya masih terdengar dingin tapi nggak lagi menuntut. Ia mengambil sebuah botol minyak esensial herbal dari tasnya dan meletakkannya di atas meja rias. "Pakai ini habis mandi biar otot-ototmu rileks. Kamu kelihatan tegang dan kurus banget. Areksa pasti sudah menguras tenagamu semalam."
Zevanna yang lagi memakai kembali pakaiannya cuma bisa menunduk dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah kepiting rebus. Padahal mereka belum sejauh itu, cuma ciuman panas aja. Tapi dia milih buat nggak menjawabnya.
"Baik, Mama," sahut Zevanna pelan.
Helena menghela napas panjang melihat menantunya terus-terusan mengalihkan kontak mata darinya. "Kamu takut sama Mama?" tanya Helena, mendadak berubah lembut kayak seorang ibu yang lagi menanyai anak kesayangannya.
Zevanna mengangguk ringan. "Takut melakukan kesalahan, Mama," jawab gadis itu jujur.
"Jangan takut. Mama nggak menyeramkan kok. Mama cuma tegas aja sama kamu. Mama mau bikin menantu Mama ini merasa pantas berdiri di samping putra Mama."
Zevanna memberanikan diri menatap wanita paruh baya itu, lalu tersenyum lembut. Ia merasa sedikit lega, ternyata ibu mertuanya nggak kayak ibu mertua jahat di sinetron-sinetron. "Aku bakal melakukan yang terbaik, Mama. Tolong terus bimbing aku ya."