NovelToon NovelToon
Cegil Andara: Mencintai Kakak Angkatku

Cegil Andara: Mencintai Kakak Angkatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Abi, tolong lamarin Kak Kafa untuk aku."
"Dara, kamu sadar gak kalau kamu itu perempuan?"
"Sadar, kenapa memang?"
"Ya mana ada perempuan yang meminta ayahnya untuk melamar seorang laki-laki untuk dirinya sendiri seberani itu?"
"Ada, dan itu aku."

***

"Kak Kafa, nikah yuk!"
"Kamu belum capek?"
"Tidak akan pernah capek."

Andara (20) si gadis cegil yang selalu terang-terangan mengatakan bahwa ia mencintai Kafa (30). Ia tidak akan berhenti sampai mendapatkan cinta sang Kakak.
Kafa adalah anak angkat dari Azzam dan Aira, orang tua kandung Andara.
Apakah Andara bisa mendapatkan hati dan cinta Kafa?
Awalnya tidak, namun takdir memihak Dara.

***

"Abi, aku akan menikahi Andara. Aku akan menyembuhkan segala traumanya."
Baca terus kisah mereka... Novel ini spin off dari buku 'Penawar Luka Aira'

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Undangan Makan Malam

"Jadi benar kamu perwakilan dari Maharaja Group?"

Azzam menatap laki-laki muda yang duduk di hadapannya.

Sebelumnya, Aldo sudah memberitahunya bahwa perusahaan yang mengajukan kerja sama itu merupakan perusahaan yang tergolong baru di Indonesia. Skalanya memang belum sebesar Malik Group, tetapi memiliki prospek yang cukup menjanjikan.

Laki-laki itu mengulas senyum tipis. "Betul, Pak."

"Jujur, saya juga tidak menyangka bisa bertemu langsung dengan Bapak. Malik Group adalah salah satu perusahaan terbesar di Indonesia."

Azzam tersenyum ramah. "Maaf kalau sebelumnya putra saya sempat menolak proposal kerja sama ini. Azra memang masih baru memegang perusahaan. Masih banyak yang harus dia pelajari."

Ia tidak sedang menyalahkan putranya. Sebagai seorang ayah sekaligus mentor, Azzam memahami bahwa pengalaman adalah guru terbaik.

Sejak dahulu, Azzam memang memiliki prinsip untuk memberi kesempatan kepada perusahaan-perusahaan kecil maupun yang baru berdiri agar bisa berkembang.

Menurutnya, setiap perusahaan besar juga pernah memulai dari langkah yang kecil.

"Tidak masalah, Pak," jawab Tristan tenang. "Saya mengerti."

Azzam mengangguk pelan. "Begitu saya mendengar nama kamu, saya langsung meminta Aldo menjadwalkan pertemuan ini."

Tristan sedikit terkejut. "Ternyata Bapak masih mengingat saya."

"Tentu." Azzam tersenyum hangat. "Saya tidak mungkin lupa nama orang yang pernah menyelamatkan putri saya. Terima kasih, Tristan."

Tristan menundukkan kepala dengan sopan. "Saya yang justru berterima kasih, Pak, karena telah diberi kesempatan. Semoga kerja sama ini membuat Bapak yakin bahwa pilihan Bapak bukan hanya karena saya pernah menolong Andara. Saya ingin diterima karena kualitas perusahaan yang saya bangun."

Azzam tersenyum puas mendengar jawaban itu. "Itu yang ingin saya dengar. Lalu... kamu memang bukan asli Indonesia, ya?"

"Saya blasteran, Pak."

"Oh begitu. Perusahaan ini baru kamu dirikan di Indonesia? Atau di negara asalmu juga punya perusahaan?"

"Kalau yang di Indonesia ini milik saya pribadi, Pak. Sedangkan perusahaan di luar negeri adalah milik ayah saya."

"Begitu rupanya."

Azzam mengangguk pelan. "Baiklah. Silakan jelaskan proposal kerja samanya."

"Dengan senang hati, Pak."

Tristan berdiri, lalu menyalakan layar presentasi. Ia mulai menjelaskan satu per satu isi proposal dengan sangat tenang dan meyakinkan.

Di balik sikap profesionalnya, senyum tipis nyaris tak terlihat tersungging di sudut bibirnya.

"Lebih mudah dari yang kubayangkan. Kepercayaan Azzam Malik mulai kudapatkan. Dan setelah ini mendekati Andara akan jauh lebih mudah."

Tanpa disadari Azzam, laki-laki yang sedang ia beri kesempatan itu bukan sedang membangun kerja sama bisnis semata. Melainkan sedang menyusun langkah demi langkah untuk memasuki kehidupan keluarganya.

Selama hampir satu jam, Tristan memaparkan seluruh isi proposalnya. Tidak hanya berbicara mengenai keuntungan. Ia juga menjelaskan risiko, strategi mitigasi, target pasar, hingga proyeksi perkembangan perusahaan dalam lima tahun ke depan.

Azzam menyimak dengan saksama. Sesekali ia mencatat beberapa poin penting di atas tablet yang berada di hadapannya.

Beberapa kali pula ia mengajukan pertanyaan yang cukup detail. "Kenapa kamu memilih sektor ini sebagai fokus investasi?"

Tristan menjawab tanpa ragu. "Karena saya tidak ingin membangun perusahaan yang hanya besar, Pak. Saya ingin membangun perusahaan yang bertahan lama. Pertumbuhan cepat memang menarik. Tapi pertumbuhan yang sehat jauh lebih penting."

Azzam mengangguk pelan. "Lalu kalau terjadi kerugian pada tahun pertama?"

"Saya sudah menyiapkan dana cadangan operasional selama dua tahun. Jadi perusahaan tetap bisa berjalan tanpa harus bergantung pada investor."

Jawaban itu membuat Azzam kembali mengangguk. "Lumayan. Berarti kamu sudah menghitung kemungkinan terburuk."

"Saya memang selalu diajarkan seperti itu, Pak. Berharap pada hasil terbaik. Tapi bersiap menghadapi hasil terburuk."

Senyum Azzam semakin lebar. Ia menyukai cara berpikir pemuda di hadapannya.

Tak lama kemudian, presentasi selesai. Ruangan kembali hening.

Tristan menunggu keputusan dengan tenang.

Azzam menyandarkan tubuhnya ke kursi. Ia menyatukan kedua tangannya di atas meja.

"Tristan."

"Iya, Pak."

"Proposal kamu bagus. Tapi bukan itu yang paling membuat saya tertarik. Saya lebih tertarik pada cara kamu berpikir. Kamu tidak menjual mimpi. Kamu menjual perencanaan. Itu yang saya cari dari seorang rekan bisnis."

Tristan tersenyum tipis. "Terima kasih, Pak."

Azzam melanjutkan, "Usia kamu masih muda. Perusahaan kamu juga masih berkembang. Tapi saya melihat satu hal."

"Apa itu, Pak?"

"Kamu berani bertanggung jawab atas setiap keputusan yang kamu ambil. Itu lebih mahal daripada sekadar modal."

Tristan menundukkan kepala sebagai bentuk hormat. "Saya akan menjaga kepercayaan itu, Pak."

Azzam mengangguk mantap.n"Baik. Saya putuskan Malik Group akan bekerja sama dengan Maharaja Group."

Wajah Tristan tetap tenang, meski di dalam hatinya muncul rasa puas. "Terima kasih banyak, Pak Azzam. Saya tidak akan mengecewakan Bapak."

Azzam berdiri dari kursinya. "Saya berharap begitu."

Ia mengulurkan tangan. "Selamat datang sebagai rekan bisnis Malik Group."

Tristan segera menyambut uluran tangan itu. "Merupakan kehormatan bagi saya, Pak."

Keduanya berjabat tangan dengan erat.

Aldo yang sejak tadi menyaksikan pertemuan itu ikut tersenyum. "Selamat, Pak Tristan."

"Terima kasih, Pak Aldo."

Azzam kemudian menoleh kepada Aldo. "Tolong siapkan seluruh dokumen kerja sama. Kalau semuanya sudah sesuai, kita bisa mulai proyek ini minggu depan."

"Baik, Pak."

Setelah beberapa dokumen ditandatangani, Tristan berpamitan. "Kalau begitu saya permisi dulu, Pak."

"Hati-hati di jalan."

"Terima kasih."

Begitu pintu ruang kerja tertutup, senyum ramah di wajah Tristan perlahan memudar.

Ia berjalan menyusuri lorong kantor Malik Group dengan langkah tenang.

"Langkah pertama..." batinnya. "Berhasil."

"Sekarang aku bukan lagi orang asing bagi keluarga Malik. Cepat atau lambat... Aku akan memiliki lebih banyak alasan untuk bertemu Azzam Malik. Dan tentu saja... Andara."

***

Beberapa hari berlalu. Kerja sama antara Malik Group dan Maharaja Group berjalan jauh lebih lancar dari perkiraan.

Tim dari kedua perusahaan mampu bekerja sama dengan baik. Bahkan beberapa target awal berhasil diselesaikan lebih cepat dari jadwal.

Karena proyek itu, Azzam dan Tristan pun semakin sering bertemu. Tidak hanya saat rapat. Kadang mereka berbincang santai di ruang kerja Azzam, membahas perkembangan bisnis, pengalaman membangun perusahaan, hingga kehidupan di luar pekerjaan.

Azzam semakin mengenal Tristan sebagai sosok yang sopan, tenang, dan cerdas dalam mengambil keputusan.

Begitu pula Tristan. Ia pandai menempatkan diri. Tidak pernah berlebihan. Tidak pernah pula membuat Azzam merasa terganggu.

Sore itu, setelah rapat selesai, Azzam menutup map berisi laporan proyek.

"Alhamdulillah. Sejauh ini hasilnya sesuai harapan. Terima kasih atas kerja samanya, Tristan."

Tristan mengangguk hormat. "Justru saya yang harus berterima kasih, Pak. Banyak hal yang saya pelajari dari Bapak."

Azzam tersenyum tipis. "Loh, saya juga belajar dari anak muda."

Keduanya tertawa kecil. Setelah suasana kembali tenang, Azzam seolah teringat sesuatu.

"Oh iya. Ada satu hal yang sudah lama ingin saya lakukan."

Tristan mengangkat pandangannya. "Apa itu, Pak?"

Azzam menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Sebagai ucapan terima kasih karena kamu pernah menyelamatkan Andara. Saya ingin mengajak kamu makan malam bersama. Bagaimana kalau malam ini di restoran?"

Tristan langsung menggeleng halus. "Tidak perlu, Pak. Saya menolong Andara dengan ikhlas. Saya tidak mengharapkan balasan apa pun."

Azzam tersenyum hangat. "Saya tau. Itulah yang membuat saya semakin menghargai kamu. Anggap saja ini bukan balas budi. Tapi sambutan saya kepada orang baik. Dan... Ajak keluarga kamu kalau mereka sedang ada di Indonesia."

Tristan terdiam sesaat. Lalu tersenyum sopan.

"Kalau Pak Azzam sampai mengundang seperti ini mana mungkin saya menolak."

Azzam terkekeh pelan. "Nah, begitu. Berarti malam ini ya."

"Baik, Pak."

"Kalau begitu nanti Aldo yang akan menghubungi kamu mengenai waktu dan tempatnya."

"Siap, Pak."

Keduanya kembali berjabat tangan sebelum Tristan berpamitan meninggalkan ruangan.

Begitu pintu lift tertutup dan tidak ada seorang pun di sekitarnya, senyum sopan di wajah Tristan perlahan berubah menjadi seringai tipis.

"Semuanya berjalan sesuai rencana. Sekarang... Aku tidak perlu lagi mencari alasan untuk masuk ke dalam kehidupan keluarga Malik. Karena Azzam Malik sendiri yang membukakan pintunya."

Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Tatapannya lurus ke depan.

"Andara... Sebentar lagi kita akan jauh lebih sering bertemu."

Pintu lift terbuka. Tristan melangkah keluar dengan ekspresi tenang, seolah tak ada sedikit pun niat tersembunyi di balik sikap sopan dan rendah hatinya. Di mata semua orang, ia hanyalah seorang pengusaha muda yang sedang merintis karier.

Padahal di balik semua itu, ia tengah menyusun langkah demi langkah untuk mendekati keluarga Malik, tanpa seorang pun menyadari tujuan sebenarnya.

***

"Kenapa Dara harus ikut sih, Bi?"

Andara mengembuskan napas panjang sambil menyandarkan tubuhnya di sofa ruang keluarga.

"Dara bosan tau. Kalau ketemu kolega bisnis Abi sama Kak Azra, ujung-ujungnya bahas kerjaan terus."

Azzam yang sedang mengenakan jas hanya tersenyum kecil. "Sayang... Kali ini kamu harus ikut."

"Kenapa memang?"

"Karena kolega bisnis Abi ini laki-laki yang kamu kenal."

Andara langsung menyipitkan mata. "Hah? Siapa?"

Jangan-jangan... Ia langsung menatap curiga ke arah ayahnya.

"Abi jangan bohong, ya. Abi nggak lagi bermaksud jodohin Dara, kan?"

Azzam spontan tertawa. "Ya Allah Dara... Abi kapan pernah menjodoh-jodohkan anak Abi? Kalau memang Abi suka menjodohkan, dari dulu juga sudah Abi jodohkan tuh kakak kamu."

Sontak Azra yang sedang merapikan jam tangannya langsung menoleh.

"Abi....Kenapa jadi aku yang dibawa-bawa?"

Aira tak kuasa menahan tawanya. "Itu namanya kena getahnya."

Azra menggeleng pasrah. "Padahal aku diem aja."

Andara ikut terkekeh melihat wajah kakaknya. "Kasihan banget, Kak. Tapi emang iya sih kalau Abi hobi jodoh-jodohin, Kak Azra pasti udah laku dari kapan tahu."

"Hei!" Azra menjitak pelan kepala adiknya. "Cerewet."

"Ih, sakit!" Andara langsung mengusap kepalanya sambil cemberut.

"Yaudah, yaudah. Aku ikut."

"Nah, gitu dong." Azzam mengusap kepala putrinya dengan sayang. "Anggap aja sekalian makan malam keluarga."

"Iya, Bi."

Tak lama kemudian, mereka berempat pun berangkat.

Azzam menyetir sendiri. Aira duduk di kursi penumpang depan. Sedangkan Azra dan Andara duduk di baris belakang.

Sepanjang perjalanan, Andara terus menebak-nebak siapa kolega bisnis yang dimaksud ayahnya.

"Bi..."

"Hm?"

"Kasih kode dikit."

"Nggak."

"Abi."

"Nggak."

"Yaelah pelit banget."

Azzam hanya tertawa kecil. "Sebentar lagi juga ketemu."

Andara akhirnya menyerah. Ia memilih menatap keluar jendela mobil. Tak sedikit pun terlintas di benaknya bahwa orang yang akan ditemuinya malam itu adalah Tristan.

Seseorang yang diam-diam sedang menyusun rencana untuk masuk lebih jauh ke dalam kehidupan keluarga Malik.

***

Begitu tiba di restoran, mobil keluarga Malik berhenti tepat di depan pintu utama. Hampir bersamaan, sebuah mobil hitam juga memasuki area parkir.

Seorang laki-laki keluar dari mobil itu dengan setelan kemeja putih dan jas berwarna gelap.

Andara yang baru turun dari mobil sontak mengenalinya. "Lho, jadi Tristan Bi?"

Azzam mengangguk. "Iya."

Belum sempat Andara berkata lagi, Tristan sudah melangkah menghampiri mereka.

Ia tersenyum sopan. "Selamat malam, Pak Azzam. Selamat malam, Bu Aira, Pak Azra."

Pandangan Tristan kemudian beralih kepada Andara. "Selamat malam, Andara."

Andara membalas dengan senyum ramah. "Malam, Pak Tristan."

"Panggil nama saja."

"Ih jangan, gak sopan. Kalau Kak Tristan gimana?"

Tristan tersenyum ramah. "Boleh."

Azzam menepuk pelan bahu Tristan. "Ayo, kita masuk."

"Baik, Pak."

Mereka pun berjalan memasuki restoran menuju ruang VIP yang telah dipesan sebelumnya.

Setelah semua duduk, seorang pelayan datang menuangkan air minum sambil menyerahkan buku menu.

Belum sempat mereka memesan makanan, pintu ruangan kembali terbuka.

"Assalamu'alaikum." Kafa masuk sambil tersenyum tipis.

"Wa'alaikumussalam," jawab Azzam dan Aira bersamaan.

Andara yang melihat sosok itu sedikit terkejut. "Loh... kenapa ada Kak Kafa?" batinnya.

Sementara itu, Tristan diam-diam memperhatikan laki-laki yang baru datang tersebut. Tatapannya menyipit sesaat.

"Bukankah dia laki-laki yang waktu itu menjemput Andara di taman?" pikirnya.

Di sisi lain, Kafa juga memperhatikan Tristan. Wajah itu terasa tidak asing.

"Laki-laki ini... Bukankah dia yang pernah bersama Andara di taman itu?"

Meski sama-sama menyimpan pertanyaan, keduanya tetap menjaga ekspresi.

Azzam yang menyadari suasana itu segera membuka percakapan. "Tristan, kenalkan ini putra pertama saya. Namanya Kafa."

Tristan langsung berdiri. "Senang bertemu dengan Anda. Saya Tristan."

Kafa ikut berdiri dan menjabat tangannya. "Saya juga senang bertemu dengan Anda. Saya Kafa."

Jabat tangan keduanya berlangsung singkat. Senyum sopan tetap terpasang.

Namun di balik senyum itu keduanya saling mengamati. Mencoba mengenali sosok yang berdiri di hadapannya.

"Ayo, Nak, duduk dulu," ujar Aira.

"Iya, Bunda." Kafa pun mengambil kursi di samping Azra, berhadapan dengan Tristan.

Sambil menunggu hidangan disiapkan, Azzam mulai bercerita.

"Kafa, sebenarnya Tristan ini partner baru Malik Group. Kami baru beberapa minggu bekerja sama."

Kafa mengangguk. "Oh begitu."

Azzam melanjutkan dengan nada bangga. "Selain itu, Tristan juga pernah dua kali menolong Andara. Pertama saat Andara hampir mengalami kecelakaan. Dan yang kedua waktu Andara diganggu preman."

Kafa sontak menoleh ke arah Andara. "Dua kali?"

Andara hanya mengangguk kecil. "Iya, Kak. Kebetulan Kak Tristan selalu datang tepat waktu."

Tristan tersenyum rendah hati. "Itu hanya kebetulan saja. Siapa pun pasti akan melakukan hal yang sama."

Kafa membalas senyum tipis. "Terima kasih sudah membantu adik saya."

"Sama-sama."

Meski percakapan terdengar hangat. Entah mengapa, sejak pertama kali berjabat tangan tadi, Tristan dan Kafa sama-sama merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan.

Bukan permusuhan. Namun, sebuah naluri yang membuat keduanya saling waspada, meski belum mengetahui alasan di balik perasaan tersebut.

Tak lama kemudian, makanan mulai dihidangkan. Suasana makan malam perlahan berubah hangat. Azzam beberapa kali mengajak Tristan berdiskusi ringan mengenai bisnis.

Azra ikut menimpali. Aira sesekali menanyakan kehidupan Tristan di Indonesia.

Sementara Andara... Tanpa sadar mulai terlibat dalam obrolan bersama Tristan.

"Kak Tristan."

"Hm?"

"Katanya Kakak baru beberapa bulan di Indonesia?"

"Iya."

"Masih suka nyasar?"

Tristan terkekeh pelan. "Awalnya sering. Sekarang sudah lumayan hafal."

"Hahaha..Oh iya, Makanan Indonesia yang paling Kakak suka apa?"

Tristan berpikir sejenak. "Nasi goreng. Rendang juga enak."

"Wah, lidahnya udah Indonesia banget."

Andara lalu mengangkat sebelah alis. "Kalau seblak suka nggak?"

Tristan tampak bingung. "Apa itu seblak?"

Belum sempat Andara menjelaskan, Azra lebih dulu menyela. "Dara... Mana mungkin bule tau seblak. Dia aja baru beberapa bulan di Indonesia."

"Oh iya juga ya." Andara nyengir sambil menggaruk tengkuknya. "Seblak itu salah satu makanan favorit aku, Kak. Pedes banget tapi enak."

Tristan tertawa kecil. "Dari penjelasanmu saja saya sudah kepikiran bakal kepedesan."

"Loh, jangan salah..Kalau udah nyoba sekali, biasanya malah ketagihan."

"Benarkah?"

"Iya."

"Bahkan ada level-level pedasnya."

Tristan mengangkat kedua alisnya. "Level? Seberapa pedas memang?"

Andara langsung bersemangat menjelaskan. "Mulai dari level satu sampai yang bikin nangis..Kalau aku biasanya level lima."

Azra langsung mendengus. "Level lima katanya..Kemarin makan level tiga aja minumnya dua botol."

"Heh! Itu karena warungnya curang. Cabainya kebanyakan."

Sontak Azzam dan Aira tertawa. Tristan pun ikut tersenyum melihat Andara yang kembali cerewet seperti biasanya.

"Kalau begitu.suatu saat kamu yang harus rekomendasikan tempat makan seblak yang enak."

"Boleh banget! Nanti aku kasih daftar..Yang paling enak sampai yang paling pedes."

"Siap."

Keduanya kembali tertawa ringan.

Di sisi lain....Kafa hanya diam memperhatikan.

Ia tau betul. Dulu Andara selalu sesemangat itu ketika mengajaknya mencoba makanan baru.

Kini....cerita-cerita sederhana itu justru dibagikan kepada laki-laki lain.

Entah mengapa sendok di tangannya terasa begitu berat. Ia menundukkan kepala, berusaha kembali fokus pada makan malam. Namun suara tawa Andara dan Tristan terus terdengar di telinganya.

Dan semakin lama ia mendengarnya, semakin sulit baginya mengabaikan rasa sesak yang diam-diam tumbuh di dalam dada.

Begitu makan malam selesai, mereka tidak langsung pulang. Restoran yang dipilih Azzam memang terkenal memiliki taman terbuka dengan pemandangan lampu kota yang indah.

Azzam dan Aira masih berbincang dengan Azra mengenai pekerjaan.

Sementara itu Andara berjalan pelan menuju pagar pembatas taman. Udara malam yang sejuk membuatnya mengembuskan napas lega.

Tak lama kemudian, Tristan ikut menghampiri.

"Indah ya?" tanyanya sambil memandang kerlip lampu kota.

Andara mengangguk. "Iya. Aku suka suasana malam. Rasanya tenang."

Tristan tersenyum tipis. "Negara saya juga punya pemandangan malam yang bagus. Tapi suasananya berbeda. Indonesia lebih hangat. Mungkin karena orang-orangnya juga hangat."

Andara terkekeh kecil. "Bisa jadi. Kak Tristan udah sempat jalan-jalan ke mana aja?"

"Belum banyak. Paling hanya tempat-tempat yang dekat dengan kantor."

"Wah rugi. Nanti kalau sempat harus coba keliling Indonesia. Masih banyak tempat bagus. Gunung, Pantai sampai kulinernya..Aku bisa kasih daftar kalau Kakak mau."

"Boleh. Kalau ada pemandu wisatanya lebih bagus."

Andara tertawa. "Tenang. Aku cuma kasih daftar. Disuruh nemenin belum tentu mau."

"Hahaha..." Tristan ikut tertawa.

Obrolan mereka mengalir ringan. Tidak ada pembicaraan yang serius. Hanya dua orang yang sedang menikmati angin malam.

Namun.beberapa meter dari sana, Kafa memperhatikan mereka. Tatapannya tak pernah benar-benar lepas dari Andara.

Entah sejak kapan langkah kakinya justru membawa dirinya mendekat.

"Dara."

Andara menoleh. "Kak?"

Kafa berdiri di samping mereka. Tatapannya bergantian kepada Andara dan Tristan.

"Kalian bukan mahram. Jangan berduaan seperti ini."

Andara mengernyit heran. "Siapa juga yang berduaan?.Kita masih di area restoran..Abi, Bunda, Kak Azra juga ada di sana." Andara menunjuk meja yang hanya berjarak beberapa meter dari mereka.

"Aku sama Kak Tristan cuma ngobrol."

Tristan mengangguk sopan. "Betul, Pak Kafa. Kami hanya mengobrol ringan. Andara itu menyenangkan diajak bicara. Topiknya selalu berganti. Jadi suasananya tidak membosankan."

Kafa tetap menatap Andara. "Meski begitu... Lebih baik tetap menjaga jarak."

Nada bicaranya tetap tenang. Namun terdengar jauh lebih tegas dari biasanya.

Andara mengembuskan napas pelan. "Apaan sih, Kak....Kakak yang bilang aku harus belajar biasa..Sekarang aku ngobrol biasa sama orang malah diprotes."

Raut wajahnya berubah kesal..Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik.

"Udah ah. Aku ke Abi sama Bunda aja."

Andara melangkah meninggalkan mereka. Kafa hanya bisa menghela napas panjang. Tatapannya mengikuti punggung gadis itu hingga kembali bergabung bersama keluarganya.

Sementara Tristan tetap berdiri di tempatnya. Matanya menyipit tipis, memperhatikan ekspresi Kafa yang baru saja ditinggalkan Andara.

"Aneh..." batinnya.

"Tatapan itu....Bukan tatapan seorang kakak kepada adiknya."

Ia mengingat kembali setiap interaksi keduanya sejak pertama kali bertemu.

Perhatian Kafa. Nada bicaranya. Tatapan matanya saat Andara tertawa bersama dirinya. Sampai teguran barusan.

"Dia cemburu?"

Pertanyaan itu muncul begitu saja di benaknya. Sebagai sesama laki-laki, Tristan cukup peka membaca ekspresi semacam itu. Namun satu hal yang membuatnya bingung...

Bukankah Kafa adalah kakak Andara?

Lalu mengapa reaksinya terasa seperti seorang pria yang tidak suka melihat perempuan yang dicintainya berbicara akrab dengan laki-laki lain?

Tristan tidak mengetahui kenyataan bahwa Kafa dan Andara tidak memiliki hubungan darah.

Karena itulah rasa penasarannya terhadap hubungan kedua orang itu justru semakin besar.

Kafa memandang punggung Tristan yang berjalan kembali menuju restoran.

Entah mengapa, ada sesuatu pada laki-laki itu yang membuat nalurinya terus memberi peringatan.

Ia tidak mengenalnya.

Tidak memiliki alasan untuk membencinya. Namun setiap kali melihat Tristan berbicara dengan Andara, dadanya terasa sesak oleh perasaan yang bahkan belum mampu ia beri nama.

1
Aidil Kenzie Zie
padahal Giska takut Kafa yg akan berulah e e e ternyata bapaknya yang nyari 3B 🤭🤭🤭
Syti Sarah
kok Willy jdi sprti itu ya .anak2 yg gak brdosa yg. mnjdi kroban nya
syora: ulh yg gmna nih takutnya udh yg dibuat over dosis,bikin kita trauma 🤭🤭🤭🤭
total 4 replies
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh kasian nasib keluarga yang anaknya diculik
cutegirl
sok deh bapak bapak
Syti Sarah
mungkin ini lh nanti pnyebab Giska sama Kafa gak jdi mnikh kli ya.org tua Giska trllu mrndahkn org lain yg di anggap nya tidak setara dgn nya .jngan trllu mrndahkn org lain nnti akan nyesel sndiri pak
Syti Sarah: kata aku dong Thor 🤭🤭🤣🤣🤣
total 2 replies
Syti Sarah
yg kuat ya dar 🥺
Aidil Kenzie Zie
kamu masih berharap Dara ngejar???😡😡 sakit kamu Kaf🤣🤣🤣🤣
Syti Sarah
mulai deh Tristan bikin ulah


mntapkn hti kamu dar,kamu juga brhak bhgia
cutegirl
bagus dar lanjutkan
Nifatul Masruro Hikari Masaru
kayaknya sekarang giliran kafa yang mendekati
Syti Sarah
Bru Mrsa khilngan kn kamu kaf ,itu lh juga yg dara rasakan
Ayudya
mampir kak
cutegirl
up lgi dong ka😋
Syti Sarah
ciiie,ada yg lgi cmburu tuh 🤭🤭

selicik itu mmang Tristan ya ,dia lbih dulu mngmbil hati Azzam untuk mlncarkn rncan nya .smoga aja sellu DLAM lindungan Allah SWT 🥰
Nifatul Masruro Hikari Masaru
yang cemburu gantian
Anak manis
ikut sedih🥲
Shabrina Darsih
jd ukut sedih
Syti Sarah
ikhlasin aja dar,Toh nanti ujung2 nya Kafa sndiri yg mngjar kamu.biar dia MRSA apa yg kamu rasain dar.mncintai seseorang tpi tak bisa untuk menggapai nya
Aidil Kenzie Zie
nggak usah dipedulikan lagi Dar cuex bebek aja🤣🤣🤣
Syti Sarah
ya udh dar,lupain aja .kamu juga hrus bhgia dara
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!