Di balik gemerlapnya Los Angeles, Lara Giger (24) terjebak dalam neraka pernikahan bersama suaminya yang posesif dan manipulatif, Billy Davidson (29). Setiap malam tubuhnya disiksa, namun Lara memilih pasrah.
Alih-alih melarikan diri, Lara memilih bertahan di bawah siksaan suaminya demi menghindari caci maki keluarga besarnya yang sejak lama melabelinya sebagai "Anak Sial" dan pembawa petaka jika ia bercerai.
Namun, rahasia masa lalu perlahan mengusik belenggu pernikahan itu.
Di universitas tempatnya belajar, Lara harus berhadapan dengan Darion Vale Knight (25), dosen hukum muda sekaligus pria masa lalu yang memegang komitmen dengannya.
Darion, yang menyadari luka-luka fisik dan batin Lara, bertekad menggunakan keadilan hukum untuk membebaskannya. Sementara itu, Lara terus berjuang mendorong Darion menjauh demi melindunginya dari "kesialan" dirinya.
Di antara jeratan obsesi kejam sang suami dan perlindungan tulus sang mantan kekasih, mampukah Lara merobek sangkar emas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#2
Matahari pagi di Los Angeles baru saja merayap naik, membiarkan cahaya keemasan yang menembus celah-celah gorden tipis di kamar utama kondominium mewah itu.
Jam dinding digital berbentuk minimalis di sudut ruangan menunjukkan tepat pukul enam pagi.
Lara membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah sepasang lengan kekar yang melingkar erat di pinggangnya, menarik tubuhnya yang masih menyisakan rasa ngilu ke dalam sebuah dekapan yang teramat hangat.
Jika seseorang melihat pemandangan ini tanpa tahu apa yang terjadi semalam, mereka pasti akan mengira bahwa pasangan ini adalah sepasang kekasih yang paling berbahagia di seluruh California.
Billy Davidson bergerak sedikit, mengeratkan pelukannya seolah takut Lara akan menguap bersama kabut pagi. Pria itu mengecup pelipis Lara dengan lembut, lalu membisikkan kalimat dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
"Morning, honey..." ucap Billy, terdengar begitu penuh kasih dan sangat menyayangi istrinya.
Lara memaksakan sebuah senyuman di bibirnya yang masih terasa agak kebas. Ia mendongak sedikit, menatap wajah tampan suaminya yang kini terlihat begitu tenang tanpa ada kilatan amarah seperti beberapa jam yang lalu.
"Morning," jawab Lara singkat.
Sejujurnya, Lara sudah terbangun sejak satu jam yang lalu.
Tepat pukul lima pagi, ketika alarm alami di dalam kepalanya berdering akibat rasa sakit di perutnya yang berdenyut, Lara sudah perlahan-lahan melepaskan diri dari kungkungan lengan Billy agar pria itu tidak terganggu. Ia telah menghabiskan satu jam terakhir di dapur—memasak sarapan, menyeduh kopi, dan merapikan beberapa sudut ruangan.
Di kediaman minimalis namun berukuran luas ini, Billy memang sengaja tidak mempekerjakan pelayan yang tinggal menetap.
Para pelayan harian hanya diizinkan datang pada siang hari untuk membersihkan rumah dan mencuci pakaian, setelah itu mereka harus segera pergi.
Untuk urusan memasak dan menyiapkan keperluan pribadi Billy, semuanya adalah tugas mutlak Lara.
Billy bersikap sangat keras kepala tentang hal ini; pria itu hanya menginginkan masakan buatan tangan istrinya.
Dia selalu beralasan bahwa masakan Lara adalah satu-satunya yang cocok di lidahnya, meski Lara tahu itu adalah salah satu cara Billy untuk memastikan istrinya tetap sibuk dan terikat di dalam rumah.
Billy meregangkan otot-otot tubuhnya lalu bangkit dari tempat tidur. Ia berjalan menuju kamar mandi tanpa mengenakan atasan, memamerkan punggung tegapnya.
Lara hanya memperhatikan dalam diam, duduk di tepi ranjang sambil memegangi perutnya yang masih terasa nyeri akibat hantaman semalam.
...oOo...
Setengah jam kemudian, Billy keluar dengan pakaian yang sudah rapi dan wangi.
Kemeja kerja rancangan desainer ternama melekat sempurna di tubuhnya. Ia memakai jam tangan mewahnya sambil berjalan mendekati meja rias, tempat Lara sedang menyisir rambut.
"Aku akan langsung ke mansion utama hari ini. Catalina sudah menelponku sejak subuh tadi," ucap Billy datar sambil merapikan kerah kemejanya di depan cermin.
Deg.
Jantung Lara seakan berhenti berdetak selama satu detik.
Nama Catalina... itu bukan nama yang asing lagi keluar dari bibir suaminya. Catalina Davidson adalah istri dari mendiang kakak kandung Billy.
Setelah kakak Billy meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan tragis beberapa tahun lalu, Billy merasa memiliki tanggung jawab penuh pada seorang Catalina yang janda ditinggal mati itu.
Namun bagi Lara, tanggung jawab itu sudah melintasi batas yang wajar.
Setiap kali nama Catalina disebut, atmosfer di antara mereka selalu berubah menjadi tidak nyaman.
Lara tahu Catalina adalah sosok wanita mandiri yang cantik, tipe wanita yang selalu dipuji oleh keluarga besar Davidson—berbanding terbalik dengan dirinya yang selalu dicap sebagai anak sial oleh keluarganya sendiri.
Lara menarik napas panjang, mencoba mengontrol ekspresi wajahnya agar tetap terlihat tenang dan patuh. "Pergilah..." kata Lara dengan nada suara serendah mungkin.
Gerakan tangan Billy yang sedang mengancingkan lengan kemejanya mendadak terhenti. Sorot matanya yang semula tenang langsung berubah menajam. Ia membalikkan badannya dengan cepat, menatap Lara dengan pandangan mengintimidasi.
"Kau mengusirku?" kata Billy, nadanya mulai meninggi, memicu emosi yang tampaknya selalu siap meledak kapan saja.
Lara tersentak. Ketakutan dari trauma semalam kembali merayap di dadanya. Ia segera memutar otak untuk meredakan kesalahpahaman ini sebelum fisik dan mentalnya kembali disiksa pagi-pagi sekali.
"Maksudku... maksudku agar Catalina tidak menunggu lama di sana, Billy. Segera pergi agar urusanmu cepat selesai," sahut Lara cepat, mencoba meluruskan kalimatnya dengan nada selembut mungkin.
Namun, logika seorang Billy Davidson tidak berjalan seperti orang normal pada umumnya.
Pria itu justru melangkah lebar mendekati Lara, mencengkeram kedua bahu istrinya dengan cengkeraman yang kuat hingga membuat Lara meringis menahan perih di bekas luka semalam.
"Katakan padaku, kau ingin menemui selingkuhanmu, kan?!" tuduh Billy dengan mata yang melebar penuh curiga.
Deg.
Lara memejamkan matanya sejenak. Seperti yang sudah-sudah, sepertinya drama melelahkan ini tidak akan pernah selesai di dalam rumah ini.
Rasa lelah yang teramat sangat menyergap jiwanya. Belum sempat tubuhnya pulih dari memar semalam, tuduhan baru yang tak berdasar sudah kembali dilemparkan padanya.
Lara Giger akhirnya menundukkan kepala, memilih jalur aman yang selalu ia ambil demi menyelamatkan dirinya. "Maafkan aku... Aku tidak bermaksud seperti itu, Billy—"
"Katakan padaku! Selingkuhanmu yang mana lagi yang akan kau temui saat aku tidak ada di rumah? Katakan padaku, Lara!" teriak Billy tepat di depan wajah istrinya.
Urat-urat di leher pria itu menegang, menumpahkan segala bentuk kecemburuan yang menggerogoti pikirannya.
Suara teriakan Billy menggema di dalam kamar yang sunyi itu, memekakkan telinga Lara. Di dalam kondisi tertekan seperti ini, sebuah suara lain berbisik di dalam benak Lara sendiri.
Apa kau benar-benar tidak puas memukulku semalam? Brengsek! Hinaan itu tertahan rapat di tenggorokannya. Sayangnya, kalimat kelam itu hanya mampu bergema di dalam hatinya. Lara tidak akan pernah memiliki keberanian untuk menyuarakannya secara langsung.
Sejujurnya, rasa sakit fisik ini lambat laun sudah mulai dinikmati oleh Lara.
Rasa sakit itu menjadi bukti mati bahwa dia masih hidup dan bisa merasakan sesuatu, meskipun sesuatu itu adalah penderitaan yang tak berkesudahan.
Di tengah cengkeraman kasar Billy dan tatapan matanya yang penuh amarah, pikiran Lara justru melayang ke tempat yang jauh lebih gelap.
Bagaimana jika aku benar-benar selingkuh di belakangnya? batin Lara bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Apa pria posesif di hadapanku ini akan langsung kehilangan akal sehatnya dan membunuhku saat itu juga?
Membayangkan kematian di tangan Billy entah mengapa terasa seperti sebuah jalan keluar yang ironis bagi Lara.
Mati berarti terbebas dari siksaan fisik ini. Mati berarti dia tidak perlu lagi mendengar julukan "Anak Sial" dari seluruh keluarganya di Los Angeles.
Mengingat hal itu, sebuah senyuman getir dan aneh mendadak terukir di sudut bibir Lara yang masih terluka. Ia tersenyum membayangkan akhir dari penderitaannya yang tragis namun melegakan.
Billy yang melihat perubahan ekspresi di wajah istrinya langsung mengernyitkan dahi.
Amarahnya sesaat berganti dengan rasa heran dan curiga yang semakin mendalam melihat senyuman misterius itu.
"Apa yang kau tertawakan?!" bentak Billy, mengguncang bahu Lara dengan kasar.
Lara tersentak dari lamunannya, buru-buru menghapus senyuman itu dari wajahnya. Ia menatap suaminya dengan tatapan mata yang kosong dan redup.
"Tidak ada, suamiku..." jawab Lara dengan suara parau dan lemah, menyerahkan seluruh sisa energinya pagi itu untuk kembali tunduk di bawah kuasa Billy Davidson.
jadi gemes nih baca nya thor
ada pebinis, pembalap, doesen muda🥰🥰🥰kalo ini ada di dunia nyata, pasti sempurna banget nih🤔😄