Seorang ayah angkat yang secara terpaksa menikahi putri angkat nya. Dia melakukan hal itu karena memenuhi janjinya kepada almarhumah sahabat nya untuk melindungi nya.
Sebenarnya dia telah gagal memenuhi janjinya karena nasib malang yang menimpa Artika. Ternyata masih memiliki hubungan darah dengan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MCT 34
"Jadi kamu berkemas karena ingin ke Surabaya menemui ibu?"
"Ya, Darling."
"Lalu kenapa kamu bilang kalau sedang marah sama aku, haaah?" Aldri mendekati Antika dan memeluknya dari belakang. Pria itu mengecup leher Antika dan mengusap-usapnya hingga membuat Antika tertawa geli. "Kamu sengaja membuatku khawatir , yaa."
"Abisnya darling nang gemesin mukanya. Makanya jangan suka suudzon sama orang. Emang dipikir aku apaan ngambek dikit bawa koper minggat. Nggak zaman gitu darling kekanakan banget."
"Syukurlah kalau Antika yang manja ini sekarang udah gede."
"Kalau gede emang udah gede badanku darling. Kalau manja tetep, dong. Pingin nya dimanjain suami."
Antika dan Aldri tertawa bersama. Rasa rindu yang menggebu tersapu bersih hanya dengan pelukan dan ciuman. Canda tawa seperti ini yang membuat candu kebahagiaan mereka.
"Ya sudah kita berangkat hari ini juga. Biar Pak Maus siap-siap."
"Tapi apa dari nggak capek, kan baru pulang kerja?"
"Tidak apa-apa aku bisa tidur di mobil. Kamu bisa tambahkan bajuku di dalam koper. Aku mandi dulu ini sudah gerah."
"Ih, Darling itu main peluk-peluk akunya jadi ikutan lengket nih."
"Biarin saja aku sudah tidak tahan ingin memelukmu. Kalau begitu bagaimana kalau kita mandi bersama agar badanmu tidak lengket lagi." Aldri mengerling ke arah Antika dengan senyuman jahilnya.
"Iihhh ogaah. Maunya Darling itu mah gitu. Udah sana sana mandi sendiri." Aldri terbahak dan berlalu ke kamar mandi.
Antika segera mengalihkan pandangannya. Wajah nya dan telinganya memerah semerah buat tomat yang sedang ranum. Antika tersenyum dan menggigit bibir bawahnya. Ia berusaha kembali fokus pada kopernya.
Tanpa Aldri dan Antika sadari ada seseorang yang sedang mengintai rumah mereka.
Sudah 2 jam ia mengawasi rumah Aldri, tetapi belum ada pergerakan seseorang yang keluar meninggalkan rumah. Pria itu berencana keluar dari mobilnya untuk bertanya pada sekitar. Namun, tiba-tiba Aldri keluar dari dalam rumah membawa sebuah koper.
Mau ke mana dia? Pakai bawa koper segala? Siapa itu? Gadis di belakangnya cantik dan kelihatan masih muda.
Pria itu keluar untuk melihat lebih jelas. Ia kemudian mengambil kamera untuk memotret kedua sasaran itu. Tangan nya bergerak sangat cepat mengambil beberapa foto hingga akhirnya orang-orang yang diawasinya terlalu pergi.
"Sudah siap semuanya?"
"Hu um. Aku cuma bawa satu koper Ibu aja. kan kita nggak lama di sana, Darling. Kerjaan mu numpuk entar."
", Iya paling cuma 3 hari 2 malam. Semoga ibu baik-baik saja."
"Aamiin."
"Ayo, kita berangkat, Pak Maus."
"Baik. Siap Tuan."
" Jangan lupa berdoa dulu. Aku capek sekali. sini Tika." Aldri meminta Antika lebih mendekat. Antika pun menuruti kemauannya Aldri.
Tiba-tiba sajak pria itu menempatkan kepalanya di kedua paha Antika. Gadis cantik itu sangat terkejut.
"Darling ngapain? Malu kan ada Pak Maus, tuh."
"Biar saja. Memang nya kenapa kalau ada Pak Maus.? Pak Maus juga pernah muda. Iya kan, Pak?"
" Eh, iya betul, Tuan."
Pak Maus senyam senyum aja melihat tingkah sang majikan. Sungguh sangat berbeda dengan yang dulu. Meskipun wajah Aldri selalu murah senyum, tetapi ia dapat merasakan bahwa majikannya itu sangat kesepian. Kini ia melihatnya bahagia bersama sang istri dan saling menggoda justru membuatnya bahagia juga bukannya malah risih. Pak Maus kembali fokus ke jalanan.
Seseorang yang mengawasi rumah Aldri melaporkan semua kepada Anggara. Dan mengirimkan foto-foto hasil jepretannya kepada Anggara.
Mata Anggara membulat sempurna. Bibirnya menyunggingkan senyum. Ada kelegaan dalam dirinya.
Tika, akhirnya aku menemukanmu, sayang. Aku kangen banget sama kamu. Syukurlah kamu baik-baik saja.
Anggara mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Ibu jarinya membelai foto yang ada di layar ponsel. Kemudian bibirnya mengecup foto tersebut.
"Tika aku kangen banget sama kamu, Sayang. Aku janji akan segera menemui kamu saat kembali nanti."
Anggara merebahkan tubuh di kasur empuknya. Tangan nya menggenggam ponsel dan memeluknya. Matanya pun terpejam dan mulai terlelap. Tampak bibirnya tersenyum dalam mimpi.
Sungguh suatu yang aneh. Pasalnya, sejak terbangun dari, dan ponselnya tidak dapat menghubungi Antika, Anggara selalu sulit untuk tertidur. Bahkan terkadang dirinya harus meminum obat tidur untuk membantunya terlelap.
Perjalanan yang melelahkan dari Jakarta ke Surabaya membuat Antika terlelap. Ketika sampai gadis itu bahkan tak menyadarinya. Karena tak tega membangunkan, Aldri pun menggendongnya masuk ke rumah ibunya. Mereka sampai Surabaya dini hari menjelang Subuh.
Aldri menidurkan Antika perlahan di tempat tidur kamar Aldri. Ia sengaja membawa gadis itu ke kamarnya agar mereka tidak tidur terpisah seperti dulu. Antika tertidur sangat nyenyak. Aldri memandangnya sejenak. Gadis itu tampak damai dalam tidurnya. Bibir Aldri mengulas senyum.
Tidak apa-apa bulan madu kita masih bisa menunggu. Yang terpenting kamu dan itu sehat dan bahagia.
Aldri segera keluar menemui ibunya. Seperti biasa sebagai seorang anak yang berbakti Aldri tak pernah melupakan didikan sang Ibu agar selalu mencium punggung tangan orang tua sebagai adab sopan santun dan memeluk tubuhnya sebagai gambaran kasih sayang.
"Apa Tika masih tidur, Al?"
"Iya, Bu. Mungkin kecapean."
"Iya lumayan perjalanannya pasti capek." Indira terbatuk.
"Bu, sejak kapan ibu sakit begini? Hari ini kita periksakan ya."
"Baru tiga harian, Al. Tidak apa-apa Ibu sudah minum obat."
"Bu jangan sepelekan penyakit. Apalagi di usia itu sekarang. Ibu satu-satunya orang tua kami yang masih hidup. Jadi, izinkan kami untuk merawat dan menjaga kesehatan ibu."
"Ya, sudah, Nak. Terserah kamu saja."
", Kalau begitu saya pamit mandi dulu, Bu. Sekalian sholat."
"Iya, Al. Ibu juga mau siap-siap ikut jamaah ya."
"Tika Kamu cantik sekali. Aku gemes pengen nyubit."
Suara itu datang lagi. Siapa dia?
"Hai, siapa kamu? Ayo sini tunjukin muka kamu. Berani nya main sembunyi-sembunyi. Cepetan keluar." Antika berteriak berusaha memancing pemilik suara untuk muncul.
Tiba-tiba sosok seseorang yang keluar dari kegelapan. Samar-samar sosok itu tampak mendekat. Tubuh Antika bergeming seakan-akan terpaku oleh tanah yang ia pijak. Tubuh Antika mulai gemetar. Ia ketakutan dan khawatir orang yang datang adalah penjahat.
"Tika ini aku. Apa kamu udah lupa sama aku?" sosok itu berjalan makin dekat. Kini terlihat separuh badannya.
Antika mencoba melebarkan matanya untuk mengetahui bagaimana wajah orang itu.
"Si- Siapa memangnya ka-mu?" karena terlalu takut membuat Antika tergagap.
"Aku....."
"Stop! Berhenti jelasin aja di situ. kenapa kamu terus-terusan datang, sih?" Antika spontan berjongkok dan memeluk lututnya.
" Tika aku kangen banget sama kamu. Apa kamu nggak kangen sama aku?"
"Nggak! Aku nggak tahu siapa kamu kenapa harus kangen?" Antika memperkeras suaranya. Ia menutup kedua telinganya.
"Ini aku Tika. Sayang apa kamu lupa sama aku Tika? Tika, Tika."
"Nggak tahu aku nggak ingat! Cepat pergi aja! Aku nggak mau lihat kamu! Pergi!"
" Tika. Tika!"
Aldri menggoyang-goyangkan tubuh Antika saat melihat gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya dan mulai berkeringat.
Antika terbangun dari mimpinya dan langsung duduk. Napasnya ngos-ngosan sekolah telah berlari sangat jauh. Ia memegangi rambutnya dan menyebabkan ke belakang. Aldri memeluk Antika berusaha untuk menenangkannya.