NovelToon NovelToon
LENTERA

LENTERA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:144
Nilai: 5
Nama Author: Areka Leywin

Di Karang Wetan, hukum punya pintu belakang — dan orang-orang seperti Rangga tidak pernah diundang lewat situ. Setelah menjadi korban kejahatan yang pelakunya berlindung di balik kekuasaan, Rangga bersumpah tidak akan pernah lagi menunggu keadilan datang dari atas. Dari gang sempit dan bantaran kali, ia membangun Lentera — perkumpulan orang-orang tertindas yang saling melindungi ketika negara menutup mata. Namun setiap cahaya yang menyala akan menarik perhatian kegelapan yang lebih besar: Komisaris Yusuf Baskoro dan Bupati Hardian Wibowo, dua penguasa yang saling melindungi demi mempertahankan takhta mereka. Ini kisah tentang seorang anak miskin yang menjelma jadi pemimpin yang ditakuti — dan pertanyaan yang terus menghantuinya: apakah ia masih pelindung, atau sudah jadi seperti yang dulu ia lawan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Areka Leywin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Setelah Layar Menyala

Video pidatoku di aula kampus menyebar lebih cepat daripada artikel Mira sebelumnya. Dalam semalam, potongan-potongan rekaman dari ponsel mahasiswa yang hadir sudah beredar di berbagai platform, sebagian diberi judul dramatis oleh akun-akun yang bahkan tidak kukenal—"Buronan atau Korban? Pengakuan Mengejutkan dari Karang Wetan", "Detik-detik Rangga Kabur dari Kejaran Polisi".

Aku menontonnya sendiri lewat ponsel Ujang, bersembunyi di gudang cadangan yang mulai terasa seperti rumah kedua bagiku, dengan perasaan aneh melihat wajahku sendiri berbicara di layar kecil itu, dibagikan oleh ribuan orang yang bahkan tidak pernah menginjakkan kaki di Karang Wetan.

"Bang, ini udah ditonton lebih dari lima ratus ribu kali," kata Ujang, suaranya campuran takjub dan khawatir. "Komentar-komentarnya... banyak yang dukung kamu. Tapi juga banyak yang nyerang, bilang kamu cuma cari sensasi, atau tuduh kamu sebenernya emang penjahat yang pinter ngomong doang."

Aku sudah menduga reaksi semacam itu akan muncul. "Yang penting bukan semua orang percaya," kataku. "Yang penting, sekarang cerita ini nggak bisa lagi ditutup rapat kayak dulu."

---

Reaksi dari pihak berwenang datang lebih cepat dan lebih terorganisir dari yang kami perkirakan.

Keesokan harinya, sebuah konferensi pers digelar di kantor pemerintah kota—bukan oleh Komisaris Baskoro sendirian seperti biasanya, melainkan bersama seorang juru bicara resmi dari kantor Bupati Hardian Wibowo, tanda bahwa kedua pihak kini bergerak bersama secara terbuka, tidak lagi bersembunyi di balik jarak formal yang biasa mereka jaga.

Mira mengirimkan rekaman konferensi pers itu lewat jalur aman kami, dengan catatan singkat: *"Tonton ini. Mereka mulai defensif."*

Di video itu, Komisaris Baskoro berbicara dengan nada tegas, menyebut diriku sebagai "individu yang memanfaatkan sentimen warga untuk menutupi tindakan kriminal", sementara juru bicara Bupati menambahkan bahwa "proyek revitalisasi telah melalui seluruh prosedur hukum yang berlaku, dan pihak Pemkot akan menempuh jalur hukum terhadap pihak-pihak yang menyebarkan informasi menyesatkan"—kalimat yang, menurut catatan Mira, terdengar seperti ancaman terselubung terhadapnya sendiri sebagai wartawan.

Yang paling mengejutkan kami semua adalah pengumuman di akhir konferensi pers: pembentukan "satuan tugas khusus" gabungan dari kepolisian dan Satpol PP, dengan tujuan resmi "menjaga ketertiban dan kelancaran proyek revitalisasi", tapi yang semua orang di Karang Wetan tahu sebenarnya dibentuk untuk satu alasan utama—memburu kami.

---

"Ini beda dari razia biasa," kata Yanto malam itu, menatap catatan yang disusun Ujang soal susunan satuan tugas baru itu. "Ini bukan cuma soal nangkep kamu lagi, Rangga. Ini kayak mereka lagi nyiapin operasi besar buat bersihin Karang Wetan sekalian—atas nama 'ketertiban proyek'."

Aku merasakan kekhawatiran baru yang lebih besar dari sebelumnya. Selama ini, pertarungan kami terasa personal—antara aku, Broto, Baskoro, dan jaringan mereka. Tapi dengan terbentuknya satuan tugas resmi, ancaman itu berubah jadi sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih sulit dilawan: kekuatan negara yang bergerak secara terbuka, dengan legitimasi resmi, menyasar bukan cuma aku, tapi berpotensi seluruh warga Karang Wetan.

Sari, yang duduk di sudut gudang sambil menyusun catatan terbarunya, mendongak dengan wajah serius. "Kalau mereka mulai gerak sebesar ini, itu tandanya kita udah berhasil bikin mereka takut beneran. Tapi itu juga berarti, taruhannya sekarang jauh lebih tinggi buat semua orang, bukan cuma kamu."

---

Malam itu, aku mengumpulkan semua orang yang bisa dihubungi dari empat kawasan jaringan kami—perwakilan dari Karang Wetan, bantaran kali timur, area terminal lama, dan kampung nelayan Pak Rusdi—dalam pertemuan darurat yang paling besar sejak Lentera terbentuk.

Berdiri di tengah mereka, aku menyadari betapa jauhnya perjalanan ini sejak malam aku pertama kali mengucapkan nama "Lentera" setengah bercanda pada Ujang dan Yanto di gang buntu dekat bantaran kali.

"Mereka sekarang nggak lagi sembunyi-sembunyi," kataku, suaraku terdengar lebih berat dari biasanya. "Mereka bikin satuan tugas resmi, artinya mereka siap pakai kekuatan penuh buat lawan kita. Ini bukan lagi cuma soal aku ditangkep atau nggak. Ini soal, apakah kita semua siap bertahan sampai akhir, atau kita mundur sekarang selagi masih bisa."

Hening panjang memenuhi ruangan itu, sebelum Pak Rusdi berdiri, suaranya tegas meski usianya sudah tidak muda lagi.

"Saya udah kehilangan tanah leluhur saya sekali karena diam aja dulu," katanya. "Saya nggak akan diam lagi kali ini. Kalau mereka mau lawan kita pakai kekuatan penuh, biar mereka tahu, kita juga nggak akan lari lagi."

Satu per satu, perwakilan dari kawasan lain menyuarakan hal serupa—bukan tanpa rasa takut, tapi dengan tekad yang jauh lebih kuat daripada rasa takut itu sendiri.

Malam itu, menatap wajah-wajah yang memilih bertahan meski tahu risikonya, aku menyadari sesuatu yang mengubah caraku memandang semua ini selamanya: Lentera bukan lagi sekadar kelompok yang kupimpin. Ia sudah menjelma jadi sesuatu yang lebih besar dari diriku sendiri—sebuah gerakan yang, bahkan jika aku jatuh sekalipun, tidak akan lagi bisa dipadamkan semudah itu.

---

*(Bersambung ke Bab 21)*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!