Kisah tentang Cahaya atau Aya (30) seorang pengusaha wanita muda yang sudah menjalin hubungan kasih selama lebih dari 10 tahun dengan kekasihnya yang bernama Rudi. Mereka sudah merencanakan acara lamaran namun tiba-tiba Rudi membatalkan dan memutuskan hubungan dengan Aya tanpa alasan yang jelas. Aya yang tidak ingin membuat ibunya bersedih karena kegagalan acara lamarannya berusaha untuk mencari pengganti Rudi.
Kemudian ia bertemu dengan Rizal (23) seorang OB berwajah tampan. Pertemuan karena salah paham itu membuat mereka semakin dekat. Aya dan Rizal akhirnya sepakat untuk melangsungkan pernikahan istimewa dengan perjanjian tertentu.
Pada akhirnya mereka saling jatuh cinta di dalam ikatan pernikahan istimewa tersebut. Apa yang membuat mereka saling jatuh cinta? Dan bagaimana mereka menyikapi konflik karena kehadiran orang ketiga yaitu orang-orang yang pernah hadir di masa lalu Aya dan Rizal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Eka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bakso Tok Tok
Author POV.
Aya sampai di rukonya pukul 09.00. Lia, Asep dan Hendi baru selesai melaksanakan piket. Aya menerapkan aturan piket pada pagi hari sebelum toko di buka dengan tujuan untuk menjaga kebersihan rukonya. Aya masuk ke ruangan kerjanya mengecek laporan penjualan. Berkali-kali dia menguap merasakan kantuk yang sangat. Ia menelungkupkan kepalanya di meja kerja, matanya terasa sangat berat lalu terpejam dan tertidur.
Tok... Tok... Tok... Suara pintu di ketuk.
"Teh... Teh..." sahut Lia. Karena tidak ada jawaban, Lia membuka pintu kerja Aya dan melihat Aya yang sedang menelungkupkan kepalanya.
"Wah, ini mah si Teteh lagi tidur ... ya sudah nanti aja." Lia yang sudah berbalik dan melangkah hendak keluar, tiba-tiba kembali setelah mendengar suara Aya.
"Ada apa, Li?" tanya Aya dengan suara parau khas orang yang baru bangun tidur.
"Nanti aja atuh kalau Teteh lagi tidur mah," sahut Lia.
"Nggak papa udah bangun kok," jawab Aya sambil meregangkan tubuhnya.
"Astagfirullah udah jam sebelas!" Aya langsung kaget melihat jam dinding, ternyata cukup lama dia tertidur, pantas saja lehernya terasa kaku.
"Atuh Teteh kalau ngantuk kenapa ga tidur di rumah aja?" sahut Lia.
"Kamu tadi ada apa, ada yang mau dibicarakan?"
"Iya Teh... katanya Teteh lagi perlu karyawan lagi? Ada saudara saya pengen kerja di sini, boleh ga Teh?" tanya Lia.
"Oh, boleh nanti anaknya suruh datang dulu saja ke sini," jawab Aya.
"Oh, ya sudah Teh makasih kalau gitu," ucap Lia.
"Lia ... sini dulu, Teteh mau tanya nih!” ucap Aya ketika Lia hendak meninggalkan meja kerja Aya.
“ Ada apa Teh?”
“Kalau kamu seandainya dapat undangan pernikahan dari mantan pacar kamu, baiknya kamu datang apa tidak?" Aya merasa butuh masukan dari Lia tentang undangan pernikahan dari Rudi.
"Kalau kata saya mah mendingan datang Teh."
"Alasannya?" tanya Aya
"Karena biar kita bisa menunjukkan kalau kita kuat ... kalau kita baik-baik saja," ucap Lia bersemangat.
"Begitu ya."
"Tapi kita harus mempersiapkan mental kita dulu, jangan datang terus kita di sana malah nangis-nangis bercucuran air mata ... kalau kaya gitu kan memalukan, menyedihkan ... kalau bisa mah kita datangnya bawa pasangan dan kalau bisa pasangannya harus lebih keren, lebih cakep dari mantan. Tunjukkan kalau kita sudah Move On dan bahkan mendapatkan pasangan yang lebih keren dari dia." Lia berkata dengan penuh semangat. Aya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sepertinya ia setuju dengan pendapat Lia.
"Oh iya, saudara kamu yang mau kerja kalau bisa nanti sore suruh datang ke sini aja."
"Siap Teh!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Aya baru selesai salat isya ketika ada bunyi notifikasi WA di handphonenya. Ternyata pesan dari Rizal.
"Teteh di mana?"
"Di ruko."
"Saya jemput sekarang."
"Ok."
Sepuluh menit kemudian motor Rizal sudah berhenti di depan ruko. Aya langsung menghampiri Rizal.
"Kamu mau makan apa?" tanya Aya.
"Memangnya boleh saya yang menentukan sendiri makanannya?" tanya Rizal.
"Boleh dong."
"Baiklah... ayo naik, Teh!" Aya pun naik motor dibonceng oleh Rizal.
Motor pun melaju, ternyata Rizal membawa Aya ke alun-alun kota. Sebenarnya Aya bingung mengapa Rizal membawanya ke alun-alun kota. Jika saja ini malam Minggu, alun-alun kota akan diramaikan oleh muda-mudi yang berpasangan atau orang-orang yang sekedar ingin menikmati malam Minggu. Namun sekarang adalah malam Senin sehingga tidak terlalu ramai walaupun ada beberapa orang yang mungkin sengaja ingin menikmati suasana malam di alun-alun kota.
Rizal menghentikan motornya dan memarkirkan motornya.
"Ayo Teh!" seru Rizal.
"Kita mau ngapain di sini?" tanya Aya penuh kebingungan.
"Nyari sesuatu yang enak dimakan dong," jawab Rizal. Aya hanya diam dan berjalan mengikuti Rizal.
"Itu Teh ... saya pengen makan itu," sahut Rizal. Tangannya menunjuk ke pedagang bakso.
"Bakso tok tok?!" ucap Aya dengan ekspresi bingung.
"Iya... udah lama ga makan bakso tok tok," jawab Rizal.
Benar Aya pun sudah lama sekali tidak makan bakso tok tok. Bakso tok tok adalah bakso ikan yang dijajakan dengan cara dipikul sambil berjalan kaki, dimana penjualnya menjajakan dengan cara memukul kentongan dari bambu sehingga menimbulkan bunyi "tok tok". Mirip seperti cuanki dari Bandung. Keberadaan bakso tok tok saat ini memang sudah agak langka, digantikan dengan pedagang cuanki khas Bandung. Meskipun penjual bakso ikan masih ada tapi sekarang penjualnya lebih banyak menggunakan gerobak dorong.
Mereka berdua duduk di trotoar jalan sedang menikmati bakso tok tok. Aya tersenyum sendiri, ia pikir Rizal akan meminta traktir makan di Restoran ternyata ia hanya meminta ditraktir bakso tok tok. Dia bisa saja membelikan dua puluh mangkok bakso tok tok untuk Rizal, jika Rizal mampu menghabiskannya. Rupanya Rizal memperhatikan sikap Aya yang tersenyum sendiri sambil menikmati semangkok bakso tok tok.
Kenapa ia senyum-senyum sendiri, apa yang dia pikirkan. Gumam Rizal dalam hati.
Setelah selesai makan, Rizal mengajak Aya duduk di kursi taman alun-alun kota. Keduanya duduk sambil memegang es jeruk dalam plastik.
"Rizal, apa kamu sudah punya pacar?" tanya Aya sambil menyedot es jeruk dalam plastik yang ia pegang.
"Belum Teh ... siapa atuh yang mau sama saya yang cuma seorang OB," jawab Rizal.
"Kalau seandainya kamu punya mantan pacar, terus mantan kamu itu mengundang kamu di acara pernikahannya, kira-kira kamu mau datang tidak?"
"Kalau saya pasti akan datang saja Teh."
"Begitu ya?"
"Iya Teh, begitu."
"Dan kalau bisa datangnya bawa gandengan Teh."
"Begitu ya?"
"Iya Teh, begitu."
"Kalau belum punya gandengan bagaimana?" tanya Aya lagi.
"Ya bawa siapa saja Teh, yang bisa diajak untuk menemani undangan."
"Begitu ya?"
"Iya Teh, begitu."
"Aku dapat undangan pernikahan dari mantan aku ... aku pengennya sih datang agar dia tahu kalau aku baik-baik saja ... tapi gak tahu mau datang sama siapa karena aku belum punya gandengan," ucap Aya. Matanya menatap lurus ke depan tidak menatap Rizal yang ada di sampingnya.
"Saya mau Teh... kalau sekiranya Teteh mau minta ditemani," ujar Rizal. Aya langsung memalingkan wajahnya menatap Rizal. Beberapa detik mereka saling bertatapan sebelum akhirnya keduanya saling membuang tatapan mereka.
"Kamu beneran mau menemani aku undangan?" tanya Aya memastikan.
"Mau dong Teh, kalau diajak undangan kan kita bisa makan enak, hehehe," jawab Rizal sambil tertawa.
"Acaranya nanti hari Sabtu, berarti enam hari lagi... apa kamu bisa?"
"Insyaallah bisa, Teh" Rizal menjawab dengan mantap.
"Ok, kalau sudah waktunya nanti aku hubungi kamu ya!"
"Siap Teh!"
"Oh iya, apa ada yang mau dibeli lagi?"
"Memangnya masih ada voucernya, Teh?"
"Karena kamu belinya baso tok tok jadi voucernya masih banyak."
"Simpan saja ya Teh, untuk lain waktu lagi." Rizal berkata dengan tersenyum, senyuman penuh arti.
Aya melirik jam di tangannya waktu menunjukkan pukul 20.30. Mereka memutuskan untuk pulang. Rizal kembali mengantar Aya ke rukonya. Setelahnya Rizal berpamitan untuk pulang.
.
.
.
.
.
Like dan Komen ya