NovelToon NovelToon
Bencana Akhir Zaman: Seluruh Kota Tenggelam

Bencana Akhir Zaman: Seluruh Kota Tenggelam

Status: sedang berlangsung
Popularitas:6
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Arga Bayu Pratama, mantan prajurit Kopassus, terbangun di kamar kosnya yang sempit.
Tanggal di ponselnya: 10 November 2040 — dua hari sebelum kiamat.
Di kehidupan sebelumnya, ia bertahan selama enam tahun di dunia yang hancur. Ia menyaksikan hujan api menghujani kota, zombie berkeliaran di jalanan, dan manusia saling membunuh demi segenggam beras. Ia mati sendirian, tanpa apa-apa, tanpa siapa-siapa.
Tapi sekarang ia kembali. Dengan seluruh ingatan masa depan di kepalanya. Dan satu kekuatan baru yang membuatnya bisa mendengar pikiran setiap orang di sekitarnya.
"Kali ini, aku tidak akan menjadi yang paling lemah."
Sambil membeli puluhan karung beras, air mineral, dan gas elpiji sebelum dunia runtuh, Arga mulai menyusun rencana: membangun tim terkuat, menguasai kota, dan mencari tahu siapa — atau apa — yang sebenarnya menyebabkan kiamat ini.
Karena kiamat bukan kebetulan. Seseorang sedang menonton dari atas sana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 002 - Belanja Gila-Gilaan

"Banyak barang, Pak?" suara resepsionis di telepon terdengar ragu. "Maksud Bapak... kebutuhan acara?"

"Kebutuhan pribadi," jawab Arga.

Ia berdiri di depan jendela suite lantai dua puluh satu. Di bawah sana, Semarang masih bergerak normal. Jalanan padat. Klakson pendek. Orang-orang mengejar makan siang, rapat, kelas, dan urusan kecil yang besok malam tidak lagi bernilai.

"Saya perlu toko grosir yang bisa kirim hari ini juga," lanjutnya. "Makanan instan, air mineral, tabung gas, lampu senter, lilin, korek, garam, sambal, makanan kaleng. Jumlah besar."

Di seberang sana hening dua detik.

Orang kaya aneh. Jangan-jangan mau bikin acara survival?

Telepati menangkap pikiran itu dengan jelas.

Arga tidak menjelaskan. "Hubungi sekarang. Saya bayar tambahan untuk layanan cepat."

Kalimat terakhir mengubah segalanya. Dalam dunia sebelum kiamat, uang masih bahasa paling mudah dimengerti.

Kurang dari dua puluh menit kemudian, resepsionis mengirim tiga nomor: satu toko grosir besar di kawasan Johar, satu distributor air mineral, dan satu pemilik gudang perlengkapan rumah tangga di Genuk. Arga menelepon semuanya dari kamar, suaranya datar, daftar di buku catatannya terbuka.

"Indomie dua ratus dus."

Pemilik toko di Johar tertawa kecil. "Dua ratus dus, Pak? Untuk bantuan bencana?"

"Untuk saya."

Tawa itu berhenti.

Orang gila. Tapi kalau bayar lunas, peduli apa?

"Aqua seratus lima puluh dus," lanjut Arga. "Makanan kaleng dua ratus dus. Nasi siap makan tiga ratus kotak. Sambal botol seratus. Garam lima puluh kilo."

"Pak, stok kami ada, tapi pengiriman sebanyak itu harus pakai beberapa mobil."

"Pakai truk engkel. Dua kalau perlu. Saya bayar ongkos dan orang angkut."

Di telepon kedua, ia memesan tabung gas tiga puluh, korek lima ratus, dan wadah plastik besar untuk menyimpan air. Di telepon ketiga, ia mengambil seribu senter murah tapi kuat, baterai cadangan sebanyak yang gudang itu punya, serta lilin sepuluh ribu batang.

Setiap kali penjual ragu, Arga hanya mengatakan satu hal.

"Kirim hari ini. Uang saya transfer sekarang."

Satu jam kemudian, ia sudah berada di atas ojek online menuju Johar. Angin panas menghantam wajahnya. Jalanan pasar padat oleh motor, becak, mobil boks, dan pedagang yang berteriak menawarkan barang. Bau ikan asin, cabai, kardus basah, solar, dan keringat bercampur jadi satu.

Semua itu membuat dada Arga terasa dingin.

Bukan karena ia sentimental.

Karena ia tahu bau pasar seperti ini akan hilang. Besok malam, air akan mengangkat kardus-kardus itu, menenggelamkan kios, memutus listrik, lalu membuat manusia berlutut di depan satu bungkus mi instan.

Pemilik toko grosir menunggunya di depan gudang, wajahnya masih setengah percaya setengah curiga.

"Pak Arga?"

"Ya."

"Barang sebanyak itu benar untuk satu alamat hotel?"

"Ya."

Pemilik toko menelan ludah. Matanya menyapu pakaian Arga yang sederhana, lalu berhenti pada ponsel di tangan Arga.

Kalau transfernya masuk, dia mau beli gudang sekalian pun terserah.

"Tunjukkan stok," kata Arga.

Mereka masuk ke gudang belakang. Tumpukan dus Indomie tersusun sampai hampir menyentuh atap. Di sisi lain ada kaleng sarden, kornet, biskuit, susu kental, gula, garam, dan botol sambal dalam karton merah.

Mata Arga bergerak cepat. Bukan seperti pembeli biasa, tapi seperti komandan memeriksa amunisi.

"Dus yang segelnya rusak tidak usah. Kaleng penyok parah tinggal. Garam ambil kemasan besar. Sambal botol kaca campur sachet. Biskuit kering tambahkan lima puluh dus."

Pemilik toko berkedip.

Orang ini tahu barang.

Arga membaca pikiran itu dan menunjuk tumpukan lain. "Tikar plastik, tali rafia, lakban besar, kantong sampah hitam, pisau dapur, panci kecil. Masukkan juga."

"Itu tidak ada di daftar awal, Pak."

"Sekarang ada."

Uang masuk ke rekening toko dalam tiga kali transfer besar. Wajah pemilik toko langsung berubah. Ia yang tadi banyak bertanya kini memanggil pegawai dengan suara keras.

"Cepat! Pisahkan barang Pak Arga! Jangan salah hitung! Yang dusnya jelek jangan dinaikkan!"

Empat buruh angkut mulai bekerja. Kardus demi kardus dipindahkan ke troli, lalu ke truk. Rantai manusia terbentuk dari gudang ke bak kendaraan. Orang-orang di sekitar pasar menoleh. Beberapa tertawa, beberapa menggeleng, beberapa diam-diam memotret.

"Pak, ini buat toko baru?" tanya salah satu buruh sambil mengangkat dus Indomie.

"Buat hidup," kata Arga.

Buruh itu tertawa karena mengira ia bercanda.

Arga tidak tertawa.

Menjelang sore, pengiriman pertama tiba di hotel. Dua truk engkel berhenti di area servis belakang. Bellboy dan staf hotel keluar dengan wajah bingung. Resepsionis yang pagi tadi melayaninya sampai turun untuk memastikan sendiri.

"Pak Arga... semua ini naik ke kamar?"

"Lantai dua puluh satu."

"Semuanya?"

"Semuanya."

Di belakang mereka, seorang pria berseragam hitam dengan name tag "Kepala Security" berdiri dekat pintu servis. Tubuhnya besar, kumisnya tebal, dan matanya tidak berhenti menghitung kardus.

Tamu macam apa bawa makanan segudang ke presidential suite?

Arga menoleh sekilas.

Pikiran pria itu terdengar lebih gelap daripada rasa ingin tahu biasa.

Kalau banjir besar benar-benar datang seperti kata BMKG tadi pagi, barang sebanyak ini bisa jadi uang. Atau nyawa.

Arga menyimpan wajah pria itu dalam ingatan.

Jadi kau yang pertama mencium bau darah.

"Ada aturan hotel yang melarang tamu membawa barang pribadi?" tanya Arga kepada resepsionis, suaranya tenang.

Resepsionis itu gugup. "Tidak, Pak. Selama tidak berbahaya dan tidak mengganggu tamu lain."

"Tabung gas disimpan di area balkon servis suite. Lilin dan baterai dipisah. Makanan naik lebih dulu."

Kepala Security maju setengah langkah. "Pak, untuk alasan keamanan, kami perlu mencatat semua barang yang masuk."

Nada suaranya sopan. Pikirannya tidak.

Catat jumlahnya. Nanti kalau keadaan kacau, tinggal tahu kamar mana yang harus dibuka.

Arga menatapnya. "Silakan catat dari luar. Tidak ada staf yang masuk kamar tanpa izin saya."

Mata Kepala Security menyipit. "Prosedur hotel, Pak."

"Saya bayar presidential suite untuk privasi. Kalau hotel punya keberatan, panggil manajer sekarang."

Kalimat itu dingin dan datar. Orang-orang di sekitar lebih cepat diam karena nadanya tidak memberi ruang untuk tawar-menawar.

Resepsionis buru-buru tersenyum. "Tidak perlu, Pak Arga. Kami bantu sesuai permintaan Bapak."

Kepala Security mundur, tapi Telepati menangkap geramnya.

Sombong sekali. Tunggu saja.

Arga berbalik ke buruh angkut. "Saya bayar dua kali ongkos kalau selesai sebelum pukul sembilan malam."

Mata para buruh langsung menyala.

"Siap, Pak!"

Setelah itu hotel berubah seperti gudang perang. Lift servis naik turun tanpa henti. Dus Indomie, Aqua, kaleng makanan, lilin, senter, baterai, garam, sambal, tabung gas, panci, pisau, tali, dan kantong sampah memenuhi lorong lantai dua puluh satu. Setiap batch masuk, Arga sendiri memeriksa jumlahnya.

Tidak ada yang dibiarkan acak.

Air mineral ditumpuk dekat kamar mandi. Makanan instan di ruang tengah. Kaleng di sudut paling kering. Lilin, korek, dan baterai masuk lemari tertutup. Pisau dapur, panci, dan tali diletakkan dekat dapur kecil. Tabung gas dipisahkan, tidak menyentuh sumber panas.

Seorang bellboy muda menatap ruangan yang makin lama makin penuh.

Ini orang gila atau peramal bencana?

Arga menangkap pikiran itu, tapi tangannya tetap bergerak. Kardus dibuka, label ditulis, jalur jalan di tengah ruangan disisakan selebar satu tubuh. Ia pernah hidup di tempat penuh barang tanpa susunan. Saat panik datang, barang yang tidak tersusun sama saja dengan sampah.

Pukul 20.47, pengiriman terakhir selesai.

Buruh angkut menerima uang tambahan dengan wajah lelah tapi puas. Staf hotel mundur satu per satu. Kepala Security masih berdiri di dekat kamera koridor, pura-pura memeriksa layar ponsel.

Arga menutup pintu suite.

Klik.

Deadbolt terkunci.

Ia menempelkan telinga sejenak. Langkah di luar menjauh, kecuali satu orang yang berhenti beberapa detik lebih lama.

Kepala Security.

Arga tersenyum tipis.

Bagus. Ikan sudah mencium umpan.

Malam semakin turun. Presidential suite yang pagi tadi terasa terlalu luas kini hampir tidak punya ruang kosong. Dus-dus menumpuk seperti dinding. Air mineral membentuk barisan biru bening. Senter dan lilin tersusun rapi seperti amunisi.

Arga duduk di lantai di antara semua itu, membuka satu bungkus Indomie, memasaknya dengan panci kecil, lalu makan tanpa suara.

Rasa mi instan itu biasa saja.

Tapi bagi Arga, setiap suap adalah waktu yang ia curi dari masa depan.

Ia melihat Semarang dari balik kaca. Lampu kota menyala damai. Orang-orang masih memesan makanan, menonton drama, mengeluh macet, dan menunda urusan kecil sampai besok.

Besok malam, tidak ada lagi besok untuk mereka.

Arga mengatur alarm di ponselnya.

11 November 2040.

23.10.

Satu menit sebelum langit pecah.

Ia meletakkan ponsel di atas dus Aqua, bersandar di antara tumpukan makanan, lalu memejamkan mata.

Besok, semuanya akan berubah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!