Dia hanyalah sekretaris tak menarik dan berkacamata yang selalu terlihat sibuk dengan tugasnya.
Tapi di balik penampilannya yang polos, Cassia Manon diam-diam menyimpan rasa pada bos playboy, Maxence Kingsford.
Sayangnya, Maxence tak pernah menggodanya meskipun dia seorang playboy karena mungkin di matanya—Cassia sama sekali tak menarik.
Sampai suatu malam dalam sebuah pesta bisnis, Max dijebak dengan minuman perangsang oleh seorang wanita yang menginginkan dirinya.
Cassia Manon yang selalu bersamanya—akhirnya menyelamatkannya, tapi konsekuensinya berat, satu malam menjadi pelampiasan hasrat bosnya. Dan Cassia justru menyerahkan tubuhnya dengan sukarela.
Pagi harinya, Cassia mengira semuanya selesai. Tapi ternyata Maxence tak ingin berhenti.
Bagaimana hubungan mereka selanjutnya? Apakah tetap tanpa ikatan dan hanya sekadar pelampiasan semata? Ataukah akan ada benih-benih cinta di hati Max untuk Cassia yang semakin lama cintanya semakin besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Max
Di dalam taksi, Cassia duduk di kursi belakang dan menghela napas panjang. Sopir taksi, seorang pria paruh baya dengan kumis tebal, menatapnya melalui kaca spion. "Nona mau ke mana?"
Cassia menyebutkan nama tempat pesta diadakan. Sopir itu mengangguk dan mulai melaju. Sepanjang perjalanan, Cassia sibuk memegang ponselnya.
Ia sudah mencoba menghubungi Max sejak pukul empat sore, membeei kabar bahwa sia akan berangkat, konfirmasi tentang waktu.
Tapi panggilannya tidak pernah diangkat. Pesan chat-nya tak dibaca.
Sampai pukul setengah tujuh, saat taksi mulai memasuki area pesta, Cassia mencoba sekali lagi untuk mengirim pesan. [Sedang sibuk, Tuan? Aku sudah di jalan. Mohon info]
Masih tidak ada jawaban. Hati Cassia mulai tidak nyaman. Ia mencoba menelepon supir Max, tapi tak diangkat juga.
‘Mungkin dia sudah di pesta,’ gumam Cassia dalam hati. ‘Jangan panik. Kau hanya perlu datang, menunjukkan diri, dan mencatat siapa saja yang diajak bicara oleh Max serta memperhatikan topiknya.’
Taksi berhenti di pintu lobi hotel. Seorang pegawai hotel berseragam merah segera membukakan pintu untuknya.
Cassia membayar dengan kartu kredit perusahaan, Max memberinya akses untuk keperluan bisnis. Lalu dia melangkah keluar.
Lobi hotel cukup ramai. Banyak orang berdandan glamor dan mewah, berbincang-bincang dengan sebelum masuk area pesta.
Cassia segera menyadari bahwa semua orang di sini terlihat kaya, percaya diri, dan saling mengenal.
Mereka berbicara dengan suara yang nyaring namun tetap terdengar santun, tertawa dengan suara yang sengaja dibuat manis, tawa khas konglomerat.
Dan begitu Cassia melangkah masuk, semua mata menoleh ke arahnya. Bukan karena Cassia terkenal. Jelas bukan.
Tapi karena Cassia dalam penampilan barunya muncul begitu memukau. Ia tidak terlihat seperti pegawai biasa. Dia terlihat seperti seseorang yang seharusnya sudah memiliki asisten.
Gaun hitamnya membungkus tubuhnya dengan sempurna. Rambutnya yang bergelombang jatuh dengan sempurna. Wajahnya yang tanpa kacamata tampak seperti wajah seorang bintang film yang tengah naik daun.
Cassia merasakan beberapa pasang mata menatapnya. Lalu semakin banyak dan banyak lagi.
Ia menunduk, mencaci dirinya sendiri karena tidak membawa kacamata cadangan untuk perlindungan dirinya.
*
Dengan canggung, Cassia mulai mencari Max di antara kerumunan, tapi tak ketemu. Pria tinggi itu tidak ada di mana pun.
Cassia berjalan menyusuri ruangan, melewati meja makanan yang ditata rapi dengan cemilan mewah mini, melewati bar tempat bartender sedang memutar-mutar gelas dan botol, keluar ke teras hotel yang menghadap kolam renang.
Tidak ada Max. Cassia menelepon sekali lagi.
"Nomor yang Anda tuju berada di luar jangkauan atau sedang dimatikan ..."
Suara otomatis itu membuat jantung Cassia berdetak lebih cepat. Bukan luar jangkauan. Selama satu tahun bekerja untuk Max, tidak pernah sekalipun nomor bosnya berada di luar jangkauan.
Max selalu bisa dihubungi, 24 jam.
Kenapa hari ini? Kenapa sekarang?
Sepanjang pesta, Cassia berdiri sendirian di dekat pilar, memegang gelas jus yang tidak belum dia minum sama sekali.
Setiap kali seseorang mendekat untuk bertanya apakah dia sedang menunggu seseorang, Cassia hanya tersenyum tipis dan menggeleng.
Namun banyak yang tetap bertahan, seolah penasaran dengan identitas wanita misterius dalam gaun hitam itu.
"Maaf, apakah kita pernah bertemu?" seorang pria berdasi kupu-kupu bertanya dengan aksen Inggris. Cassia menjawab tidak dan berpaling sopan.
Dia tak ingin berbasa basi dan fokus mencari Max di sana. ‘Di mana dia?’ batinnya gugup.