"Dia seorang pria tua, Elena. Tapi dia sangat kaya dan royal. Tugasmu hanya melayaninya satu malam dengan mata tertutup."
Setelah kabur dari rumah tanpa uang dan tanpa tujuan, Elena menerima tawaran yang seharusnya tidak pernah ia ambil. Satu malam dan bayaran yang cukup untuk menyelamatkan hidupnya.
Namun malam itu meninggalkan sesuatu yang tidak pernah Elena duga.
Elena Hamil.
Demi melindungi bayinya, Elena melarikan diri ke Indonesia.
Tujuh tahun kemudian, takdir membawanya bekerja di sebuah perkebunan teh yang ternyata adalah milik Leonard—miliarder misterius yang selalu bersembunyi di balik topeng dan penampilan seorang pria tua yang rapuh.
Sementara itu, Leonard masih terus mencari keberadaan Elena, satu-satunya wanita yang sentuhannya tidak memicu penyakit alergi langka yang selama ini membuatnya menjauhi semua orang.
Saat kebenaran mulai terkuak, mampukah Elena menjaga rahasianya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 25
Jarum jam dinding yang bentuknya menyerupai tokoh kartun pudar itu sudah menunjuk angka dua dini hari, namun suasana di dalam kamar sempit tersebut jauh dari kata damai.
Udara terasa begitu pengap, seolah oksigen menolak masuk ke dalam ruangan berukuran tiga kali tiga meter itu.
Di atas kasur lipat tipis yang menempel langsung ke lantai, Leonard bergerak gelisah. Tubuh besarnya berguling ke kiri dan ke kanan, mencoba mencari posisi nyaman yang mustahil ia temukan.
Sesekali tangannya mengusap kasar leher dan lengannya yang mulai dipenuhi bentol merah.
Plak!
Leonard menampar pipinya sendiri dengan keras. Alih-alih membunuh nyamuk yang berdengung di telinganya, ia hanya berhasil membuat pipinya kebas.
"Sial! Benar-benar sial!" gerutu Leonard dengan suara tertahan, matanya menatap nyalang ke langit-langit kamar yang catnya mulai mengelupas.
"Aku tidak bisa tidur. Apa di rumah ini nyamuk diternakkan? Mana luar biasa gerah. Rumah macam apa ini, seperti oven pemanggang!"
Bos mafia yang terbiasa tidur di atas kasur king size berteknologi pengatur suhu dan ruangan kedap suara itu kini harus menderita.
Keringat sebesar biji jagung membasahi dahi dan kaus oblong pinjaman yang terasa gatal di kulitnya.
Di saat Leonard sedang berjuang antara hidup dan mati melawan suhu ruangan, sebuah suara ritmis tiba-tiba terdengar dari arah ranjang atas.
Mata biru Leonard seketika menyipit tajam. Ia menajamkan pendengarannya.
Rahang Leonard mengeras seketika. "Bocah sialan..." desisnya tak percaya.
Mafia dingin itu bangkit duduk. Matanya menatap tajam ke arah ranjang atas tempat Noah tidur. Ya, bocah berusia enam tahun yang sore tadi mengancam akan menyumpal mulutnya dengan kaus kaki kotor jika ia mendengkur, kini sedang mendengkur dengan sangat pulas!
Dengkurannya bahkan terdengar seperti knalpot motor vespa tua yang kesulitan menyala.
"Oh, jadi begini permainannya?" gumam Leonard dengan senyum sinis yang mengerikan. Ego dan harga dirinya sebagai pria dewasa meronta-ronta. Ia, bos dunia bawah tanah, tidak bisa tidur karena menderita, sementara bocah arogan yang mengancamnya malah tertidur lelap sambil mendengkur?!
Tidak bisa dibiarkan!
Dengan gerakan cepat dan penuh kekesalan, Leonard mengangkat sebelah kakinya yang panjang, lalu menendang papan kayu ranjang atas itu dengan cukup keras.
Brak!
Tendangan itu membuat ranjang berderit hebat. Noah, yang sedang tertidur di pinggir ranjang tanpa pembatas yang memadai, langsung tergelincir turun.
"Aduh!"
Tubuh kecil Noah jatuh tepat di atas perut Leonard yang berotot. Namun, bukannya menangis kesakitan, bocah jenius itu hanya mengerang pelan, mengusap matanya dengan punggung tangan, lalu menatap Leonard dengan tatapan mengantuk sekaligus sangat kesal.
"Apa masalahmu, Paman penyakitan?!" sembur Noah dengan suara serak khas bocah bangun tidur, alisnya menukik tajam persis seperti Leonard jika sedang marah.
"Apa tulang keropos mu sudah tidak kuat menahan rasa sakit sampai kamu harus merusak ranjangku?!"
"Tutup mulutmu, Penipu Kecil!" balas Leonard tak kalah sengit, menyingkirkan tubuh Noah dari perutnya.
"Kamu bilang ka.u akan menyumpal mulutku kalau aku mendengkur! Tapi kenyataannya, sedari tadi kau yang mendengkur seperti babi hutan! Siklus istirahatku hancur berantakan karena suara mesin rusak dari hidungmu itu!"
Noah menguap lebar tanpa repot-repot menutup mulutnya. Ia duduk bersila di samping Leonard, sama sekali tidak terlihat merasa bersalah.
"Itu namanya mekanisme pertahanan tubuh terhadap suara nyamuk. Aku menutupi suara mereka dengan suaraku. Secara ilmiah, itu logis," balas Noah asal, matanya sudah setengah terpejam.
"Logis dari mana, hah?!" Leonard mengacak rambutnya frustrasi. "Lalu bagaimana dengan suhu ruangan ini? Kenapa panas sekali? Dimana kalian menyimpan remote ac? Nyalakan suhu enam belas derajat sekarang juga, aku bisa mati dehidrasi dan kepanasan di sini!"
Mendengar keluhan itu, Noah perlahan membuka matanya. Ia menatap Leonard dari atas sampai bawah dengan tatapan meremehkan, seolah sedang menatap makhluk purba yang kurang gizi.
"Ac katamu?" Noah mendengus sinis, senyum mengejek terukir di bibir kecilnya. Telunjuk mungilnya terarah ke sudut ruangan.
"Buka mata Paman. Ini rumah sederhana, bukan hotel bintang lima. Kamu lihat benda berdebu yang baling-balingnya sudah retak di pojok sana?"
Leonard menoleh, menatap sebuah benda plastik berwarna biru pudar yang berdiri miring di sudut kamar.
"Itu namanya kipas angin," jelas Noah dengan nada mengeja, seakan sedang mengajari balita. "Tinggal pencet tombol nomor tiga. Anginnya cukup untuk membuatmu masuk angin kalau kamu membuka mulut lebar-lebar dan menghadapnya langsung."
"Kipas angin?!" pekik Leonard tak percaya. "Benda rongsokan itu sejak tadi hanya memutar udara panas dan menyemburkan debu ke wajahku! Paru-paruku bisa terinfeksi!"
"Kalau begitu berhenti bernapas," jawab Noah datar dan sangat kejam.
Leonard terkesiap. "Bocah kurang ajar, kamu ini—"
Belum sempat Leonard menyelesaikan makiannya, Noah sudah menarik selimut tipis miliknya yang jatuh ke lantai, menggulung tubuhnya sendiri seperti kepompong tepat di samping kaki Leonard, lalu menutup matanya.
"Berhentilah mengeluh dan beradaptasi lah dengan ekosistem. Darwin bilang hanya yang mampu beradaptasi yang bisa bertahan hidup," gumam Noah dengan mata terpejam.
"Kalau kamu mati kepanasan malam ini, pastikan jasadmu tidak menghalangi jalan keluar ku besok pagi."
Hanya butuh waktu tiga detik, suara dengkuran halus dari hidung Noah kembali terdengar.
Bocah itu tertidur lagi dengan sangat mudahnya!
Leonard duduk mematung. Mulutnya terbuka sedikit. Ia kehabisan kata-kata. Bos mafia yang ditakuti ribuan anak buahnya itu baru saja dibungkam telak oleh seorang bocah, diceramahi soal teori evolusi Darwin, dan kini ditinggal tidur begitu saja.
Ngungggg....
Seekor nyamuk kembali berdengung, mendarat dengan manis di ujung hidung mancung Leonard.
Dengan tangan gemetar menahan amarah yang meledak-ledak di dada, Leonard hanya bisa memaki dalam hati.
Ia menjatuhkan punggungnya kembali ke kasur tipis itu, menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong, pasrah menunggu pagi tiba di neraka bocor ini.
"Lihat saja nanti, akan aku gusur tempat ini dan ku jadikan hotel bintang lima!" gumamnya menahan kesal.
tetang bagaimana jadinya ada anak kecil yng mirip
Elena pasti panik melihat Naomi , berasa jadi wanita simpanan
🤣🤣
Leon siap siap jadi asisten opa dan oma mu🤣
meskipun namanya Leon tetap saja akan kupanggil singa yang alergi sentuhan🤣
hahaha Joni sampai menangis itu lho Leon 😂
habislah Leon setelah ini di tangan opa Xander 🤣
berani banget menghamili gadis sampai ada nya seorang anak yang menyebalkan