NovelToon NovelToon
Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:99
Nilai: 5
Nama Author: Galih Lestari

Bima Liem wakes in another's body—a young Chinese-Javanese man in Waringin, East Java, crushed by family pressure, insults, and silent injustice.

This time, he won't stay silent. A mysterious Golden Defiance System binds to him: every time he resists moral blackmail, social pressure, or unfairness, he earns points for extraordinary abilities—god-level legal skills, deadly combat, hacking, spy drones, and hidden wealth.

Armed with law and the system, he begins an unprecedented mission: send every wrongdoer to prison—one by one. Trolls, bullies, corrupt officials, fake doctors, campus thugs, cruel neighbors—none escape the People's Prosecutor.

Everyone sees a humble village youth, unaware behind that calm face lurks a hidden billionaire, national hero, and the most dangerous man in any courtroom. You can choose silence. But if you choose evil—don't expect me to choose good.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 025: Harga Sebuah Komentar

Ruang sidang perdata lebih sepi daripada sidang Siska. Bagi Bima, hari itu lebih besar.

Siska adalah satu orang yang memulai api. Hari ini adalah orang-orang yang meniup api itu sambil tertawa.

Gelombang pertama putusan perdata mencakup para pelaku yang paling jelas: pembocor alamat, penyebar fitnah lanjutan setelah klarifikasi, admin yang memperkuat serangan, dan beberapa akun besar yang menolak meminta maaf dengan benar. Tidak semua hadir. Sebagian mengirim pengacara. Sebagian hanya menunduk di bangku belakang, berharap nama mereka dibaca cepat.

Sebelum hakim masuk, Pak Wisnu memberi Bima rekap terakhir. "Hari ini belum menyelesaikan semua 1.317. Ini titik balik. Setelah ada putusan pertama, sisanya tidak bisa lagi bilang ancaman kita kosong."

"Berapa yang sudah masuk jalur penyelesaian valid?"

"Hampir tujuh ratus. Yang pidana prioritas tetap jalan. Yang MerdekaNet kita tahan sampai data resmi turun. Yang kooperatif kita selesaikan tanpa mempermalukan berlebihan."

Bima mengangguk. Itu penting. Ia tidak ingin hukum berubah menjadi tontonan sadis. Ia ingin hukum menjadi pagar. Orang yang melanggar pagar harus tahu sakitnya. Orang yang berhenti sebelum merusak lebih jauh diberi jalan yang tercatat.

Ratna mendengar itu dan berkata pelan, "Jadi benar-benar tidak satu pun lolos. Tapi tidak semua dihantam sama keras."

"Itu bedanya hukum dan keroyokan," jawab Bima.

Hakim membacakan putusan dengan ritme yang tenang.

Ganti rugi materiil untuk biaya keamanan dan pemulihan.

Permintaan maaf terbuka dengan format yang disetujui pengadilan.

Pencabutan konten dan larangan mengunggah tuduhan serupa tanpa dasar.

Biaya perkara.

Untuk beberapa nama, putusan itu hanya angka kecil. Untuk yang lain, cukup menyakitkan. Jumlah uangnya kecil. Nama asli mereka masuk dokumen pengadilan, dan itu yang menghantam paling keras.

Akun anonim berubah menjadi orang yang harus pulang membawa salinan putusan.

Bagus, koordinator pelemparan telur, mendengar bagiannya dengan wajah hancur. Perkaranya masih berlanjut di pidana. Putusan perdata sudah membuatnya wajib mengganti kerugian dan meminta maaf terbuka. Riko tidak hadir; pengacaranya menerima putusan sela dan jadwal lanjutan terkait kampanye berbayar. Naufal hadir bersama perwakilan kampus, menunduk saat namanya disebut sebagai pihak yang wajib mengulang permintaan maaf dengan redaksi lebih jelas.

Ratna duduk di samping Bu Sri. Tangannya tidak lagi dingin.

"Aku pikir bakal senang banget," bisiknya kepada Bima.

"Ternyata?"

"Lebih lega daripada senang."

"Lega lebih tahan lama."

Pak Wisnu menutup map setelah sidang. "Ini belum semua, Mas Bima. Tapi gelombang pertama sudah cukup untuk membuat preseden. Gelombang berikutnya akan lebih cepat. Banyak yang akan memilih penyelesaian terukur daripada diputus hakim."

"Yang tidak mau?"

"Kita bawa sampai palu."

Di luar gedung, salah satu pelaku ringan menghampiri Bu Sri. Perempuan itu menangis, meminta maaf karena pernah menulis bahwa Bu Sri berpura-pura menjadi korban. Bu Sri tidak memeluknya, tidak juga memaki.

"Saya terima permintaan maafnya," kata Bu Sri. "Tapi jangan minta saya lupa."

Bima mendengar kalimat itu dan merasa lebih bangga daripada saat panel SBE memberi hadiah. Ibunya tidak berubah menjadi kejam. Ia hanya tidak lagi membiarkan orang menginjaknya lalu pulang dengan kata maaf murah.

Di luar pengadilan, media menunggu. Kali ini Bima berdiri bersama keluarganya. Ia tidak memakai mobil mewah. Ia tidak membawa simbol kaya. Ia hanya membawa map putusan.

Wartawan bertanya, "Apa pesan Anda untuk warganet setelah putusan hari ini?"

Bima mengangkat map itu sedikit.

"Komentar yang sengaja merusak hidup orang punya harga. Hari ini sebagian orang menerima struknya."

Kalimat itu menjadi judul di mana-mana.

Sorenya, efek putusan menyebar lebih cepat daripada somasi. Akun-akun yang dulu menunggu lihat keadaan kini berbondong-bondong menghubungi kantor Wisnu. Mereka tidak lagi bertanya apakah harus datang. Mereka bertanya jadwal terdekat.

Pak Wisnu mengirim pesan kepada Bima pukul tujuh malam.

Gelombang penyelesaian sukarela naik drastis. Kita bisa tutup mayoritas 1.317 dalam beberapa minggu dengan kombinasi putusan, pernyataan, ganti rugi, dan pidana prioritas.

Bima membaca pesan itu di kamar. Panel SBE muncul sebelum ia membalas.

[Misi Satu Pun Tidak Lolos - Tahap Utama Selesai]

[Evaluasi: SSS]

[Target 1.317: jalur hukum terkunci]

[Hadiah: Poin +10.000]

[Hadiah: Saldo legal terstruktur Rp18.000.000.000]

[Hadiah: Rolls-Royce Spectre - Hitam Safir]

[Hadiah: Perisai Reputasi Tingkat 1]

[Level Tuan Rumah: 8 -> 12]

Bima menatap panel itu cukup lama.

Hadiah uang masuk melalui struktur legal. SBE menampilkan struktur legal: dividen dari investasi sistem, hasil aset yang telah dinormalisasi, dan rekening baru atas nama Bima dengan jejak pajak bersih. Sistem tampaknya belajar dari prinsip yang Bima pakai sendiri: kekuatan tanpa jalur legal hanya akan menjadi celah.

Rolls-Royce Spectre tidak langsung muncul di depan rumah. Panel menunjukkan lokasi: garasi sewaan privat di Naga Kota, dokumen lengkap, pajak awal dibayar, nomor kendaraan siap diurus.

[Perisai Reputasi Tingkat 1]

[Efek: mengurangi dampak fitnah ringan melalui dorongan algoritmik bukti klarifikasi dan peningkatan kredibilitas publik. Tidak melindungi dari bukti kejahatan nyata.]

Bima tersenyum. Bahkan sistem pun memberi catatan: reputasi tidak menjadi jimat untuk bebas salah.

Malam itu ia tidak langsung memberi tahu keluarga soal uang atau mobil. Pak Harto dan Bu Sri baru saja belajar berdiri tanpa takut. Menunjukkan kekayaan puluhan miliar sekarang hanya akan mengganti satu kejutan dengan kejutan lain.

Namun ia membuat keputusan.

Sebagian hadiah akan masuk dana pendidikan Ratna melalui jalur resmi.

Sebagian untuk memperkuat warung keluarga tanpa membuat Pak Harto merasa dibeli.

Sebagian untuk biaya hukum lanjutan.

Dan satu bagian, kecil dibanding totalnya dan besar bagi hidup mereka, untuk rumah baru yang aman.

Bima membuka pesan Pak Wisnu.

Lanjutkan gelombang berikutnya. Prioritaskan yang kooperatif untuk penyelesaian terukur. Yang mengancam dan yang dibayar, jangan diberi jalan pintas.

Ia menekan kirim.

Di luar kamar, Ratna tertawa karena Bu Sri salah menyebut istilah somasi menjadi "sosis". Pak Harto ikut tertawa. Suara itu membuat Bima menutup panel SBE.

Hari ini ia mendapat uang, mobil, level, dan perisai reputasi.

Panel SBE juga menampilkan daftar kecil rekomendasi.

[Peringatan: kekayaan mendadak dapat memicu tekanan sosial baru.]

[Rekomendasi: pisahkan rekening operasional, dana keluarga, dana hukum, dan aset tersembunyi.]

[Rekomendasi: jangan gunakan kendaraan mewah di lingkungan rumah sebelum keamanan keluarga meningkat.]

Bima hampir tertawa. Sistem yang dulu memberinya poin karena membantah orang kini terdengar seperti konsultan keuangan yang cerewet. Namun ia menerima saran itu. Kekayaan tanpa kontrol hanya akan mengundang jenis pemerasan moral baru: saudara jauh, tetangga dekat, kenalan lama, semua tiba-tiba punya alasan untuk dibantu.

Ia membuat empat folder keuangan: Dana Keluarga, Dana Hukum, Dana Aset, dan Dana Darurat. Kemudian ia membuat satu folder kosong: Jangan Pamer.

Nama itu membuatnya tersenyum sendiri.

Yang paling mahal tetap suara rumah yang tidak lagi takut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!