NovelToon NovelToon
Bangkit Sistem Penghakiman, Semua Penjahat Berlutut!

Bangkit Sistem Penghakiman, Semua Penjahat Berlutut!

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Sistem
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Darma

"Raka Laksana — yatim piatu, detektif gagal, ditertawakan semua orang. Sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dalam dirinya: “Sistem Penghakiman”. Mata Dosa yang bisa membaca dosa siapa pun. Buku Penghakiman yang bisa menjatuhkan hukuman di hadapan seluruh negeri. Kekuatan yang tak dimiliki polisi, jaksa, atau hakim mana pun.

Menyamar sebagai konsultan biasa di Satreskrim Kota Elang Biru, Raka membongkar kasus demi kasus — pembunuhan, sindikat perdagangan manusia, konspirasi elite — sambil menyembunyikan identitas aslinya sebagai eksekutor bayangan. Sistem terus naik level, skill terus bertambah, dan setiap penjahat yang lolos dari hukum biasa... tidak akan lolos dari tangannya.

Tapi ada satu kasus yang tak pernah bisa ia lupakan: dua puluh tahun lalu, kedua orangtuanya difitnah dan dihancurkan oleh **Keluarga Halim** — konglomerat paling berkuasa di kota ini. Setiap kasus yang ia selesaikan membawanya selangkah lebih dekat pada kebenaran itu.

Dan pada hari penghakiman tiba, seluruh bangsa akan menyaksikan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25: dr. Nadia Anjani

Hari kedua puluh empat, Yudha memanggil bantuan dari Polda.

Alasannya sederhana dan pahit: kasus ini sudah terlalu berat untuk dibiarkan bergantung pada pemeriksaan dangkal. Potongan tubuh, plastik industri, residu bumbu, dan kemungkinan korban lebih dari satu membutuhkan mata forensik yang lebih tajam.

Jam sembilan pagi, seorang perempuan muda masuk ke ruang Satreskrim dengan langkah cepat.

Ia memakai kemeja putih, jas hitam sederhana, rambut diikat rapi, dan membawa map tipis yang tampak lebih teratur daripada seluruh meja Dimas. Wajahnya tenang, hampir dingin. Matanya langsung menilai ruangan seperti orang yang mencari sumber kesalahan.

Yudha berdiri. "dr. Nadia Anjani. Terima kasih sudah datang."

"Saya datang karena membaca foto TKP awal," jawabnya. "Dan karena laporan forensik lokal melewatkan terlalu banyak hal."

Dimas yang hendak tersenyum langsung batal.

"Selamat pagi juga, Dok," katanya.

Nadia menatapnya datar. "Pagi. Mana jenazahnya?"

Yudha menyerahkan ringkasan berkas. Nadia membalik dua halaman, lalu berhenti pada foto plastik.

"Siapa yang mengambil sampel residu?"

Raka mengangkat tangan. "Saya yang meminta diambil. Petugas forensik yang mengamankan."

Nadia menatapnya sejenak. "Bagus. aesidu kecil sering lebih jujur daripada luka besar."

Dimas berbisik, "Itu pujian?"

"Untuk standar beliau, mungkin medali," gumam Andi.

Kribo, yang sedang berada di pojok sebagai support luar dengan izin terbatas, membungkuk ke Raka dan berbisik, "Aku suka dia. Dia masuk ruangan seperti update sistem yang marah."

Raka menahan senyum.

Mereka menuju ruang forensik aS Distrik Surya. Di sana, suasana berubah total. Nadia tidak banyak bicara. Ia memakai sarung tangan, membaca foto, memeriksa potongan, meminta pencahayaan diubah, lalu mulai memberi koreksi dengan suara datar.

"Potongan ini bukan hasil pisau jagal kasar. Terlalu bersih. Tepi jaringan menunjukkan alat sangat tajam dan kontrol tangan stabil. Lebih dekat ke pisau dapur profesional atau pisau daging halus, bukan golok pasar."

Dimas melirik Raka.

Herman semakin jauh dari profil.

Nadia melanjutkan. "Ada bekas ikatan di pergelangan tangan. Korban kemungkinan diikat sebelum dibunuh atau sebelum dimutilasi. Lihat pola tekanan. Tidak terlihat jelas karena tim awal tidak memotret sudut ini dengan benar."

Petugas forensik lokal yang berdiri di belakang tampak ingin menghilang.

Nadia tidak peduli.

"Di bawah kuku ada partikel putih. Bukan kapur. Saya curiga tepung terigu atau campuran tepung. Korban sempat mencakar permukaan bertepung, kain bertepung, atau tangan pelaku yang terkena tepung. Perlu uji lab."

Raka menatap Dimas.

Pisau dapur profesional.

Tepung terigu.

Bau rempah.

Plastik makanan.

"Kita mencari juru masak," kata Raka pelan. "Atau seseorang yang bekerja dengan adonan dan daging."

Nadia berhenti mencatat. "Jangan lompat ke kesimpulan. Tapi arah itu layak diperiksa. Tepung di bawah kuku bisa berasal dari dapur, karung bahan, meja adonan, atau pakaian pelaku. Rempah pada plastik memperkuat dugaan lingkungan makanan, bukan membuktikan profesi."

"Jadi kita butuh persilangan," kata Raka. "Plastik, tepung, rempah, akses tempat tertutup, dan hubungan ke area lokalisasi."

Untuk pertama kali, mata Nadia menunjukkan sedikit minat.

"Konsultan baru itu?"

"Raka Laksana."

"Pertanyaanmu benar. Jangan terlalu cepat menikmatinya."

Dimas pura-pura batuk. Kribo menutup mulutnya dengan map.

Raka hanya mengangguk. "Baik, Dok."

Kembali di kantor, Kribo dan Andi langsung mempersempit daftar sebelas usaha tersisa. Kriteria baru: memakai plastik industri yang sama, memakai tepung, memakai rempah kuat, dan punya area kerja tertutup.

Daftar turun menjadi empat.

Prosesnya tidak mulus. Bayu sempat memprotes karena beberapa usaha kecil tidak punya catatan pembelian rapi, sementara Dimas ingin memeriksa semuanya langsung malam itu juga. Andi menolak dengan datar.

"Kalau kita datangi sebelas tempat tanpa prioritas, besok seluruh pasar tahu polisi mencari pelaku berbau rempah. Pelaku asli akan membersihkan dapurnya sebelum kita sampai."

Yudha mengetuk meja sekali. "Andi benar. Kita pilih yang paling memenuhi empat titik. Plastik, tepung, rempah, ruang tertutup. Yang lain tetap dipantau, bukan didatangi ramai-ramai."

Raka menatap layar. Empat nama itu belum menjadi jawaban. Jumlah itu jauh lebih baik daripada sebelas pintu gelap.

Toko roti Sari Rasa.

Warung mie Mie Jago.

Berkah Catering.

Warung bakpao Bakpao Surya.

Nama terakhir belum mendapat sorotan khusus. Hanya satu dari empat. Tapi Raka melihat kata bakpao dan merasakan sesSatu bergerak tidak nyaman di perutnya.

Makanan bertepung.

Daging.

Rempah.

Sebelum mereka bisa bergerak, telepon kantor berbunyi lagi.

Dimas mengangkat. Wajahnya berubah dalam tiga detik.

"Komandan. Patroli menemukan bagian tubuh lain di selokan belakang Pasar Surya Indah. Dua kaki dan satu tangan."

Ruangan itu membeku.

Yudha langsung mengambil jaket. "Nadia ikut. Raka, Dimas, Andi. Bergerak."

TKP kedua berada di belakang Pasar Surya Indah, dekat selokan besar yang airnya hitam dan bergerak lambat. Kali ini tidak ada kerumunan besar karena area itu ditutup cepat oleh patroli. Bau amis pasar bercampur bau busuk yang sudah dikenal Raka dari Jalan Pahlawan.

Nadia berjongkok di dekat kantong bukti dengan tenang yang hampir menakutkan.

Petugas patroli yang menemukan bagian tubuh itu berdiri pucat di samping mobil. "Saya kira karung sampah, Dok. Waktu saya tarik, tangan itu keluar."

"Kamu menyentuh langsung?" tanya Nadia.

"Pakai sarung tangan, Dok. Setelah itu saya mundur."

"Bagus. Trauma nanti. Prosedur dulu."

Kalimatnya dingin, tapi anehnya membuat petugas itu berdiri lebih tegak.

Ia memeriksa ukuran kaki, warna kulit, tanda luka, lalu melihat bagian tangan.

"Ini bukan bagian dari korban pertama," katanya.

Dimas menegang. "Yakin?"

"Ukuran berbeda. Warna kulit berbeda. Proporsi tulang berbeda. Jika ini Siska, tubuhnya harus punya anatomi yang mustahil. Ini korban lain."

Kata korban lain jatuh lebih berat daripada bau selokan.

Raka merasakan sistem menyala di kepalanya.

【Korban kedua terkonfirmasi.】

【Pembunuhan berantai: minimum 2 korban.】

【Timer kasus: hari ke-6 dari 20.】

Yudha menutup matanya sekejap, lalu membukanya dengan wajah lebih keras.

"Kita umumkan internal dulu. Jangan sampai media tahu sebelum keluarga korban tahu. Andi, perluas orang hilang. Dimas, periksa semua akses pasar. Raka, lihat daftar empat usaha itu lagi."

Raka mengangguk.

Di belakang mereka, pasar tetap hidup. Orang menawar sayur, pedagang memotong ayam, minyak panas mendesis dari warung gorengan.

Hidup berjalan hanya beberapa meter dari potongan tubuh korban kedua.

Raka menatap daftar di ponselnya.

Empat usaha.

Satu pembunuh.

Dan sekarang, dua korban.

Di belakangnya, Nadia menutup kantong bukti dan berkata kepada Yudha, "Kalau pelaku ini terus bergerak dengan pola yang sama, ia tidak sedang panik. Ia sedang mengulang metode yang berhasil. Itu lebih buruk daripada pembunuh yang kehilangan kendali."

Yudha mengangguk. "Berapa lama sebelum dia membuang bagian lain?"

"Kalau pola pembuangan berjarak beberapa hari, kita mungkin sudah terlambat untuk menghentikan korban kedua. Pertanyaannya sekarang: apakah ada korban ketiga yang masih hidup."

Raka merasakan kalimat itu menekan dadanya.

Timer sistem terus berjalan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!