Mabuk semalam di Singapura, Kirana menghabiskan malam terpanasnya dengan pria asing paling memukau yang pernah ia temui—lalu kabur subuh, meninggalkan selembar uang di nakas seolah pria itu cuma "bayaran satu malam".
Ia bersumpah takkan pernah bertemu lelaki itu lagi.
Sampai pagi harinya, pria itu berdiri di depan kelas sebagai **dosen pengganti** mata kuliah keuangannya. Prof. Arya Danuwangsa. Delapan tahun lebih tua, dingin, menyeringai seolah tahu persis apa yang mereka lakukan semalam.
*"Sepertinya malam itu kamu cukup puas, ya?"*
Astaga. Kirana baru saja tidur dengan dosennya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 12: Tetangga Baru
Tangannya menutup jari Kirana di atas selimut, dan untuk pertama kalinya, Kirana tidak menarik diri.
Empat hari kemudian, Kirana sudah kembali kuliah. Nyeri hanya tersisa sebagai pegal ringan, tetapi Arya masih mengirim pengingat makan dan obat seolah ia pasien yang bisa kambuh jika lepas dari pengawasan satu jam.
Sore itu, suara benda berat diseret di koridor membuat Kirana keluar dari unit 803.
Dua petugas sedang membawa sofa ke apartemen sebelah yang selama berbulan-bulan kosong. Rian berdiri di depan pintu, memeriksa daftar barang.
“Mas Rian?”
Rian menoleh. “Sore, Mbak Kirana.”
“Ada penghuni baru?”
“Ada.”
“Siapa?”
Sebelum Rian menjawab, Arya muncul dari dalam unit dengan lengan kemeja tergulung. “Saya.”
Kirana memandang nomor 805, lalu Arya, lalu kembali pada nomor pintu. “Mas tinggal di sini?”
“Mulai hari ini.”
“Katanya sudah tinggal dekat kampus.”
“Sebelumnya lantai lain.”
“Kenapa pindah ke sebelah saya?”
“Supaya lebih dekat.”
Jawaban itu begitu terang-terangan hingga Rian berpura-pura sangat tertarik pada daftar inventaris.
Kirana menarik Arya beberapa langkah menjauh. “Mas sewa unit ini?”
“Beli.”
“Beli?” suaranya naik satu oktaf. “Apartemen bukan gorengan yang bisa dibeli karena kebetulan lewat.”
“Saya tidak kebetulan lewat.” Arya menatapnya tenang. “Saya sengaja.”
“Ini berlebihan.”
“Kamu sakit sendirian minggu lalu.”
“Ada Winda.”
“Winda pulang ke Bekasi beberapa kali seminggu untuk membantu keluarganya.”
“Mas mencari jadwal Winda juga?”
“Saya bertanya kepadanya.”
Kirana menatap Rian. Pria itu langsung masuk ke unit bersama petugas, meninggalkan atasannya menghadapi masalah sendiri.
“Saya tetap punya batas,” kata Kirana.
“Saya tahu.” Arya menyerahkan satu kunci elektronik. “Ini untukmu. Kamu bebas datang, tapi saya tidak akan masuk ke unitmu tanpa izin.”
Kirana tidak mengambilnya. “Simpan.”
“Baik.” Arya memasukkan kartu itu ke sakunya tanpa memaksa. “Makan malam sudah siap.”
“Saya nggak bilang mau makan.”
“Sup ayam, tidak pedas, tanpa daun ketumbar.”
Perut Kirana berkhianat dengan bunyi kecil.
Arya mengangkat alis. “Tubuhmu bilang mau.”
“Cuma kali ini.”
“Tentu.”
Unit 805 hampir selesai ditata. Gaya interiornya sederhana, berwarna abu-abu hangat, sangat berbeda dari kesan mewah mobil Arya. Di dapur, sup masih mengepul. Ada nasi, tumis sayur tanpa wortel, dan potongan buah yang bukan mangga.
“Mas hafal semua yang saya nggak makan?”
“Lebih mudah daripada membiarkanmu sakit.”
Mereka makan di meja kecil dekat jendela. Untuk beberapa saat, pembicaraan hanya soal kelas dan rencana tugas. Rasanya terlalu normal untuk seorang dosen yang membeli apartemen demi tinggal di sebelah mahasiswinya.
Setelah makan, Arya mengeluarkan kotak dari lemari.
“Untukmu.”
Kirana membuka tutupnya. Sepasang sandal rumah berwarna merah muda dengan telinga kelinci muncul dari kertas pembungkus.
“Mas serius?”
“Coba.”
“Saya bukan anak kecil.”
“Saya tidak bilang begitu.”
Kirana tetap memasukkan kaki. Ukurannya pas, bagian dalamnya lembut dan hangat.
Arya memandang kakinya. “Cocok.”
“Kenapa kelinci?”
“Karena kamu selalu terlihat siap lari.”
“Kelinci juga bisa menggigit.”
“Saya tahu.” Tatapan Arya naik perlahan ke wajahnya. “Saya pernah merasakannya.”
Kirana langsung teringat bekas gigitan di bahu Arya pada pagi Singapura. Ia menendang ringan tulang kering pria itu dengan sandal baru.
“Jangan bicara sembarangan.”
Arya tertawa rendah.
Saat Kirana kembali ke unitnya, ia menyadari masih memakai sandal kelinci tersebut. Ia hendak mengembalikannya, tetapi aroma tumisan baru menguar dari bawah pintu 805.
Winda baru pulang setengah jam kemudian. Ia berhenti di ruang tengah, menatap sandal merah muda di kaki Kirana.
“Itu bukan punya lo.”
“Hadiah.”
“Dari pacar sebelah?”
“Jangan panggil begitu.”
“Dia sendiri yang mengaku.” Winda meletakkan tas berisi paket olshop di lantai. “Tadi petugas keamanan bilang unit 805 dibeli orang. Jangan-jangan...”
Kirana menunjuk dinding yang memisahkan dua apartemen.
Mulut Winda terbuka. “Prof. Arya beli sebelah?”
“Katanya supaya gampang menjaga saya.”
“Kira, keluarga gue masih cicil rumah sampai entah kapan. Cowok ini beli apartemen kayak beli pulsa.”
“Itu juga yang gue bilang.”
Winda mendekat dan menyentuh telinga sandal kelinci. “Tapi lucu.”
“Ambil kalau mau.”
“Nggak. Itu tanda wilayah.”
Kirana melempar bantal sofa. Winda menghindar sambil tertawa.
Keesokan paginya, tepat pukul tujuh, bel unit 803 berbunyi. Arya berdiri di luar membawa dua kotak bekal.
“Katanya sarapan di tempat Mas.”
“Kamu belum siap. Jadi sarapannya datang.”
Kotak pertama berisi nasi kuning porsi kecil, telur, dan ayam suwir tanpa sambal. Kotak kedua berisi potongan buah. Winda yang mengintip dari dapur langsung mengangkat ibu jari kepada Arya.
“Saya restui layanan katering ini.”
“Saya masak untuk Rana,” kata Arya.
“Saya teman satu rumahnya. Pajaknya dua suap.”
Arya menyerahkan satu kotak tambahan yang ternyata sudah disiapkan. Winda terdiam, lalu menerima dengan wajah terharu berlebihan.
“Prof, kalau Kira menolak, pertimbangkan adopsi saya jadi adik.”
“Win!”
Rutinitas itu berulang tiga hari. Kadang Arya meninggalkan sup, kadang nasi goreng tanpa bahan yang Kirana hindari, kadang hanya susu hangat ketika ia tahu jadwal kuliahnya padat. Ia tidak pernah masuk tanpa izin. Ia hanya mengetuk, menunggu, lalu mundur jika Kirana sedang ingin sendiri.
Justru karena batas itu dihormati, kehadirannya semakin mudah diterima.
Ponselnya berbunyi.
Besok sarapan di sini. Pukul tujuh.
Kirana menatap pintu sebelah yang kini memiliki lampu menyala di balik celahnya.
Lelaki itu tidak hanya pindah ke dekat kampus.
Arya telah membeli tempat tepat di sebelah hidupnya.