Semuanya bermula dari sebuah kejadian yang sama sekali tidak pernah ia rencanakan.
Tinggal di panti asuhan membuat gadis itu terbiasa menjalani hidup sederhana,Jauh dari kata kemewahan,Namun satu hal yang selalu berhasil membuatnya tersenyum adalah kelinci kesayangannya.
Hingga suatu hari,Kelinci itu tiba-tiba kabur.
Tanpa berpikir panjang,Ayla berlari mengejarnya hingga keluar ke jalan raya,Karena terlalu fokus mengejar,ayla tak menyadari sebuah motor melaju ke arahnya.
Brak!
Dalam hitungan detik,Hidupnya seolah berubah.
Beruntung,Seseorang datang menolongnya sebelum keadaan menjadi lebih buruk,Pertemuan yang awalnya hanya sebuah ketidaksengajaan itu ternyata menjadi awal dari kisah yang jauh lebih besar.
Siapa sebenarnya lelaki yang menolongnya?
Dan apakah setelah pertemuan itu,Takdir seolah terus mempertemukan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira Maulidah salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Kantin sekolah seperti biasa ramai, suara obrolan bercampur dengan suara piring dan gelas.
Di sudut kantin meja mereka tetap jadi yang paling ramai.
"Gue rasa ini ayam dendam sama gue deh"gumam dimas sambil ngunyah.
Salsa langsung menatap.
"Kenapa?."
"Soalnya porsinya makin kecil tiap hari."
Raka langsung nyela.
"Itu bukan dendam,Itu takdir."
Ayla tertawa kecil.
Rina ikut senyum.
"Kayaknya kantin udah hafal kapasitas makan kamu,Mas."
Dimas mengangguk serius.
"Berarti mereka harusnya nambah, Bukan ngurangin."
Semua langsung ketawa.
Hening sebentar.
Kursi di samping ayla ditarik,Bagas duduk,Seperti biasa,Ekspresinya datar.
Ayla melirik.
"Kamu dari mana?."
"Toilet."
Beberapa detik suasana santai,Lalu Bagas bicara,Nada suaranya tetap dingin.
"Sabtu minggu kosong?."
Semua langsung berhenti.
Raka menoleh.
"Kenapa?."
Bagas bersandar, menatap ke depan.
"Ke puncak."
Hening.
Salsa langsung membelalak.
"Hah?Puncak?."
Dimas langsung berhenti makan.
"LIBURAN?."
Ayla menatap bagas.
"Kamu serius?."
Bagas mengangguk kecil.
"Villa keluarga gue kebetulan lagi kosong."
Belum sempat suasana hening lama.
Dimas langsung angkat tangan tinggi.
"GUE IKUT TANPA SYARAT."
Salsa langsung nyusul.
"Aku juga,Ini nggak mungkin dilewatin."
Raka santai.
"Gue ikut."
Rina tersenyum pelan.
"Aku juga."
Ayla menatap mereka semua Lalu kembali ke Bagas,Senyum kecil ayla muncul.
"Ya udah aku ikut."
Bagas mengangguk kecil.
Semua langsung sepakat,Tanpa diskusi panjang dan tanpa ribet.
Dimas langsung semangat lagi.
"Eh bentar-bentar ini semua yang nanggung siapa?."
Bagas menatap datar.
"Gue."
Dimas langsung berdiri setengah.
"GUE PALING SIAP ACARA INI."
Salsa ngakak.
"Dia tuh prioritas hidupnya jelas banget."
Ayla nyengir.
"Makan,Tidur dan jalan."
Dimas mengangguk serius.
"Eh kurang satu bahagia."
Raka geleng kepala.
"Konsisten."
Rina tertawa kecil.
Raka lalu melirik Bagas.
"Berangkat kapan?."
"Sabtu sore."
"Pulang?."
"Minggu sore."
Singkat dan Jelas.
Bagas berucap kembali.
"kumpul dirumah gue."
Semua langsung mengangguk.
Hening sebentar.
Raka menyandarkan punggung.
"Eh,Kita bagi tugas aja selama di villa."
Dimas langsung curiga.
"Kenapa gue ngerasa gue bakal jadi korban?."
Salsa langsung jawab cepat.
"Karena memang iya."
Semua ketawa.
Raka mulai.
"Oke,Yang paling penting dulu masak,Bahan makanan udah ditanggung bagas."
Ayla langsung angkat tangan kecil.
"Aku bisa."
"Aku bantu"ucap rina.
"Aku juga!Walaupun kadang eksperimen."
Dimas langsung nyeletuk.
"Itu yang bahaya."
Salsa melotot.
"Lo mau makan apa nggak?."
Dimas langsung angkat tangan.
"Mau."
Raka mengangguk.
"Oke,Team dapur:Ayla,Rina,dan salsa."
Ayla tersenyum kecil.
"Yang siapin tempat,Api,Alat-alat BBQ malam"ucap Raka.
Bagas singkat."Gue."
Dimas langsung nunjuk dirinya sendiri.
"Gue bantu."
Raka langsung nyengir.
"Motivasi?."
"Daging."
Semua langsung ketawa.
"oke team BBQ malam:Bagas,Raka dan dimas"ucap raka.
Salsa tiba-tiba angkat tangan.
"Aku bagian dokumentasi foto,Video semuannya!."
"Oke team dokumentasi:Salsa"ucap raka.
"team Bersih-bersih?"ucap raka lagi.
Hening.
Pelan-pelan Semua menoleh ke dimas.
Dimas langsung kaget.
"WOI KENAPA GUE LAGI?."
Ucap raka santai.
"Karena lo paling banyak makan."
Ucap salsa menambahkan.
"Dan paling berpotensi bikin berantakan."
Ayla menahan tawa.
Rina ikut senyum.
Dimas menghela napas panjang.
"Iya,iya gue bagian bersih- bersih."
Raka puas.
"Bercanda mas semua team bersih-bersih."
Lalu raka menunjuk dirinya sendiri.
"Gue juga bagian ngatur jadwal."
Salsa langsung nyeletuk.
"Alias bossy."
Raka melirik tajam.
"Mau gue jadiin lo team bersih-bersih sendiri?."
Salsa langsung cepat.
"Nggak jadi,Kamu keren kok."
Semua langsung tertawa.
Sepulang sekolah.
Di depan gerbang,Siswa-siswa mulai berkurang, satu per satu pulang dengan kesibukan masing-masing.
"Ayo."
"Ayo"jawab ayla.
Bagas tetap jalan santai.
"Ke mall."
Ayla langsung mengikuti.
"ngapain?."
Bagas menjawab singkat.
"Jaket."
Ayla berhenti sebentar.
"Hah?."
Bagas ikut berhenti,menoleh sedikit.
"Buat kamu."
Ayla langsung menggeleng cepat.
"Nggak usah,Aku udah punya."
Tapi Bagas sudah lanjut jalan,Seolah pembicaraan selesai.
Ayla cuma bisa geleng kepala sambil tersenyum kecil.
"Ya ampun"
Lalu tetap menyusul.
Beberapa menit kemudian.
Di dalam mobil.
Suasana tenang seperti biasa.
Ayla melirik ke arah bagas.
"Kamu tuh ya kalau udah mutusin sesuatu."
Bagas tetap fokus ke depan.
"Iya."
Ayla menghela napas pelan.
"Nggak bisa diganggu."
"Iya."
Ayla akhirnya tertawa kecil sendiri.
Di mall.
Lampu terang, suasana ramai.
Mereka langsung menuju toko jaket.
Di dalam toko.
Ayla melihat deretan jaket yang tergantung rapi.
Bagas berdiri di sampingnya.
"Pilih."
Ayla menoleh.
"Ini serius?."
Bagas mengangguk kecil.
Ayla berjalan pelan,Menyentuh beberapa bahan jaket,Lembut dan hangat cocok untuk udara dingin.
Dia mengambil satu jaket berwarna netral.
"Yang ini bagus sih."
Lalu dia melihat harga dan Langsung diam,Alisnya sedikit mengernyit.
"Bagas."
"Hm."
"Mahal."
Bagas melirik sekilas.
"Hm."
Ayla langsung menggeleng.
"Nggak jadi deh."
Dia mengembalikan jaket itu ke tempatnya.
"Masih banyak yang lebih murah."
Bagas tidak bergerak.
Hanya menatap jaket itu beberapa detik,Lalu bagas mengambilnya kembali.
Ayla langsung kaget.
"Eh."
"Ini aja."
Ayla langsung menatap.
"Bagas,serius,nggak usah."
"Perlu."
"Enggak,Aku masih punya."
"Dingin"Ucap bagas Singkat.
Ayla sedikit terdiam.
"Tapi."
Bagas menatapnya,Tatapannya tenang,Tapi tegas.
"Pakai."
Hening.
Ayla menggigit bibir kecil.
"Bagas."
Nada suaranya melembut.
"Ini mahal"
Bagas santai.
"Bisa dibeli."
"Bukan itu maksud aku"
"Udah."
Hening.
Ayla menatapnya beberapa detik,Lalu perlahan dia menghela napas.
"yaudah."
Bagas langsung berjalan ke kasir.
Ayla hanya bisa mengikuti,Masih sedikit nggak percaya.
Di kasir.
Transaksi selesai dengan cepat.
Bagas mengambil kantong belanja,Seolah itu hal biasa.
Di luar toko.
Ayla masih diam beberapa langkah,Lalu akhirnya bicara pelan.
"Kenapa sih?."
Bagas tetap jalan.
"Kenapa apa?."
"Kenapa harus dibeliin?."
Bagas tidak langsung jawab,Beberapa detik hening,Langkah mereka tetap sejajar.
"Biar nggak kedinginan."
Ayla menoleh,Menatap bagas sebentar,Lalu tersenyum kecil.
"Iya."
Beberapa langkah lagi.
Ayla memegang kantong itu pelan,Jaket itu ringan tapi perhatiannya terasa berat.
Ayla melirik bagas lagi.
"Kamu tuh ya,Kalau peduli diem-diem banget."
Bagas tidak menjawab tapi sudut bibirnya sedikit naik,Hampir tidak terlihat.
Dan untuk pertama kalinya ayla sadar,Bagas bukan tidak banyak bicara,Dia hanya memilih menunjukkan Dengan cara yang sederhana,Tapi tepat.
Di luar toko jaket.
Beberapa saat mereka berjalan berdampingan tanpa bicara,Lalu ayla melirik Bagas.
"Bagas."
"Hmm."
"Kamu sadar nggak?."
"Sadar apa?."
Ayla mengangkat kantong jaket itu sedikit.
"Dalam dua minggu terakhir kamu sudah berkali-kali menang debat."
Bagas menjawab santai.
"Aku nggak menghitung."
"Aku menghitung."
Bagas menoleh.
"Kenapa?."
"Karena menyebalkan."
Bagas hanya mengangguk kecil.
Ayla menghela napas.
"Lihat kan."
"Apa?."
"Kamu bahkan nggak merasa bersalah."
Bagas terlihat berpikir sebentar.
"Lalu kenapa harus merasa bersalah?."
Ayla langsung terdiam.
Bagas melanjutkan.
"Kamu suka bilang nggak perlu."
Ayla mengangguk.
"Iya."
"Tapi sebenarnya perlu."
Ayla menatapnya.
"Kamu tahu dari mana?."
Bagas menjawab singkat.
"Aku lihat."
Ayla tidak langsung menjawab,Bagas memang jarang bicara banyak.
Tapi setiap kali bicara,selalu tepat sasaran.
Ayla masih memegang kantong jaket itu sambil berjalan di samping bagas.
Beberapa saat kemudian ayla berkata pelan.
"Bagas."
"Hmm."
"Aku boleh jujur?"
"Boleh."
Ayla menatap ke depan.
"Sebenarnya aku masih nggak enak."
Bagas menoleh.
"Kenapa?."
Ayla mengangkat kantong jaket itu sedikit.
"Karena kamu sering banget ngeluarin uang buat aku."
Bagas terdiam beberapa detik,Lalu menjawab.
"Aku mampu."
Ayla menggeleng.
"Bukan itu maksudku."
"Lalu?"
Ayla berpikir sejenak.
"Aku cuma nggak mau merepotkan kamu."
Bagas langsung menjawab.
"Kamu nggak merepotkan."
Ayla menatapnya.
"Tapi-."
"Kamu nggak merepotkan."
Bagas mengulanginya lagi,Nada suaranya tetap tenang.
Ayla akhirnya terdiam.
Mereka terus berjalan.
Beberapa langkah kemudian bagas kembali bicara.
"Kalau suatu hari aku butuh bantuan."
Ayla menoleh.
"Hmm?."
"Aku juga bakal minta tolong ke kamu."
Ayla berkedip.
Bagas melanjutkan.
"Jadi nggak usah merasa berutang apa-apa."
Ayla tersenyum kecil.
"Kamu selalu punya jawaban ya."
Bagas mengangkat alis.
"Itu pujian?."
"Mungkin."
Bagas mengangguk kecil.
"Baik."
Ayla tertawa.
"Kenapa jawabannya baik?."
"Karena aku terima."
Ayla langsung menggeleng sambil tertawa kecil.
Beberapa saat kemudian mereka melewati toko buku,langkah ayla langsung melambat dan Bagas menyadarinya.
"Mau masuk?."
Ayla menoleh.
"Boleh?."
Bagas menjawab singkat.
"Hmm?."
Mereka masuk ke dalam toko.
Ayla langsung berjalan ke rak novel,Matanya berbinar melihat deretan buku yang tersusun rapi.
Bagas hanya mengikuti dari belakang.
Ayla mengambil satu buku,Lalu satu lagi,Kemudian satu lagi.
Bagas memperhatikan.
"Kamu baca semuanya?."
Ayla mengangguk.
"Iya."
Bagas melihat tumpukan buku di tangannya.
"Kapan?."
Ayla tersenyum.
"Sedikit-sedikit."
Bagas menggeleng pelan.
Ayla tertawa.
"Apa?."
"Kamu aneh."
Ayla langsung menunjuk dirinya sendiri.
"Aku?."
Bagas mengangguk.
"Kamu bisa baca ratusan halaman dan bilang itu sedikit."
Ayla tertawa lagi.
"Lalu kamu?."
"Aku nggak baca novel."
Ayla terlihat kaget.
"Sama sekali?."
Bagas mengangguk.
Ayla memandangnya tidak percaya.
"Pantes."
"Pantes apa?."
"Kadang kamu kurang romantis."
Bagas langsung menatap Ayla.
Ayla pura-pura melihat buku.
Bagas menghela napas.
"Hubungannya apa?."
Ayla tersenyum jahil.
"Banyak."
Bagas memutar matanya.
Ayla tertawa puas.
Beberapa menit kemudian mereka keluar dari toko buku.
Hari mulai sore.
Langit di luar gedung mall mulai berubah warna.
Ayla memperhatikan langit melalui kaca besar.
"Bagus ya."
Bagas ikut melihat.
"Hmm."
Ayla menoleh.
"Kamu tahu?."
"Apa?."
"Akhir-akhir ini aku sering merasa bahagia."
Bagas menatapnya.
Ayla tersenyum kecil.
"Lebih bahagia dari biasanya."
Bagas tidak langsung menjawab.
Ayla kembali melihat ke luar.
"Mungkin karena banyak hal baik yang terjadi."
Bagas masih diam.
Ayla melanjutkan.
"Aku punya teman-teman yang baik."
"Hmm."
"Aku masih bisa sekolah."
"Hmm."
"Aku masih bisa ketawa."
"Hmm."
Ayla menoleh ke arah bagas Dan untuk pertama kalinya suaranya terdengar lebih lembut.
"Dan aku punya kamu."
Langkah bagas sedikit terhenti.
Ayla sendiri terlihat malu setelah mengatakannya namun ayla tetap tersenyum.
Bagas menatapnya beberapa detik lalu berkata pelan.
"Aku juga beruntung."
Ayla terlihat terkejut.
"Karena?."
Bagas menatapnya tenang.
"Karena punya kamu."
Untuk sesaat ayla benar-benar kehilangan kata-kata wajahnya langsung memerah Sedangkan bagas kembali berjalan seperti tidak terjadi apa-apa.
"Bagas."
"Hmm."
"Kamu sadar nggak barusan ngomong apa?."
Bagas menjawab santai.
"Hmm."
Ayla langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, justru bagas yang terlihat menang telak tanpa berusaha.