Gagal total merantau di kota, Arga terpaksa pulang kampung dengan dompet kosong dan niat setengah hati untuk bertani di lahan tua peninggalan kakeknya. Namun, nasib sialnya mendadak berbalik 180 derajat ketika sebuah layar biru hologram muncul di pagi buta, mengaktifkan "Sistem Check-in Harian" yang terus memberinya hadiah gila-gilaan setiap hari, mulai dari saldo puluhan juta rupiah, benih super ajaib, hingga barang-barang mustahil lainnya. Kini, dengan cangkul di tangan dan sistem overpower di sisinya, Arga bersiap menampar mulut julid para tetangga, menendang tengkulak serakah, dan membangun kerajaan bisnis pertaniannya sendiri untuk menjadi petani paling sultan yang pernah ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Hujan turun rintik-rintik membasahi kaca bus tua yang melaju tersendat di jalanan berbatu. Arga menatap keluar jendela dengan tatapan kosong dan kantung mata yang menghitam.
"Sudah sampai di pertigaan desa, Mas Arga." Suara serak kernet bus membuyarkan lamunan panjangnya.
"Ah, iya, terima kasih, Pak." Arga merogoh saku jaketnya yang lusuh.
Dia mengeluarkan selembar uang dua puluh ribuan terakhir yang lecek dan basah karena keringat. "Ini ongkosnya, Pak."
Kernet itu menerima uang tersebut sambil menatap Arga dari atas sampai bawah dengan tatapan iba. "Bukannya Mas Arga ini dulu yang sukses kerja di kantoran ibukota itu ya?"
"Sukses dari mana, Pak." Arga tertawa getir sambil mengusap wajahnya yang kusam dan berminyak.
"Perusahaan tempat saya kerja bangkrut bulan lalu. Bosnya kabur bawa kabur semua uang pesangon karyawan."
"Wah, kurang ajar bener itu bosnya." Kernet itu menggelengkan kepala dengan raut wajah prihatin.
"Begitulah nasib orang kecil seperti saya, Pak." Arga menyampirkan tas ransel bututnya ke bahu kanan yang terasa pegal.
"Saya pamit turun dulu, mari Pak."
"Hati-hati di jalan gelap, Mas."
Cesss.
Suara pintu bus hidrolik terbuka dan hembusan angin malam langsung menusuk tulang rusuk Arga.
Dia melangkah turun menginjak kubangan air berlumpur di pinggir jalan pertigaan.
Byur.
Celana jeans murahan yang ia pakai langsung basah kuyup hingga ke pertengahan betis.
"Sialan, genangan air saja ikut mengejekku malam ini." Arga menggerutu pelan sambil mengibaskan kaki celananya yang kotor.
Dia berjalan tertatih menyusuri jalan setapak gelap yang mengarah menuju rumah peninggalan kakeknya. Tidak ada lampu jalan di desa ini sehingga dia hanya mengandalkan cahaya bulan yang tertutup mendung.
Tiga tahun dia merantau ke Jakarta dengan mimpi besar mengubah nasib keluarganya. Namun kini dia pulang hanya membawa kegagalan dan rasa malu yang menumpuk setinggi gunung.
"Bahkan Dinda meninggalkanku demi manajer HRD sialan itu." Arga mendengus sinis mengingat wajah mantan pacarnya yang sok suci saat memutuskan hubungan mereka seminggu yang lalu.
"Maaf Arga, aku butuh kepastian masa depan dan kamu sekarang pengangguran." Kalimat Dinda itu terus terngiang di kepalanya seperti kaset rusak yang berputar berulang-ulang.
"Cinta memang butuh uang, dan aku sekarang gembel yang kelaparan." Arga tersenyum kecut menertawakan nasibnya sendiri yang terasa seperti lelucon murahan.
Kress kress.
Langkah kakinya menginjak dedaunan kering saat dia mulai memasuki area pemukiman desa.
Dari kejauhan dia melihat pos ronda yang masih menyala terang dengan beberapa bapak-bapak sedang bermain gaple. Arga menundukkan kepalanya dalam-dalam berharap bisa lewat tanpa ketahuan oleh warga desa.
"Loh, itu bukannya Arga cucunya Mbah Darmo?" Suara lantang Pak RT memecah keheningan malam yang sunyi.
Langkah Arga terhenti seketika dan jantungnya berdegup kencang karena gugup. Dia memaksakan seulas senyum palsu sebelum menoleh ke arah pos ronda.
"Eh, iya Pak RT." Arga mengangguk sopan sambil membetulkan posisi tas ranselnya.
"Kapan pulang dari Jakarta, Ga?" Pak RT berjalan menghampirinya dengan sarung yang diselimpangkan di leher.
"Baru saja sampai, Pak."
"Kok malam-malam begini pulangnya?" Pak RT memicingkan mata menatap tas ransel Arga yang kecil. "Tidak bawa koper besar seperti orang sukses biasanya kalau mudik?"
"Lagi libur sebentar saja, Pak." Arga berbohong demi menyelamatkan sisa harga dirinya yang sudah hancur.
"Oh libur, kirain kamu dipecat." Pak RT tertawa pelan namun terdengar sangat meremehkan. "Soalnya kemarin ada rumor dari Bu Tejo kalau pabrik tempatmu kerja itu tutup karena bangkrut."
Arga mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Telinganya terasa panas mendengar gosip ibu-ibu desa yang entah bagaimana bisa seakurat itu.
"Hanya rumor itu, Pak RT." Arga berusaha menjawab dengan suara sedatar mungkin. "Saya permisi pulang dulu karena sudah mengantuk berat."
"Ya sudah, sana istirahat." Pak RT melambaikan tangannya kembali ke pos ronda. "Kasihan rumah Mbah Darmo kosong bertahun-tahun jadi sarang hantu."
Arga mempercepat langkahnya meninggalkan pos ronda dengan dada yang sesak. Begitu sampai di depan pekarangan rumah kakeknya, dia berhenti sejenak menatap bangunan tua berbahan kayu jati tersebut.
Kriet.
Suara engsel pintu depan berderit nyaring saat Arga mendorongnya perlahan.
Aroma debu dan kayu lapuk langsung menyengat indera penciumannya. Ruang tamu itu gelap gulita dan dipenuhi sarang laba-laba di setiap sudut langit-langitnya.
Arga meraba dinding mencari saklar lampu lalu menekannya ke bawah.
Klak.
Beruntung aliran listrik di rumah ini belum diputus oleh pihak desa.
Sebuah lampu pijar berwarna kuning redup menyala menerangi ruangan yang kotor dan berantakan. Arga melempar tasnya ke atas kursi kayu yang berdebu lalu menjatuhkan dirinya di lantai.
"Rumah ini hancur berantakan persis seperti hidupku sekarang." Arga menatap langit-langit rumah dengan pandangan kosong.
Krucuk krucuk.
Perutnya berbunyi nyaring menuntut jatah makanan yang belum masuk sejak siang tadi.
Dia bangkit berjalan menuju dapur tua di bagian belakang rumah. Tidak ada apa-apa di sana selain tumpukan piring kotor bekas sarang tikus dan sebungkus kopi bubuk yang sudah kadaluarsa.
"Hebat, bahkan tikus saja tidak mau tinggal di rumah ini karena tidak ada makanan." Arga membuka keran air di wastafel dan meminum air mentah langsung dari telapak tangannya.
Dinginnya air sumur sedikit meredakan rasa perih di lambungnya. Dia berjalan menuju kamar tidur kakeknya lalu merebahkan diri di atas kasur kapuk yang keras dan bau apek.
"Besok aku harus mulai membersihkan ladang di belakang rumah." Arga berbicara sendiri di tengah keheningan malam.
"Tidak ada pilihan lain selain bertani singkong atau ubi untuk sekadar bertahan hidup." Matanya perlahan memberat karena kelelahan fisik dan mental yang mendera.
"Semoga saja besok pagi dunia sedikit lebih baik kepadaku." Itu adalah harapan terakhir Arga sebelum kesadarannya benar-benar tenggelam dalam tidur yang lelap.