NovelToon NovelToon
Kapten Halim, Istrimu Sudah Tiga Tahun "Menjanda"

Kapten Halim, Istrimu Sudah Tiga Tahun "Menjanda"

Status: sedang berlangsung
Popularitas:6
Nilai: 5
Nama Author: Elara Aisyah

Dianggap "gadis bangkrut yang beruntung", diperlakukan seperti janda selama tiga tahun pernikahan rahasianya. Tapi begitu Renata melepas cincin dan pergi, topeng demi topeng terbuka: peretas nomor satu, putri hilang konglomerat permata, penyelamat nyawa sang Kapten. Saat semua yang menghinanya bertekuk lutut—Kapten Nathan Halim justru jatuh paling dalam, mengejar istri yang telah ia sia-siakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23

Ditinggal Lagi

Hujan turun sejak sore ketika keluarga Halim berkumpul di Kediaman Halim.

Opa William mengadakan makan malam kecil setelah Angkasa menyelesaikan tahap evaluasi AG2331. Renata datang langsung dari bandara. Nathan duduk di sebelahnya, sementara Cheryl hadir mewakili tim kemitraan Prima Aeroteknik.

Tidak ada yang mengomentari posisinya, tetapi Opa memandang Cheryl cukup lama sebelum meminta Bik Inah memindahkan satu kursi agar perempuan itu tidak duduk dekat Nathan.

“Malam ini untuk kru yang bekerja saat kecelakaan,” kata Opa. “Bukan untuk membuat gosip baru.”

Cheryl tersenyum kaku. “Tentu, Opa.”

Renata tidak ikut menikmati kemenangan kecil itu. Ponselnya bergetar sejak hidangan pertama, tetapi ia tidak bisa mengangkat telepon di meja.

Pesan dari tempat perawatan Yolanda muncul.

Bu Renata, kondisi Ibu Yolanda gelisah sejak siang. Tidak darurat, tetapi beliau terus memanggil nama Anda.

Renata segera membalas bahwa ia akan datang setelah makan malam.

Di ujung meja, Cheryl hanya menyentuh sedikit makanan. Saat berdiri mengambil air, tubuhnya tiba-tiba oleng dan satu tangan mencengkeram sandaran kursi.

“Cheryl?” Nathan bangkit refleks.

Ia menangkap siku perempuan itu dan menarik kursi. “Duduk. Kamu kenapa?”

“Mungkin gula darahku turun.”

Nathan meminta Bik Inah membawa minuman manis. Ia menyentuh dahi Cheryl, lalu memeriksa pergelangan tangannya seolah seluruh ruangan tidak memiliki orang lain yang mampu membantu.

Renata melihat gerakan tersebut dari kursinya.

Kemarin Nathan menunggu tiga jam dan membawakan kopi sesuai seleranya. Hari ini, satu wajah pucat Cheryl sudah cukup membuat kebiasaan lama kembali tanpa sisa.

“Nathan.” Suara Opa William menghantam meja. “Rena itu istrimu.”

Fransisca mencoba mencairkan suasana. “Nathan cuma menolong. Kita nggak mungkin membiarkan tamu pingsan.”

“Menolong tidak salah,” jawab Opa. “Yang salah adalah dia selalu lupa siapa yang ditinggalkan setiap kali Cheryl memanggil.”

Nathan menarik tangannya dari bahu Cheryl. Untuk sesaat, kebingungan terlihat jelas di wajahnya. Ia seolah baru menyadari bahwa perhatian kepada satu orang juga dapat menjadi pengabaian bagi orang lain.

“Aku bisa panggil dokter sendiri,” ujar Cheryl lirih.

“Seharusnya dari awal,” kata Yovita.

Reno yang duduk dekat pintu meminta staf menghubungi dokter keluarga. Dalam waktu kurang dari satu menit, situasi sudah tertangani tanpa Nathan. Fakta itu membuat alasan lelaki tersebut semakin tipis.

Nathan tersentak. Ia baru menoleh ketika Renata sudah berdiri sambil mengambil tas.

“Aku harus pergi.”

“Karena ini?” Nathan melepaskan tangan Cheryl.

“Karena Mama memanggilku.”

Rasa bersalah sesaat muncul di wajah Nathan. “Aku antar.”

“Nggak perlu. Urus orang yang hampir pingsan.”

Cheryl menunduk dengan mata merah. “Rena, jangan salah paham. Aku nggak meminta Nathan...”

“Aku juga nggak meminta penjelasanmu.”

Renata berpamitan kepada Opa, lalu keluar sebelum siapa pun menahannya lagi.

Hujan di halaman lebih deras. Mobil keluarga sedang dipakai mengantar kerabat lanjut usia, sementara mobil pesanannya membatalkan perjalanan karena genangan.

Renata membuka aplikasi dan memesan Grab lain. Waktu tunggu dua belas menit.

Di layar yang sama muncul pengingat cicilan biaya perawatan Yolanda. Pembayaran bulan ini sudah ia lakukan, tetapi biaya pemeriksaan tambahan belum masuk tagihan utama.

Ia berdiri di tepi kanopi. Angin mendorong hujan ke bahunya dan membasahi sisi rambut.

Nathan menyusul beberapa menit kemudian.

“Rena, tunggu.”

Sebuah mobil berhenti di depan gerbang. Renata membuka payung dan berjalan cepat menembus hujan.

Nathan turun dari teras tanpa payung, tetapi terlambat. Pintu mobil tertutup sebelum ia mencapai jalan.

Ia melihat kendaraan itu menghilang di tikungan, sementara satu sisi payung Renata masih terlihat basah dan miring karena angin.

“Kenapa kamu nggak mengejarnya dengan mobil?” tanya Opa dari belakang.

Nathan menoleh. “Cheryl belum stabil.”

“Ada satu rumah penuh orang dan dokter keluarga bisa dipanggil. Rena cuma punya dirinya sendiri.”

Nathan memandang jalan kosong. Dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang tidak dapat ia namai.

Di tempat perawatan, Renata tiba dengan celana basah sampai lutut.

Yolanda berbaring menyamping, matanya terbuka tetapi tidak benar-benar fokus. Rambutnya terlihat semakin tipis di atas bantal.

“Mama.”

Renata duduk dan menggenggam tangannya.

Yolanda menatap wajah putrinya lama. “Rena?”

“Iya, Ma. Aku di sini.”

“Kamu kehujanan.”

“Sedikit.”

Beberapa detik kemudian, kesadaran di mata Yolanda kembali kabur. Ia mengusap punggung tangan Renata berulang-ulang.

“Jangan seperti Mama.”

Renata menahan napas. “Maksud Mama?”

“Jangan tunggu orang yang memilih perempuan lain.”

Kata-kata itu terdengar seperti datang dari masa lalu. Mungkin Yolanda sedang mengingat Suryanto. Mungkin ia bahkan tidak tahu bahwa putrinya mengulang luka yang sama.

Renata menunduk dan menempelkan dahi pada tangan kurus ibunya.

“Aku nggak akan menunggu,” bisiknya.

Yolanda tertidur lagi setelah diberi obat. Renata tinggal sampai petugas memastikan napasnya stabil.

Seorang perawat membawa handuk kecil untuk mengeringkan rambut Renata.

“Beberapa hari ini beliau lebih sering mengingat masa lama,” katanya. “Nama Anda tetap yang paling sering disebut.”

“Ada perubahan obat?”

“Belum. Dokter ingin observasi dulu. Secara fisik stabil, tapi suasana hati mudah turun.”

Renata melihat catatan di papan kecil dekat tempat tidur. Jadwal makan, tekanan darah, dan waktu tidur tercatat rapi. Ia memotret bagian yang diizinkan, lalu meminta semua panggilan tentang ibunya diarahkan langsung kepadanya, bukan ke Puri atau keluarga Halim.

“Kalau ada orang mengaku dari media?”

“Tetap kami tolak. Aturan setelah kejadian kemarin masih berlaku.”

Renata mengangguk. Setidaknya satu batas masih berdiri ketika batas lain dalam hidupnya terus dilanggar.

Ia membayar biaya pemeriksaan tambahan di meja administrasi. Saldo proyek Purnama cukup menutupnya tanpa bantuan siapa pun. Rasa lega itu kecil, tetapi nyata. Kemandirian bukan slogan baginya. Kemandirian berarti dapat menandatangani biaya perawatan ibunya tanpa memohon kepada lelaki yang selalu datang terlambat.

Ketika keluar ke koridor, ia menemukan tiga panggilan tak terjawab dari Nathan. Tidak ada satu pun pesan yang menjelaskan kenapa lelaki itu baru menelepon setelah ia pergi sendiri.

Renata mematikan suara ponsel.

Tania menelepon beberapa saat kemudian.

“Kondisi Tante gimana?”

“Sudah tidur.”

“Aku jemput?”

Renata melihat hujan di balik jendela. “Nggak usah. Aku bisa pulang sendiri.”

Panggilan lain masuk sebelum ia menutup sambungan. Nomor kantor Purnama.

“Bu Renata,” kata koordinator proyek, “izin untuk lokasi Maladewa sudah lengkap. Jadwal keberangkatan ditetapkan minggu depan. Apakah Anda bisa ikut?”

Renata memandang pantulan dirinya di kaca koridor. Bahunya masih basah. Rambutnya menempel pada pipi, dan di belakangnya ada pintu kamar seorang ibu yang takut putrinya mengulang hidupnya.

Jakarta mendadak terasa terlalu sempit untuk bernapas.

“Saya ikut,” jawabnya.

Di ujung sambungan, koordinator mengonfirmasi jadwal penerbangan.

Renata berdiri sendirian di koridor, sementara hujan terus mengetuk jendela.

Minggu depan, ia akan terbang ke Maladewa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!