Alexander Wijaya hanyalah pengacara magang berpenghasilan pas-pasan, menanggung uang kos dan biaya kuliah adiknya sendirian — sampai malam ia dipermalukan habis-habisan oleh mantan kekasihnya, Priscilla Salim, di depan umum. Amarah dan keterhinaan itu justru membangunkan Sistem Pengacara Terkuat: panel status rahasia, kemampuan membaca pikiran, dan analisis bukti secepat kilat yang hanya bisa dilihat olehnya sendiri.
Sejak saat itu, setiap lawan yang meremehkannya berakhir mati sosial di ruang sidang. Namun di balik kebangkitannya, tersimpan luka lama: kematian ayahnya 27 tahun silam yang penuh kejanggalan, dan sebilah golok berdarah warisan keluarga yang menyimpan rahasia kelam.
Ketika seorang profesor dijatuhi vonis mati atas tuduhan yang tidak pernah ia lakukan, dan waktu eksekusi tinggal menghitung hari, Alexander harus membuktikan satu hal yang bisa mengubah segalanya — bahwa keadilan yang tak terlihat, lebih berharga untuk diperjuangkan daripada nyawanya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galaxy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 021: Kembali ke Meja Perundingan
Kemenangan pidana tidak membuat ruang sidang Pengadilan Hubungan Industrial menjadi lebih ramah.
Justru sebaliknya.
Tiga hari setelah Robert Salim dan Suster Melly divonis, MakanYuk datang dengan tim hukum baru. Tidak ada Bagas. Tidak ada senyum dingin Robert. Di meja lawan duduk tiga pengacara yang wajahnya tidak banyak bergerak, dipimpin seorang perempuan berambut pendek bernama Laura Santoso.
Laura tidak menyerang emosi.
Ia menyerang kalender.
"Yang Mulia," katanya begitu sidang lanjutan dibuka, "kami perlu waktu mempelajari ulang berkas karena terjadi perubahan kuasa hukum. Selain itu, terdapat putusan pidana yang belum berkekuatan hukum tetap, sehingga tidak semestinya dijadikan dasar dalam perkara perdata ini."
Beberapa pengemudi di bangku belakang langsung saling pandang.
Penundaan.
Kata itu tidak diucapkan, tetapi semua orang mendengarnya.
Gunawan menoleh ke Alexander. "Siap?"
Alexander sudah membuka map biru.
"Siap, Pak."
Hakim ketua menatap meja penggugat. "Tanggapan?"
Alexander berdiri.
"Yang Mulia, perubahan kuasa hukum adalah hak tergugat. Tetapi hak itu tidak boleh menjadi alat memperpanjang penderitaan penggugat. Berkas perkara sudah diberikan lengkap sejak registrasi awal, salinan digital sudah diterima oleh prinsipal tergugat, dan kuasa baru mewakili perusahaan yang sama, bukan pihak yang baru lahir hari ini."
Laura menatapnya datar. "Saudara terlalu menyederhanakan kompleksitas korporasi."
"Saya menyederhanakan alasan yang diulang."
Ruang sidang menahan napas.
Alexander mengangkat satu bundel tipis. "Kami menyerahkan keberatan prosedural tertulis terhadap permohonan penundaan berulang, dilampiri bukti tanda terima berkas, email pengiriman salinan, dan daftar isu yang sudah diketahui MakanYuk sejak somasi pertama."
Penyusunan Dokumen Hukum bergerak rapi di kepalanya.
Ting! Penyusunan Dokumen Hukum mengoptimalkan struktur keberatan.
Ia melanjutkan, "Adapun putusan pidana tingkat pertama tidak kami jadikan satu-satunya dasar gugatan. Dasar gugatan ini tetap hubungan kerja terselubung, kontrol algoritmik, risiko kerja, dan perlindungan sosial yang tidak transparan. Putusan pidana hanya memperlihatkan akibat ekstrem ketika perusahaan memilih menekan korban, bukan menjawab tanggung jawab sistemnya."
Laura membuka berkasnya lebih cepat.
Hakim ketua mengambil bundel keberatan. "Tergugat sudah menerima salinan?"
Panitera mengangguk. "Sudah, Yang Mulia. Diterima pagi ini sebelum sidang."
Laura berkata, "Kami keberatan karena penggugat menyerahkan dokumen terlalu dekat dengan persidangan."
Alexander langsung menjawab, "Dokumen ini menanggapi permohonan penundaan tergugat yang baru kami terima tadi pagi pukul 08.17. Kalau tergugat ingin waktu membaca jawaban kami, mohon dicatat bahwa kebutuhan itu lahir dari permohonan mendadak tergugat sendiri."
Di belakang, seorang pengemudi tua menunduk menyembunyikan senyum.
Hakim ketua mengetuk palu kecil.
"Permohonan penundaan selama tiga minggu ditolak. Majelis memberi waktu tiga hari kalender untuk kuasa tergugat menyesuaikan diri. Setelah itu, pemeriksaan pokok perkara tetap berjalan."
Tiga hari.
Tiga minggu terlalu singkat.
Di bangku belakang, napas para pengemudi terdengar lepas pelan.
Ting! Level meningkat: Lv11 Advokat Pemula.
Ting! Penyusunan Dokumen Hukum meningkat signifikan.
Alexander tidak duduk dengan ekspresi menang. Ia tahu penundaan yang gagal di ruang sidang biasanya mencari pintu lain di luar ruang sidang.
Pintu itu muncul sebelum sore.
Di ruang tunggu pengadilan, seorang pengemudi muda bernama Rafi mendekati Alexander dengan wajah pucat. Ia salah satu dari tujuh penggugat yang hadir sejak pendaftaran awal.
"Pak Alexander, saya perlu bicara."
"Ada apa?"
Rafi membuka ponselnya. Ada pesan dari nomor tidak dikenal, tetapi bahasa pesannya rapi seperti template perusahaan.
Kami memahami kesulitan mitra. Penyelesaian cepat tersedia untuk nama tertentu. Kompensasi Rp 7.500.000 dapat dicairkan setelah tanda tangan pernyataan keluar dari gugatan.
Di bawahnya ada alamat kafe, jam pertemuan, dan kalimat:
Jangan bawa pengacara. Ini kesempatan pribadi.
Alexander membaca sampai selesai.
"Berapa orang menerima pesan seperti ini?"
Rafi menunduk. "Saya tahu tiga. Mungkin lebih."
"Kamu mau ambil?"
Rafi menggenggam ponsel. "Anak saya demam, Pak. Uang kos nunggak dua bulan. Tujuh juta setengah itu bukan kecil buat saya."
Alexander tidak langsung bicara.
Inilah cara yang lebih licin daripada ancaman.
Robert memukul dari atas. Tim baru memotong dari bawah.
"Rafi," kata Alexander pelan, "saya tidak akan memaksa kamu tetap di gugatan. Itu hakmu. Tapi sebelum tanda tangan, kamu harus tahu apa yang dilepas."
"Apa?"
"Uang lebih besar saja tidak cukup. Mereka perlu hak untuk memaksa perusahaan mengubah cara memperlakukan semua pengemudi."
Rafi memejamkan mata.
"Kalau saya tetap ikut, anak saya tetap demam malam ini."
Kalimat itu membuat semua teori hukum terasa terlalu bersih.
Alexander mengambil napas. "Bawa kuitansi obat anakmu ke kantor. Kita cari bantuan darurat yang sah, bukan uang untuk membeli diammu."
Rafi menatapnya. "Kantor Bapak punya uang?"
"Tidak banyak."
"Lalu kenapa membantu?"
"Karena kalau orang lapar dipaksa memilih antara hak dan makan, yang kalah bukan cuma dia. Hukum juga kalah."
Rafi menunduk lama.
Lalu ia mengirim pesan itu ke Alexander.
"Kalau saya goyah lagi, Pak, tolong ingatkan saya kenapa saya pertama kali datang."
Alexander menerima forward pesan tersebut.
Di luar gedung, tiga pengemudi lain berdiri terlalu jauh dari kelompok. Mereka memegang ponsel masing-masing, wajah mereka sama: takut, malu, butuh uang.
Gunawan datang dari belakang. "Mereka mulai membeli penggugat?"
"Iya."
"Kalau satu lepas, yang lain bisa ikut."
Alexander melihat pesan di layar.
"Kalau begitu, malam ini kita kumpulkan semua penggugat. Tidak untuk berpidato. Untuk menghitung risiko satu per satu."
Gunawan mengangguk. "Dan tawaran itu?"
Alexander menyimpan tangkapan layar.
"Menjadi bukti taktik sepihak tergugat."
Di ruang sidang, MakanYuk gagal membeli waktu.
Di luar ruang sidang, mereka mulai membeli rasa takut.
Dan rasa takut selalu lebih murah daripada keadilan.