NovelToon NovelToon
Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Pelukis Mimpi

Arya Pratama dikeluarkan dari sekolah. Nilai jelek, masa depan hancur, semua orang bilang dia tidak berguna. Tapi hari itu, dia menyadari sesuatu yang mengubah segalanya — bukan dia yang bodoh... seluruh dunia yang bodoh.

Apoteker tidak bisa hitung tambah-kurang. Profesor universitas menulis rumus yang salah selama ratusan tahun tanpa ada yang sadar. Juara catur dunia bisa dikalahkan dalam sepuluh langkah. Di dunia ini, pengetahuan SMA biasa adalah kekuatan tertinggi — dan Arya adalah satu-satunya orang yang memilikinya.

Dari siswa yang dibuang, dia naik menjadi legenda yang tidak pernah menunjukkan wajah aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 8: Menampar Kelas dengan Satu Garis

Arya Pratama berniat diam pada pelajaran matematika pertamanya.

Niat itu bertahan dua puluh menit.

Bu Ratih, guru matematika Kelas Inovasi, berdiri di depan papan sambil menggambar sebuah segitiga. Suaranya percaya diri. Kelas mencatat dengan patuh. Pak Surya tidak hadir; katanya ada rapat kurikulum. Itu membuat suasana lebih santai, tetapi tetap tertib.

"Luas segitiga," kata Bu Ratih, "adalah alas ditambah tinggi, lalu dibagi dua."

Spidol berhenti di papan.

Arya mengangkat kepala.

Putri Ayu Dewi yang duduk di depan juga berhenti menulis.

Bu Ratih melanjutkan, "Jadi kalau alasnya sepuluh dan tingginya enam, luasnya adalah sepuluh tambah enam, enam belas, dibagi dua, hasilnya delapan."

Beberapa siswa mengangguk serius.

Rizky Hartono di belakang Arya berbisik, "Gampang juga hari ini."

Arya menutup mata sebentar.

Itu sudah masuk salah konsep. Dan seluruh kelas menerimanya seperti kebenaran.

Diam, pikirnya.

Ia baru masuk. Terlalu cepat menarik perhatian hanya akan membuat Pak Surya benar: kepintaran adalah beban.

Bu Ratih memberi soal latihan. "Sekarang kerjakan nomor satu sampai lima."

Arya melihat lembar kerja. Semua soal memakai rumus salah yang baru dijelaskan. Jika ia mengikuti rumus guru, jawabannya salah. Jika ia menulis benar, ia menantang guru di depan kelas.

Di SMA Budi Utama, ia memilih diam terlalu sering.

Hasilnya: dikeluarkan.

Arya mengangkat tangan.

Seluruh kelas menoleh.

Bu Ratih tampak terkejut. "Ya, Arya? Ada yang tidak jelas?"

"Ada, Bu. Rumusnya salah."

Kelas langsung beku.

Rizky menahan napas. Seseorang di barisan depan menjatuhkan pulpen. Bu Ratih menatap Arya seolah tidak yakin mendengar kalimat itu dari siswa baru.

"Apa maksudmu?"

Arya berdiri. "Luas segitiga bukan alas ditambah tinggi lalu dibagi dua. Rumusnya alas dikali tinggi lalu dibagi dua."

Wajah Bu Ratih memerah. "Arya, hati-hati bicara. Ini rumus yang dipakai buku."

"Buku bisa salah, Bu."

Kalimat itu lebih keras daripada teriakan.

Seorang siswa berbisik, "Dia gila."

Bu Ratih meletakkan spidol. "Kalau begitu, maju. Jelaskan."

Arya berjalan ke depan. Ia tidak cepat, tidak lambat. Di papan, ia menggambar persegi panjang berukuran sepuluh kali enam. Lalu ia menarik garis diagonal dari sudut kiri bawah ke sudut kanan atas.

"Ini persegi panjang. Panjang sepuluh, tinggi enam. Luasnya sepuluh kali enam, enam puluh."

Ia menunjuk garis diagonal.

"Diagonal membagi persegi panjang menjadi dua segitiga sama besar. Jadi luas satu segitiga adalah setengah dari enam puluh. Hasilnya tiga puluh."

Ia menulis: 10 x 6 / 2 \= 30.

Lalu di sampingnya, ia menulis rumus Bu Ratih: (10 + 6) / 2 \= 8.

"Kalau luasnya delapan, segitiga ini lebih kecil dari kotak dua kali empat. Padahal jelas memenuhi setengah persegi panjang sepuluh kali enam."

Tidak ada yang bicara.

Bukan karena mereka langsung paham semuanya. Tapi gambar itu terlalu jelas. Bahkan dalam dunia ini, dua bentuk yang sama besar di depan mata sulit dibantah.

Putri menatap papan, lalu menatap Arya. Matanya menyala pelan.

Rizky bergumam, "Anjir... masuk akal."

Bu Ratih berdiri kaku. Ia memandang buku di tangannya, lalu papan, lalu kembali ke buku. Wajahnya berubah dari marah menjadi bingung.

"Tapi... buku ini..."

"Boleh saya lihat, Bu?"

Bu Ratih ragu, tetapi menyerahkan buku.

Arya membuka halaman rumus. Di sana tertulis jelas: alas + tinggi. Ia membalik halaman sebelumnya. Ada contoh gambar persegi panjang yang sebenarnya sudah menunjukkan bukti benar, tetapi keterangan di bawahnya keliru.

"Bagian gambar di halaman sebelumnya benar," kata Arya. "Teks rumusnya yang salah menyalin."

Bu Ratih mengambil buku itu kembali. Tangannya sedikit gemetar.

Bagi guru, dikoreksi siswa sudah memalukan. Dikoreksi siswa baru, di depan Kelas Inovasi, lebih tajam lagi.

Arya menunduk sopan. "Maaf, Bu. Saya tidak bermaksud kurang ajar. Tapi kalau rumus ini dipakai, semua jawaban latihan akan salah."

Kata maaf itu menyelamatkan wajah Bu Ratih.

Ia menarik napas panjang. "Duduk dulu, Arya."

Arya kembali ke kursinya.

Kelas masih sunyi.

Bu Ratih menatap papan cukup lama. Lalu, dengan suara lebih rendah, ia berkata, "Untuk sementara, gunakan cara Arya. Ibu akan memeriksa buku ini ke bagian kurikulum."

Ledakan bisik-bisik langsung memenuhi kelas.

"Berarti selama ini salah?"

"Tapi kita pakai rumus itu sejak SMP."

"Nilai ujian kita bagaimana?"

Rizky mencondongkan badan ke arah Arya. "Bro, hari pertama sudah bikin guru ngecek ulang buku. Besok mau ngapain? Ganti kepala sekolah?"

"Aku cuma menggambar garis," jawab Arya.

"Nah, itu yang serem."

Putri tidak ikut tertawa. Ia menoleh sedikit. "Kamu tadi hampir tidak mau bicara. Kenapa akhirnya bicara?"

Arya melihat papan. Dua rumus masih berdampingan seperti dua dunia.

"Karena kalau aku diam, semua orang di kelas ini akan belajar kesalahan yang sama lagi."

Putri menatapnya beberapa detik.

"Jadi kamu peduli?"

"Aku benci kesalahan yang dibiarkan."

Jawaban itu membuat Putri diam.

Di luar kelas, langkah cepat terdengar. Pintu terbuka. Pak Surya masuk, mungkin mendapat laporan dari koridor. Ia melihat papan, melihat Bu Ratih, lalu melihat Arya.

"Apa yang terjadi?"

Bu Ratih menjawab pelan, "Pak, sepertinya ada kesalahan di buku matematika. Arya menunjukkannya."

Pak Surya membaca dua rumus di papan. Ekspresinya tidak berubah, tetapi matanya menajam.

Bu Ratih menyerahkan buku dengan kedua tangan. "Pak, saya sudah mengajar rumus ini tiga tahun. Kalau benar salah, berarti nilai latihan mereka selama ini..."

Kalimatnya putus.

Satu kelas tiba-tiba memahami akibatnya. Masalah itu menyeret tugas, ulangan, peringkat kelas, dan kebanggaan mereka sebagai siswa Kelas Inovasi. Semuanya berdiri di atas rumus yang retak.

Seorang siswa berbisik, "Jadi kita pintar karena menghafal jawaban salah?"

Tidak ada yang tertawa.

Rizky yang biasanya cepat bercanda pun diam. Putri menatap Arya dengan ekspresi lebih dalam. Di mata gadis itu, Arya bukan lagi sekadar anak yang cepat menghitung. Ia baru saja memaksa seluruh kelas melihat bahwa dunia mereka bisa keliru dari dasarnya.

Pak Surya menutup buku itu pelan.

"Arya," katanya. "Jelaskan dari awal."

Arya berdiri lagi.

Kali ini seluruh kelas tidak menatapnya sebagai siswa baru miskin dari sekolah buangan.

Mereka menatapnya seperti seseorang yang baru saja merobek langit-langit rendah di atas kepala mereka.

Dan ketika Arya mengambil spidol untuk kedua kalinya, Putri berbisik sangat pelan, hampir tanpa suara.

Bu Ratih akhirnya meminta seluruh kelas membuka ulang lima soal latihan. Dengan rumus lama, semua jawaban salah. Dengan rumus Arya, gambar dan angka cocok. Perubahan itu terjadi di depan mata tanpa teori panjang. Siswa yang tadi mencibir pelan menunduk lebih dalam. Di papan, satu garis diagonal telah menghancurkan kebanggaan palsu mereka.

"Aku tahu. Kamu memang berbeda."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!