NovelToon NovelToon
AKU SIBUK BEKERJA SUAMIKU SIBUK MENCINTAI ORANG LAIN

AKU SIBUK BEKERJA SUAMIKU SIBUK MENCINTAI ORANG LAIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Pengkhianatan
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Aku pikir bekerja keras demi keluarga adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kuberikan.
Setiap hari aku berangkat sebelum matahari terbit dan pulang saat langit telah gelap. Semua kulakukan agar suamiku hidup nyaman dan masa depan keluarga kami terjamin. Aku menahan lelah, mengubur keinginan pribadi, bahkan mengorbankan waktu bersama orang yang paling kucintai.
Namun, pengorbananku ternyata tidak dihargai.
Di saat aku sibuk bekerja dan berjuang untuk kami, suamiku justru sibuk memberikan perhatian, waktu, dan cintanya kepada wanita lain. Pengkhianatan itu menghancurkan kepercayaan yang telah kubangun selama bertahun-tahun.
Yang lebih menyakitkan, wanita itu bukanlah orang asing.
Saat rahasia demi rahasia mulai terungkap, aku dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan pernikahan yang telah retak atau meninggalkan pria yang pernah menjadi seluruh duniaku.
Mampukah cinta bertahan setelah dikhianati? Atau ada luka yang memang tidak ditakdirkan untuk sembuh?
"Aku Sibuk

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 15 pengakuan semakin jelas

Sore itu hujan sudah berhenti, namun langit masih terlihat mendung ketika satu per satu karyawan mulai meninggalkan gedung firma hukum. Area parkiran bawah tanah yang biasanya ramai perlahan mulai sepi, hanya terdengar suara langkah kaki dan deru mesin mobil yang sesekali melintas.

Nadia berdiri di dekat mobilnya dengan wajah yang sejak siang tadi terlihat dingin. Pemandangan yang ia lihat di depan kantor beberapa jam lalu terus terbayang di kepalanya. Bukan karena Adrian dan Bianca berjalan di bawah payung yang sama, melainkan karena bagaimana suaminya secara naluriah memilih melindungi wanita lain sementara dirinya berdiri kehujanan beberapa meter dari sana.

Semakin ia memikirkannya, semakin sulit baginya menahan amarah yang selama ini terus ia tekan.

Saat melihat Bianca keluar dari lift parkiran seorang diri, langkah Nadia langsung bergerak mendekatinya.

Bianca yang semula sedang membuka tas untuk mencari kunci mobil terkejut ketika melihat Nadia berdiri tepat di hadapannya.

"Nadia..."

Suara Bianca terdengar gugup, namun Nadia tidak lagi memiliki kesabaran untuk berpura-pura tenang.

"Aku sudah datang ke rumahmu."

Nada suaranya rendah namun tajam.

"Aku sudah memintamu menghentikan semua ini dengan baik-baik."

Wajah Bianca langsung memucat.

Beberapa karyawan yang masih berada di sekitar area parkir mulai memperhatikan mereka dari kejauhan.

"Aku tidak bermaksud menyakitimu."

ucap Bianca pelan.

Kalimat itu justru membuat Nadia tertawa pahit.

"Tidak bermaksud?"

Matanya mulai memerah karena menahan emosi.

"Kamu tahu dia suamiku."

"Kamu tahu kami menikah."

"Kamu tahu aku baru kehilangan anakku beberapa minggu lalu."

Napas Nadia mulai tidak teratur.

"Dan setelah mengetahui semuanya, kamu tetap memilih bersamanya."

Bianca menundukkan kepala.

Namun di saat yang sama air matanya mulai mengalir.

"Aku tidak pernah merencanakan semua ini."

katanya lirih.

"Aku juga tidak ingin berada dalam situasi seperti ini."

Kalimat tersebut membuat kemarahan Nadia semakin memuncak.

Karena di telinganya, Bianca terdengar seperti seseorang yang sedang meminta belas kasihan.

Seolah dirinya adalah korban keadaan.

Padahal setiap langkah yang terjadi selama berbulan-bulan merupakan pilihan yang dibuat dengan sadar.

"Jangan bersikap seolah kamu yang paling menderita."

suara Nadia bergetar.

"Korban di sini bukan kamu."

Air mata yang selama ini ia tahan akhirnya mulai jatuh.

"Aku yang dikhianati."

"Aku yang dibohongi setiap hari."

"Aku yang kehilangan keluargaku sedikit demi sedikit."

Bianca tidak mampu menjawab.

Ia hanya berdiri diam dengan wajah penuh penyesalan.

Namun justru diamnya itulah yang membuat Nadia semakin kehilangan kendali.

Untuk pertama kalinya sejak mengetahui perselingkuhan tersebut, seluruh rasa sakit, kecewa, dan penghinaan yang ia pendam meledak menjadi kemarahan, tangannya terangkat.

Namun sebelum tamparan itu mendarat, seseorang tiba-tiba menangkap pergelangan tangannya, nadia langsung menoleh.dan melihat Adrian berdiri di sana.

Wajah pria itu terlihat tegang.

"Nadia, cukup."

ucapnya tegas.

Untuk sesaat dunia Nadia terasa berhenti.

Bukan karena Adrian datang, melainkan karena apa yang baru saja terjadi, pria itu tidak berdiri di sampingnya.

Sebaliknya, Adrian berdiri di antara dirinya dan Bianca, melindungi Bianca.

Mata Nadia perlahan berpindah dari tangan Adrian yang menggenggam pergelangannya ke wajah pria itu.

Tatapannya penuh ketidakpercayaan.

Selama lima tahun pernikahan mereka, Adrian tidak pernah menggenggam tangannya sekeras itu.

Namun hari ini...

Pria itu melakukannya demi wanita lain.

"Jadi sekarang kamu melindunginya?"

tanya Nadia pelan.

Suara yang keluar begitu tenang hingga membuat Adrian merasa lebih takut daripada jika Nadia berteriak.

"Nadia, dengarkan aku dulu."

"Apa yang harus kudengar?"

potong Nadia.

Tatapannya bergantian mengarah kepada Adrian dan Bianca.

"Bahwa kalian tidak sengaja jatuh cinta?"

"Bahwa kalian tidak bermaksud menyakitiku?"

"Atau bahwa aku harus mengerti perasaan kalian?"

Keheningan memenuhi area parkiran.

Beberapa orang yang masih berada di sana mulai menjauh karena menyadari situasi yang terjadi.

Nadia perlahan menarik tangannya dari genggaman Adrian. Tidak kasar. Tidak memberontak. Justru terlalu tenang.

Dan itulah yang membuat jantung Adrian semakin tidak nyaman.

Karena untuk pertama kalinya ia melihat sesuatu yang belum pernah ada di mata istrinya.

Bukan kemarahan.

Bukan kesedihan.

Melainkan kekecewaan yang begitu dalam hingga perlahan mengikis seluruh cinta yang pernah Nadia miliki untuknya.

Begitu meninggalkan parkiran kantor, Nadia tidak langsung pulang ke apartemen.

Tangannya masih gemetar saat menggenggam kemudi. Berkali-kali ia mencoba mengatur napas, namun bayangan Adrian yang berdiri di depan Bianca terus terulang di kepalanya seperti mimpi buruk yang tidak mau berakhir.

Selama ini Nadia berpikir tidak ada lagi hal yang bisa lebih menyakitkan daripada mengetahui suaminya berselingkuh.

Yang jauh lebih menyakitkan adalah melihat pria yang selama ini menjadi tempatnya bersandar memilih melindungi wanita lain di hadapannya.

Dan Nadia menyaksikannya dengan mata kepalanya sendiri.

Air mata akhirnya mengalir tanpa bisa ditahan lagi.

Mobil yang dikendarainya berhenti di pinggir jalan selama beberapa menit karena pandangannya mulai kabur.

Selama lima tahun pernikahan mereka, Nadia selalu berusaha menjadi istri yang baik.

Ia bekerja keras.

Membela Adrian di depan keluarganya.

Membantu pekerjaannya ketika pria itu kesulitan.

Bahkan saat mengalami keguguran beberapa minggu lalu, ia masih berusaha memikirkan perasaan Adrian yang juga kehilangan calon anak mereka.

Namun kini semua pengorbanan itu terasa seperti sesuatu yang tidak berarti.

Karena pada saat Nadia membutuhkan suaminya, Adrian justru berada di sisi wanita lain.

Tanpa sadar Nadia mengarahkan mobilnya menuju rumah Vania.

Satu-satunya tempat yang saat ini terasa cukup aman untuknya.

Ketika pintu rumah terbuka dan Vania melihat wajah sahabatnya yang basah oleh air mata, wanita itu langsung terkejut.

"Nadia?"

Tidak biasanya Nadia menangis.

Bahkan saat menghadapi kasus berat atau tekanan pekerjaan, Nadia selalu terlihat tegar.

Karena itu melihat sahabatnya berdiri dengan wajah hancur seperti itu membuat Vania langsung merasa ada sesuatu yang sangat buruk telah terjadi.

Begitu masuk ke dalam rumah, Nadia tidak lagi mampu menahan dirinya.

Air mata yang sejak tadi berusaha ia sembunyikan akhirnya pecah.

Tubuhnya bergetar hebat saat menceritakan semuanya.

Sampai kejadian di parkiran sore tadi, tidak ada satu pun yang ia sembunyikan lagi.

Semakin banyak yang Nadia ceritakan, wajah Vania semakin gelap.

Wanita itu duduk diam mendengarkan hingga cerita berakhir.

Namun kemarahan yang terlihat di matanya sudah tidak bisa disembunyikan.

"Dia melindungi Bianca?"

tanya Vania pelan.

Nadia hanya mengangguk.

Jawaban sederhana itu justru membuat Vania berdiri dari tempat duduknya.

"Aku benar-benar ingin memukul Adrian sekarang."

Suara Vania terdengar penuh amarah.

Ia berjalan mondar-mandir di ruang tamu sambil berusaha mengendalikan emosinya.

"Selama ini aku masih berpikir mungkin dia cuma bodoh."

"Tapi ini sudah keterlaluan."

Vania mengepalkan tangannya.

"Nadia, kamu yang membantu kariernya."

"Kamu yang selalu membelanya."

"Bahkan waktu semua orang meragukan kemampuannya, kamu tetap berdiri di sampingnya."

Air mata kembali mengalir di wajah Nadia.

Karena semua yang dikatakan Vania memang benar.

Ia telah memberikan begitu banyak hal untuk pernikahan mereka.

Dan kini ia mulai bertanya-tanya apakah Adrian pernah benar-benar menghargai semua itu.

Vania duduk di samping sahabatnya lalu menggenggam tangannya erat.

Tatapannya masih dipenuhi kemarahan, namun kali ini juga ada kesedihan.

Karena melihat Nadia yang biasanya kuat menjadi seperti ini membuat hatinya ikut sakit.

"Aku nggak peduli siapa ayahnya."

ucap Vania tegas.

"Aku nggak peduli seberapa kaya keluarganya."

"Aku juga nggak peduli kalau seluruh kantor membelanya."

Napasnya terdengar berat.

"Tapi kalau dia bisa memperlakukanmu seperti ini setelah semua yang sudah kamu lakukan, berarti dia tidak pantas mendapatkanmu sejak awal."

Malam itu Nadia akhirnya menangis tanpa perlu berpura-pura kuat.

Tanpa perlu menjaga citra sebagai partner senior firma hukum.

Tanpa perlu menjadi istri sempurna.

Sementara Vania tetap berada di sisinya, menemani sahabatnya yang sedang mengalami salah satu malam paling menyakitkan dalam hidupnya.

Dan di saat yang sama, untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Nadia mulai menyadari bahwa mungkin mempertahankan pernikahan bukan lagi satu-satunya pilihan yang ia miliki.

Keesokan paginya suasana ruang rapat utama firma hukum terasa jauh lebih tegang dibandingkan biasanya. Ruangan yang biasanya digunakan untuk membahas akuisisi perusahaan bernilai miliaran rupiah atau perkara-perkara besar itu kini dipenuhi oleh orang-orang yang memiliki hubungan jauh lebih rumit daripada sekadar urusan pekerjaan.

Direktur firma duduk di ujung meja dengan wajah serius. Di sisi lain duduk ayah dan ibu Adrian yang kini menjadi salah satu pemegang saham terbesar firma tersebut. Adrian datang lebih awal dengan wajah pucat karena semalaman hampir tidak bisa tidur, sementara Nadia duduk beberapa kursi darinya tanpa sekali pun menoleh ke arahnya.

Bianca yang biasanya percaya diri terlihat jauh berbeda pagi itu. Wajahnya pucat dan matanya sembab seperti seseorang yang menangis semalaman.

Tidak ada seorang pun yang benar-benar nyaman berada di ruangan tersebut.

Awalnya pertemuan berlangsung dengan suasana formal. Namun semuanya berubah ketika Bianca perlahan berdiri dari kursinya, tangannya gemetar.

Napasnya tidak teratur.

Namun untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia tidak lagi ingin bersembunyi di balik kebohongan.

"Ada sesuatu yang harus saya sampaikan."

Suara Bianca terdengar pelan namun cukup jelas untuk membuat seluruh ruangan terdiam.

Adrian langsung menoleh ke arahnya.

Perasaan tidak enak mulai memenuhi dadanya.

"Nggak perlu sekarang..."

ucap Adrian cepat.

Namun Bianca menggeleng.

Air mata mulai memenuhi matanya.

"Aku lelah berbohong."

Kalimat berikutnya membuat seluruh ruangan membeku.

Dengan suara yang bergetar, Bianca mengakui hubungan yang selama ini ia jalani dengan Adrian.

Ia tidak berusaha membela diri, tidak berusaha mencari alasan, tidak menyalahkan siapa pun.

Ia hanya mengatakan kebenaran apa adanya.

Bahwa dirinya menjalin hubungan dengan pria yang telah memiliki istri.

Bahwa hubungan itu berlangsung selama beberapa bulan.

Dan bahwa Nadia mengetahui semuanya.

Untuk beberapa detik setelah pengakuan itu berakhir, tidak ada suara apa pun di dalam ruangan.

Bahkan suara pendingin ruangan terdengar begitu jelas.

Ibu Adrian terlihat seperti kehilangan kemampuan berbicara.

Wanita yang selama ini begitu keras terhadap Nadia itu hanya duduk membeku dengan wajah pucat.

Sementara ayah Adrian menatap putranya seolah sedang melihat orang asing.

Tatapan penuh kekecewaan yang belum pernah Adrian lihat sebelumnya.

"Ini benar?"

Suara ayah Adrian akhirnya terdengar.

Dan jauh lebih menakutkan daripada teriakan.

Adrian tidak mampu menjawab.

Karena tidak ada lagi yang bisa disembunyikan.

Keheningannya sudah menjadi pengakuan.

Dalam sekejap wajah ayahnya berubah merah karena marah.

Pria yang selama ini selalu menjaga wibawa dan ketenangannya akhirnya kehilangan kesabaran.

"Aku membela kamu selama bertahun-tahun."

Suara beratnya menggema di seluruh ruangan.

"Aku mempertaruhkan nama keluarga untuk mendukung kariermu."

Tatapannya beralih kepada Nadia.

"Dan wanita itu bahkan membelamu ketika semua orang meragukan kemampuanmu."

Ayah Adrian mengepalkan tangannya.

"Ini balasan yang kamu berikan?"

Ibu Adrian yang biasanya selalu menyalahkan Nadia kini hanya menundukkan kepala.

Air mata perlahan mengalir di wajahnya.

Untuk pertama kalinya wanita itu menyadari bahwa selama ini dirinya telah salah menilai menantunya.

Sementara wanita yang selalu ia kritik justru menjadi pihak yang paling terluka.

Nadia duduk diam hingga seluruh ruangan kembali tenang.

Wajahnya terlihat jauh lebih tenang dibandingkan semua orang yang ada di sana.

Seolah ia telah menghabiskan seluruh air matanya semalam.

Perlahan ia berdiri dari kursinya.

Semua mata langsung tertuju kepadanya.

"Ada satu hal yang ingin saya sampaikan."

Suara Nadia terdengar profesional seperti saat sedang mempresentasikan kasus penting.

Namun siapa pun bisa merasakan kesedihan yang tersembunyi di baliknya.

Ia mengeluarkan sebuah map dari tasnya lalu meletakkannya di atas meja.

"Saya mengajukan pengunduran diri dari firma ini."

Kalimat itu langsung membuat seluruh ruangan terkejut.

Direktur bahkan langsung berdiri.

"Nadia, jangan terburu-buru membuat keputusan."

Namun Nadia menggeleng pelan.

"Saya sudah mempertimbangkannya."

Belum sempat siapa pun merespons, Nadia kembali mengeluarkan dokumen lain.

Tangannya tidak lagi gemetar.

Tidak lagi ragu.

Karena keputusan ini sudah ia ambil sejak semalam.

"Dan saya juga telah mengajukan gugatan cerai."

Adrian langsung berdiri dari kursinya.

Wajahnya kehilangan warna.

"Nadia..."

Untuk pertama kalinya sejak semua ini terbongkar, ketakutan yang sesungguhnya terlihat jelas di matanya.

Namun Nadia tidak lagi menatapnya.

Ayah Adrian menutup matanya sesaat.

Rasa marah yang sejak tadi memenuhi dirinya perlahan berubah menjadi penyesalan.

Karena ia tahu betapa besar Nadia mencintai putranya.

Ia melihat sendiri bagaimana Nadia berjuang mempertahankan pernikahan itu selama bertahun-tahun.

Dan sekarang semua itu berakhir bukan karena Nadia menyerah.

Melainkan karena Adrian menghancurkan kepercayaan yang tidak lagi bisa diperbaiki.

Pria tua itu akhirnya berdiri lalu menghampiri Nadia.

Dengan mata yang mulai memerah, ia menepuk bahu menantunya pelan.

"Nadia."

Suara beratnya terdengar serak.

"Atas nama keluarga kami..."

Ia berhenti beberapa saat karena emosinya sendiri.

"...aku minta maaf."

Ruangan kembali hening.

Karena semua orang tahu, permintaan maaf itu datang terlambat.

Terlalu terlambat untuk memperbaiki hati seorang wanita yang telah dikhianati oleh orang yang paling ia cintai.

1
Mundri Astuti
emang ...ga ngotak si klo mo berkhianat, kan semuanya kena imbasnya, tu perempuan pilihan kamu
Mundri Astuti
ulah Bianca lagi ke nya, klo Iyya bener" ni org, masih aja ga da kapok"nya, oi ni tuh semua juga krn kamu
Mundri Astuti
si Adrian yg diingetnya calon anaknya yg sama Bianca, yg sama Nadia ga sama sekali, padahal sama" darah dagingnya juga, coba anak yg dikandung Bianca meninggal kira" gimana tu org yak🤔
Mundri Astuti
diiihhh bisa bisanya ngomong gitu, habis menghancurkan semuanya...karmanya yg kejam thor buat tu duo dajjal
Mundri Astuti
bagusnya pasangan duo laknat ini masuk bui, dan dpt sangsi sosial, selama ini Nadia yg kena getahnya padahal mereka yg berbuat
Mundri Astuti
woahhhh pasangan duo laknat ternyata...sama" mencapai ambisinya sendiri
Mundri Astuti
semoga lekas terungkap, dan karma tu duo dajjal
Mundri Astuti
hati" Anna, kamu dah bicara terbuka, semestinya di simpan dulu sendiri sambil cari bukti..klo dah begini bakalan panik pelakunya dan mencoba menghilangkan brg bukti
Mundri Astuti
Adrian romannya yg nyelakain ayahnya sendiri...fix double kill ni mah karmanya thor
Mundri Astuti
mudah"an Nadia jadi sama Revano yg lebih segalanya, biar tau rasa si Adrian ...beuhhh Nadia tuh lebih berharga dari selingkuhannya
Mundri Astuti
Thor kasih Adrian dan selingkuhannya karna yg double kill, masih ga ada penyesalan dan ga ngerasa bersalah banget dia, padahal dia tau Nadia juga mengandung anaknya, dan posisinya sendiri krn pengkhianatan ya...

coba ada yg kasih klarifikasi tentang gosip di kantornya Nadia, paling ngga namanya bersih sebelum dia pindah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!