NovelToon NovelToon
DI BALIK LUKA

DI BALIK LUKA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nathasya90

Hannah pernah kehilangan segalanya—rumah tangga, impian menjadi seorang ibu, dan kepercayaan pada cinta. Saat ia mulai menata hidupnya kembali, Rayyan hadir tanpa memaksa, hanya perlahan membuktikan bahwa cinta yang tulus tidak pernah lahir dari paksaan. Namun ketika masa lalu kembali muncul, Hamnah harus memilih, tetap hidup bersama luka, atau memberi kesempatan pada hati untuk percaya sekali lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nathasya90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DBL22

AYO KITA SELINGKUH!

Beberapa menit setelah meninggalkan kawasan tempat tinggal Romi, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara.

Tatapan Romi tetap lurus ke depan. Kedua tangannya menggenggam setir sedikit lebih erat daripada biasanya.

Sementara itu, Jelita tidak lagi memaksanya menjawab. Ia hanya memandang keluar jendela, membiarkan keheningan mengambil alih ruang di antara mereka.

Hingga akhirnya Jelita kembali membuka suara.

"Aku nggak minta kamu menjawab sekarang, Mas," ucap Jelita pelan.

Romi tetap diam.

"Aku cuma ingin kamu tahu... kalau semua yang terjadi setelah kamu pergi benar-benar mengubah hidupku."

Belum sempat Romi membuka suara, sebuah sepeda motor tiba-tiba memotong jalur dari arah kiri.

Romi refleks menginjak rem.

Brak!

“Aduh!”

“Kamu nggak apa-apa?”

“Sakit, Mas,” adu Jelita, menggosok kepalanya yang kena benturan kaca mobil.

Romi menepikan mobil ke pinggir jalan agar tak mengganggu pengguna jalan lain. Ia lalu melepas seatbelt miliknya kemudian menghampiri Jelita di kursi penumpang.

“Coba aku lihat!”

"Ini, Mas. Sebelah kiri." Tunjuk Jelita ke sisi kepalanya.

“Mau ke rumah sakit saja? Ini kayaknya agak benjol.”

Jelita menggeleng pelan.

“Nggak usah Mas, bentar juga kempes sendiri kok. Kayaknya tadi kena pinggiran pintu makanya jadi benjol.”

“Maaf. Tadi aku benar-benar nggak nyangka ada motor nyelonong.”

“Nggak apa-apa.”

Jarak mereka sangat dekat, bahkan saking dekat keduanya bisa merasakan wangi parfum masing-masing.

Aroma parfum itu masih sama.

Aroma yang selama setahun terakhir diam-diam selalu dirindukan Jelita. Sementara bagi Romi, wangi itu adalah bagian dari masa lalu yang selama setahun terakhir berusaha ia kubur jauh di sudut hatinya.

Romi berdehem pelan sebelum kembali ke kursinya. Tidak tahu kenapa jantungnya berdetak cepat.

Di sisi lain Jelita tampak mengulas senyum setelah mendengar detak jantung pria itu.

Ternyata hatimu juga masih mengenalku, Mas.

***

Pada akhirnya mereka tiba tepat waktu. Setidaknya keputusan Romi menerima tumpangan Jelita membuat mereka tidak terlambat menghadiri rapat.

“Selamat pagi dan selamat datang, Pak Xander,” sapa Romi ketika orang yang ditunggu memasuki ruang rapat.

“Terima kasih atas sambutannya dan selamat pagi semua.“

“Ayo, Pak silahkan duduk.” Jelita mempersilahkan sang atasan duduk.

“Terima kasih, Bu Jelita,” balas pria yang bernama Xander itu.

Akhirnya rapat kedua perusahaan tersebut berlangsung dengan lancar bahkan pembicaraan mereka berlanjut hingga waktu makan siang.

“Saya harap, Pak Romi bisa saling bekerjasama dengan Bu Jelita mengenai proyek kita ini. Saya sudah menyerahkan semuanya kepada Bu Jelita.”

“Iya, Pak.”

“Jika ada kesulitan, kamu bisa langsung menghubungi, Pak Romi,” kata Xander pada bawahannya—Jelita. “Bukan begitu, Pak Romi?” Kali ini tatapannya beralih pada pria yang duduk bersebrangan dengannya.

Dengan berat Romi mengangguk. “Tentu saja, Pak.”

“Baiklah, kalau semua sudah dibahas, rapat kita akhiri sampai di sini. Saya juga harus kembali ke Surabaya pukul dua siang karena masih ada rapat lain yang menunggu.”

Setelah Pak Xander keluar dari ruang rapat, semua orang akhirnya bisa bernapas lega.

“Sumpah, gue tadi deg degan banget”

“Iya nih, gue juga tadi sempat tahan napas waktu Pak Xander komplain karena data kita dan Bu Jelita sedikit tidak sama.”

Romi menggaruk kepalanya saat mendengar ucapan dari salah satu timnya.

“Oh iya, Pak Romi, kemarin nomor Bapak susah dihubungi, ya?” tanya Yono, salah satu orang yang masuk dalam tim Romi.

“Tidak, ponselku aktif terus, aman.”

“Tapi kata Bu Jelita susah banget tembusnya?”

Romi melirik ke arah Jelita yang ternyata juga menatap ke arahnya.

“Mungkin waktu saya menelepon, Pak Romi sedang menerima panggilan lain, Pak Yadi.” Jelas Jelita, ia sudah tak sanggup ditatap tajam oleh pria itu.

“Oh begitu. Kalau nggak ada lagi yang mau dibahas apa kita boleh langsung balik? Saya masih ada pekerjaan di kantor.”

“Boleh, Pak Yadi, yang lain juga kalau mau balik silahkan saja. Saya masih ada beberapa hal yang mau dibahas sama Pak Romi, bukan begitu, Pak Romi?”

Romi tak menjawab, tapi dia mengangguk mengiyakan.

“Kalau begitu kami duluan, Bu Jelita, Pak Romi.”

“Oh iya, Pak silahkan.”

“Silahkan, Pak.”

Ucap keduanya bersamaan.

Setelah semua keluar, tinggalah Jelita dan Romi berdua di ruangan itu.

“Apa maksudmu tadi?”

“Maksudku? Yang mana? Ada banyak hal yang tadi kita bahas di rapat.”

“Apa kamu sengaja memberitahu mereka kalau aku tidak mengangkat teleponmu?”

“Aku? Tidak, tentu saja tidak. Aku profesional, Mas.”

“Mas?” gumam Romi dalam hati.

Ada sesuatu yang bergetar di dalam dirinya saat wanita itu kembali memanggilnya dengan sebutan itu.

“Nggak apa-apa, kan aku panggil Mas? Biar lebih akrab.”

Romi berdecak mendengar penuturan Jelita.

“Saat itu aku butuh data yang akan aku laporkan pada pak Xander tapi karena kamu reject panggilanku terus mau tidak mau aku meminta datanya sama tim kamu yang lain, tapi ternyata mereka tidak pegang salinan datanya.” Jelas Jelita.

“Kamu telepon di luar jam kantor, Jelita… tentu saja tidak aku terima!”

“Kenapa? Kamu takut istrimu tahu tentang kita?”

“Tidak ada kata ‘kita’ dalam hubungan profesional. Kita berhubungan karena sebatas pekerjaan. Titik.”

“Aku tahu dan aku tak suka dengan kenyataan itu.” Jujur Jelita akui.

“Hubungan itu sudah lama berlalu, Jelita. Sudah satu tahun. Lagipula tidak ada yang terjadi apapun dengan kita.”

“Ada yang terjadi, Mas! Kamu mengambil sesuatu dariku.”

“Omong Kosong.”

“Kamu memang mengambil sesuatu dariku. Kamu bahkan membawanya pergi bersamamu.”

Romi mengernyit.

“Apa? Apa yang kubawa? Kita bahkan nggak pernah melakukan apa pun selain saling bercerita.”

“Hatiku.”

“Apa?” ulang Romi, sepertinya telinganya bermasalah.

“Kamu sudah membawa serta hatiku saat kamu memutuskan hubungan kita waktu itu.”

“Aku tak pernah merasa memberikan akses hati yang lain masuk ke dalam hidupku.”

“Kebersamaan kita yang membawanya, Mas. Tanpa paksaan dan mengalir alami begitu saja. Cerita kita yang membawanya masuk tanpa kita berdua sadari.”

Romi menggeleng pelan. Kepalanya ikut menunduk, seolah berharap debaran di dadanya ikut mereda.

“Berhenti membohongi hatimu sendiri, Mas.”

Jelita mencoba peruntungannya lagi dan lagi. Ia berjalan mendekati pria itu perlahan. Ia duduk di tepi meja, lalu perlahan menggeser tubuhnya hingga kini jarak mereka hanya tinggal beberapa senti.

“Kamu mau tahu alasan kami bercerai?”

Meski berusaha mengabaikannya, rasa penasaran itu tetap muncul.

“Aku dituduh selingkuh denganmu.”

“Apa?”

“Seperti itu reaksiku dulu. Tidak percaya. Bagaimana bisa dia mengatakan aku selingkuh di saat dirinyalah yang mulai bermain api di belakangku.”

“Maksud kamu?”

“Dia mengecek riwayat panggilanku. Aku juga nggak tahu bagaimana dia bisa menemukan nomormu, padahal sebelumnya sudah kuhapus.”

“Bohong! Aku tak pernah berbicara dengan orang lain, terlebih membahas kita dulu.”

“Aku tahu itu, Rom. Aku tahu kalau itu hanyalah satu dari banyaknya alasan dia untuk bisa menceraikan aku.”

“Jadi maksudmu kamu bercerai sama suamimu karena aku?”

“Bisa dibilang begitu, tapi tidak sepenuhnya benar juga sebab nyatanya dia sudah selingkuh jauh sebelum kita bertemu di rumah sakit. Aku sudah bilang kalau tidak ada orang yang bisa mengerti kita jika orang itu tidak merasakan apa yang kita alami.”

“Tidak, mungkin itu suamimu, tapi tidak dengan istriku—Hannah. Dia berbeda.”

“Mantan suami, Rom, kami sudah pisah.” Jelita meralat ucapan pria itu.

“Terserahlah apa namanya. Intinya yang kamu ucapkan itu sama sekali tidak benar. Tidak semua orang sepicik mantan suamimu itu.”

“Kamu mau kan jadi temanku lagi?”

“Maaf, aku tidak bisa.” Romi menolaknya dengan cepat.

“Kenapa? Hanya berteman, tidak lebih. Seperti dulu.”

“Tidak ada pertemanan yang tulus antara pria dewasa dan wanita dewasa Jelita. Dan, kamu tahu itu dengan pasti.”

“Dan aku tahu... kamu belum benar-benar bisa melupakan aku.”

Romi tidak menjawab. Rahangnya mengeras.

“Mulutmu mungkin bisa berbohong, tapi tidak dengan jantungmu ini.”

Romi refleks mundur setengah langkah. Namun jemari Jelita lebih dulu mendarat di dadanya.

Debaran jantung pria itu terasa jelas di telapak tangannya. Membuat senyum tipis terbit di bibir Jelita.

“Dia masih mengingatku, Rom. Kamu nggak bisa berkelit lagi.”

Romi dengan cepat menahan pergelangan tangan wanita itu sebelum jemari itu bergerak naik ke arah kancing kemejanya.

“Sepertinya pembicaraan kita cukup sampai di sini.”

“Aku anggap ini bukan bentuk penolakan atas tawaranku tadi,” kekeuh Jelita.

Romi menatap wanita itu tajam.

“Kita bermain aman. Aku tahu istrimu tidak sedang di Jakarta. Kita bisa menghabiskan waktu satu tahun kita yang terbuang dengan saling mendengarkan keluh kesah kita masing-masing.”

“Ini tidak benar. Aku tidak bisa.” Tolak Romi.

Pria itu terus menggelengkan kepala. Menampik semua ucapan Jelita yang sedikit mulai menggoyahkan imannya.

“Apanya yang tidak benar? Kita tidak melakukan apapun. Kalaupun kita melakukannya pun tidak akan terjadi apa-apa.”

“Kamu mengajakku menyelingkuhi istriku terang-terangan?”

“Tidak. Tapi kamu berhak memiliki teman yang bisa kamu ajak berbagi cerita selain istrimu. Dia terlalu menekanmu, Rom. Dia egois, hanya ingin memilikimu sendiri.”

“Tapi Hannah benar. Kalau aku memberikan akses orang lain masuk, maka itu bisa menjadi bumerang pada pernikahan kami.”

“Tidak jika orang lain itu aku, Rom. Kita sama-sama dewasa. Sama-sama pernah merasakan pahitnya pernikahan. Dan kamu juga tahu... kita saling mengerti dengan cara yang tidak dimiliki orang lain.”

Romi terdiam. Ia ingin membantah. Namun entah mengapa, tak satu pun kalimat berhasil keluar dari bibirnya. Bukan karena Jelita benar, melainkan karena ada bagian dari ucapannya yang pernah ia rasakan. Selama ini ia memang bercerita kepada istrinya, tetapi pembicaraan mereka tidak pernah terlalu dalam. Ada banyak hal yang selama ini belum pernah ia ceritakan kepada istrinya.

“Aku siap menerima semua kesahmu, Rom. Aku akan terima semua kekuranganmu. Apapun itu buruknya kamu.”

“Tetap saja ini tak benar Jelita. Itu sama saja dengan berselingkuh.”

“Jika nama hubungan kita seperti itu, maka ayo kita selingkuh!”

Romi membeku.

Untuk sesaat, ruangan itu benar-benar sunyi.

Dan diamnya kali ini terasa jauh lebih berbahaya daripada kata-kata apa pun.

1
Nathasya90
rakus sih ini. mau dua-duanya 🤣
Nathasya90
nggak sabar juga pengen ketok pala Romi/Hammer/🤣
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
iih ternyata jelita nih maksa ya orgnya
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
wah enak ini makan siangnya
Eneng Farida
romi sm jelita memang cocok sm2 busuk nya hanna wanita baik cocoknya sm laki2 baik jga buruan cepat ketahuan atuh thor perselingkuhan romi laki2 tak thu dri
Nathasya90: setuju
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
aku juga pasti mikir yg ngga2 kalau jadi hannah
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
lihat jelita nih
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
aku juga. lebih milih kerja drpd masak. 😄
Nathasya90: setuju
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
aku jd hannah pasti mikir macam2 liat reaksi suami begitu
Nathasya90: nah iya kk, kentara banget sih itu.
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
kok aku jd deg2an ya. lanjut deh
Nathasya90: lanjut ka bacanya😍
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
lantas.. hanna yg dihujat terus masa ga kasian😞
Nathasya90: lalu tega gitu namanya dong ya. lebih milih jaga biar dia nggak terluka tapi nggak apa2 kalau istrinya yang terluka?
total 3 replies
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
swmoga selalu baik2 aja seterusnya
uhen: mampir kk ke cerita aku 🙏🗿
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
memang begitu harusnya. menikah itu krn untuk mendapatkan pendamping hidup. senang dan susah bersama. hanya saja ada saja kerikil2 yg mengganggu. seperti pertanyaan mertua atau org2 disekitar kita. yang tadinya hati kita tidak apa2 lama kelamaan menjadi gelisah dan merasa minder
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
ayo romi.. periksa.
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
lelah sih kalau berjuang sendirian. lanjut
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
pasti lama kelamaan tekanan batin rasanya
Eneng Farida
romi laki2 tak tau dri udh untung ada istri yg mau nerima apa adanya ini mlh kesemsem sm org naru pantes nanti d tinggal hanna
Nathasya90
Haii guys... othor kembali lagi dengan judul buku baru. Semoga suka ya dengan anak baru aku🫰🏻❤️🥰

Jangan lupa kasih ⭐⭐⭐⭐⭐ biar othor makin semangat up nya ya.

Ditunggu semua komenannya.

Love sekeboon buat kalian💐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!