Hari itu, Alya memberikan hadiah terakhir untuk suaminya.
Bukan harta, bukan pula kenangan. Melainkan kesempatan untuk hidup bersama wanita yang lebih dipilihnya.
Lalu ia pergi, membawa sebuah rahasia yang baru disadari Adrian saat semuanya sudah terlambat.
Follow instagram @Tantye005 untuk info seputar novel🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Racun tanpa penawar
"Kenapa Dek? Mas perhatikan dari tadi kamu diam saja. Kalau memang karena ucapan mas semalam, nggak usah jika berat bagimu," ucap Dipta. Dia menghampiri istrinya yang duduk di kursi tunggu, memandangi tayangan tv dengan tatapan kosong.
Pakaian yang seharusnya dirapikan tidak tersentuh sama sekali, padahal Alya sendiri yang menawarkan bantuan kepada ibunya beberapa menit lalu.
"Aku sangat ingin mempertemukan mereka terlepas dari apa yang Adrian lakukan ...."Alya menoleh, menatap retina suaminya. "Tapi bagaimana aku menjelaskan pada Aryan Mas? Aku nggak mau sosok ayah yang dianggapnya sempurna tercemar hanya karena masa laluku."
"Mas mengerti perasaanmu." Dipta memeluk Alya, menepuk punggungnya pelan dan mengecup kening sesekali.
"Aku takut Aryan kecewa karena ayah yang selama ini menjadi pahlawannya bukan mas." Suara Alya melirih setiap kali berucap. Pelukannya mengerat dan air matanya terjatuh membasahi baju kaos milik suaminya.
"Nangis dek, nangis sepuas kamu. Mas ada di sini untukmu," bisik Dipta.
"Ayah ...."
Dipta langsung meletakkan jari telunjuknya di bibir, mengkode putranya agar tidak berteriak.
"Ibu kenapa ayah?" tanya Aryan pelan, berjalan mendekat dan berdiri tepat di samping ayahnya. Bocah itu baru saja jalan-jalan dengan nenek galak di sekitar pasar.
"Hati ibu sakit, jadi nangis di pelukan ayah."
"Siapa yang melukai hati ibu ayah? Kenapa orang itu berani melukai ibu? Apa dia nggak takut sama ayah dan Aryan?"
"Takut pasti, cuma mungkin orangnya nggak tau kalau ibu punya dua pahlawan yang menjaganya." Dipta tersenyum, mengelus pipi Aryan, ada noda coklat di sana.
"Ibu jangan sedih, nanti kakak sama ayah balas orang itu." Aryan naik ke sofa, memeluk ibunya dari samping.
Hal itu tidak luput dari perhatian ibu Alya di meja kasir. Dia senang putrinya kini hidup bahagia bersama pria dengan cinta lebih besar dibandingkan putrinya.
Berharap, Alya tidak bernasih sama sepertinya. Ditinggalkan saat hamil, berjuang sendiri dan menderita cukup lama.
"Nggak ada yang boleh mengusik hidupmu lagi Nak, kamu berhak bahagia," gumam ibu Alya, mengusap sudut matanya yang berair.
***
Rasa rindu dan sakit yang bercampur membuat hati Adrian mati rasa. Hidupnya tidak ada lagi cinta, dia bagai robot, bekerja siang dan malam demi perusahaan, bukan lagi untuk masa depan istri dan anaknya.
Dia bekerja dan menuruti segala perintah papanya, agar pria paruh baya itu tidak mengusik masa lalunya. Ini adalah penebusan dosa yang bisa dia lakukan untuk Alya.
"Pak Adrian tampak nggak sehat," ujar asistennya.
"Hanya sakit kepala biasa," guman Adrian. "Kita ada pertemuan di mana tadi?"
"Di dekat pasar Pak, untuk antisipasi keterlambatan, kita harus bergegas."
Adrian langsung bangkit, menyambar ponselnya dan keluar dari ruangan kebesarannya.
Dia tidak menyapa siapapun di area kantor. Membuka pintu mobil dan duduk dengan tenang, menunggu benda itu melaju pelan membelah padatnya jalan raya.
Di sekitar pasar, Adrian banyak berdiskusi dengan asistennya. Tentang desain yang sudah dibuatnya, rencana eksekusi dan izin pembangunan di sekitar lahan. Dia turun tangan langsung sebab ini salah satu proyek besar perusahaan.
"Kertas kecil yang saya berikan tadi pagi di mana?" tanya Adrian, dia sadar ada berkas penting yang kurang.
"Saya menyertakan bersama contoh desain ... oh maaf Pak, sepertinya terjatuh di dalam pasar saat saat membeli minum." Wajah asisten Adrian langsung memucat, selembar kertas itu sangat penting untuk proyek mereka.
"Saya akan ...."
"Paman!" teriak anak laki-laki dengan wajah cemberutnya. Anak itu membawa kertas di tangannya, penampilannya rapi dan wajahnya familiar diingatan Adrian.
"Paman kenapa nggak dengar saya panggil? Paman buat saya harus jalan jauh." Anak kecil itu melanjutkan omelannya. "Paman menjatuhkan ini di depan toko nenek." Menyerahkan selembar kertas.
"Terimakasih Nak, kamu baru saja menyelamatkan hidup paman," ujar asisten Adrian dengan senyuman.
Berbeda dengan Adrian yang bergeming, dia sibuk memindai anak kecil di depannya. Dia seolah melihat dirinya dimasa anak-anak. Dan ingatannya kembali pada momen dibandara beberapa hari lalu.
"Ayo Pak," ujar asisten Adrian.
"Pergilah, saya akan menyusul," jawab Adrian.
"Paman kenapa menatap saya? Saya punya salah?" Anak kecil itu mengerjapkan matanya.
"Siapa namamu Nak? Dan siapa nama ibumu?" Adrian berlutut, menyamakan tingginya dengan anak kecil yang dia yakini adalah putranya.
"Aryan Nugraha, itu nama saya paman. Kenapa paman bertanya siapa nama ibu?" Aryan masih bertanya dengan polosnya. Dia termasuk anak yang pintar di usianya.
"Kamu sangat tampan dan baik hati, pasti ibumu ...."
"Jauh banget mainnya kakak," ujar Dipta, berdiri beberapa meter di belakang Adrian yang tengah berlutut. Di samping Dipta ada Alya, mereka bersiap untuk ke bandara, tetapi Aryan tiba-tiba menghilang sehingga mereka sedikit panik.
"Itu ibu dan ayah saya." Aryan menunjuk Dipta dan Alya, senyuman diwajahnya terlihat. Berlari menghampiri orang tuanya.
Adrian terpaku, benar. Anak kecil yang baru saja dia ajak bicara adalah putranya. Putra yang di rindukan selama bertahun-tahun tetapi menahan diri agar tidak bertemu.
"Tadi kakak mengejar pama itu Ayah. Pamannya menjatuhkan sesuatu, kasian kan kalau hilang," jelas Aryan pada Dipta.
"Good kakak, kita harus menolong seseorang yang membutuhkan di sekitar kita jika memang bisa." Dipta mengendong putranya, dan sebelah tangannya mengenggam tangan Alya yang terasa sangat dingin.
Istrinya baru tenang, dan sekarang bertemu Adrian dalam keadaan tidak terduga.
"Tau nggak siapa paman itu?" tanya Dipta.
"Siapa ayah?"
"Masnya buna Adrina."
"Oh ya?" Mata Aryan tampak berbinar.
Melihat keantusiasan putranya, Dipta menurunkan Aryan dari gendongan. Membiarkan menghampiri Adrian yang masih mematung.
"Paman masnya buna Adrina? Kemana buna paman? Kenapa nggak pernah menemui saya lagi?" tanya Aryan.
Runtuh sudah pertahanan Adrian, air mata yang sejak tadi menganak kini terjatuh membasahi pipi. Dipeluknya darah dagingnya erat dan mengumamkan kata maaf berulang kali.
"Paman kenapa menangis? Ada yang menyakiti hati paman?" Aryan menepuk punggung Adrian yang bergetar menahan isakan di keramaian.
"Paman yang menyakiti seseorang Nak."
"Lalu kenapa paman yang menangis?"
"Paman menyesal. Paman nggak pernah berpikir bahwa menyakiti seseorang balasannya akan sesakit ini."
"Kalau begitu jangan menyakiti orang lain lagi paman. Kata ibu, kita harus baik kepada semua orang."
Adrian mengangguk, ia enggang melepaskan dekapan hangat putranya. Sakit, hatinya bagai diremas harus mengakui dirinya sebagai paman di hadapan darah dagingnya sendiri.
"Nggak apa-apa menangis, kata ayah, laki-laki juga manusia." Aryan mengusap pipi Adrian saat pelukan terlerai. "Saya juga sering menangis."
"Aryan?" panggil Alya dengan suaranya yang serak. "Kita bisa ketinggalan pesawat sayang."
"Oh iya, kakak lupa." Aryan menepuk keningnya. "Saya pergi dulu paman, salam buat Buna."
Aryan berlari menghampiri orang tuanya, berbalik dan melambaikan tangan pada Adrian.
"Dadah paman, sampai jumpa lagi."
.
.
.
Jangan lupa meninggalkan jejak. Like, komen dan subscribe. Dukungan kalian semangat author.
klo cinta... tak akn km mnduakn alya