NovelToon NovelToon
Lebih Sekadar Tante

Lebih Sekadar Tante

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Agatha soul

Bagi Arvin, Karin bukan sekadar tante dari sahabatnya. Karin adalah tempatnya pulang, tawa yang selalu ia cari, dan masa depan yang ingin ia tuju. Di saat kedekatan mereka mulai mencairkan dinding perbedaan usia, sebuah kencan tak sengaja justru membawa kembali bayang-bayang masa lalu Karin yang belum usai.
Ketika masa lalu menuntut tempatnya kembali, akankah Karin bertahan pada zona nyamannya, atau berani melangkah demi rasa yang lebih dari sekadar tante?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janda matamu!

Senin pagi di SMA Harapan Bangsa dimulai dengan hiruk-pikuk koridor yang bising. Namun, suasana di dalam kelas XI-2 mendadak senyap saat Arvin melangkah masuk dengan tudung jaket yang menutupi sebagian wajahnya. Begitu dia duduk di bangkunya dan membuka tudung tersebut, Reza yang duduk di sebelahnya langsung terbelalak kaget.

Ada bekas lebam kebiruan yang cukup jelas dan luka kering di sudut bibir kiri Arvin.

"Anjir, Vin! Muka lo kenapa?!" pekik Reza tertahan, langsung mencengkeram bahu sahabatnya. Dia menatap luka itu dengan ngeri. "Bener kan tebakan gue? Lo pasti berantem lagi di rumah semalam. Elu sih... padahal nginep aja semalem di rumah gue, gak bakalan tuh muka lo jadi hancur begini!"

Arvin tidak menyahut. Dia hanya menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong, enggan membahas kejadian semalam.

Belum sempat Reza menginterogasi lebih lanjut, pintu kelas digeser dengan kasar. Sherly melangkah masuk dengan gaya angkuhnya, langsung menuju meja Arvin tanpa mempedulikan tatapan murid-murid lain.

"Arvin! Lo kok tega banget sih gak ngajak gue liburan kemarin?!" cecar Sherly langsung sambil menggebrak meja pelan. Wajahnya ditekuk kesal. "Kok lo malah lebih milih jalan-jalan ke pantai sama janda muda daripada sama gue? Kurang apa coba gue?!"

Mendengar kata janda disebut, Reza yang tadinya fokus pada luka Arvin langsung naik pitam. Dia menggebrak meja lebih keras dan berdiri dari kursinya. "Janda matamu! Tante gue belum pernah nikah ya, sembarangan lo kalau ngomong!" sahut Reza berang, tidak terima kehormatan Tante Karin diinjak-injak.

Sherly tersentak mundur, namun masih mencoba membela diri. "Loh, masa tante lo belum nikah sih? Terus anak kecil yang di foto kemarin itu siapa kalau bukan anaknya?!"

"Adeknya si Eja, kan udah gue bilang," potong Arvin akhirnya bersuara, nadanya sangat dingin dan mematikan.

"Kenapa, lo gak percaya?!" timpal Reza melotot, membuat nyali Sherly sedikit menciut.

Sherly mengerucutkan bibirnya, bersiap membalas. Namun, saat matanya tidak sengaja menangkap sudut bibir Arvin, ekspresi kesalnya langsung berubah menjadi kepanikan yang dramatis. "Eh... Arvin? Muka lo kenapa? Lo abis berantem ya? Ya ampun, udah diobatin belum? Yang sakit mana aja, Vin? Sini gue lihat—"

Tangan Sherly terulur, berniat menyentuh rahang Arvin untuk memeriksa lukanya. Namun, belum sempat ujung jarinya menempel, Arvin dengan kasar menepis tangan gadis itu di udara.

"Gak usah sok perhatian," desis Arvin tajam. Dia kemudian memalingkan wajahnya dan langsung menelungkupkan kepalanya ke atas meja, menyembunyikan wajah di balik lipatan tangannya, tanda mutlak bahwa dia tidak ingin diganggu.

Reza yang melihat sahabatnya sudah kehilangan sisa kesabaran langsung mengambil alih situasi. Dia melipat tangan di dada dan menatap Sherly dengan pandangan mengusir. "Udah deh, Sher! Lo mendingan pergi aja sekarang dari kelas gue. Berisik tahu gak?!"

Sherly menghentakkan kakinya kesal karena diabaikan, lalu berbalik pergi meninggalkan kelas dengan wajah bersungut-sungut. Setelah keadaan kembali tenang, Reza hanya menghela napas panjang. Dia memutuskan untuk memberikan Arvin ruang, membiarkan cowok itu sendirian, sementara dia beralih mengobrol bersama Bima dan Dito di sudut kelas lain.

Hampir dua jam Arvin berada dalam posisi menelungkup, mengabaikan sekitar, sampai akhirnya sebuah getaran pendek terasa di dalam saku celananya. Ada pesan masuk.

Arvin bergerak lambat, merogoh ponselnya di bawah kolong meja dengan malas. Namun, begitu matanya membaca nama pengirim di layar kunci, kantuk dan rasa lemasnya menguap seketika.

Tante Karin: Pulang sekolah kamu boleh main ke sini. Tante gak kemana-mana hari ini.

Mata Arvin melebar. Jantungnya mendadak berdegup kencang, meletupkan rasa senang yang luar biasa hingga ke ujung kepala. Luka lebam di bibirnya seolah tidak lagi terasa sakit. Saking bersemangatnya, Arvin refleks langsung menegakkan tubuhnya dan memukul meja kelas dengan telapak tangannya cukup keras.

Brak!

"YES!" seru Arvin lantang dengan wajah yang mendadak cerah benderang.

Aksi impulsif yang sangat tidak mencerminkan seorang Arvin itu seketika membuat seisi kelas menghentikan aktivitas mereka. Semua murid, termasuk guru yang baru saja meletakkan buku di meja depan, menoleh dengan tatapan syok ke arah bangku belakang.

Reza yang sedang asyik mengobrol sampai tersedak ludahnya sendiri. "Lo... lo kenapa sih, Vin?!" sahut Reza dengan dahi berkerut dalam, menatap sahabatnya seperti sedang melihat orang kesurupan.

"Iya, lo kenapa tiba-tiba ceria begitu? Serem amat," timpal Bima dari bangku sebelah, menatap Arvin ngeri karena cowok itu mendadak tersenyum sendiri.

Arvin yang baru tersadar kalau dirinya baru saja menjadi pusat perhatian langsung berdeham canggung, mencoba mengembalikan ekspresi datarnya. "Oh... enggak. Gak apa-apa," jawab Arvin pendek.

Tanpa memedulikan bisikan heran teman-temannya, Arvin kembali membenamkan wajahnya di atas meja. Di bawah lindungan lipatan tangannya, dia dengan cepat mengetik balasan singkat untuk Karin dengan senyum yang tidak bisa luntur dari bibirnya.

Arvin: Oke.

Setelah pesan itu terkirim, Arvin mengunci ponselnya, memejamkan mata, dan melanjutkan tidurnya dengan hati yang jauh lebih tenang. Hari Senin yang tadinya terasa seperti neraka, kini berubah menjadi hari yang paling dia tunggu-tunggu berkat satu pesan singkat dari wanitanya.

Begitu bel pulang sekolah berbunyi, para murid langsung berhamburan keluar kelas. 

"Vin, anak-anak pada mau nongkrong dulu nih di depan. Ikut yuk?" ajak Reza sambil merangkul pundak sahabatnya itu.

Arvin langsung menggelengkan kepala tanpa ragu. "Enggak deh, Ja. Gue ada urusan."

Reza menghembuskan napas pasrah. "Ya udah deh. Terus... nanti malam lo tidur di rumah gue gak? Biar gue bilang ke nyokap."

Arvin diam sejenak, menimbang situasi di rumahnya sendiri yang mungkin masih panas. "Gak tahu, gimana nanti aja."

"Oke deh, kalau jadi telpon gue aja," kata Reza. Akhirnya, Reza pun pulang bersama rombongan anak-anak yang lain, membiarkan Arvin pergi sendirian dengan motor sport hitamnya.

Begitu terlepas dari rombongan teman-temannya, Arvin langsung memutar gas motornya dalam-dalam. Rasa tidak sabar membuat perjalanan yang biasanya terasa membosankan kini terasa begitu cepat.

Tin! Tin!

Karin yang sedang bersantai di ruang tengah mendengar suara klakson motor yang sangat familiar di depan pagar rumahnya. Dia bergegas jalan keluar dan membuka pintu. Begitu melihat motor Arvin terparkir di halaman, Karin langsung melipat tangan di dada sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Kamu ini ya... benar-benar langsung ke sini? Masih pakai seragam sekolah abu-abu begini, bukannya pulang dulu ganti baju," tegor Karin dengan nada mengomeli, walau sebenarnya sudut hatinya merasa senang karena dia menepati janjinya.

Arvin tidak menjawab omelan itu. Dia mematikan mesin motornya, lalu perlahan mengangkat kedua tangannya untuk melepaskan helm full-face hitam yang menutup kepalanya.

Begitu helm itu terlepas dan wajah Arvin terekspos sepenuhnya di bawah sinar matahari sore, kalimat Karin yang berikutnya langsung tertahan di tenggorokan. Jantung Karin mencelos.

Di sudut bibir kiri Arvin, terdapat luka kering berwarna kemerahan, dikelilingi oleh lebam kebiruan yang cukup kontras dengan kulit wajahnya. Luka itu terlihat masih baru dan pasti terasa sangat perih.

"Ya ampun, Arvin!" pekik Karin tertahan, langsung melangkah maju mendekati cowok itu dengan wajah yang berubah panik luar biasa. "Muka kamu kenapa?! Kamu berantem di sekolah?!"

Arvin hanya menatap Karin dengan tatapan sayu namun tenang, seolah luka di wajahnya itu sama sekali bukan masalah besar dibandingkan dengan rasa leganya bisa melihat wajah wanita itu lagi sore ini.

1
Bunga
Karya terbaik😍semangat 💪
Agatha soul: terima kasih
total 1 replies
Bunga
Terbaik
mary dice
sepertinya ada yang mau nembak nih... lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!