Sinopsis
Putri viona Isabella berangkat menuju Kerajaan Timur untuk menikahi putra mahkota sesuai perjodohan antar kerajaan. Namun, di tengah perjalanan rombongannya diserang perampok hingga seluruh pengawal tewas.
Dengan tubuh penuh luka, viona melarikan diri ke dalam hutan dan diselamatkan oleh Derek Henrick, pria misterius yang memilih hidup mengasingkan diri. Seiring waktu, cinta tumbuh di antara mereka.
Saat identitas Fiona akhirnya terungkap, ia harus memilih antara memenuhi takdirnya sebagai seorang putri atau mempertahankan cinta yang telah menyelamatkan hidupnya. Namun, Derek ternyata menyimpan rahasia besar yang dapat mengubah nasib kedua kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Pernikahan Paksa di Desa Hujan Emas
Malam di penginapan terasa begitu sunyi setelah hiruk-pikuk pasar malam. Viona sudah mengemasi barang-barangnya—hanya sehelai pakaian ganti dan roti isi yang belum sempat ia makan. Derek berdiri di dekat jendela, mengamati jalanan desa yang mulai sepi.
"Kita harus pergi sebelum fajar," bisik Derek. "Pasukan bayaran mungkin sudah kembali, dan kita tidak bisa lagi bersembunyi di desa ini. Aku akan membawamu ke kabinku yang lama. Di sana, kita bisa menyusun rencana untuk pergi ke daratan utara."
Viona mengangguk. "Aku siap."
Mereka turun ke lantai bawah dengan langkah pelan, berusaha tidak menimbulkan suara. Namun, saat mereka baru saja melangkahkan kaki melewati pintu utama penginapan, sebuah suara berat tiba-tiba menggema dari arah pasar.
"Berhenti!"
Viona dan Derek menoleh bersamaan. Di hadapan mereka, berdiri seorang pria tua dengan jubah adat berwarna merah marun, dikelilingi oleh enam pemuda desa yang membawa obor. Pria tua itu memegang tongkat kayu berukir naga, dan matanya yang tajam menatap mereka berdua dengan penuh kecurigaan.
"Siapa kalian?" tanya pria tua itu. "Aku adalah Kepala Desa Hujan Emas. Ada yang melaporkan bahwa kalian—sepasang pria dan wanita yang belum menikah—telah menginap di kamar yang sama malam ini. Apakah itu benar?"
Viona terkejut. Matanya membelalak. "Tidak! Kami memesan dua kamar terpisah!"
Derek dengan cepat melangkah maju, melindungi Viona di belakangnya. "Ada apa ini? Kami hanya pelancong yang berhenti untuk beristirahat. Kami tidak melanggar aturan desa mana pun."
Kepala Desa itu mendengus. "Kami memiliki saksi. Penjaga penginapan melihat kalian berdua masuk ke kamar yang sama tengah malam tadi. Dan tadi malam, kau—" ia menunjuk Derek, "—terlihat sedang mengobrol di kamar wanita ini hingga larut. Aturan di desa kami jelas: pria dan wanita yang belum menikah tidak boleh berada dalam satu ruangan tertutup tanpa pendamping. Apalagi sampai larut malam. Ini sudah dianggap sebagai tindakan mesum."
Derek menggertakkan giginya. "Itu tidak benar. Kami hanya berbicara. Dia sedang bersedih, aku hanya—"
"Tidak peduli apa alasannya!" potong Kepala Desa dengan suara tegas. "Aturan adalah aturan. Di Desa Hujan Emas, jika pasangan pria dan wanita diketahui menghabiskan waktu berduaan dalam kamar, maka mereka harus segera dinikahkan secara resmi untuk menjaga kehormatan desa. Jika tidak, mereka akan diusir dengan aib seumur hidup."
Viona terdiam. Jantungnya berdegup sangat kencang hingga ia bisa mendengar suaranya sendiri di telinga. "Tapi kami tidak saling mengenal... maksudku, kami hanya teman."
"Teman yang tidur sekamar?" Kepala Desa memandang Viona dengan tatapan sinis. "Kami tidak peduli apakah kalian teman atau bukan. Yang penting adalah kalian sudah terlanjur diketahui melakukan hal itu di wilayah kami. Jika kalian menolak menikah, maka kalian akan diusir dari desa ini sebagai pasangan yang tidak bermoral, dan aku akan menyebarkan kabar ini ke seluruh desa dan pedagang yang lewat. Nama kalian akan hancur."
Viona menatap Derek. Matanya penuh dengan pertanyaan. Ini gila. Bagaimana bisa? Namun di balik kepanikannya, ada bagian kecil hatinya yang berbisik: Tapi bukankah kau sudah mati di dunia luar? Dan bukankah kau sudah memutuskan untuk menghilang bersamanya?
Derek terdiam beberapa saat. Otaknya bekerja cepat. Jika mereka menolak, mereka akan dikejar oleh nama buruk dan mungkin akan dilaporkan ke pasukan kerajaan. Jika mereka menerima, mereka bisa keluar dari desa ini dengan selamat dan pergi ke tempat yang mereka inginkan—meskipun status mereka akan berubah.
Derek menatap Viona. "Viona... aku tahu ini tidak adil. Tapi jika kita menerima ini, kita bisa keluar dari sini dengan tenang dan pergi ke utara tanpa ada yang mengejar. Kau setuju?"
Viona menggigit bibirnya. "Tapi... pernikahan?"
"Di atas kertas," bisik Derek pelan, hanya untuk didengar Viona. "Hanya untuk menyelamatkan kita dari masalah ini. Kita bisa mengakhirinya kapan saja setelah kita pergi dari desa ini."
Kepala Desa mendengar bisikan itu dan tertawa kecil. "Jangan pikir kalian bisa lolos. Ini adalah pernikahan adat. Jika kalian melanggar sumpah ini setelah upacara, kalian akan dikutuk oleh leluhur desa. Tapi tenang, di mata hukum desa ini, kalian sah menjadi suami istri. Setelah itu, kalian bebas pergi ke mana saja."
Viona menatap Derek. Ada banyak hal yang tidak terucapkan di antara mereka. Derek, yang selama ini ia kenal sebagai pria dingin dan misterius, telah menjadi pelindungnya, sahabatnya, dan kini—dalam sebuah takdir yang benar-benar gila—akan menjadi suaminya di atas kertas.
"Aku setuju," bisik Viona akhirnya, suaranya hampir tak terdengar.
Kepala Desa tersenyum puas. "Bagus. Sekarang, ikuti aku ke balai desa. Upacara akan dilakukan malam ini juga."
Mereka digiring ke sebuah balai kayu besar di pusat desa. Di dalamnya, puluhan warga desa sudah berkumpul, membawa lilin dan bunga-bunga liar. Mereka menatap Viona dan Derek dengan rasa ingin tahu. Para pemuda desa menabuh gendang, menciptakan irama yang menggetarkan dada.
Tanpa banyak persiapan, upacara pernikahan pun dimulai. Kepala Desa membacakan doa-doa kuno, menyiramkan air suci ke tangan mereka berdua, dan mengikat pergelangan tangan Viona dan Derek dengan sehelai kain merah.
"Sekarang, saling mengucapkan janji," perintah Kepala Desa.
Derek menatap mata Viona. Di balik cahaya lilin, matanya yang abu-abu terlihat begitu dalam dan lembut. Ia menggenggam tangan Viona, lalu berkata dengan suara pelan namun tegas.
"Aku, Derek Henrick, berjanji akan melindungimu—dari badai, dari musuh, dan dari semua hal yang ingin menyakitimu. Di hadapan leluhur desa, kau adalah istriku."
Viona merasakan air mata mengalir di pipinya—bukan karena sedih, tetapi karena sesuatu yang tak bisa ia jelaskan. Ia menarik napas dalam, lalu membalas.
"Aku, Fiona Isabella, berjanji akan percaya padamu—dalam suka dan duka, di hutan dan di jalanan. Di hadapan leluhur desa, kau adalah suamiku."
Warga desa bersorak riuh. Roti beras dan koin kecil dilemparkan ke arah mereka sebagai lambang berkah. Kepala Desa memotong kain merah yang mengikat tangan mereka, lalu mengumumkan dengan lantang:
"Mereka sah menjadi suami istri. Semoga leluhur memberkati perjalanan mereka!"
Saat malam semakin larut, Viona dan Derek akhirnya diizinkan pergi. Mereka segera kembali ke penginapan, mengambil kuda-kuda mereka, dan meninggalkan Desa Hujan Emas dengan cepat tanpa menoleh ke belakang.
Saat mereka berada di jalan setapak menuju hutan, Viona menatap tangannya sendiri. Di jari manisnya, kini terikat sebuah cincin anyaman serat kayu yang diberikan Kepala Desa sebagai tanda pernikahan.
"Kita benar-benar menikah," bisik Viona. "Meskipun hanya di atas kertas dan di hadapan desa itu, ini terasa... nyata."
Derek yang berjalan di depannya berhenti. Ia menurunkan tudung jubahnya, menatap Viona dengan tatapan yang berbeda dari sebelumnya—lebih hangat, lebih memiliki.
"Aku tidak akan menganggap ini hanya sebagai lelucon, Viona," kata Derek pelan. "Aku sudah pernah mengucapkan sumpah itu. Dan aku tidak pernah ingkar janji. Jika kau mau, kita bisa melanjutkan ini sebagai perjalanan hidup yang sesungguhnya. Tapi jika kau tidak mau, aku akan melepaskan cincin itu saat kita tiba di kabin."
Viona tersenyum. Di bawah sinar bulan sabit, wajahnya terlihat berseri-seri.
"Aku tidak mau melepasnya, Derek. Aku sudah mati di dunia luar. Di sini, di jalan ini, aku hanya ingin hidup—bersamamu."
Mereka melanjutkan perjalanan ke dalam hutan, meninggalkan desa dan takdir lamanya di belakang. Di atas langit, bintang-bintang bersinar sangat terang, seolah memberkati langkah mereka.
Namun di dalam hutan yang gelap itu, Derek menyimpan satu rahasia yang masih belum ia ungkapkan: bahwa cincin anyaman itu terikat pada kehidupan seorang putra mahkota yang seharusnya sudah mati. Dan ketika rahasia itu terungkap, pernikahan mereka yang baru akan diuji dengan cara yang sangat berat.