"Bagaimana jadinya kalau gadis nakal harus takluk menghadapi anak dari pemilik pesantren?"
Tsabita Azzahra, sebagai bentuk protes karena selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya, Safira, yang nyaris sempurna, Bita memilih hidup bebas: nongkrong di lounge elite, pulang subuh, dan akrab dengan kehidupan malam.
Puncaknya, setelah mabuk berat akibat patah hati, Bita membuat kekacauan terbesar dalam hidupnya. Di area parkir remang-remang, ia mengira seorang cowok jangkung yang sedang duduk tenang di atas moge hitamnya adalah tukang parkir. Dengan lancang, Bita memaki-maki cowok itu, menarik kerah bajunya, dan... muntah tepat di atas sepatu sneakers mahal si cowok sebelum akhirnya pingsan.
Sepanjang insiden itu, si cowok hanya diam, menatap Bita dengan pandangan dingin yang tidak terbaca, lalu menolongnya dengan tenang.
Kehabisan kesabaran, orang tua Bita memberikan hukuman final: Bita dijodohkan dengan anak pemilik salah satu Pesantren.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elma Grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Ketegangan di ruang pertemuan yayasan mungkin telah usai, namun sisa-sisa badai emosi masih menggelayut tebal di dada Bita. Sore itu, Ibra membawanya berlindung ke dalam kamarnya.
Bita duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah lantai. Hijab segi empatnya sudah sedikit longgar, memperlihatkan gurat kelelahan yang teramat sangat di wajah cantiknya. Tangannya masih gemetar tanpa sadar saat ia mencoba membuka kembali ponselnya.
Sret.
Sebuah tangan kekar dengan gerakan yang sangat lembut namun tegas mengambil alih ponsel tersebut dari genggaman Bita. Bita mendongak, menemukan Gus Ibra sudah berlutut di depannya. Pria itu menaruh ponsel Bita di atas meja nakas yang jauh dari jangkauan, lalu menggenggam kedua tangan istrinya yang dingin.
"Sudah saya katakan tadi, jangan membaca komentar-komentar itu lagi, Tsabita," tutur Ibra, suaranya terdengar begitu tenang, seolah menjadi penawar bagi gemuruh di kepala Bita. "Dunia maya itu riuh oleh orang-orang yang tidak mengenalmu. Untuk apa kamu mendengarkan penilaian dari mereka yang tidak bertanggung jawab atas hidupmu?"
Bita menggigit bibir bawahnya, matanya mulai berkaca-kaca lagi. "Aku gak bisa, Gus. Tiap kali aku merem, aku kayak bisa ngeliat cara Pak Haji Salim dan pengurus lain natap aku tadi. Mereka kayak mandang aku seolah-olah aku ini virus yang bakal ngerusak kesucian pesantren ini. Aku... aku takut jari-jari netizen itu bakal bikin santri-santri di sini ikut benci sama aku."
Ibra mengembuskan napas pendek, tatapan matanya melembut, memancarkan rasa sayang dan perhatian yang teramat dalam. Ia menggeser duduknya hingga ke atas kasur, tepat di samping Bita, lalu membawa tubuh istrinya yang rapuh ke dalam dekapannya. Kali ini, Bita tidak menolak. Ia langsung menyandarkan keningnya di bahu bidang Ibra, menghirup dalam-dalam aroma menenangkan khas suaminya.
"Mereka tidak akan membencimu, Bita. Santri-santri di sini diajarkan untuk memiliki hati yang bersih," ucap Ibra sambil mengusap punggung Bita dengan gerakan telaten yang konstan. "Kalaupun ada yang meragukanmu, itu tugas saya untuk meluruskan. Kamu tidak perlu menanggung beban pikiran itu sendirian."
"Tapi karir kamu, Gus... reputasi kamu sebagai seorang Gus yang disegani," bisik Bita, suaranya sengau menahan tangis. "Aku ngerasa egois banget. Gara-gara perjodohan ini, kamu harus ikut keseret ke dalam lumpur masa laluku. Kamu gak nyesel, Gus, nikah sama cewek kayak aku?"
Ibra menghentikan usapannya di punggung Bita sejenak. Ia melonggarkan pelukannya, lalu memegang kedua bahu Bita agar mereka bisa saling berhadapan. Sepasang mata tajam milik Ibra menatap langsung ke dalam manik mata bulat Bita dengan kesungguhan mutlak.
"Dengarkan saya baik-baik, Tsabita Azzahra," ujar Ibra dengan nada bariton yang rendah namun sarat akan penekanan. "Penyesalan saya hanya satu. Kenapa saya tidak menemukanmu lebih cepat, supaya kamu tidak perlu melewati masa-masa sepi dan kelam itu sendirian. Jadi, jangan pernah sekali pun kamu bertanya apakah saya menyesal menikahimu. Memilikimu adalah kesyukuran terbesar dalam hidup saya."
Kata-kata Ibra yang begitu tulus mengalir langsung meruntuhkan sisa-sisa dinding pertahanan ego Bita. Air matanya menetes pelan, namun kali ini bukan karena takut, melainkan karena rasa haru yang membuncah.
Dan entah sejak kapan Bita menggunakan panggilan aku-kamu dengan Ibra.
Tiba-tiba, pintu kamar diketuk pelan dari luar.
Tok... Tok...
"Ibra? Bita? Ini Umi," suara lembut Umi terdengar dari balik pintu.
Bita langsung panik. Ia buru-buru menyeka air matanya dengan ujung hijabnya dan merapikan jilbabnya yang sempat berantakan. Ibra tersenyum menenangkan, menepuk pelan tangan Bita sebelum berdiri untuk membukakan pintu.
"Iya, Umi. Masuk saja, tidak dikunci," jawab Ibra.
Pintu terbuka, menampilkan sosok Umi yang anggun dengan gamis rumahan dan jilbab instan hitam. Di tangannya, Umi membawa sebuah nampan berisi dua cangkir wedang jahe hangat dan sepiring camilan. Umi melangkah masuk, tatapannya langsung tertuju pada Bita yang tampak salah tingkah di tepi ranjang.
Umi menaruh nampan itu di atas meja, lalu berjalan mendekati Bita. Alih-alih menunjukkan wajah kaku seperti saat di ruang tamu tadi pagi, wajah Umi kini sepenuhnya dipenuhi oleh kelembutan seorang ibu. Beliau duduk di samping Bita, lalu merangkul pundak menantunya itu dengan erat.
"Nak, kamu belum makan nasi pun sejak siang tadi," ucap Umi lembut, mengusap helai rambut Bita yang mengintip dari balik jilbabnya. "Umi sengaja buatkan wedang jahe ini supaya badanmu hangat. Wajahmu pucat sekali."
Bita menunduk, merasa hatinya berdenyut nyeri karena kebaikan Umi yang begitu besar. "Umi... Bita minta maaf. Bita udah bikin Umi cemas, udah bikin nama baik keluarga besar pesantren ini jadi perbincangan orang luar..."
Umi menggelengkan kepalanya dengan cepat, memotong kalimat Bita. "Ssst... sudah, jangan bicara seperti itu lagi. Tadi pagi di ruang rapat, Umi sengaja diam bukan karena Umi kecewa padamu, Bita. Umi hanya ingin melihat seberapa siap suamimu ini menjadi tameng untuk istrinya." Umi melirik ke arah Ibra yang berdiri di dekat meja dengan senyuman tipis.
"Dan Umi bangga," lanjut Umi, kembali menatap Bita dengan mata yang berkaca-kaca. "Ibra menunjukkan bahwa dia adalah laki-laki sejati yang bisa diandalkan. Tapi yang lebih membuat Umi kagum adalah kamu, Bita. Keberanianmu berbicara di depan para pengurus yayasan tadi... itu membuktikan kalau kamu bukan wanita lemah. Kamu punya hati yang murni untuk berubah, dan Umi sangat menghargai itu."
Bita tidak bisa menahan dirinya lagi. Ia memeluk Umi dengan erat, menumpahkan segala rasa bersalah dan kelegaan yang bercampur aduk di dalam dadanya. "Terima kasih, Umi... terima kasih karena gak nolak Bita..."
"Umi tidak akan pernah menolakmu, Nak. Kamu sudah menjadi bagian dari darah daging keluarga ini," bisik Umi, mengecup pelan pelipis Bita dengan penuh kasih sayang ibu.
Setelah suasana sedikit lebih tenang, Umi melepaskan pelukannya dan tersenyum manis. "Nah, sekarang minum wedang jahenya. Umi mau keluar dulu, mau menemani Abimu yang sedang membaca kitab di depan. Ibra, jaga istrimu. Pastikan dia menghabiskan minumannya."
"Iya, Umi. Terima kasih." jawab Ibra.
Begitu Umi keluar dan menutup pintu kembali, keheningan kamar terasa jauh lebih ringan dan hangat. Ibra mengambil secangkir wedang jahe yang masih mengepulkan uap, lalu duduk kembali di samping Bita, menyodorkannya dengan hati-hati.
"Minum dulu, biar tenang," ujar Ibra.
Bita menerima cangkir itu, menyesap cairannya yang hangat dan sedikit pedas khas jahe alami. Rasa hangat itu langsung menjalar ke kerongkongan dan perutnya, membuatnya merasa jauh lebih baik.
"Gus," panggil Bita setelah menaruh kembali cangkirnya di nampan.
"Ya, Tsabita?"
"Soal akun yang nyebarin fitnah itu... kamu beneran mau diem aja?" tanya Bita, ada kilat penasaran dan sedikit rasa ingin tahu di matanya. Sifat aslinya yang tidak suka ditindas mulai kembali muncul setelah rasa takutnya mereda.
Ibra merapikan letak sarungnya sejenak, lalu menatap Bita dengan senyuman misterius yang jarang ia perlihatkan. Sorot mata teduhnya mendadak berubah menjadi sangat tajam dan dingin saat membahas dalang di balik masalah ini.
"Saya tidak pernah mengatakan saya akan diam, Bita," jawab Ibra lempeng, namun nadanya terdengar begitu dingin dan mengintimidasi. "Bang Yusuf dan tim IT pesantren sudah berhasil melacak alamat IP pertama yang mengunggah utas tersebut. Ternyata, itu bukan akun organik, melainkan akun bayaran."
Bita membelalakkan matanya kaget. "Siapa yang sengaja ngelakuin ini?"
Ibra mengangguk pelan. Ia meraih jemari tangan Bita, mengusapnya dengan lembut untuk memastikan istrinya tidak panik lagi. "Iya. Dan dari data transaksi digital yang berhasil diidentifikasi samar-samar, ada satu nama yang memesan layanan tersebut untuk menaikkan tagar namamu di Twitter."
"Siapa, Gus?!" tuntut Bita penasaran, jantungnya kembali berdegup kencang.
Ibra menatap Bita lekat-lekat, memberikan jeda yang mendebarkan di antara keheningan kamar mereka. "Reno. Mantan kekasihmu."