lahir sebagai wanita bukanlah pilihan seseorang, menjadi kuat juga bukanlah pilihan seorang wanita, kebahagiaan adalah harapan bagi seorang anak perempuan yang di dipersunting lelaki pilihan hati.
kisah ini menceritakan kehidupan rumah tangga empat saudara perempuan, yang punya banyak impian menikah adalah kebahagiaan, namun kisah pernikahan jauh dari ekspektasi air mata selalu hadir dalam setiap permasalahan, jatuh bangun ke empat saudara ini mempertahankan rumah tangganya, ada begitu banyak harapan dalam setiap air mata yang menetes dalam doa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya wijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEKEJAMAN ERWIN
Sepertinya Erwin kini marah, Ia mendekati wajahnya ke Novi, dan berkata,
"Untuk membayar sewa handphone ini"
"Tapi apa tidak kemahalan A?"
"Banyak tanya ya Kamu ini, Istri gak berguna"
Satu tamparan keras dari tangan Erwin ke pipi Novi.
"Astagfirullah sakit A"
"Makanya kalau gak mau Aku kasar, Kamu diam... Cukup diam mengerti!!"
Novi menangis terisak-isak bersedih karena perlakuan suaminya sudah semakin parah.
"Cengeng banget!! sudah sana, cepat buatkan mie instan untuk Aku"
Novi tak menjawab, Ia hanya menganggukkan kepalanya, dan beranjak membuatkan mie instan untuk suaminya.
Waktu terus berjalan, Irna mulai merasakan pusing di kepalanya kemungkinan efek karena Ia sedang mengandung.
"Kamu kenapa Ami?"
"Kepala Aku pusing Abi"
"Apa tidak sebaiknya Kita pulang saja, disini ada Kak Mai juga Kak Asri"
Bu Nasya terbangun dari tidurnya, Irna langsung berkata menanyakan kondisi tubuh Bu Nasya.
"Ibu masih terasa lemas Nak"
Jawab sang ibu.
Irna dan yang lainnya merasa aneh, mengapa ibu selalu bilang terasa tubuhnya lemas, apakah obat yang di minum dari tadi tak punya efek atau memang kondisi Bu Nasya semakin memburuk.
"Ibu Aku sebenarnya ingin pulang, karena kepala Aku sangat pusing"
"Ya ampun, ya sudah Nak, pulang saja gak apa-apa, Arif nanti beri obat istri Mu yah, Dia pasti kelelahan menunggu Ibu disini"
Namun Arif tersenyum manis pada Ibu mertuanya dan menjawab,
"Sebenarnya sakit kepala Irna, kemungkinan karena efek Irna saat ini sendang mengandung Bu"
"Apa... Masyaallah Ibu sangat senang mendengar berita ini, benarkah itu Irna? Kamu hamil Nak?"
"Iya Ibu, Alhamdulillah akhirnya rasa sabar Aku menunggu kehamilan ini terwujud juga"
"Semoga Kalian selalu sehat, di jaga ya Nak kandungnya, Ibu mertua Kamu pasti sangat senang"
Irna malah menatap wajah suaminya, Irna berharap berita ini mampu menyadarkan kedua Mertuanya, untuk menghentikan pernikahan kedua suaminya.
"Pasti Bu, Abi dan Ami Ku pasti bahagia mendengar berita ini, kalau begitu Kami pamit ya Bu"
"Iya Nak, Kalian hati-hati, dan terimakasih banyak ya Arif, Irna, mau menunggu Ibu disini"
"Iya Bu, nanti besok jika Aku gak mual dan gak pusing, Aku pasti kesini lagi"
Irna pun bersalaman mencium tangan Ibunya, juga kedua Kakaknya.
Mie instan telah siap di hidangkan, Novi menyajikan minum juga buah yang ada di kulkas.
Setelah memakan habis mie instan tersebut, Erwin pergi ke dapur dan mencari jamu yang biasa Ia konsumsi, namun saat membuka tempat penyimpanan jamu itu, Erwin tak nampak botol-botol tersebut.
"Kemana Jamu ku?"
Tanya pada dirinya sendiri, lalu Ia memanggil Novi dengan suara cukup lantang.
"Iya.."
Novi menjawab dengan panik, baru beberapa menit Ia rebahan, kini panggilan suaminya mengharuskannya dirinya untuk bangun.
"Ada apa A?"
"Jamu ku mana?"
Novi memandangi lemari tempat Erwin menaruh jamu dengan tatapan yang gugup.
"Jawab Novi!!"
Suara lantang itu membuat jantung Novi merasa kaget.
"Aku sudah buang"
Erwin kini terlihat marah, Ia langsung menarik rambut Novi dan berkata,
"Di mana Kamu buang semua jamu Ku?"
"Ke tempat sampah"
"Dasar tolol, itu beli pakai duit bukan pakai daun, seenaknya Kamu buang"
Walau terasa sakit tarikan tangan Erwin, namun Novi tetap menjawab.
"Aku sengaja membuangnya, supaya A Erwin gak kecanduan lagi dengan jamu-jamu gak berguna itu, dan juga obat gila itu"
Mendengar perkataan Novi, Erwin semakin menarik dengan kencang rambut Novi hingga kepala Novi kini terangkat ke atas.
"Apa Kamu bilang obat gila, jadi Kamu menganggap Aku gila"
"Bagaimana Kamu gak gila, karena obat itu dan jamu-jamu itu, sudah banyak merubah A Erwin menjadi kasar dan jahat sama Aku"
Erwin membelalakkan matanya kemudian mendorong Novi dengan kuat, hingga Novi tersungkur jatuh ke lantai.
Novi hanya bisa menangis lagi dan lagi saat dirinya di perlakukan seperti itu.
"Cukup A.. Tolong Kamu berubah, Aku capek, Aku sedang sakit A, tapi Kamu gak ada perhatiannya sama sekali dengan Aku"
"Kamu mau sembuh, ini makan obat Aku yang katanya obat gila menurut Kamu"
Erwin memasukkan beberapa butir obat pil eksim ke dalam mulut Novi dengan paksa, namun Novi berontak dan memuntahkannya di hadapan Erwin.
"Aku tidak sudi minum obat ini seperti Kamu"
"Sudah berani melawan Kamu ya, sini Kamu"
Erwin menarik lengan Novi dengan kasar dan membawa Novi keluar rumah.
"Tidur Kamu di luar"
Erwin mendorong Novi ke luar dengan kasar.
"A... Gak A, Aku lagi gak enak badan A"
Novi berkata sambil menangis kecil.
"Itu hukuman karena Kamu telah membuang Jamu jamu Aku, dan juga karena Kamu telah membangkang dengan Aku"
"A...tolong jangan seperti ini, Aku minta maaf A, Aku hanya ingin Kamu berhenti kecanduan"
Namun Erwin tak mendengar tangisan kecil Novi yang meminta dan memohon agar di beri masuk ke dalam rumah.
"A... Buka pintunya A, tolong beri Aku masuk A"
Namun kini tak ada jawaban apapun yang terdengar, Erwin sudah benar-benar keterlaluan, dan kini Novi harus tidur di luar tanpa selimut tanpa bantal, dan tanpa baju yang panjang.
"Ibu..."
Novi mulai menangis terenyuh memanggil sang ibu, berharap dirinya bisa pulang ke rumah Ibunya.
Dengan terus menangis, Novi bersandar di balik pintu, duduk dan mendekap tubuhnya dengan tangannya sendiri.
Tak lama lewat para bapak-bapak yang sedang meronda.
"Loh Mba Novi kok di luar, memangnya Mas Erwin gak ada di rumah"
Novi hanya memperlihatkan wajah sedih dan melasnya.
"Ya Allah Mba di usir ya dan suruh tidur di luar"
Novi masih belum menjawab, Ia sebenarnya takut jika suaminya tahu ada orang lain yang mengetahui keburukannya, karena pasti Novi juga yang akhirnya menerima hukuman dan hukuman lagi.
"Saya gak apa kok Pak"
"Lalu kenapa Mba Novi menangis di luar tengah malam begini?"
Sedangkan bapak-bapak yang lain saling berbisik bertanya apa yang terjadi pada Novi.
"Mba Novi kalau mau tidur bisa ke rumah Saya, tidur dengan istri Saya"
"Gak usah Pak, kalau Bapak-bapak mau bantu Saya, Saya boleh tidak pinjam sarung dua saja untuk menutupi tubuh Saya, dan menjadi alas tidur Saya"
Dengan senang hati para bapak-bapak di kampung itu menolong Novi.
"Ini Mbak ambil, kalau memang Mbak Novi maunya seperti itu, ya sudah Kita mau berbuat apa, yang penting Saya sudah menawarkan ya Mba"
"Iya Pak.. Terimakasih banyak ya, nanti akan Saya kembalikan setelah sarung ini Saya cuci"
Dan setelah itu Mereka semua kembali meronda berkeliling ke sudut daerah menjaga keamanan kampung.
Sedangkan kini aura kebahagiaan terpancar di wajah Irna, Ia terus memandangi dirinya sendiri di depan cermin dan membayangkan bagaimana bila nanti perutnya telah membesar.
"Kamu sedang apa Ami?"
"Eh Abi, sudah mau tidur ya?"
"Iya sini sayang"
Ajak Arif kepada Irna agar Ia mendekati dirinya.
"Kamu terlihat bahagia sekali"
"Iya dong Ami bahagia, memangnya Abi gak bahagia dengan kehamilan Ami?"
"Tentu Abi bahagia, Abi sangat mengharapkan sekali kehamilan Kamu, namun saat ini yang Abi pikirkan apakah pernikahan itu akan tetap berlanjut"
Irna pun menjadi murung kembali wajahnya, Ia hanya bisa berharap kedua Mertuanya akan membatalkan pernikahan kedua suaminya.
"Besok Kita beri kabar bahagia ini sama Abi Ilham dan Ami Annisa"
"Iya Ami, Kamu capek ya hari ini?"
Irna tersenyum manis pada suaminya saat di beri pertanyaan seperti itu, karena Irna tahu suaminya saat ini sedang ingin meminta hak nya.
"Ami tahu Abi sedang ingin kan?"
Arif tersenyum sipu, namun Ia mengatakan,
"Tapi jika sedang hamil, apa tidak sakit"
"Ya pelan-pelan dong Abi"
Arif mengerti dan Mereka pun memandu Kasih di malam yang bahagia ini.
Asri melihat jam tangannya, waktu hampir tengah malam, Ia bingung harus pulang atau tetap berada di Rumah Sakit.
"Kamu kenapa gelisah sepertinya?"
"Aku sebenarnya belum izin Kak dengan suamiku untuk menginap disini"
"Astagfirullah cepat beritahu suamimu sekarang, jangan menyepelekan izin Asri"
Padahal dalam hati Mai, ucapannya adalah menyindir dirinya sendiri, Ia tak ingin adik-adiknya seperti dirinya.
"Iya Kak, Aku akan telepon suamiku"
Asri pun keluar dari kamar rawat Bu Nasya, dan Ia mencoba menghubungi suaminya di tengah malam seperti ini.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam, Kamu gak pulang?"
"Bunda boleh gak menginap Di Rumah Sakit malam ini"
"Sebaiknya Kamu pulang Asri, cucian Kamu bagaimana nanti, bukankah itu punya orang"
Asri sampai lupa jika ada cucian kering yang harus di setrika.
"Ya sudah Aku pulang, tapi bisa tidak Ayah jemput Bunda"
Kali ini Ferry mengiyakan permintaan Asri, rasanya sungguh sangat senang dan bahagia, suaminya mau menjemput dirinya.
"Ya sudah Aku siap-siap dulu"
Asri pun tersenyum entah mengapa kali ini Ia merasakan suaminya masih peduli dengannya.
Erwin, hrsnya terus terang dg Novi ttg Citra. dan janji gk akan mengulang. Agar video itu tdk dijadikan Citra sbg alat utk mengancam