Dua jam sebelum akad, Devon tiba-tiba dijebak masuk penjara. Demi harga diri keluarga, Liam terpaksa turun tangan menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Mira Hazelya.
Namun, malam pertama yang seharusnya indah justru berubah menjadi neraka. Liam murka saat mendapati fakta bahwa istri barunya ternyata sudah tidak lagi perawan!
"Kau memanfaatkanku?! Kau menjebakku untuk menjadi penanggung jawab dosa orang lain?!" bentak Liam penuh amarah, siap melayangkan talak.
Tepat sebelum Liam melangkah pergi, sebuah rahasia besar terbongkar. Noda di tubuh Mira bukan karena ia wanita murahan, melainkan bukti pengorbanan berdarah demi menyelamatkan keluarga Liam dari kehancuran.
Saat rasa benci dalam semalam berubah menjadi rasa bersalah yang mencekik dada, sanggupkah Liam menyembuhkan luka di hati Mira? Sementara di kampus, mereka harus bersandiwara seolah tidak saling kenal!
Kita Simak Yuk Kisah Selanjutnya Di Novel => Istri Pengganti Yang Terluka.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Malam baru saja menancapkan kekuasaannya di atas langit Jakarta, namun atmosfer di dalam Gedung Rektorat dan Gedung Fakultas Ilmu Sosial Universitas Indonesia Baru justru membara oleh ketegangan yang tak kasat mata. Cahaya rembulan terpantul dingin pada lantai marmer koridor yang mulai sepi.
Hanya ada beberapa kelompok mahasiswa yang masih bertahan di kantin dan ruang terbuka hijau, sibuk menatap layar ponsel pintar masing-masing dengan pendar cahaya biru yang menerangi raut wajah mereka yang dipenuhi gejolak penasaran.
Di salah satu aplikasi obrolan anonim dan forum digital terbesar kampus, UIB Forum Secret sebuah utas baru mendadak bertengger di posisi paling atas dengan ribuan interaksi hanya dalam kurun waktu dua jam.
HOT THREAD - 'Siapa Gadis Bercadar di Parkiran B2 ?'
"Gue denger dari anak FEB, tadi sore ada keributan di basement B2. Gadis bercadar anak baru dari FISIP dilabrak karena kedapatan bawa barang mewah. Tapi yang bikin geger... Kak Arkan Oliver datang langsung! Dia belain cewek itu di depan umum dan langsung ngancam siapapun yang berani usik cewek itu! Siapa sebenarnya gadis itu? Ada hubungan apa sama pangeran Oliver Group ?!"
Kolom komentar membludak dengan ribuan spekulasi yang kian liar. Sebagian besar mahasiswi pengagum Arkan meluapkan kemarahan, tak terima jika pria yang dikenal dingin, tak tersentuh, dan berkelas itu memiliki keterikatan khusus dengan seorang gadis biasa yang selalu menutupi wajahnya.
Sementara itu, di kediaman mewah keluarga Oliver di kawasan elit Menteng.
Ruang kerja pribadi Arkan Oliver di lantai dua tampak temaram. Hanya ada pendar cahaya dari tiga layar monitor berukuran besar di atas meja kerja bermaterial kayu mahoni gelap.
Keheningan ruangan itu begitu menekan, hanya diisi oleh suara detak jarum jam dinding antik dan dentingan es batu di dalam gelas kristal berisi air mineral di sudut meja.
Arkan duduk di kursi kerja bertali kulit hitamnya yang megah.
Pria tegap itu mengenakan kemeja sutra hitam dengan lengan yang digulung rapi hingga memperlihatkan lengan bawahnya yang berurat dan kekar. Dua kancing teratas kemejanya dibiarkan terbuka, mengekspos garis leher tegas dan dada bidangnya.
Di pergelangan tangan kirinya, jam tangan perak mewahnya berkilau tajam di bawah pendar monitor. Rambut hitamnya yang sedikit acak-acakan justru mempertegas ketampanan ganjil dari garis rahang tegas dan hidung mancungnya.
Namun, ekspresi di wajah tampannya saat ini adalah gambaran murni dari kemurkaan yang tertahan.
Sepasang mata elangnya yang tajam dan sedingin es mengunci layar monitor tengah, membaca baris demi baris komentar racun yang ditujukan kepada istrinya di forum kampus.
Seringai tipis yang sarat akan bahaya terukir di bibir Arkan. Setiap kata yang merendahkan Hilmira terasa seperti sembilu yang menyayat egonya sebagai seorang pria dan suami.
"Mereka berani menyentuh nama wanitaku lagi..." batin Arkan, dadanya naik turun oleh gejolak kecemburuan dan keposesifan mutlak yang kian tak terkendali.
Arkan mengulurkan tangannya yang kokoh, menyambar ponsel pintar terbarunya di atas meja, lalu menekan sebuah nomor panggilan cepat. Hanya dalam satu kali nada dering, panggilan itu langsung terhubung.
"Pak Arkan," suara bariton seorang pria paruh baya yang terdengar sangat sigap dan penuh hormat terdengar di seberang telepon.
Itu adalah Pak Rendy, Kepala Divisi Teknologi Informasi dan Hubungan Masyarakat Oliver Corporation yang memegang kendali atas jaringan digital serta dana hibah terbesar di Universitas Indonesia Baru.
"Rendy," panggil Arkan. Suara baritonnya sangat rendah, berat, datar, namun memiliki daya getar intimidasi yang sanggup merindingkan bulu kuduk. "Kau sudah lihat apa yang beredar di forum digital kampus malam ini?"
Di seberang sana, Pak Rendy menelan ludah dengan susah payah. "S-Sudah, Pak Arkan. Tim analisis siber kami baru saja mendeteksi adanya lonjakan lalu lintas data terkait nama Anda dan... Nyonya Hilmira di utas anonim tersebut."
Arkan membetulkan posisi duduknya, bersandaran pada kursi kulit dengan gestur yang sangat santai, angkuh, namun memancarkan kekuasaan tanpa batas, sebuah keagungan cold CEO yang tak terbantahkan.
"Aku tidak suka mengulang perintah, Rendy," ujar Arkan dingin, matanya menyipit menatap layar monitor. "Matikan seluruh server forum itu malam ini juga. Hapus setiap jejak digital, foto, utas, hingga baris komentar yang menyebutkan nama Hilmira atau ciri-cirinya."
"Baik, Pak. Namun... forum tersebut dikelola secara independen oleh himpunan mahasiswa Teknologi Informasi kampus," terang Pak Rendy berhati-hati. "Jika kita mematikannya secara paksa, ada kemungkinan mereka akan mempertanyakan transparansi..."
"Gunakan kekuasaan finansial kita," potong Arkan dengan tegas, suaranya turun satu oktav, menjadi begitu menekan.
"Hubungi Rektorat detik ini juga. Katakan pada Rektor bahwa Oliver Foundation akan mencabut seluruh suntikan dana hibah pembangunan laboratorium terpadu senilai lima puluh miliar rupiah besok pagi jika server forum itu masih beroperasi dalam waktu tiga puluh menit ke depan. Beli seluruh lisensi platform tersebut jika perlu. Jadikan itu anak perusahaan Oliver Corp jika itu satu-satunya cara untuk membungkam mereka."
Pernyataan itu diucapkan tanpa keraguan sedikit pun. Bagi Arkan, dana puluhan miliar rupiah hanyalah angka kecil yang tak berarti dibanding dengan ketenangan dan senyuman di balik cadar wanita yang kini sah menjadi istrinya.
"S-Baik, Pak Arkan! Dilaksanakan sekarang juga !" jawab Pak Rendy panik sebelum mengakhiri panggilan.
Arkan meletakkan ponselnya kembali ke atas meja marmer dengan ketukan pelan. Ia menyandarkan kepalanya, memejamkan mata sejenak sembari mengusap pelipisnya.
Bayangan wajah Hilmira yang pucat dan gemetar di basement tadi sore kembali melintas di benaknya, membuat dada Arkan terasa seperti diremas oleh ketakutan yang asing, ketakutan akan kehilangan atau melukai wanita itu lebih dalam lagi.
Sementara itu, di kamar pengantin yang luas dan megah.
Hilmira Hazelya duduk melingkar di atas sofa empuk dekat jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan gemerlap lampu kota. Ia telah mengganti pakaiannya dengan gaun tidur katun longgar berwarna biru muda yang santai.
Khimar dan cadarnya telah ia lepaskan, menampilkan wajah cantiknya yang polos tanpa riasan, kulit pipinya yang halus dengan rona kemerahan alami, serta bibir mungilnya yang merah muda. Rambut hitam panjangnya yang halus terurai bebas di atas bahu mulusnya.
Di atas pangkuannya, sebuah laptop terbuka. Sepasang mata bulat Hilmira menatap layar dengan raut cemas. Ia baru saja tak sengaja membuka tautan forum kampus yang dikirimkan oleh salah seorang teman sekelasnya.
Hilmira membaca judul utas tersebut dengan jantung yang berdegup gila. Air mata kecemasan mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Bagaimana ini...? Jika rumor ini membesar, semua orang akan tahu... dan kontrak kita akan hancur... Kak Arkan pasti akan makin membenciku..." pikir Hilmira dengan napas tersengal.
Namun, tepat saat Hilmira hendak menekan tombol refresh pada halaman web tersebut...
ERROR 404: SERVER NOT FOUND.
-Halaman yang Anda cari telah dihapus atau tidak lagi tersedia.-
Hilmira tertegun. Sepasang matanya membelalak kecil. Ia mencoba menyegarkan halaman itu berkali-kali, namun hasilnya tetap sama. Seluruh situs forum digital kampus mendadak lumpuh total. Bahkan aplikasi obrolan anonim tersebut kini menampilkan pemberitahuan pemeliharaan sistem secara permanen.
Cklek.
Suara mekanisme pintu kamar yang terbuka membuat Hilmira refleks menutup layar laptopnya dengan cepat.
Arkan melangkah masuk ke dalam kamar.
Pria tegap itu telah melepas kemeja sutra hitamnya, kini hanya mengenakan kaus polos berbahan katun tipis berwarna abu-abu gelap yang membentuk otot-otot dadanya yang sempurna, dipadu celana santai hitam.
Rambutnya sedikit basah, memancarkan aroma parfum maskulin yang khas bercampur keharuman sabun mandi beraroma mint.
Langkah kaki Arkan yang tenang dan mantap menghampiri posisi Hilmira di sofa.
Melihat Hilmira yang menatapnya dengan pandangan linglung dan cemas, raut wajah Arkan yang semula dingin perlahan melunak.
Pria itu tidak berdiri di depan Hilmira seperti biasa. Sebaliknya, Arkan melangkah mendekat lalu mendudukkan tubuh tegapnya di atas karpet bulu tebal di samping sofa tempat Hilmira duduk, membuat posisinya sedikit lebih rendah dari Hilmira.
Sebuah gestur ketundukan dan perlindungan yang teramat manis dari seorang pemuda pewaris dinasti bisnis terkuat.
Aroma keharuman maskulin Arkan langsung mengepung indra penciuman Hilmira, membuat dada wanita itu berdesir hebat.
"Kau sedang melihat forum kampus?" tanya Arkan, suara baritonnya terdengar sangat rendah, lembut, dan menenangkan di tengah keheningan malam.
Hilmira menundukkan kepalanya, jemari tangannya meremas ujung gaun tidurnya di atas pangkuan. Rambut hitam panjangnya yang terurai sedikit menutupi sisi wajah cantiknya.
"I-Iya, Kak Arkan..." bisik Hilmira parau. "Aku takut... aku takut rumor itu akan merusak reputasimu dan membongkar rahasia kontrak satu semester kita..."
Arkan mengulurkan tangannya yang kekar dan hangat. Dengan jemarinya yang kokoh, Arkan perlahan menyelipkan helai rambut hitam Hilmira ke belakang telinga wanita itu, sebuah sentuhan kulit-ke-kulit pertama yang sangat intim, santun, dan hati-hati.
DEG.
Tubuh Hilmira membeku. Sengatan listrik halus seperti menjalar dari titik sentuhan jari Arkan di kulit pipinya, langsung menusuk hingga ke dalam dadanya. Wajah Hilmira mendadak memerah sempurna.
"Tidak ada yang perlu kau takutkan lagi, Hilmira," ujar Arkan, sepasang mata elangnya menatap lurus ke dalam netra bulat Hilmira dengan kejujuran dan keposesifan yang tak lagi tersembunyi.
"Utas itu sudah hilang. Forum itu sudah kumatikan selamanya. Tidak ada satu pun orang di universitas itu yang akan berani menyebut namamu atau mengusik ketenanganmu lagi mulai besok pagi."
Hilmira mendongak, menatap wajah tampan Arkan dari jarak yang sangat dekat. "Kak Arkan... mematikan seluruh forum kampus?"
"Aku membelinya," jawab Arkan singkat, tanpa dosa, dengan nada santai khas CEO kaya raya yang sanggup membeli apa saja demi wanita yang dicintainya. "Dan jika ada media lain yang berani menyebarkan rumor tentangmu... aku akan membeli media itu juga dan menghancurkannya."
Hilmira tertegun, bibir mungilnya sedikit terbuka karena syok. "Kenapa... kenapa Kak Arkan melakukan sejauh ini? Bukankah perjanjian kita hanya sebatas..."
"Perjanjian itu tidak berlaku saat ada orang lain yang membuatmu menangis, Hilmira Hazelya," potong Arkan dengan suara bariton yang begitu dalam dan sarat emosi.
Arkan meraih tangan kanan Hilmira, memegang jemari mungil istrinya yang kini melingkar cincin pernikahan platina mereka. Arkan membungkukkan sedikit kepalanya, lalu menyentuhkan bibir hangatnya di atas punggung tangan Hilmira dengan lembut, sebuah kecupan terhormat yang sarat akan janji perlindungan abadi.
"Kau adalah istriku," bisik Arkan di atas kulit tangan Hilmira, hembusan napas hangatnya membuat seluruh tubuh Hilmira gemetar hebat. "Di dalam atau di luar kampus... terikat kontrak atau tidak... bertaruh dengan seluruh harta dan nama besar keluarga Oliver sekalipun, aku tidak akan membiarkan dunia melukaimu lagi."
Atmosfer di dalam kamar pengantin mewah itu mendadak menjadi begitu intim, hangat, dan pekat oleh debaran jantung dua insan yang kian tak sanggup menahan gelombang perasaan di balik dinding kepalsuan.
Sandiwara kampus yang semula diciptakan untuk menyembunyikan status kini telah sepenuhnya melebur di bawah dominasi dan cinta posesif sang pewaris tunggal Oliver Group.
...----------------...
To Be Continue ....
marah tandanya sayang 🤗
Arkan kamu sudah lupa dengan perjanjian itu 🤸🏼♀️😅
padahal bagus Liam
makanya jangan sok berkuasa 🫤🫤