Tiga tahun Davira bertahan dalam pernikahan perjodohan yang dingin dengan Arka. Baginya, Arka adalah satu-satunya tempat bersandar setelah ayahnya meninggal karena bangkrut dan adik laki-lakinya hilang tanpa kabar di luar negeri. Davira terus bertahan, berharap kehadiran seorang anak kelak bisa melunakkan hati suaminya.
Namun, takdir justru merenggut segalanya dalam semalam. Di saat dokter memvonisnya menderita kanker rahim stadium 3 dan harus mengangkat rahimnya.
Bukannya mendapat perlindungan, Davira malah dihujat mandul oleh ibu mertua dan adik iparnya. Arka yang tega bahkan memberinya ultimatum: menerima Sheila sebagai istri kedua, atau pergi dari rumah tanpa membawa sepeser pun uang.
Di titik terendah hidupnya, hati Davira mati. Dia memilih pergi membawa luka dan penyakitnya. Davira bersumpah akan sembuh, bangkit, dan kembali untuk membuat Arka beserta keluarganya membayar mahal setiap tetes air mata dan penghianatan keji ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almesha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Berdiri di Atas Kaki Sendiri
Malam itu, langit Jakarta seolah ikut merasakan kepedihan hati Davira. Hujan turun dengan sangat deras, membasahi jalanan aspal dan menyamarkan air mata yang kembali menetes di pipi wanita itu. Davira berjalan gontai di trotoar, hanya membawa tas jinjing kecil berisi dompet, ponsel, dan lembar hasil laboratorium yang sudah agak lecek. Dia tidak membawa satu pun pakaian atau barang mewah yang dibelikan Arka. Dia ingin keluar dari lingkaran setan itu dengan tubuh sebersih mungkin dari harta keluarga Narendra.
Tubuhnya mendadak menggigil hebat. Rasa nyeri di perut bagian bawahnya kembali menyerang, kali ini jauh lebih hebat hingga membuat Davira terpaksa bertumpu pada tiang lampu jalan. Rasanya seperti ada pisau yang mengiris-iris organ dalamnya.
"Aku harus kuat... aku tidak boleh mati di pinggir jalan seperti ini," bisik Davira pada dirinya sendiri, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya.
Dengan tangan gemetar, dia merogoh ponsel dari tasnya. Davira tahu dia tidak punya banyak uang. Tabungan pribadinya dari sisa peninggalan ayahnya hanya cukup untuk biaya hidup beberapa bulan, jauh dari kata cukup untuk membayar operasi pengangkatan rahim kelas VIP di rumah sakit swasta mewah. Namun, dia teringat pada satu nama. Dokter Sarah, sahabat mendiang ibunya yang bekerja di sebuah rumah sakit umum daerah.
Setelah berjuang menembus dinginnya malam dengan taksi, Davira akhirnya tiba di rumah sakit tempat Dokter Sarah bertugas. Begitu melihat kondisi Davira yang basah kuyup, pucat pasi, dan tak berdaya, Dokter Sarah langsung membawanya ke ruang pemeriksaan.
Satu jam kemudian, Davira sudah berbaring di bangsal perawatan dengan selang infus yang tertancap di punggung tangannya. Dokter Sarah duduk di sampingnya, menatap Davira dengan pandangan mata yang penuh rasa iba sekaligus marah.
"Davira, kenapa kamu baru datang sekarang? Kondisi kankermu sudah menyebar ke jaringan sekitar serviks. Ini sudah stadium tiga lanjut, Vira!" suara Dokter Sarah terdengar bergetar. "Dan di mana Arka? Kenapa suamimu tidak mendampingimu di saat seperti ini?"
Mendengar nama Arka, sudut bibir Davira terangkat, membentuk sebuah senyuman sinis yang terasa sangat asing di wajah lembutnya.
"Arka sedang sibuk menjaga bayi dari wanita lain, Tante," jawab Davira datar, tanpa ada lagi air mata yang menetes. Matanya menatap kosong ke langit-langit kamar rumah sakit yang bernuansa putih pucat.
Dokter Sarah terperangah. "Apa maksudmu? Arka selingkuh?"
Davira mengangguk perlahan. Dia menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi, tentang Sheila yang hamil lima bulan, tentang ibu mertua dan adik iparnya yang mengusirnya, serta tentang ultimatum Arka yang memintanya menjadi istri pertama yang terbuang di kamar belakang.
"Biadab!" Tangan Dokter Sarah mengepal tinju di atas meja. "Bagaimana bisa keluarga Narendra sekejam itu? Padahal dulu almarhum ayah Arka sangat menghormati ayahmu! Davira, kamu harus menuntut mereka. Jangan biarkan mereka menginjak-injak harga dirimu!"
"Menuntut mereka sekarang hanya akan membuang energi yang aku miliki, Tante," sahut Davira tenang. Ketenangan yang justru terasa mengerikan bagi siapa pun yang mendengarnya. "Sekarang, fokus utamaku adalah hidup. Aku ingin operasi secepatnya. Tolong bantu aku, Tante. Angkat rahim ini dari tubuhku."
Dokter Sarah menghela napas panjang, lalu menggenggam tangan Davira yang terasa sedingin es. "Baik. Tante akan urus jadwal operasimu secepat mungkin. Mengingat kondisimu, kita akan lakukan tindakan minggu depan. Tapi Vira... setelah rahimmu diangkat, kamu tidak akan bisa..." Dokter Sarah tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
"Aku tahu, Tante. Aku tidak akan pernah bisa punya anak," potong Davira dengan tatapan mata yang mendadak berkilat tajam. "Tapi tidak apa-apa. Kehilangan rahim tidak akan membuatku berhenti menjadi seorang wanita yang kuat. Justru dengan ini, tidak akan ada lagi kelemahan yang bisa mereka serang."
Satu minggu berlalu dengan cepat. Selama kurun waktu tersebut, ponsel Davira sangat sepi. Tidak ada satu pun panggilan atau pesan singkat dari Arka. Pria itu benar-benar menganggapnya sudah mati atau tidak peduli lagi ke mana istrinya pergi. Davira tersenyum getir melihat layar ponselnya yang bersih dari notifikasi sang suami. Kebencian di dadanya kian menumpuk, menjelma menjadi bahan bakar yang membuatnya tetap tegak berdiri.
...
Hari operasi pun tiba. Davira dibawa masuk ke dalam ruang operasi yang dingin dengan lampu besar yang menyorot tajam di atas kepalanya. Di ambang kesadarannya sebelum pengaruh obat bius total bekerja, Davira membatin sebuah janji yang sakral.
Arka, Sheila... nikmatilah kebahagiaan kalian di atas penderitaanku saat ini. Karena ketika aku terbangun nanti, Davira yang lemah dan penurut telah mati bersama rahim yang diangkat ini. Aku akan terlahir kembali sebagai mimpi buruk terbesar dalam hidup kalian.
Operasi berjalan selama empat jam yang menegangkan, namun untungnya berhasil dengan sukses. Seluruh jaringan kanker dan rahim Davira berhasil diangkat. Selama dua minggu masa pemulihan di rumah sakit, Davira berjuang keras untuk segera sembuh. Dia memaksa dirinya makan meski mual, dan belajar berjalan kembali meski perutnya terasa luar biasa perih pasca operasi.
Pada hari dia diperbolehkan pulang, sebuah kejutan besar menantinya. Saat Davira sedang mengemas barang-barangnya di dalam kamar rawat, pintu mendadak terbuka dengan kasar.
Seorang pria muda bertubuh jangkung dengan pakaian kasual namun berantakan masuk dengan napas terengah-engah. Wajahnya dipenuhi peluh, dan matanya memerah menahan tangis.
Davira tertegun, menjatuhkan pakaian di tangannya. Jantungnya berdegup kencang karena tidak percaya dengan penglihatannya.
"Kak Vira..." suara pria itu pecah.
"Reno...?" bisik Davira lirih.
Pria itu adalah Reno, adik kandung laki-lakinya yang selama tiga tahun ini menghilang tanpa kabar di luar negeri! Reno langsung berlari dan memeluk erat tubuh kakaknya yang kini terasa jauh lebih kurus.
"Maafkan Reno, Kak... Maaf karena Reno baru tahu semuanya sekarang!" isak Reno di bahu Davira. "Reno baru kembali ke Indonesia kemarin dan langsung mendatangi rumah bajingan itu! Tapi wanita jalang dan ibunya malah mengusirku dan bilang kalau Kakak sudah mati karena mandul!"
Davira membelai punggung adiknya dengan lembut. "Bagaimana kamu bisa tahu Kakak ada di sini?"
"Dokter Sarah yang menghubungi Reno, Kak," jawab Reno sambil melepaskan pelukannya, menatap wajah sang kakak dengan tatapan penuh penyesalan. "Selama tiga tahun ini, Reno bekerja mati-matian di Amerika. Reno sengaja memutus kontak karena Reno terlibat proyek rahasia berskala global dan tidak ingin keluarga Arka tahu sebelum Reno sukses. Sekarang, Reno sudah berhasil, Kak. Reno kembali sebagai salah satu investor utama di perusahaan teknologi terbesar di Silicon Valley. Uang Reno sudah sangat banyak!"
Reno mengepalkan tangannya dengan urat-urat yang menonjol di lehernya. "Tapi begitu Reno pulang, Reno justru mendapati Kakak menderita seperti ini karena ulah Arka dan keluarganya! Reno tidak akan melepaskan mereka, Kak! Reno akan hancurkan perusahaan Arka sampai dia menjadi pengemis!"
Mendengar penuturan adiknya, Davira terdiam sesaat. Perlahan, sebuah senyuman misterius dan dingin terukir di wajahnya yang pucat. Takdir ternyata masih berpihak padanya. Dia tidak lagi sebatang kara.
Davira memegang pundak adiknya, menatap lurus ke dalam manik mata Reno dengan tatapan yang sangat tajam.
"Jangan terburu-buru, Reno. Menghancurkan mereka dalam semalam itu terlalu mudah dan tidak menyenangkan," ucap Davira dengan nada suara yang tenang namun sarat akan ancaman. "Kita akan bermain perlahan. Biarkan Arka dan selingkuhannya merasa di atas angin terlebih dahulu. Setelah itu... kita akan jatuhkan mereka dari tempat tertinggi hingga mereka tahu bagaimana rasanya hancur berkeping-keping seperti yang aku rasakan."