Shen Dazhi, seorang pengembara yang berhasil mengumpulkan 10 pusaka legendaris yang diturunkan oleh Dewa. Bukan hanya itu, dirinya juga berhasil mengalahkan pemimpin sekte aliran hitam terbesar dan menjadi salah satu orang terkuat di dunia.
Namun rasanya semua itu tidak sepadan karena banyak sekali rekan-rekan serta orang tersayangnya yang mati dimasa lalu karena ulah sekte hitam tersebut.
Sampai akhirnya, dirinya diberikan kesempatan kedua oleh Dewa untuk kembali ke masa lalu dan menyelamatkan orang-orang berharganya.
Inilah cerita sang Pengembara dari masa depan yang kembali ke masa lalu untuk menulis ulang takdirnya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dazhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 : Seleksi Turnamen II
Tempat seleksi yang awalnya tenang kini menjadi ribut dengan suara pedang yang beradu. Semua peserta seleksi sudah saling menyerang satu sama lain.
Ada beberapa Kultivator yang membentuk kelompok kecil dan menyerang Kultivator yang sendirian. Teknik itu terbukti ampuh karena mereka mendapatkan banyak token kayu.
Dazhi menatap sekitar, ia lalu melepaskan pedang dari sarungnya untuk mulai menyerang. Tetapi, tiba-tiba Guo Bailing mendekatinya.
"Shen Dazhi, Ini untukmu!"
Guo Bailing memberikan sebuah token kayu kepada Dazhi. Hal ini membuat Dazhi kebingungan.
"Hehe... Aku kan sudah bilang kalau ingin bekerjasama denganmu. Ayo masuk ke paviliun bersama sebelum ada orang menyerang kita."
Dazhi dan Guo Bailing mendekati pintu masuk paviliun. Mereka lalu menunjukkan dua token kayu yang mereka punya kepada panitia seleksi sebelum dipersilahkan untuk masuk.
"Baiklah kalian boleh masuk. Untuk ke lantai kedua, kalian membutuhkan 4 token."
Mereka memasuki paviliun. Dilantai pertama yang mereka masuki ini, sudah banyak Kultivator yang terlihat. Bahkan beberapa ada yang melakukan serangan dadakan kepada Dazhi dan Guo Bailing.
Tringg!!
Suara yang memekakkan telinga terdengar. Guo Bailing berhadapan dengan pemuda yang menyerang mereka.
"Teknik Tingkat 3, Pusaran Gelombang Laut!!"
Guo Bailing menyerang pemuda itu, hal ini berhasil membuat si pemuda terluka di bahunya. Melihat kesempatan menang yang rendah, pemuda itu kabur dari sana.
"Dia kabur." Ucap Guo Bailing sembari memasukkan kembali pedangnya.
"Baiklah, ayo kita lanjut, Shen Dazhi."
Dazhi hanya mengangguk. Mereka berdua berjalan menuju tangga untuk ke lantai selanjutnya.
Dalam perjalanan, banyak orang yang menyerang mereka berdua. Namun Guo Bailing berhasil memutarbalikkan situasi dan memenangkan pertarungan, Dazhi sampai tidak mempunyai kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya.
Begitupula pada lantai ke-2 dan ke-3. Guo Bailing selalu mengalahkan Kultivator lain dan mengambil token mereka untuk diberikan kepada Dazhi.
Dazhi menghela nafas, Guo Bailing ini, dia sudah berada diranah Kultivasi ke-4 tahap akhir. Kemampuannya tentu saja cukup hebat untuk melawan Kultivator yang ada disini. Tetapi ini cukup memuakkan karena Dazhi jadi tidak bisa 'bersinar'.
Ketika hendak naik kelantai 4, tiba-tiba Dazhi berhenti ditengah jalan.
"Ada apa Shen Dazhi?"
"Ah... Token yang harus digunakan untuk pergi kelantai selanjutnya itu ada 8 buah bukan? Sepertinya tadi aku menjatuhkan 1 token milikku."
"Guo Bailing, kau bisa pergi kelantai selanjutnya. Aku akan mencari 1 token lagi."
Ketika Dazhi berbalik hendak pergi, tiba-tiba Guo Bailing menepuk bahunya.
"Ini untukmu." Guo Bailing tiba-tiba memberikan 1 token miliknya kepada Dazhi.
"Apa? Lalu bagaimana denganmu?"
"Tenang saja. Biar aku yang mencari 1 token itu. Kau yang pergi ke lantai selanjutnya dulu."
"Tapi untuk mendapatkan token itu susah loh... Apalagi orang-orang dilantai tiga ini cukup kuat. Apa kau yakin?"
"Sudah kubilang, tenang saja. Aku juga kuat!"
Guo Bailing berbalik dan pergi sebelum Dazhi sempat mencegahnya. Dazhi lalu menggaruk kepalanya.
Padahal Dazhi tidak kehilangan token apapun, itu hanyalah alasan agar dirinya bisa bertarung dan bersinar.
"Ya ampun, kenapa malah jadi begini?"
***
Dilantai ke-4, terdapat tiga orang Kultivator yang duduk dipojok ruangan. Mereka bertiga sudah menunggu kedatangan Kultivator lain dari lantai bawah untuk naik.
Hanya ada puluhan orang yang berhasil naik ke lantai empat ini. Orang-orang itu adalah Kultivator kuat, tentu saja mereka bertiga tak berani melawan. Mereka akhirnya memutuskan menunggu orang lemah untuk naik agar mereka bisa mendapatkan token.
Akhirnya seseorang naik, itu adalah Dazhi.
Salah satu dari mereka menggunakan teknik untuk mengecek ranah Kultivasi Dazhi, "masih diranah Kultivasi ke-3 puncak, Tuan!"
"Bagus!!"
Mereka bertiga mendekat kearah Dazhi, siap meminta token miliknya tanpa tahu kalau orang yang akan mereka hadapi lebih kuat dari yang terlihat.
"Hey pemula!"
Teriakan yang diperuntukkan untuknya membuat Dazhi menoleh. Ada tiga orang mendekatinya. Yang paling depan menggunakan baju megah seperti anak pejabat dan berada diranah Kultivasi ke-4 tahap akhir. Sisanya masih tahap menengah.
Dazhi tiba-tiba menyeringai, ia setidaknya tahu apa yang akan mereka lakukan padanya. Tapi ini tak membuatnya gentar, malah membuat anak itu bersemangat.
"Iya ada apa?" Tanya Dazhi dengan nada se-ramah mungkin.
"Berikan tokenmu!"
"Apa? Kenapa aku harus melakukannya?" Tanya Dazhi dengan nada menantang.
Ketiga orang itu saling bertatapan. Mereka lalu tertawa kencang.
"Haha! Ya ampun, apa dia bercanda?"
"Tuan, sepertinya dia perlu diberi paham, haha..."
Whossh!!
Si anak pejabat kemudian mengeluarkan aura Qi miliknya yang membuat angin berhembus pelan.
"Lihatlah! Aku adalah Lan Chiao, anak ke tiga keluarga terhormat Lan dari kekaisaran timur!! Aku sudah mencapai ranah ke-4 dan sebentar lagi akan menjadi Sang Pendekar Sejati!!"
Lan Chiao itu terus berceloteh. Dazhi hanya menatap dengan malas. Lagipula dikehidupan sebelumnya, ia tak terlalu tahu dengan keluarga Lan. Mungkin mereka salah satu keluarga kecil dari kekaisaran Timur.
Melihat ekspresi Dazhi yang datar membuat Kan Chiao geram.
"Ada apa dengan ekspresimu? Seharusnya kau paham kalau aku lebih kuat darimu!! Atau jangan-jangan... Orang dari kekaisaran tengah ini memang terlalu bodoh untuk memahami ucapanku."
Mereka kembali tertawa, Dazhi semakin memasang wajah datarnya. Mereka ini terlalu banyak omong.
Srett...
Dazhi mengeluarkan pedangnya, ia mengarahkan pedang itu kepada tiga orang dihadapannya.
Tiga orang itu cukup terkejut dengan apa yang dilakukan Dazhi, namun mereka langsung tersenyum mengejek kearahnya.
"Apa anak ini mau melawan kita, Tuan?"
"Besar juga nyalinya, haha..."
"Ihh... Takutnya..."
Dazhi memutar bola matanya.
"Jika kalian sudah selesai bicara, cepat lawan aku! Atau jangan-jangan... Kalian takut ya?"
"Jangan bercanda!! Mana mungkin kami takut kepada pemula! Baik, kami tak akan sungkan-sungkan padamu karena kau sendiri yang meminta!"
Dua orang disamping Lan Chiao bergerak maju secara serempak. Tebasan pedang mereka berhasil ditangkis dengan mudah oleh Dazhi, bahkan anak itu sempat untuk menyerang balik.
"Boleh juga. Tapi jangan senang dulu, kami akan melancarkan serangan yang bisa membuatmu langsung kalah!!"
Dua antek-antek Lan Chiao mengepung Dazhi dari sisi kanan dan kiri, sementara Lan Chiao sendiri berada dihadapan Dazhi.
"Teknik tingkat 3, Tusukan Api Neraka!" Dua orang disisinya menyerang secara bersamaan.
Bukan hanya itu, kini Lan Chiao juga sudah mengangkat pedangnya untuk menyerang Dazhi. Dilihat dari jumlah Qi yang diserapnya, sepertinya dia akan melancarkan serangan yang cukup kuat.
"Teknik tingkat 3, Tebasan Api Penghancur Jiwa!!"
Lan Chiao berlari kearah Dazhi sembari melancarkan jurusnya.
Diserang dari tiga arah secara bersamaan ditambah menggunakan teknik yang lumayan kuat tentu bisa membuat siapapun akan kewalahan.
Namun tidak dengan Dazhi, anak itu malah memasang wajah tenangnya tanpa terlihat kesulitan sedikitpun.
"Pedang, waktunya kita bersinar."
"Baik Tuan!"