"Apa kita berdua dijodohkan!" Celia dan Alfian sama-sama terpeki kaget ketika orang tua mereka merencanakan Perjodohan di masa muda mereka.
"Benar sekali," sahut Darius.
"Ini tidak masuk akal. Pa, kami berdua masih sekolah dan bahkan kami tidak akrab," sahut Alfian.
"Tenanglah Alfian, justru perjodohan ini akan membuat kalian akrab dan belajar untuk menuju hidup di masa depan," aahhh Darius.
Alfian dan Celia benar-benar tidak menyangka bahwa mereka akan dijodohkan, mereka sudah mencoba untuk protes, tetapi para orang tua itu menginginkan hubungan mereka diikat dalam ikatan pertunangan.
Alfian dan Celia saling bertukar cincin sebagai ikatan diantara mereka berdua jika ada hubungan spesial yang tidak akan terpisahkan oleh apapun.
Raut wajah Alfian dan Celia terlihat murung, tidak memiliki pilihan selain menuruti permintaan orang-orang dewasa.
Celia terpaksa melakukannya agar memiliki akses lebih luas untuk bisa sekolah di luar negeri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35 Romantis Tipis-tipis
Celia dan Alfian sekarang duduk bersandar di bawah pohon, ketika Alfian mengungkapkan rasa kekecewaannya kepada Celia dan begitu juga Celia mengungkapkan isi hatinya atas tertinggalnya dirinya dan pikiran yang kemana-mana dan juga tuduhan kepada Alfian.
Dalam keheningan keduanya yang hanya diam saja, Celia mengerutkan dahi dengan mengipasi wajahnya saat asam menerpa wajahnya membuatnya menoleh kearah Alfian, yang benar saja Alfian sudah kembali mengisap vavenya.
Celia dengan kesal mengambil vave tersebut.
"Baru aja tadi kagum sama kedewasaan dan cara berbicara kamu, sekarang sudah mulai lagi," kesal Celia menyembunyikan vave tersebut.
"Memang ini barang haram?" tanya Alfian.
"Nggak barang haram, tetapi organ tubuh kamu akan rusak, paru-paru kamu akan hancur!" tegas Celia.
"Perhatian...." goda Alfian.
"Apaan sih," sahut Celia dengan dahi mengkerut tampak sewot.
"Celia gue memang nggak sempurna seperti Rafa, mungkin tidak pernah membuat masalah di sekolah, tetapi gue tegaskan sekali lagi kalau gue nggak pernah pakai barang-barang seperti itu," ucap Alfian.
"Kenapa sekarang jadi bawa-bawa Rafa?" tanyanya dengan dahi mengkerut.
"Kalian tampak akrab, sering ngobrol berdua, kamu juga seperti kagum padanya dan kamu seolah-olah berekspektasi tinggi jika aku akan berubah seperti dia," jawab Alfian.
"Alfian demi Allah, aku nggak pernah bandingin kamu sama Rafa, lagi pula untuk apa juga aku harus mengubah kamu, tidak akan ada yang bisa merubah seseorang jika bukan dari dirinya sendiri dan niatnya, sekeras apapun aku berusaha ingin merubah kamu, bukan kemauan kamu sendiri," ucap Celia membuat Alfian menatapnya begitu dalam.
Keduanya seketika sama-sama terdiam dengan saling menatap, ketika menyadari bahwa mereka saling melihat satu sama lain dan tiba-tiba saja Celia mengalihkan pandangannya.
Celia tampak salah tingkah dengan pipinya memerah dan sementara Alfian tersenyum tipis dengan penuh arti, dalam kesempatan itu Alfian ingin mengambil kembali vavenya dan untung saja Celia menyadarinya dan kembali menyembunyikan.
"Berhenti merokok!" tegas Celia dengan wajah galaknya.
"Ngatur," ucap Alfian.
"Biarin!" tegas Celia dengan mata melotot.
"Iya-iya," sahut Alfian.
"Sudah ayo, kita balik ke tenda, nanti Bu Widya dan anak-anak nyari kita lagi," ucap Celia.
"Oke!" sahut Alfian berdiri terlebih dahulu dan disusul oleh Celia.
Keduanya akhirnya meninggalkan hutan tersebut secara banyak pembicaraan di antara keduanya dari pertengkaran sampai pembicaraan manis dengan romantis tipis-tipis.
Tiba-tiba saja di tengah keduanya menuju tenda dan wajah keduanya tiba-tiba saja disorot center dengan beberapa orang muncul di hadapan mereka yang tak lain Valery, Kania, Diego, dan Yogi.
"Kalian dari mana sih? Pacaran?" celetuk Valery.
"Apaan sih Valery, nggak lucu," sahut Alfian
"Ya terus kalian berdua dari mana, hilang begitu saja masuk hutan," sahut Kania.
Celia diam saja, dia juga tidak mungkin mengatakan bahwa awalnya dia telah mengikuti Alfian ke hutan.
"Diam-diam aja lagi, jawab, kalian berdua nggak aneh-aneh yang di dalam hutan!" ucap Yogi menatap penuh curiga sembari menunjuk Celia dan Alfian secara bergantian.
"Nggak kok, tadi kita berdua hanya....." Celia kebingungan harus menjawab apa dan sementara yang lain menunggu jawabannya.
"Sudahlah kalian ini mikir apa, nggak usah mikir yang nggak-nggak deh, aku sama Celia tadi tidak sengaja kesasar di hutan," sahut Alfian mencari jawaban yang menurutnya masuk akal.
"Bagaimana ceritanya kalian berdua kesasar?" tanya Diego menatap keduanya secara bergantian yang menunggu jawaban.
Alfian dan Celia saling melihat, kebingungan, haruskah mereka menjelaskan, tetapi Alfian masih tetap terlihat tenang.
"Tadi kita lihat ada sosok aneh yang masuk ke dalam hutan dan kita berdua penasaran, ternyata saat kita berdua memasuki hutan dan malah sosok tersebut semakin jauh," jawab Alfian.
"Kok serem sih," sahut Kania dengan mengusap bagian belakang lehernya. Kania benar-benar merinding.
"Ya makanya sebaiknya sekarang kita kembali ke tenda, nanti sosok itu merasa terganggu lagi," sahut Alfian.
Diego, Yogi, Kania dan Valery melihat di sekitar mereka dengan bulu kuduk mereka yang berdiri seketika atas cerita horor Alfian.
"Aaaaaaa!" Diego benar-benar iseng yang tiba-tiba saja teriak sembari berlari membuat yang lain ikut berlari dengan teriakan.
"Aaaaa!"
"Tungguin...."
Alfian tertawa melihat teman-temannya sudah berlari saling mendahului.
"Nggak lucu tahu," Celia menyenggol Alfian.
"Kamu nggak takut?" tanya Alfian.
"Kan itu bohong," jawab Celia.
"Siap bilang bohong tuh di belakang kamu," jawab Alfian.
"Aaaaaaaa!" Celia ikut-ikutan berteriak tetapi bukan lari dan justru ketakutan di dalam pelukan Alfian dengan wajahnya bersembunyi di dalam bidang Alfian.
Alfian kaget dengan spontan yang dilakukan Celia. Celia menyadari apa yang telah dia lakukan dengan perlahan mengangkat kepalanya, wajah keduanya tampak berdekatan dengan nafas yang saling menerpa, Alfian menatapnya begitu dalam dengan beberapa kali kesulitan menengah ludah.
Celia kembali tersadar dan menjauh dari Alfian.
"Apaan sih," ucapnya mengalihkan pandangannya dengan salah tingkah dan wajah yang memerah.
Alfian juga salah tingkah sehingga keduanya terlihat sama-sama canggung.
"Ayo kita lanjut jalan!" ajak Alfian.
Celia menganggukkan kepalanya dan mereka meninggalkan hutan tersebut tanpa ada obrolan dan masih sama-sama diam.
******
Alfian dan Celia sudah kembali ke tenda dan murid-murid juga sudah tidur di tenda masing-masing. Alfian tidur di tengah-tengah dengan Diego dan Yogi berada di sebelahnya.
"Alfian, lo sekarang mending jujur deh sama kita, lo suka beneran ya sama Celia?" tanya Yogi.
"Kenapa tiba-tiba lo nanya kayak gitu?" tanya Alfian.
"Ya kita selama ini memperhatikan gerak-gerik lo, kelihatan dari wajah lo selalu saja ada untuk dia, Valery juga cerita sama kita kalau lo itu benar-benar nyebelin tahu, kayak nggak percaya gitu sama kita-kita," jawab Yogi.
"Memang penting untuk kalian gue beneran suka sama dia atau hanya ngejalani perjodohan ini?" tanya Alfian.
"Penting dong Alfian, lo itu teman kita dan apa-apa bukankah harus diceritakan sama kita kan lagi pula sangat penting siapapun menjadi kekasih dari teman kita dan aneh aja kalau memang lo suka sama cewek kampungan norak kayak gitu," sahut Diego.
"Celia tidak seperti apa yang kalian pikirkan, mungkin dia kampung, norak, tetapi dia memiliki hati yang besar dan juga pemikirannya dewasa," sahut Alfian.
"Jadi seriusan lo bener-bener suka sama dia?" tanya Yogi dan Diego secara serentak.
"Kita memang sahabatan tetapi bukan berarti masalah perasaan harus selalu dikomunikasikan, yang menjalani semuanya adalah gue dan gue cuma minta support dari kalian semua," ucap Alfian lagi-lagi tidak menjawab pertanyaan kedua temannya.
Tetapi secara tidak langsung jawabannya menjelaskan bahwa memang dia menyukai Celia.
"Aku ngantuk kita sebaiknya tidur saja," ucap Alfian.
Yogi dan Diego menghela nafas, tidak tahu apalagi yang harus mereka katakan dan sementara Celia yang berada di sebelah pinggir tidur di dalam tenda dengan membelakangi Valery dan Kania.
"Celia jawab jujur deh, kalian jadian beneran ya?" tanya Kania dengan ketus.
"Siapa juga yang jadian, gue sama Alfian itu cuma dijodohin dan memiliki keuntungan masing-masing menerima perjodohan itu, udah deh, nggak usah nyebar gosip ya nggak," jawab Celia.
"Tetapi kenapa gue lihat kalian berdua itu tampak akrab dan bahkan tadi pergi berduaan dan lama-lama di dalam hutan, apalagi namanya jika bukan ada sesuatu diantara kalian," sahut Valery kepo.
"Ya terus gue harus jawab gimana, masa iya gue harus jawab sesuai dengan kemauan kalian berdua, Alfian sudah menjelaskan kemarin tentang perjodohan itu dan begitu juga dengan gue, ini urusan keluarga kami masing-masing dan gue juga nggak minta kalian buat suka atau tidak suka," tegas Celia
"Lo sombong amat jadi cewek," kesal Kania.
"Gue tidak sombong dan hanya tidak ingin saja jika hubunganku dengan Alfian harus menjadi konsumsi dan spekulasi orang-orang di sekolah dan termasuk kalian," jawab Celia dengan bijak .
Bersambung......