NovelToon NovelToon
Kebangkitan Kaisar Abadi

Kebangkitan Kaisar Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Misteri
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bagus Dwi

Tahun 2042.
Manusia hidup seperti biasa dengan teknologi modern. Tidak ada yang tahu bahwa energi spiritual di Bumi mulai bangkit kembali setelah menghilang selama ribuan tahun.
Arkana Wijaya, mahasiswa berusia 20 tahun, menjalani hidup biasa hingga menemukan cincin kuno peninggalan kakeknya. Saat darahnya menyentuh cincin itu, jiwa seorang kultivator legendaris dari ribuan tahun lalu terbangun.
Namun, alih-alih mengambil alih tubuh Arkana, jiwa itu justru menghilang setelah mewariskan seluruh ingatan dan teknik kultivasinya.
Arkana menjadi satu-satunya orang yang mengetahui cara kultivasi sejati.
Sementara dunia mulai berubah, organisasi rahasia, keluarga kuno, dan makhluk yang selama ini bersembunyi juga mulai bergerak.
Bumi ternyata hanyalah dunia tingkat terendah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Murka Ranah Foundation dan Klaim Sang Kaisar

​Raden Arya terbaring di atas lantai beton oktagon yang dingin, tangan kanannya gemetar hebat saat mencoba menghapus darah segar yang mengalir dari sudut bibirnya. Tatapannya tidak lagi dipenuhi oleh keangkuhan seorang genius klan kuno, melainkan ketakutan mendalam yang bercampur dengan penghinaan yang luar biasa. Pedang giok pusaka yang selalu menjadi kebanggaannya kini telah berubah menjadi tumpukan serpihan kaca tak berharga di sekeliling tubuhnya.

​Di hadapannya, Arkana—dalam balutan Topeng Asura—berdiri tegak bagai tebing karang yang tak tersentuh. Jubah hitamnya sedikit bergoyang tertiup angin malam yang berembus dari ventilasi raksasa koloseum.

​"Lo... lo bener-bener liar..." desis Raden Arya, suaranya parau dan terputus-putus akibat hancurnya aliran Qi di dada batinnya. "Klan Kamandaka... gak akan pernah ngelepasin lo setelah ini!"

​Arkana tidak membalas ancaman murahan tersebut. Ia melangkah melewati tubuh Arya, mengabaikan seruan panik dari tim medis bionik yang mulai berlarian masuk ke dalam ring oktagon. Sepasang mata peraknya mendongak, langsung mengunci pandangannya pada kotak titanium di balkon VIP sayap utara.

​Intervensi Tetua Suro

​PYAAAARRR!

​Kaca tebal berlapis pelindung energi di balkon VIP mendadak pecah berkeping-keping. Sesosok pria paruh baya melompat turun dari ketinggian lima belas meter dengan kecepatan yang menyerupai jatuhnya meteor jatuh.

​BOOM!

​Tetua Suro mendarat tepat di antara Arkana dan Raden Arya, menciptakan gelombang kejut batin yang begitu kuat hingga pagar kawat berarus listrik di sekeliling ring langsung bengkok dan mengeluarkan percikan api korsleting massal. Aura spiritual yang dilepaskannya berada di ambang ranah Foundation Establishment—sebuah tekanan energi yang jauh lebih masif dan padat dibandingkan dengan apa yang dimiliki oleh Raden Arya.

​Di bawah tekanan aura tersebut, ribuan penonton di tribun mendadak merasa dada mereka sesak. Beberapa orang yang memiliki modifikasi siber murah bahkan mulai mengalami malafungsi pada perangkat saraf mereka, membuat mereka berteriak ketakutan dan berbondong-bondong lari menuju pintu keluar koloseum.

​"Anak muda, kamu telah melangkah terlalu jauh," ucap Tetua Suro, suaranya bergetar penuh amarah yang tertahan. "Melukai penerus klan kami dan menghancurkan pedang pusaka Kamandaka... tindakanmu malam ini sudah cukup untuk membuat seluruh garis keturunanmu lenyap dari muka bumi tahun 2042!"

​Arkana menghentikan langkahnya, berdiri hanya berjarak tiga meter dari Tetua Suro. Di balik topeng metaliknya, ia sama sekali tidak terpengaruh oleh tekanan udara batin yang sedang dilepaskan oleh tetua tersebut. Di dalam Dantian-nya, Cincin Kaisar Abadi berputar perlahan, menetralisir setiap riak energi penindas yang mencoba mendekati tubuhnya.

​"Gua cuma mengambil apa yang dijanjikan oleh turnamen ini," jawab Arkana dengan nada suara yang terdistorsi, datar, dan dingin. "Dia kalah, dan hadiahnya adalah milik gua. Jika klan kalian tidak mampu menerima kekalahan, lebih baik jangan pernah turun dari gunung purba kalian."

​"Lancang!"

​Tetua Suro menghentakkan kaki kanannya. Di sekeliling tubuhnya, energi Qi berelemen tanah mulai memadat, membentuk bayangan pelindung tak kasat mata yang siap melumat apa saja di sekitarnya. Sebagai seorang kultivator senior, ia tidak pernah direndahkan seperti ini oleh seorang pemuda misterius di distrik kumuh Jakarta.

​Peretasan Massal Dani

​"Arka, tetua di depan lo itu berbahaya banget, energinya hampir menyentuh level kritis di radar gua!" suara Dani memecah keheningan melalui earpiece Arkana. "Tapi tenang, gua gak bakal biarkan dia menyerang lo dengan leluasa. Gua udah berhasil menembus enkripsi ruang kontrol utama Arena Naga Besi!"

​"Lakukan sekarang, Dani," batin Arkana secara mental.

​"Sesuai perintah, Kaisar!"

​BZZZZT!

​Dalam hitungan mikrodetik, seluruh pasokan listrik di distrik Glodok Bawah Tanah mendadak padam total. Lampu-lampu neon, papan reklame holografik raksasa, hingga sistem pembatas energi plasma di sekitar ring oktagon mati dalam sekejap, melemparkan seluruh koloseum ke dalam kegelapan yang pekat.

​Kepunahan cahaya yang tiba-tiba ini memicu kepanikan massal yang luar biasa di antara sisa penonton dan penjaga arena. Namun, bagi seorang kultivator tingkat tinggi seperti Tetua Suro, kegelapan fisik bukanlah halangan—indra spiritualnya tetap bisa merasakan posisi Arkana dengan sangat akurat.

​"Trik teknologi murahan!" teriak Tetua Suro, meluncurkan pukulan batin jarak jauh yang membawa tekanan ribuan pon ke arah posisi Arkana berdiri.

​BOOM!

​Pukulan tersebut menghantam lantai beton hingga hancur membentuk kawah sedalam satu meter, namun indra batin Tetua Suro mendadak kehilangan targetnya. Sosok 'Asura' telah lenyap bagaikan uap air yang menguap di malam hari.

​Klaim Sang Kaisar Abadi

​Sementara Tetua Suro sibuk memeriksa kawah hancur di tengah ring, di atas balkon VIP sayap utara yang kini gelap gulita, sesosok bayangan hitam berkerudung muncul tanpa menimbulkan suara langkah kaki sedikit pun.

​Arkana berdiri di depan kotak penyimpanan titanium yang telah terbuka setengah akibat kepanikan para staf promotor tadi. Di dalam kotak tersebut, sebutir kristal berukuran sebesar kepalan tangan berwarna merah menyala memancarkan pendaran cahaya spiritual yang sangat murni—Kristal Darah Bumi.

​Arkana mengulurkan tangan kanannya, menyentuh permukaan kristal tersebut. Begitu telapak tangannya bersentuhan dengan Kristal Darah Bumi, getaran hangat yang sangat masif langsung mengalir masuk ke dalam meridiannya, disambut dengan gembira oleh pusaran Qi Primordial di dalam tubuhnya.

​Hukum Rimba Kultivasi: "Sumber daya alam semesta tidak pernah memilih pemiliknya berdasarkan nama besar sebuah klan. Mereka hanya akan tunduk pada siapa yang memiliki kekuatan batin paling murni untuk menyerapnya."

​Arkana memasukkan kristal berharga tersebut ke dalam balik jubah hitamnya. Dengan hilangnya kristal ini, fondasi utamanya untuk menerobos menuju ranah Foundation Establishment kini telah berada di dalam genggamannya, menandai keberhasilan mutlak dari misinya di pasar gelap malam ini.

​Dari bawah arena, suara raungan amarah Tetua Suro yang menyadari bahwa kotak hadiah telah dikosongkan terdengar menggetarkan seluruh dinding bangunan koloseum. Namun, ketika para penjaga berhasil menyalakan sistem pencahayaan darurat, area balkon VIP telah kosong melompong.

​Sang Asura telah pergi menembus kegelapan labirin bawah tanah Jakarta, meninggalkan luka batin yang mendalam bagi Klan Kamandaka dan sebuah teka-teki besar yang akan segera memicu perburuan berdarah di seluruh penjuru kota metropolitan. 

1
Jujun Adnin
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!