NovelToon NovelToon
Dikejar Cinta CEO Galak

Dikejar Cinta CEO Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Cintapertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rifani

Lucien Scott, pengusaha muda yang menggawangi raksasa bisnis di bawah naungan GS Company, tak sadar telah jatuh cinta pada seorang gadis bernama Andrea. Sosok menggemaskan dengan sikap tegas dan terang-terangan, hadir memberikan warna baru di hidupnya yang terkontrol rapi tanpa cacat. Mencintai dengan bengis, menjadi perjalanan cinta cukup menggelitik di mata orang-orang sekitar mereka. Intrik sederhana menjadi pemanis saat keduanya mulai saling menyadari perasaan masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. ( Membuat Kekacauan )

Lucien sama sekali tak beranjak dari sisi Andrea sejak tiba di mansion. Sekarang gadis ini tengah terlelap dengan posisi memeluknya. Jejak air mata nampak masih tercetak jelas di wajahnya, membuat hati jadi terenyuh sekaligus penasaran.

(Apa yang membuatnya jadi sesedih ini? Bukankah seharusnya dia sedang bahagia setelah menerima gaji? Kenapa malah menangis?)

"Tenang saja, An. Kau tidak sendirian. Ada aku yang akan menyelesaikan semua masalahmu sampai tuntas."

Janji terikrar dengan suasana malam yang menjadi saksi. Didorong oleh rasa penasaran, Lucien memutuskan untuk menghubungi Veroz. Dia perlu tahu penyebab kenapa Andrea datang sambil menangis terisak-isak, seolah ada kejadian menyedihkan yang telah mengusik relung hati terdalamnya.

[Veroz: "Ada apa, Tuan? Ini tengah malam, harusnya tidak ada yang orang berani mengganggu jam istirahat Anda."]

"Bukan aku, tapi Andrea."

Hening dari dalam telepon. Lucien sadar telah mengganggu waktu istirahat Veroz, tapi mau bagaimana lagi. Hanya Veroz yang bisa dia andalkan sekarang.

"Andrea ada di rumahku. Dia tertidur setelah menangis cukup lama," ucap Lucien sembari mengusap bibir Andrea. Nafsunya datar, tak seperti biasa yang akan langsung bergejolak begitu melihatnya."Maaf mengganggumu, tapi aku ingin minta tolong sesuatu. Jangan khawatir, akan ku bayar mahal nanti."

[Veroz: "Tuan, kepada saya Anda tak perlu sungkan. Silahkan berikan perintah, sebisa mungkin akan saya lakukan."]

"Tolong selidiki apa saja yang terjadi di hidup Andrea selama satu minggu belakangan. Dia tiba-tiba muncul dengan kondisi yang sangat berantakan. Aku yakin ada sesuatu yang lolos dari pengamatanku. Jika memungkinkan, aku ingin segera mengetahui kebenarannya. Jika tidak, besok adalah hari terakhir untukmu memberikan jawaban!"

Setelah memberi perintah singkat, Lucien memutuskan panggilan. Dia kembali fokus ke wajah Andrea yang sembab. Antara tersihir dan iba, perlahan wajah Lucien mendekat lalu mendaratkan satu kecupan di keningnya. Tanpa nafsu.

"Aku tahu ini tak masuk akal. Namun setelah kau datang, seisi duniaku seperti dijungkir balikkan oleh keadaan. Setiap detik dan setiap saatnya wajahmu selalu memenuhi pikiran. Ingin dekat, ingin selalu melihatmu tersenyum. Tetapi malam ini tanpa ada angin ataupun hujan, kau datang kepadaku sambil menangis tersedu-sedu. Andrea, apa kau tahu betapa gilanya aku saat melihatmu begini?"

Ungkapan hati yang begitu dalam, seakan ikut merasakan apa yang tengah menimpa sang pujaan hati. Lucien berulang kali mengucapkan kata maaf karena telah lalai sehingga membuatnya bersedih.

Drtt drrttt

"Bagaimana? Apakah ada seseorang yang sengaja menyakitinya?"

[Veroz: "Tuan, saya tidak tahu apakah ini akan jadi kabar baik atau buruk."]

Dada Lucien bergemuruh. Takut mengganggu, dia pelan-pelan melepaskan pelukan Andrea lalu pindah ke dekat jendela. Raut wajahnya tenang.

"Selesaikan ucapanmu. Baik atau buruk, selama itu menyangkut Andrea maka aku berhak tahu. Kau bisa mengatakannya sekarang!" tukas Lucien dingin.

[Veroz: "Tuan, Nyonya Crystal telah memerintahkan orang untuk menculik Nona Andrea. Ini erat kaitannya dengan foto yang diambil diam-diam oleh Shike. Sebenarnya saya masih deniel apakah yang membuat Nona Andrea bersedih adalah Nyonya atau bukan Sekarang saya menunggu perintah dari Anda."]

"Oh, ternyata ini penyebabnya." Lucien menyeringai. "Tak kusangka aku begitu ceroboh sehingga melupakan keberadaan Ibu. Karena dia telah memulai lebih dulu, dengan senang hati aku akan meladeni. Kau istirahatlah, masalah ini biar aku yang selesaikan."

Panggilan selesaikan. Menatap Andrea yang sedang terlelap, Lucien melangkah keluar dari kamar. Dia lalu memanggil seorang pelayan dan memintanya menemani Andrea di dalam.

"Kalau Nona bangun, katakan aku sedang keluar sebentar!"

"Baik, Tuan."

Tengah malam di mana seharusnya menjadi waktu paling pas untuk istirahat melepas lelah, Lucien dengan ugal-ugalan mengendarai mobil menuju kediaman orang tuanya. Otot tangannya mengencang karena dia terus berusaha menekan emosi. Lucien tak mengerti kenapa ibunya bisa sampai bertindak sejauh ini. Menculik gadis yang dia sukai lalu mengintimidasinya hingga ketakutan.

(Bu, ku harap Ibu sudah menyediakan penjelasan atas masalah ini. Pertama kalinya aku tertarik pada seorang gadis, Ibu malah melukainya. Maaf kalau aku datang dengan suasana hati yang terlampau buruk. Ibu yang memantik api!)

Hampir saja security mati jantungan saat sebuah mobil tiba-tiba menabrak paksa gerbang rumah yang dia jaga. Begitu tahu siapa yang datang, security tersebut langsung membuka gerbang kemudian membungkuk memberi hormat.

"IBU!!" teriak Lucien membahana begitu mendobrak pintu utama. Dia mengabaikan raut terkejut di wajah penjaga dan pelayan yang belum tidur. "Di mana Nyonya kalian! Cepat panggilkan dia!"

Kehebohan di ruang tamu membuat tidur si empunya rumah terusik. Nyonya Crystal dan Tuan Blade saling menatap sebelum akhirnya bangun kemudian keluar menemui anak mereka yang sedang mengacau.

"Ckck! Tingkahmu seperti orang yang tidak pernah dididik saja, Lucien. Malam-malam begini apa yang kau ributkan?" tegur Tuan Blade sambil menatap putranya datar.

(Begitu marah. Siapa yang berani menyinggung tiran gila ini? Cari masalah saja)

"Ini tidak ada hubungannya dengan Ayah."

"Owh." Tuan Blade menoleh ke samping. "Kau yang menyinggungnya?"

Paham akan perangai putra semata wayangnya, Nyonya Crystal santai mengiyakan pertanyaan suaminya. Hanya saja dia tak menyangka reaksi putranya tidak secepat yang dia duga.

"Kau kalah selangkah dari Ibu, Nak. Biasanya kau dan Veroz sangat cepat membaca pergerakan orang-orang di sekitarmu. Ada apa kali ini?"

"Apa yang sudah Ibu lakukan pada Andrea?" tanya Lucien dingin. Ditatapnya galak pasangan suami istri yang sedang berpelukan di tangga. Romantis, tapi sikap mereka kadang menyebalkan. "Dia gadis pertama yang ku sukai. Jangan berani mengusiknya."

"Mengusiknya?"

Nyonya Crystal terkekeh. "Sayang, Ibu bahkan dibuat kaget oleh sikap keras kepala gadis itu. Pantas kalau kau takluk padanya. Sikapnya jauh lebih buruk darimu."

"Jangan menghinanya!"

"Oke-oke, Ibu tidak akan melakukannya lagi. Kita bicara dengan kepala dingin. Ya?"

Masih dengan ekpresi marah, Lucien mengikuti orang tuanya. Dia lalu mendudukkan bokongnya dengan kasar, tak sabar ingin segera mendengar penjelasan.

"Ada karyawanmu yang menemui Ibu lalu memberikan sebuah foto. Kau diam-diam mencuri ciuman dari seorang gadis yang sedang tidur. Ini memalukan, Lucien. Baik Ayah maupun Ibu, kami tak pernah mengajarimu melakukan hal tercela seperti itu!" tegur Nyonya Crystal. Ekpresinya galak, khas seorang ibu yang sedang memarahi anaknya. "Saat menyelidiki latar belakangnya, Ibu sempat kecewa. Akan tetapi pandangan itu berubah setelah Ibu menculiknya. Andreamu ... ternyata sangat menarik. Di hadapan Ibu dia dengan lantang melontarkan ancaman. Sama sekali tak menunjukkan reaksi terintimidasi. Begitu galak, lantang, dan penuh perhitungan. Cukup kuat untuk mengimbangi watakmu yang kelewat keras kepala."

Seulas senyum terbit di bibir Lucien saat ibunya memuji sikap Andrea. Bangga.

"It's my girl."

"Ya ya ya, itu terlihat jelas di matamu. Sekarang kau bisa pulang dengan tenang. Kami tidak akan mengganggu hubungan kalian."

"Belum selesai!" Lucien memicingkan mata. "Ibu belum menjelaskan penyebab kenapa Andrea datang padaku sambil menangis tersedu-sedu. Jangan bilang Ibu meminta seseorang untuk mengatakan hal jahat untuk menyakiti hatinya. Jika benar, aku tak keberatan menjadi malin kundang."

"Andrea ke mansionmu sambil menangis?"

Tuan Blade segera menatap sang istri tercinta dengan lembut. "Sayang, ku kira kau tidak seharusnya bertindak melewati batas. Bisa kau jelaskan?"

"Mengapa tidak?" sahut Nyonya Crystal dengan tenang. "Setelah menculik Andrea, aku belum bertemu lagi dengannya. Dan alasan kenapa dia menemui putramu sambil menangis, itu tidak ada hubungannya denganku."

Pandangan Tuan Blade beralih pada Lucien. Sepertinya anak ini sudah kecolongan.

"Informasi yang kau terima kurang lengkap. Lebih baik kau pulang dan cari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Andrea dan siapa dalang dibaliknya. Percayalah, Ayah dan Ibu paling mendukung kebahagiaanmu."

Lucien mengangguk kemudian melenggang pergi.

"Dasar anak nakal. Orang lain yang berbuat salah malah kita dilabrak. Memang kelewatan anak itu," gerutu Nyonya Crystal sembari berjalan menuju kamar. "Tapi dilihat-lihat sikapnya manis juga. Tengah malam membuat kekacauan cuma karena gadisnya bersedih hati. Jadi tak sabar menantikan kegilaannya yang lain. Hehehe,"

***

1
Fadillah Ahmad
Covernya bagus... Menarik juga... 😂😂😂

Sudah lama juga, nggk pernah baca novel dari penulis ini. 😂😂😂 Terakir tahun 2022 yang lalu dah. Waktu Di Novel "Love Story Eleanor dan Gabriele... 😂😂😂
Mak Rifani: Amiinnn m 🙏🙏
total 3 replies
❤️⃟Wᵃf🍾⃝ ͩʏᷞᴜͧᴢᷡᴀͣ.ѕ⍣⃝✰zc❖
makkkk
❤️⃟Wᵃf🍾⃝ ͩʏᷞᴜͧᴢᷡᴀͣ.ѕ⍣⃝✰zc❖ : ok mak😘
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!