Nexus Academy bukan sekolah biasa. Hanya 1% siswa terbaik yang berhasil diterima setiap tahun. Dari lebih dari 120.000 pendaftar, hanya 600 siswa yang lolos melewati serangkaian tes yang hampir mustahil: tes logika ekstrem, simulasi kepemimpinan, wawancara psikologi, ujian ketahanan mental, hingga permainan strategi yang membuat ribuan peserta menyerah sebelum mencapai gerbang sekolah.
Mereka yang diterima disebut sebagai Elite One.
Namun tidak semua yang masuk mampu bertahan.
Setiap semester, siswa dengan nilai, etika, atau mental terburuk akan dikeluarkan tanpa kesempatan kedua. Di sekolah ini, tidak ada teman yang benar-benar bisa dipercaya. Tidak ada kemenangan tanpa pengorbanan dan tidak semua siswa jenius adalah orang baik. Sebuah rahasia yang membuat beberapa alumni menghilang tanpa jejak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Asrama Putri
Di sayap barat lantai empat puluh tiga, asrama putri terasa jauh lebih kontras. Tidak ada ketegangan fisik yang eksplosif seperti di asrama putra, melainkan aura kompetisi yang terbungkus dalam etiket yang dipoles sempurna. Ruang komunal di sini didekorasi dengan nuansa monokrom yang lebih lembut, namun justru memberikan kesan klinis yang lebih tajam.
Keisya Aurellia duduk di salah satu sofa modular, tangannya memegang tablet data yang baru saja ia sinkronisasikan. Di hadapannya, Celine seorang gadis dengan tatapan waspada yang konstan sedang mengatur barang-barangnya dengan gerakan yang sangat efisien. Sementara itu, Kirana Safira tampak berdiri di dekat jendela, memandangi pantulan bayangannya sendiri dengan senyum yang tak pernah memudar, seolah sedang mempraktikkan ekspresi terbaik untuk hari esok.
Nabila, yang berada di sudut ruangan, tampak masih kesulitan beradaptasi. Ia duduk dengan bahu yang sedikit membungkuk, berusaha menjadi sekecil mungkin agar tidak menarik perhatian.
"Tatanan kamar ini sangat tidak efisien," gumam Celine memecah keheningan, matanya menatap tajam ke arah tata letak kapsul tidur. "Siapa pun yang merancang distribusi ruang ini sengaja menciptakan kepadatan agar kita terus berinteraksi. Itu adalah jebakan psikologis."
"Itu memang tujuan sistem, bukan?" Kirana menyahut dengan nada lembut yang menenangkan, namun matanya tetap awas saat ia berjalan mendekati Nabila. "Nabila, jangan terlalu tegang. Kita semua berada di kapal yang sama untuk saat ini. Setidaknya sampai besok pagi, saat sinkronisasi peringkat dimulai."
Nabila mendongak, berusaha membalas senyum Kirana, namun ia bisa merasakan ada sesuatu yang janggal dari keramahan itu. "Terima kasih, Kirana. Aku hanya... masih mencoba memproses semua aturan ini."
Keisya hanya memperhatikan percakapan itu dari balik layar tabletnya. Ia tidak tertarik ikut campur. Baginya, baik Celine maupun Kirana adalah variabel yang harus ia hitung dampaknya terhadap stabilitas posisinya sebagai peringkat kedua.
Tepat saat suasana kembali hening, pintu geser otomatis asrama terbuka. Bukan dengan suara desis pelan seperti biasa, melainkan dengan bunyi mekanis yang tegas.
Seorang gadis dengan postur tubuh tinggi, rambut diikat ke belakang dengan sempurna, dan seragam yang tampak lebih bersih dibandingkan siapa pun di ruangan itu melangkah masuk. Ia adalah Vanessa Clarissa Mahardini. Lencana di dadanya bukan sekadar NX, melainkan simbol angkatan tahun lalu yang kini ditugaskan mengawasi angkatan baru.
"Selamat malam, para Elite One," suara Vanessa jernih dan berwibawa, memotong udara seolah-olah ia baru saja memegang kendali penuh atas ruangan itu.
Ia berjalan perlahan, melewati satu per satu penghuni asrama dengan langkah yang ritmis. Saat melewati Keisya, ia sempat berhenti sejenak, menatap lencana *NX-002* milik Keisya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Namaku Vanessa Clarissa Mahardini. Kalian bisa memanggilku Ketua Asrama," lanjutnya, berhenti tepat di tengah ruangan. Ia menoleh, memberikan senyum yang begitu hangat hingga terlihat sangat tulus.
Namun, saat matanya menyapu wajah mereka, tatapannya mendadak berubah. Senyum di bibirnya tetap ada, tetapi sorot matanya sedingin es yang membeku, tidak menyiratkan kehangatan sedikit pun. Tatapan itu terasa seperti pemindai yang sedang membedah setiap ketakutan dan kelemahan yang mereka simpan di balik seragam almamater mereka.
"Senang melihat wajah-wajah baru yang penuh harapan," ucap Vanessa dengan nada yang sedikit ditahan. "Namun, aku harus mengingatkan satu hal sebelum kalian beristirahat. Di Nexus, senyum adalah barang mahal, dan keramahan sering kali menjadi bentuk sabotase yang paling efektif."
Ia melangkah mendekati Nabila, menunduk sedikit untuk menatap mata gadis itu. Nabila menahan napas, merasa seolah Vanessa sedang membaca isi pikirannya.
"Peringkat empat puluh satu hingga lima puluh biasanya menjadi yang pertama kali menghilang dari daftar," bisik Vanessa, suaranya pelan namun menusuk seperti jarum. Ia menegakkan tubuh kembali, senyum hangatnya kembali menyinari ruangan, seolah-olah kata-kata mengerikan tadi tidak pernah ia ucapkan.
"Selamat beristirahat. Pastikan pintu kapsul kalian terkunci rapat. Beberapa sistem keamanan asrama akan beroperasi secara otomatis di tengah malam untuk menguji... ketahanan kalian."
Setelah mengatakan hal itu, Vanessa berbalik dan melangkah pergi keluar asrama dengan langkah yang anggun namun mengintimidasi. Begitu pintu tertutup, suasana di dalam ruangan itu mendadak terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya. Nabila merasa bulu kuduknya berdiri, sementara Keisya hanya menutup layar tabletnya dengan satu gerakan tegas, menyadari bahwa malam ini tidak akan ada yang benar-benar bisa memejamkan mata.
...****************...
Keheningan yang ditinggalkan Vanessa terasa lebih menyesakkan daripada kehadiran gadis itu sendiri. Nabila masih membeku di posisinya, napasnya tersengal pelan. Kata-kata terakhir Vanessa tentang "tes ketahanan" di tengah malam bukan sekadar peringatan; itu adalah ancaman terselubung.
"Dia sengaja melakukannya," ucap Keisya tiba-tiba, memecah keheningan yang menyiksa. Ia berdiri, mematikan layar tabletnya dengan satu sentakan. "Vanessa bukan sedang memberi arahan. Dia sedang menguji siapa di antara kita yang akan kehilangan kendali atas emosinya malam ini. Semakin takut kalian, semakin mudah dia memetakan kelemahan kita untuk laporan ke dewan instruktur."
Celine yang sedari tadi terdiam, mulai melangkah menuju kapsulnya. Namun, ia berhenti di tengah jalan, menoleh ke arah Keisya dengan sorot mata yang penuh kalkulasi. "Kau terdengar sangat percaya diri untuk seseorang yang baru saja diancam, Keisya. Apa kau sudah punya rencana untuk menghadapi 'tes' tersebut, atau kau hanya mencoba menenangkan dirimu sendiri?"
Keisya menatap Celine dengan dingin. "Di tempat ini, rencana adalah satu-satunya barang yang bisa membuatmu tetap bernapas. Kalau kau tidak punya, mungkin sebaiknya kau mulai mencari tempat untuk bersembunyi."
Kirana Safira, yang sedari tadi berdiri di dekat jendela, akhirnya bergerak. Ia berjalan santai melintasi ruangan, senyum hangat yang sempat pudar kini kembali terpasang dengan presisi yang menakutkan. Ia berhenti tepat di samping Nabila, meletakkan tangan di pundak gadis itu dengan gerakan yang sangat terlalu lembut.
"Jangan dengarkan mereka, Nabila," ujar Kirana dengan nada rendah yang menenangkan. "Vanessa hanya menjalankan perannya sebagai pengawas. Selama kita mengikuti protokol dan menjaga stabilitas poin, tidak ada yang perlu ditakutkan. Lagipula, bukankah kita semua di sini karena kita yang terbaik?"
Nabila tidak menjawab. Ia hanya bisa merasakan sentuhan Kirana yang dingin di pundaknya. Ia sadar, di ruangan ini, tidak ada satu pun yang benar-benar bisa dipercaya. Setiap kata yang keluar dari bibir mereka adalah bagian dari strategi untuk bertahan hidup.
Saat lampu asrama meredup menjadi warna biru redup penanda dimulainya jam malam wajib setiap penghuni mulai masuk ke dalam kapsul tidur masing-masing. Nabila, yang menempati kapsul paling ujung, merebahkan tubuhnya yang terasa kaku. Sebelum pintu kapsul menutup secara otomatis, ia sempat melihat sekeliling.
Keisya, Celine, dan Kirana sudah hilang di balik pintu kapsul mereka masing-masing. Ruangan itu kini benar-benar gelap, hanya menyisakan deru pelan mesin sirkulasi udara yang terdengar seperti bisikan di telinganya.
Nabila memejamkan mata, berusaha mengosongkan pikirannya, namun bayangan tatapan Vanessa dan ancaman tentang tes ketahanan terus berputar di benaknya. Ia tidak berani memejamkan mata terlalu rapat. Di dalam kegelapan asrama putri yang megah namun mencekam ini, ia tahu bahwa setiap detik yang berlalu adalah ujian.
KLIK.
Pintu kapsulnya terkunci rapat. Sensor detak jantung di dinding kapsul mulai menyala, memberikan lampu hijau kecil yang berkedip seirama dengan detak jantungnya yang tidak beraturan. Malam pertama di Menara Akademik ini benar-benar baru saja dimulai, dan bagi mereka yang berada di sini, tidur bukanlah cara untuk beristirahat, melainkan sebuah pertaruhan nyawa.