Raymond dikenal di seluruh kampus sebagai Pangeran Kampus. Wajahnya tampan dengan sorot mata dingin yang sulit ditebak. Ia jarang berbicara, tetapi sekali bertindak, tak seorang pun berani membantah. Latar belakang keluarganya yang kaya dan berpengaruh membuat namanya selalu menjadi pusat perhatian. Namun, di balik sikapnya yang tenang dan dingin, Raymond memiliki sisi yang sangat posesif terhadap satu orang—istri rahasianya.
Angela adalah kebalikan dari Raymond. Gadis berusia delapan belas tahun itu berpenampilan tomboy, lebih nyaman mengenakan jaket dan sepatu kets daripada gaun. Rambut hitamnya selalu dikuncir satu sederhana, membuat wajah manisnya terlihat segar. Meski terlihat ceria dan mandiri, Angela tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah terikat dalam pernikahan rahasia dengan pria yang paling populer di kampus.
Di tengah halaman kampus yang dipenuhi sinar matahari dan pepohonan rindang, Raymond berdiri di belakang Angela. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Mutha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 11
Permainan akhirnya selesai setelah hampir satu jam.
Ruang keluarga yang tadi dipenuhi tawa perlahan kembali tenang.
Angela sampai memegang perutnya.
"Aduh... capek ketawa."
Raina langsung menyandarkan kepalanya ke bahu Richard.
"Sumpah, udah lama rumah nggak serame ini."
Richard mengangguk setuju.
"Iya. Biasanya kalau kumpul, yang kedengeran cuma suara TV sama Dion ngemil."
"Heh! Kok gue lagi?" protes Dion.
"Soalnya emang bener."
Semua kembali tertawa.
Mama Raymond melirik jam dinding.
"Wah, udah hampir jam sepuluh."
Angela yang ikut melihat jam langsung terkejut.
"Ya Allah... udah malam banget."
Ia buru-buru berdiri.
"Tante, Om, Nek... makasih banyak ya. Aku pamit dulu."
Nenek langsung ikut berdiri.
"Udah mau pulang?"
"Iya, Nek. Besok masih ada kelas."
Nenek mengangguk sambil menggenggam kedua tangan Angela.
"Kalau ada waktu, main lagi ke sini."
Angela tersenyum hangat.
"Pasti, Nek."
Mama Raymond ikut memeluk Angela dengan lembut.
"Hati-hati di jalan, ya."
"Iya, Tante."
Papa Raymond tersenyum ramah.
"Lain kali jangan sungkan datang."
"Siap, Om."
Raina langsung memeluk Angela dari samping.
"Kak Angela, janji ya datang lagi."
Angela terkekeh.
"Iya, janji."
Richard ikut mengulurkan tangan.
"Hati-hati. Senang akhirnya ketemu langsung."
"Senang juga bisa kenal sama kalian."
Dion melambaikan tangan sambil nyengir.
"Next kita main lagi. Tapi jangan ajak Bang Raymond jadi juri. Orangnya terlalu serius."
Raymond melirik datar.
Dion langsung mengangkat kedua tangan.
"Peace, Bang."
Semua kembali tertawa.
Raymond kemudian mengambil tas Angela yang diletakkan di sofa.
"Ayo."
Angela refleks hendak mengambil tasnya.
"Eh, biar aku bawa sendiri."
"Nggak usah."
"Ray..."
"Ayo."
Tanpa menunggu jawaban, Raymond sudah lebih dulu berjalan menuju pintu depan sambil membawa tas Angela.
Angela hanya bisa mengembuskan napas pasrah.
"Orang ini..."
Raina menyenggol lengan Richard sambil berbisik pelan.
"Tuh, kan."
Richard mengangguk.
"Fix. Abang udah bucin."
"Pelan-pelan!" bisik Mama Raymond sambil menahan tawa.
"Tapi emang iya, Ma," balas Raina lirih.
Di depan rumah, udara malam terasa sejuk.
Raymond lebih dulu membuka pintu mobil untuk Angela.
Angela menatapnya beberapa detik.
"Kamu tuh... perhatian banget."
Raymond mengangkat sebelah alis.
"Emang harusnya begitu."
"Ke semua orang?"
Raymond menggeleng pelan.
"Nggak."
"Terus...?"
Raymond menatap mata Angela beberapa saat sebelum menjawab dengan suara tenang.
"Cuma ke orang yang penting."
Jantung Angela seolah berhenti berdetak sesaat.
Belum sempat ia membalas, Raymond sudah menutup pintu mobil dengan pelan.
Selama perjalanan pulang, keduanya lebih banyak diam.
Namun, diam mereka kali ini terasa berbeda.
Bukan lagi canggung.
Melainkan nyaman.
Sesampainya di depan kontrakan, Raymond kembali turun lebih dulu.
Ia mengantar Angela sampai ke depan pagar.
"Makasih ya... buat malam ini."
"Hm."
"Salam buat semuanya."
"Nanti aku sampaikan."
Angela tersenyum.
"Selamat malam, Ray."
"Selamat malam."
Angela melangkah masuk ke dalam kontrakan.
Namun sebelum menutup pintu, ia menoleh sekali lagi.
Raymond masih berdiri di tempat yang sama.
Seolah memastikan Angela benar-benar masuk dengan aman.
Ketika pintu kontrakan akhirnya tertutup, barulah Raymond kembali ke mobilnya.
Di dalam mobil, tanpa sadar ia mengulas senyum tipis.
Senyum yang kali ini tidak disaksikan siapa pun.
Sementara itu, di sebuah sudut kampus, Clarissa menatap layar ponselnya.
Sebuah foto baru saja masuk ke grup mahasiswa.
Foto itu memperlihatkan Raymond sedang membuka pintu mobil untuk Angela di depan rumah keluarga Raymond.
Tatapan Clarissa berubah dingin.
"Jadi... kamu benar-benar sudah sejauh ini, Angela."
Ia mengepalkan ponselnya erat.
"Kalau begitu..."
"Aku juga nggak akan tinggal diam."
Di tempat yang berbeda, Angela yang baru merebahkan tubuh di kasurnya sama sekali tidak tahu...
Bahwa sejak malam ini, bukan hanya dirinya yang menjadi pusat perhatian keluarga Raymond.
Ia juga telah menjadi sasaran seseorang yang mulai menganggapnya sebagai saingan.
****
Pagi itu, Angela baru saja mengunci pintu kontrakannya.
Ia masih mengingat kejadian semalam.
Mulai dari sambutan hangat keluarga Raymond, tingkah kocak Raina dan Richard, sampai Raymond yang diam-diam terus memperhatikannya sepanjang malam.
Mengingat semua itu, tanpa sadar sudut bibir Angela terangkat.
"Halah... kenapa jadi kepikiran terus, sih?" gumamnya sambil menepuk pelan pipinya sendiri.
"Nggak boleh senyum-senyum sendiri."
Ia mengenakan helm, lalu menyalakan motornya. Beberapa menit kemudian...
Angela tiba di area parkir kampus. Belum juga sempat melepas helm, ia merasa ada yang aneh. Mahasiswa yang lewat berkali-kali melirik ke arahnya. Bahkan beberapa di antaranya langsung berbisik begitu melihatnya.
"Itu Angela."
"Iya, yang lagi dekat sama Kak Raymond."
"Dengar-dengar semalam dia makan malam di rumah keluarga Raymond."
"Serius? Kok cepat banget?" Angela yang mendengar sepenggal obrolan itu langsung menghela napas panjang.
"Ya ampun... gosip kampus emang sat-set banget."
Saat berjalan menuju gedung fakultas, Maya tiba-tiba datang sambil setengah berlari.
"ANGEEELAAA!"
Angela refleks menoleh.
"Astagaaa... kaget gue."
Maya langsung merangkul bahunya.
"Lo viral!"
"Hah?"
Maya mengangkat ponselnya.
"Lihat sendiri."
Angela mengambil ponsel itu.
Matanya langsung membulat.
Di grup mahasiswa, beredar sebuah foto saat Raymond membukakan pintu mobil untuknya semalam.
Di bawah foto itu, komentar sudah ratusan.
«'Fix, calon pacar Raymond.'»
«'Ini cewek pertama yang dibawa ke rumah keluarga Raymond, katanya.'»
«'Clarissa auto patah hati.'»
«'Kapan nikahnya?'»
Angela langsung memejamkan mata.
"Ya Allah..." Maya malah ngakak.
"Hahaha... selamat ya, Bu."
"Bu apaan?"
"Calon Nyonya Raymond." Angela menyikut lengan sahabatnya pelan.
"Ih, ngaco!" Mereka masih bercanda ketika suasana koridor mendadak berubah hening.
Tok... tok... tok...
Suara langkah kaki yang tenang terdengar mendekat.
Tanpa perlu menoleh pun Angela sudah tahu siapa yang datang.
"Raymond..." gumam beberapa mahasiswa.
Raymond berjalan seperti biasa. Wajahnya tetap datar. Tangannya dimasukkan ke saku celana.
Namun...
Alih-alih melewati Angela, ia justru berhenti tepat di depannya.
"Selamat pagi." Angela tersenyum kecil.
"Pagi."
Raymond memperhatikan wajah Angela beberapa detik.
"Kamu kurang tidur?" Angela berkedip.
"Hah?"
"Ada lingkar hitam di bawah matamu."
Angela refleks menyentuh bawah matanya.
"Masa?"
"Mungkin semalam kebanyakan mikirin seseorang." Suara jahil Raina seolah terngiang di kepala Angela, membuat pipinya langsung memerah.
"Nggak kok... cuma tidur agak malam."
Raymond mengangguk pelan.
"Sarapan?"
"Udah."
"Yakin?"
"Iya."
Raymond masih menatapnya sejenak, memastikan Angela tidak berbohong.
Barulah ia mengangguk.
"Bagus."
Seluruh mahasiswa yang melihat interaksi singkat itu hanya bisa saling pandang.
"Buset..."
"Ditanyain udah sarapan."
"Perhatian banget."
"Tolong ya... kita masih jomblo."
Angela langsung berbisik pelan.
"Ray..."
"Hm?"
"Semua orang lagi lihat."
Raymond menoleh sekilas ke arah mahasiswa yang langsung pura-pura sibuk sendiri. Lalu ia kembali menatap Angela.
"Biarin."
Jawaban santainya justru membuat bisik-bisik di sekitar mereka semakin ramai.
Sementara itu...
Di ujung koridor, Clarissa berdiri memandangi keduanya dengan rahang mengeras.
Tatapannya dingin.
"Angela... sepertinya aku memang harus mulai bergerak."
****
Bel masuk berbunyi nyaring.
"Teeet...!"
Mahasiswa yang masih memenuhi koridor mulai bergegas masuk ke kelas masing-masing.
Angela dan Maya baru saja akan melangkah ketika sebuah suara lembut memanggil dari belakang.
"Angela."
Angela menoleh.
"Oh... Clarissa."
Clarissa berjalan menghampiri dengan senyum yang sama seperti biasanya. Wajahnya tenang, membuat siapa pun sulit menebak apa yang sedang dipikirkannya.
"Boleh ngobrol sebentar?"
Angela melirik Maya.
"Boleh."
Maya mengangguk pelan.
"Gue masuk duluan, ya."
"Iya."
Setelah Maya masuk ke kelas, hanya tinggal Angela dan Clarissa di koridor.
Suasana mendadak terasa lebih sepi.
Clarissa mengulas senyum tipis.
"Aku cuma mau bilang... selamat."
Angela mengernyit.
"Selamat?"
"Iya."
"Kamu sekarang lagi jadi orang paling terkenal di kampus." Angela terkekeh canggung.
"Ah... jangan bercanda."
"Aku serius."
Clarissa menyandarkan tubuhnya ke pagar koridor.
"Gimana rasanya?"
"Rasanya..." Angela mengembuskan napas pelan. "Capek."
"Hm?"
"Jujur aja, aku nggak nyaman jadi bahan omongan." Clarissa memperhatikan wajah Angela beberapa saat. Ia bisa melihat kalau jawaban itu tulus.
"Jadi dia memang nggak mencari perhatian?" batinnya.
Namun sedetik kemudian, pikirannya kembali dipenuhi rasa iri.
"Tetap aja... semua perhatian itu datang ke dia." Clarissa kembali tersenyum.
"Kalau boleh kasih saran..."
"Boleh."
"Hati-hati." Angela mengernyit lagi.
"Hati-hati?"
"Raymond itu orang yang sangat terkenal di kampus." Angela mengangguk pelan.
"Aku tahu."
"Setiap langkahnya selalu diperhatikan."
Clarissa berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lembut.
"Kalau kamu terlalu dekat sama dia..."
"..."
"...kamu juga bakal terus jadi sasaran omongan orang."
Angela terdiam. Ucapan itu bukan sesuatu yang baru. Ia sudah merasakannya sejak beberapa hari terakhir. Clarissa menatap Angela dalam-dalam.
"Aku cuma nggak mau kamu terluka."
Kalimat itu terdengar seperti bentuk perhatian.
Padahal...
Di balik senyumnya, Clarissa sedang mengamati setiap perubahan ekspresi Angela.
"Kalau dia mulai menjaga jarak dari Raymond..."
"Berarti langkah pertamaku berhasil."
Angela tersenyum kecil.
"Makasih ya udah ngingetin."
"Tapi..."
Clarissa menunggu kelanjutan kalimat itu.
"Aku nggak bisa ngatur omongan orang."
Clarissa terdiam.
"Kalau aku menjauh cuma karena takut digosipin..."
"..."
"...rasanya itu nggak adil buat Raymond."
Untuk pertama kalinya, senyum Clarissa sedikit memudar. Angela melanjutkan dengan nada tenang.
"Raymond nggak pernah melakukan hal yang bikin aku nggak nyaman."
"Dia juga selalu menghargai aku."
"Jadi... aku nggak punya alasan buat menjauhinya." Clarissa mengepalkan jemarinya di balik buku yang dipeluknya.
"Dia mulai membela Raymond..."
Entah kenapa, kalimat sederhana itu terasa seperti kekalahan kecil baginya.
Namun ia tetap mempertahankan senyumnya.
"Aku senang kalau begitu." Bel kedua kembali berbunyi.
"Sepertinya dosen sudah datang."
Angela mengangguk.
"Iya. Aku masuk dulu ya."
"Oke."
Angela tersenyum ramah sebelum masuk ke dalam kelas. Begitu pintu kelas tertutup...
Senyum Clarissa perlahan menghilang.
Tatapannya berubah dingin.
"Ternyata lebih sulit dari yang kupikir."
"Kalau kata-kata halus nggak berhasil..."
"Berarti aku harus mencari cara lain."
Ia membalikkan badan dan berjalan menyusuri koridor. Di kejauhan, tanpa ia sadari, Kevin sempat melihat pertemuan singkat itu.
Kevin mengernyit.
"Rio."
"Hm?"
"Perasaan gue nggak enak."
Rio mengikuti arah pandang Kevin.
"Kenapa?"
"Clarissa barusan ngobrol sama Angela."
Rio menghela napas pelan.
"Mudah-mudahan aja gue salah..."
"Tapi kayaknya... bakal ada masalah."
***
Bel kuliah siang akhirnya berbunyi.
Mahasiswa mulai berhamburan keluar dari kelas masing-masing.
Angela dan Maya baru saja melangkah ke koridor ketika seseorang berdiri menghadang mereka.
Raymond.
Seperti biasa, wajahnya tetap tenang dengan tas olahraga yang disampirkan di bahu.
Beberapa mahasiswa yang lewat langsung memperlambat langkah.
"Eh, Raymond."
"Mau nyari Angela lagi?"
"Fix, pasti buat nganter."
Angela yang sadar banyak pasang mata mulai memperhatikan mereka langsung mendesah pelan.
"Kenapa sih orang ini selalu muncul di tempat rame..."
"Ray," sapa Angela sambil mendekat. "Ada apa?"
"Aku latihan basket."
Angela mengangguk.
"Oh... semangat, ya."
Raymond tetap berdiri di tempat.
"Nonton."
Angela berkedip.
"...Apa?"
"Temenin aku latihan."
Angela melongo beberapa detik.
Lalu refleks menunjuk dirinya sendiri.
"Aku?"
"Iya."
Angela langsung menoleh ke kanan dan kiri.
Benar saja.
Mahasiswa yang tadinya cuma lewat sekarang malah sengaja memperlambat langkah. Ada yang pura-pura main ponsel, ada yang pura-pura ngobrol, padahal telinganya jelas menguping.
Angela langsung menarik pelan lengan kemeja Raymond.
"Ray... sini bentar."
Raymond menurut begitu saja.
Angela menyeretnya beberapa langkah menjauh dari keramaian.
"Ada apa?" tanya Raymond polos.
Angela menatapnya gemas.
"Kamu tuh ya..."
"Hm?"
"Kalau ngajak orang jangan di tengah koridor begini!"
"Kenapa?"
"Karena semua orang denger!"
Raymond menoleh sekilas ke arah mahasiswa yang buru-buru berpura-pura sibuk.
"Lho, memang mereka dengar." Angela sampai mengusap wajahnya sendiri.
"Iya! Itu masalahnya!" Raymond mengernyit.
"Kenapa jadi masalah?" Angela mengembuskan napas panjang.
"Besok gosipnya pasti makin aneh-aneh."
Raymond tetap tenang.
"Biarkan."
"Biarin apanya? Yang digosipin bukan cuma kamu, tapi aku juga!" Raymond menatap Angela beberapa saat. Sorot matanya sedikit melunak.
"Aku nggak suka kamu jadi bahan omongan."
Angela sedikit terdiam.
"Tapi..."
"...aku memang ingin kamu datang."
Nada bicaranya tetap pelan.
Tanpa dibuat-buat.
Justru karena terdengar begitu tulus, Angela jadi kehilangan amunisi untuk membalas.
"Ih..."
Angela menggigit bibir bawahnya pelan sambil membuang muka.
"Kenapa sih orang ini kalau ngomong selalu bikin susah nolak?" Raymond kembali bertanya.
"Datang?" Angela mendesah panjang.
"Aku tuh nggak ngerti basket."
"Nggak apa."
"Nanti aku bengong."
"Aku jelasin."
Angela langsung menatap Raymond.
"Kamu?"
"Iya."
"Lagi latihan, gimana mau jelasin?"
"Nanti sebelum mulai."
Angela spontan memegang dahinya.
"Ya ampun..."
Maya yang sedari tadi menyaksikan percakapan mereka sampai harus memalingkan wajah karena menahan tawa.
"Ya Tuhan... Kak Raymond nggak nembak, tapi tiap ngomong bikin orang salting."
Angela kembali menatap Raymond dengan wajah pasrah.
"Kamu sadar nggak sih..."
"Sadar apa?"
"...permintaan kamu itu susah ditolak."
"Berarti datang?"
Angela langsung mendelik.
"Nah! Kok ujung-ujungnya ke situ lagi?"
Raymond mengangguk pelan.
"Iya."
Angela menghela napas panjang, lalu menunjuk Raymond dengan jari telunjuknya.
"Kamu tunggu ya."
"Hm?"
"Kalau nanti aku jadi bahan gosip satu kampus lagi..."
Angela menyipitkan mata pura-pura kesal.
"...pokoknya kamu yang tanggung jawab."
Raymond mengangguk tanpa ragu sedikit pun.
"Iya."
Jawaban singkat itu justru membuat Angela makin gemas.
"Kok 'iya' aja, sih?"
"Soalnya memang aku yang ngajak."
Angela hanya bisa menutup wajahnya sambil menggeleng-geleng kepala.
"Ya ampun... orang ini bener-bener nggak ada obat."
Melihat ekspresi pasrah Angela, untuk sesaat senyum tipis muncul di wajah Raymond.
"Oke."
Angela mendesah untuk terakhir kalinya.
"Iya, iya... nanti aku datang."
"Hm."
Raymond mengangguk puas.
"Sampai ketemu di lapangan."
Setelah Raymond pergi, Maya langsung menepuk bahu Angela.
"Gimana?"
Angela memejamkan mata sambil mengembuskan napas panjang.
"Gue baru sadar..."
"Sadar apa?"
"Yang paling bahaya dari Raymond itu bukan wajah gantengnya."
"Terus?"
Angela menatap Maya dengan ekspresi pasrah.
"Dia minta sesuatu pakai muka datar..."
"...tapi bikin orang nggak bisa nolak."
Maya langsung tertawa sampai memegangi perutnya.
"Selamat, Ang."
"Hah?"
"Lo udah mulai kebalikan."
"Kebalikan apaan?"
"Bukannya Kak Raymond yang bucin..."
"...kayaknya bentar lagi giliran lo."
kalau bisa up nya di tambahin
padahal seru kenapa sepi komen nan y