NovelToon NovelToon
Retrouvailles

Retrouvailles

Status: tamat
Genre:Contest / Ketos / Nikahmuda / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Net Profit

📢📢 WELCOME DI AREA BAWANG GORENG😭😭

Kamiya Maulida harus merelakan kebahagiaan yang selama ini ia bangun hancur, demi mewujudkan wasiat terakhir sang ibu. Tahun ke tahun ia berusaha menghapus semua kenangan indah yang makin lama nampak semakin nyata. Bahkan sosok sempurna di depan matanya tak bisa menggantikan satu nama yang tetap tersimpan apik di hati.

"Gue nggak pernah pengen lu pergi, Mi. Tapi kalo lu nggak percaya sama kebahagiaan yang gue tawarin lu boleh pergi. pergilah, gue tetep di sini. tapi jika suatu saat lu kembali, gue pastiin perasaan ini bukan buat lu lagi. gue pastiin nggak akan ada 'kita' lagi." Ardi Rahardian.

"Aku dan kamu pernah bersama, bahagia. Berada di fase dunia milik berdua, yang lain ngontrak. Karena suatu hal aku pergi, membiarkanmu merasakan ditinggal pas sayang-sayangnya. Jika kini aku kembali, bisakah kamu dan aku menjadi kita?" Kamiya Maulida.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Empat Belas

Masih di flashback

Pagi ini seperti biasa Ardi selalu mengirim ucapan selamat pagi pada gadis yang baru lima jam lalu masih bertukar chat dengannya sebelum akhirnya ia tak membalas pesan terakhir Miya karena ketiduran.

“Pagi kesayangannya Ardi. Hari ini ngampus tanpa lu pasti nggak asik banget.”

Satu menit...

Dua menit...

Lima menit... masih tak ada tanda-tanda pesan telah dibaca. Ardi memutuskan untuk bersiap-siap ke kampus. Dia kembali memeriksa ponselnya setelah mandi dan berpakaian rapi, melihat apakah sudah ada balasan atau belum dari Miya. Sudah setengah jam berlalu tapi tak kunjung ada balasan. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menelpon Miya.

Sudah tiga kali ia melakukan panggilan tapi tak pernah ada jawaban dari ujung sana, baru pada panggilan keempat ada jawaban dari seberang sana. Suara lelaki yang tak ia kenali. ia pun segera mengintrogasi si lelaki penjawab telepon, takut terjadi hal yamg buru dengan Miya. dari mulai pertanyaan 'siapa' hingga 'kenaoa bisa ponsel Miya ada di lu' reflek terucap. tapi tanpa basa-basi suara diujung sana mengatakan jika Miya sedang tak bisa menerima panggilan karena sang ibu yang meninggal.

Sempat tak percaya Ardi kembali mengomel, mengira orang di seberang sana sedang membohonginya. hingga akhirnya ia bisa mendengar suara tangis Miya.

Mendengar kabar itu Ardi lantas mematikan ponselnya dan bergegas keluar kamar untuk memberitahu keluarganya.

“Fre kita harus ke Jogja sekarang!” ucapnya pada Freya yang sedang menyuapi Retha.

”Ngapain? Gue kan baru dari sana seminggu yang lalu. Lu udah kangen sama Miya? Sehari juga belum Di.” Jawab Freya asal.

“Ibunya Miya meninggal Fre.” jawab Ardi.

"serius lu jangan bercanda?" tanya Freya.

“Apa?” teriak bunda Mira yang baru saja keluar dari dapur.

"Gue serius Fre. mana ada orang bercanda kayak gitu. gue masih waras." jawab Ardi sewot.

“Bun, aku pamit ke Jogja sekarang.” Pamit Ardi.

"Bunda ikut Di."

“Lu mau bawa mobil ke Jogja? Paling lu nyampe sore.” Ujar Arka yang sejak tadi duduk di samping istri yang sedang menyuapi putrinya.

“Udah gue pesenin tiket pesawat. Lebih cepet sampenya. Kita kesana bareng-bareng.” Imbuh Arka.

“Makasih Kak. Lu the best.” Ucap Ardi sambil menepuk pundak sang kakak, kemudian kembali ke kamar untuk memasukan beberapa pakaian yang akan ia bawa.

Setelah selesai dengan semua persiapan mereka bertolak menuju bandara. Perjalanan tiga jam terasa sangat lama bagi seorang Ardi. Dia ingin segera tiba di rumah Miya dan menemani gadis yang pasti sangat terpuruk saat ini.

“Sayang, gue tau lu pasti kuat ngadepin semua ini.” Gumamnya.

Pukul sepuluh menjelang siang mereka tiba di Jogja, Ardi tanpa istirahat langsung menuju rumah Miya bersama Bunda Mira. Sementara Arka dan Freya memilih menuju rumah Mama Ratna terlebih dahulu supaya Retha bisa istirahat.

Rumah minimalis dengan nuansa coklat itu ramai oleh orang-orang yang mengenakan pakaian serba hitam. Berdera kuning tertancap di samping gerbang yang terbuka. Jajaran karangan bunga dengan tulisan turut berbela sungkawa dan berbagai ucapan duka cita memenuhi halaman yang cukup luas.

Tak pernah terpikirkan sedikit pun jika Ardi akan mengunjungi rumah Miya pada suasana duka seperti ini. Bahkan kini dirinya tak punya kesempatan untuk mengenal sosok ibu yang telah menghadirkan gadis yang membuat hari-harinya lebih berwarna dan bahagia.

Bersama Bunda Mira, Ardi berjalan beriringan sambil menyalami orang-orang yang yang hadir di sana. Sejak tadi tatapannya beredar ke setiap sudut tempat mencari Miya, hingga akhirnya ia melihat wajah pemilik hatinya sedang dirangkul oleh seorang wanita paruh baya. Ini kali pertama Ardi melihat Miya begitu sedih. Dengan air mata yang terus menetes dan tatapan kosong tanpa asa. Matanya sembab, tersirat kesedihan yang tak terdefinisikan di wajah ayu itu.

Berulang kali wanita paruh baya itu megahapus air mata Miya seraya berbicara di teliga gadis itu, sepertinya sedang mencoba membuat Miya ikhlas dengan keadaan saat ini. Ardi ingin sekali menghampiri Miya dan merengkuh gadis yang sedang menangis itu ke dalam pelukannya tapi ia harus sabar menunggu hingga keranda yang membawa jenazah ibu Miya masuk ke dalam ambulan, pasalnya saat ini salah seorang kyai sedang memberikan sambutan pelepasan jenazah sebelum di bawa ke pemakaman.

Setelah jenazah di bawa oleh ambulan, Ardi menghampiri Miya yang hendak masuk ke dalam mobil bersama Tante Wilona dan Wildan.

“Sayang...” panggil Ardi seraya merangkul gadis itu dari belakang.

“Ardi... ibu...” Miya kembali menangis dalam pelukan Ardi.

“Gue tau ini berat buat lu yang. Tapi gue tau lu kuat. Lu harus ikhlas.” Ucap Ardi.

“Gue udah nggak punya siapa-siapa lagi Di.” Jawab Miya semakin terisak.

“Lu masih punya gue Mi.” Balas Ardi.

“Masih ada Bunda juga sayang.” Imbuh Mira sambil menepuk pelan punggung gadis yang masih berada di dekapan putranya.

“Biar Miya ke pemakamannya dengan saya saja Bu.” Ucap Bunda Mira penuh sopan santun pada Tante Wilona. Wanita paruh baya itu mengangguk dan masuk ke dalam mobil.

Selama prosesi pemakaman Miya tak henti-hentinya menangis. Bahkan saat ini ia tak mau beranjak meninggalkan kuburan ibunya meski satu-persatu pelayat sudah pergi hanya menyisakan Ardi, Wildan, Bunda Mira dan Tante Wilona.

“Kamiya Maulida gue tau lu kuat. Lu harus ikhlas supaya ibu lu tenang di sana.” Ucap Ardi lirih. Sejak tadi ia selalu berdiri di samping Miya. Berulang kali merengkuh dan menghapus air mata gadis yang ia cintai.

“Gue tau ini berat. Tapi semua orang pasti ngalamin. Cuma waktunya aja yang beda. yang perlu lu lakuin sekarang mendoakan yang terbaik buat ibu”

“dan jangan pernah ngerasa sendiri, karena lu masih punya gue Mi”

“Makasih selalu ada buat gue Di.”

“Sama-sama sayang. Sekarang kita kirim doa buat ibu.” Miya mengangguk setuju.

“Sayang ayo pulang. Ibu kamu udah bahagia di sana. Kamu harus ikhlas.” Ujar tante Wilona.

“Aku masih mau di sini Tan. Tante duluan aja.” Jawabnya sambil terisak.

“Tante temenin kamu di sini.” Pungkas Wilona.

Mereka berenam masih berjongkok di sekeliling makam. memandangi gundukan tanah bertabur bunga setelah membacakan surat yaasin untuk almarhumah. Miya sudah tak meratapi nasibnya lagi. Kali ini gadis itu hanya diam membisu sambil menatap nisan sang ibu, sesekali lelehan air mata membasahi pipinya. Definisi sedih yang sesedih-sedihnya hingga tak ada lagi suara tangis yang terdengar. Gadis itu menangis dalam diam hingga akhirnya ia merasa segalanya gelap, tak sadarkan diri.

.

.

.

Tinggalkan jejak like dan komentarnya!

1
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Jesi di suruh ke rmh tuh buat ngejelasin boar miya ga slh phm lg tp malah bikin huru hara baru, dasar somplakk.😆
Alfi Alfi
Luar biasa
Irni Yusnita
baru baca kayaknya bagus ceritanya Thor bukannya ceritamu selalu ok👍
Fina Fitriani
makinnn seruuuu... tp sayang harusnya aku bacanya urutan ya dr ortunya eh ini aku baca pas udh baca cerita Jesi sama anaknya ArMi... gak apa2 deh yg penting seruuuuu... lanjut ah baca kisah Ridwan dan renatha .....cus.....
Muliana
Luar biasa
N Wage
semua karya2 kak net gak ada yg gak bagus.
semuanya👍👍👍👍👍
N Wage
baca utk yg ke 2 kali
ALIKA🥰🥰CHEN ZHE YUAN.LIN YI
seson 3 ardi rahardian .kamiya.adik arkana .
Dina Marliana
Suami mana suami,......arghhhhhh😅🤭
Dina Marliana
lailahailaallah,....thorrrr nanggung panjangin dikit napah part nya wkwkwk😁🤭
Dina Marliana
yaa elahh thorrr lagi nanggung juga 😅😂🤭
Dina Marliana
tuh kn jadi🤭jadi ikutan seneng juga🤗
Dina Marliana
berharap cuma ngeprank ni si tante-tante😭😭
Dina Marliana
Mmm,... jodohnya Wildan datang😏
Dina Marliana
,👣👣👣👣👣👣😁
Dina Marliana
belum baca yg cerita nya Ardi sama miya gass keunnnn 👍👍😁
aisyah
kisah terberat yg ditulis kak net
aisyah: aq baca ulang semua cerita kak net
total 3 replies
aisyah
aku ikut mewek lagi😭
Fikha Clara
👍
Ratna Nanda Juwita
aku lebih dl bca kisahnya jesi dri pd kisah nya freya arka,miya ardi sama kaleng dirga...jd ky flas back jatohnya.tp ttp seru...lanjut lg kk othor....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!