NovelToon NovelToon
CEO Tengil VS Sekertaris Bar-bar

CEO Tengil VS Sekertaris Bar-bar

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia / Tamat
Popularitas:418.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Eli Priwanti

Memasuki bangku kuliah dengan penampilan cupunya, membuat Ananda Ayunindia menjadi target empuk perundungan oleh Tristan Bratadikara dan komplotannya. Tak sekadar dibully, Ananda bahkan dijadikan bahan taruhan hingga berujung kehamilan. Hancur dan trauma, ia terpaksa melepas beasiswanya dan pergi menghilang.

Enam tahun berlalu. Ananda yang kini telah lulus kuliah dan menetap di Bandung, berhasil diterima bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan raksasa di Jakarta. Demi masa depan putra kecilnya dan sang ibu yang sudah renta, Ananda terpaksa kembali ke kota penuh memori kelam tersebut.

Siapa sangka, pimpinan tertinggi di perusahaan baru tempatnya bekerja adalah Tristan Bratadikara, pria yang dahulu menghancurkan hidupnya. Namun, Ananda yang sekarang bukan lagi gadis cupu yang bisa ditindas, ia telah bermetamorfosis menjadi wanita yang cantik, energik, dan pemberani. Akankah Tristan mengenali korbannya di masa lalu, atau justru bertekuk lutut pada sosok Ananda yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8

Pintu ruang rapat yang megah itu tertutup rapat, mengunci atmosfer di dalamnya yang mendadak berubah menjadi sangat mencekam. Di sekeliling meja oval yang besar, para kepala divisi duduk dengan tubuh tegang dan wajah yang pucat pasi. Beberapa dari mereka berulang kali menyeka keringat dingin di dahi. Mereka semua tahu betul reputasi Tristan Bratadikara, salah sedikit dalam menyusun laporan atau gagal menjawab pertanyaannya, taruhannya adalah makian di depan umum, atau bahkan pemecatan langsung hari itu juga tanpa ampun.

Satu per satu kepala divisi mulai maju ke depan, memaparkan hasil akhir pencapaian bulanan mereka dengan suara yang sedikit bergetar.

Ananda yang duduk di sebelah kursi Tristan, bertugas mencatat catatan dan mengoperasikan laptop, memperhatikan jalannya rapat dengan saksama. Melihat bagaimana semua orang di ruangan ini tunduk dan gemetar di hadapan Tristan, ingatan Ananda mendadak terlempar ke masa kuliahnya enam tahun lalu. Dulu, Tristan adalah monster yang ditakuti di seluruh area kampus. Jangankan mahasiswa, bahkan para dosen pun tidak ada yang berani berkutik atau menegur ulah ugal-ugalannya karena pengaruh besar keluarganya.

‘Rupanya sifat tengil, congak, dan menyebalkan itu memang sudah mendarah daging di dalam tubuhnya. Hanya saja, Tristan yang sekarang versinya jauh lebih dingin dan berwibawa, yang justru membuatnya berkali-kali lipat lebih berbahaya,’ batin Ananda, menatap sinis ke arah Tristan dari samping.

Rapat berjalan lancar sampai giliran Divisi Pemasaran yang maju. Begitu slide presentasi ditampilkan, sorot mata Tristan yang semula datar langsung berubah menjadi setajam silet. Baru setengah presentasi berjalan, Tristan mengangkat tangan kanannya, menghentikan penjelasan secara mutlak.

"Cukup," potong Tristan. Suaranya tidak keras, namun gaungnya yang dingin sanggup membuat bulu kuduk semua orang meremang.

Tristan menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, menatap tajam ke arah Pak Jayadi, selaku kepala divisi pemasaran yang kini sudah berdiri mematung di depan layar.

"Jadi, ini yang Divisi Pemasaran siapkan selama sebulan penuh? Konsep promosi seperti ini?" Tristan terkekeh sinis, sebuah tawa meremehkan yang menyakitkan hati. "Ini terlalu kuno! Kalian mempromosikan properti mewah miliaran rupiah milik Bratadikara Group seperti sedang menjual perumahan bersubsidi di pinggiran kota. Di mana otak kreatif kalian?"

Pak Jayadi menelan ludah dengan susah payah, wajahnya memerah menahan malu sekaligus takut. "M...maaf, Tuan Tristan. Tapi menurut analisis pasar kami, konsep konvensional ini masih efektif untuk... "

Brak!

Tristan melemparkan bolpoin mahalnya ke atas meja hingga menimbulkan suara benturan yang keras. Pak Jayadi langsung bungkam, tidak berani melanjutkan kalimatnya.

"Aku tidak butuh alasan kuno seperti itu, Pak Jayadi! Yang aku butuhkan adalah hasil dan profit!" cecar Tristan dengan nada menuntut yang kejam. "Dengar baik-baik. Aku beri waktu satu bulan lagi. Jika sampai bulan depan kalian masih memakai konsep sampah seperti ini dan gagal menaikkan pendapatan perusahaan dari sektor pemasaran, Anda beserta seluruh staf di divisi Anda silakan angkat kaki dari gedung ini. Dan ingat, bersiap-siaplah dipecat tanpa pesangon sepeser pun!"

Seluruh ruangan seketika senyap. Keputusan dari seorang Tristan Bratadikara ini sungguh gila dan tidak masuk akal. Dia benar-benar bertindak seperti pria kejam yang tidak memiliki hati nurani dan empati terhadap nasib para karyawannya yang sudah berkeluarga.

Melihat pemandangan yang begitu sewenang-wenang dan menindas itu tepat di depan matanya, Ananda tidak bisa lagi menahan rasa jengkelnya. Ia menghembuskan napasnya secara kasar, membiarkan suara helaan napas sinisnya terdengar cukup jelas di sebelah Tristan sebagai bentuk protes diam-diam atas kelakuan sang bos yang luar biasa egois.

Akhirnya, rapat bulanan yang menegangkan itu selesai juga. Tristan merasa cukup puas dengan hasil laporan dari divisi lain, terkecuali divisi pemasaran yang masih membuatnya jengkel. Tanpa sepatah kata pun sebagai penutup, ia langsung beranjak dari kursi kebesarannya dan melangkah lebar meninggalkan ruang rapat, disusul oleh Kevin yang berjalan cepat di belakangnya.

Begitu pintu ruang rapat tertutup dari luar, terdengar suara helaan napas lega yang kompak dari para kepala divisi. Seolah beban seberat berton-ton baru saja diangkat dari pundak mereka. Sang monster perusahaan akhirnya angkat kaki.

Ananda bisa merasakan dengan jelas atmosfer kelegaan itu. Saat ia sedang sibuk merapikan dokumen penting yang sempat berceceran di atas meja, Riska melangkah mendekat dengan raut wajah penuh simpati.

"Na, bagaimana bisa kamu bertahan bekerja dengan si Bos Monster itu? Pasti kamu mengalami banyak tekanan batin, ya?" bisik Riska pelan. "Oh ya, maaf banget ya soal laporan keuangan yang kemarin. Sempat ada kesalahan internal dari tim kami, tapi malah kamu yang terkena semprot di hari pertama."

Ananda tersenyum tipis, menggelengkan kepalanya. "Ya mau bagaimana lagi, Mbak. Mau tidak mau harus aku jalani bekerja dengan pimpinan menyebalkan seperti itu demi profesionalitas."

"Kamu harus kuat, Ananda. Aku pun tidak menyangka Bos kita itu semenyeramkan itu. Ternyata omongan para senior lainnya benar, Pak Tristan itu CEO yang kejam!" ujar Riska bergidik ngeri.

Mendengar perkataan Riska, Ananda sempat terkejut. "Lho, Mbak Riska sendiri sudah berapa lama bekerja di sini?"

"Aku baru satu bulan di sini, Na. Makanya tadi pas Pak Jayadi dimaki-maki, jantungku rasanya mau copot," ucap Riska jujur.

Ananda mengangguk paham. Ternyata Riska juga masih tergolong karyawan baru. Setelah semua berkas rapi di dalam pelukannya, Ananda bersiap untuk kembali ke meja kerjanya.

"Ananda, nanti makan siang kita barengan, yuk, di kantin!" seru Riska sebelum Ananda melangkah keluar.

Ananda menoleh, lalu mengangkat satu jempolnya ke atas sebagai tanda setuju, menyunggingkan senyum tulus yang membuat wajah cantiknya semakin menawan.

Setibanya di meja kerja, Ananda merapikan kembali dokumen-dokumen penting itu ke tempat semula. Baru saja ia mendudukkan diri dan berniat menghela napas untuk beristirahat sejenak, suara nyaring dari interkom di mejanya berbunyi.

Bzzz...

"Cepat ke ruangan ku, sekarang!" Perintah suara bariton di seberang sana, terdengar mutlak tanpa mau dibantah.

Ananda mendengus pelan. Dengan sisa tenaga yang ada, ia bangkit dan melangkah menuju ruangan bosnya. Begitu ia membuka pintu, tampak Tristan sedang duduk tegak sambil berkutat serius di depan layar laptopnya. Di dekat meja, Kevin berdiri tegak.

"Kevin, kau boleh keluar sekarang," perintah Tristan tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.

"Baik, Tuan." Kevin berbalik untuk keluar. Saat berpapasan dengan Ananda, Kevin menatapnya sambil tersenyum getir, sebuah senyuman penuh simpati yang langsung menerbitkan tanda tanya di kepala Ananda.

'Apakah ada masalah lagi? Kenapa wajah Kevin seperti itu?' batinnya waswas.

Setelah pintu tertutup dan menyisakan mereka berdua, keheningan sempat merayap selama beberapa detik.

"Duduk...!" Perintah Tristan tegas, matanya masih fokus menatap layar di hadapannya.

Ananda melangkah maju, lalu duduk di kursi depan meja Tristan. Meski tubuhnya terasa kaku dan ada sedikit rasa gugup yang memicu traumanya, Ananda berusaha sekuat tenaga untuk tampil setenang dan seprofesional mungkin.

"Kalau boleh saya tahu, apa yang membuat Tuan Tristan memanggil saya ke sini?" tanya Ananda dengan nada suara yang terkontrol dengan baik.

Tristan akhirnya menutup laptopnya, lalu melipat kedua tangannya di atas meja, menatap Ananda lurus-lurus. "Temani aku makan siang bersama klien penting besok, dan kau catat semua hal penting yang aku perintahkan selama pertemuan."

Ananda seketika merasa kesal dalam hati. Mengetahui fakta bahwa jam istirahatnya besok harus dihabiskan bersama pria menyebalkan di hadapannya ini benar-benar merusak suasana hatinya. Karena rasa jengkel yang tertahan, Ananda malah diam mematung tanpa memberikan jawaban, membuat Tristan menyipitkan mata dan menyorotnya dengan tatapan tajam.

"Kenapa kau malah diam, Hah?" gertak Tristan, suaranya meninggi. "Kalau kau tidak suka dengan caraku memimpin, silakan angkat kaki dari perusahaan ini sekarang juga! Masih banyak orang yang jauh lebih baik darimu yang mengantri membutuhkan pekerjaan ini!"

Mendengar ancaman telak yang meremehkan itu, harga diri Ananda berontak. Ia tidak akan membiarkan pria ini menginjak-injaknya lagi dengan kekuasaan. Ananda menegakkan punggungnya, menatap balik mata tajam Tristan tanpa ada keraguan sedikit pun.

"Baik, Tuan. Anda tenang saja, saya tidak akan mengeluh. Karena waktu saya di jam kerja saat ini adalah milik Anda dan milik perusahaan," jawab Ananda dengan penekanan yang tegas dan berani. "Namun ingat, Tuan... asalkan di luar jam kerja, Anda tidak bisa seenaknya memerintah saya untuk urusan apa pun."

Deg!

Mendengar penjelasan yang begitu lugas, berani, dan tanpa rasa takut dari mulut sekretaris barunya, Tristan seketika tertegun. Kalimat ancamannya yang biasanya sanggup membuat orang gemetar, justru dibalikkan dengan begitu cerdas oleh wanita di hadapannya.

Tristan menatap lekat-lekat wajah cantik Ananda yang memancarkan aura keteguhan. Baru kali ini di dalam hidupnya, ia bertemu dengan seorang wanita yang memiliki sifat sekeras dan seberani ini, wanita yang sama sekali tidak silau atau takut akan posisi, jabatan, maupun kekuasaannya.

‘Kau wanita yang cukup menarik, Ananda...’ ucap Tristan dalam hati, riak ketertarikan yang asing mulai tumbuh di balik hatinya yang beku.

Bersambung...

1
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Selamat datang baby Boy baby Girl tapi sayang hadirnya kalian di saat terakhir cerita.🤭🤭🤭
baca marathon tau² End saja.👍
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: terimakasih kak sudah baca maraton 😊🙏🏼
total 1 replies
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Ngasih tipsnya semprul si Tristan...🤣🤣🤣
Hebat banget sampe junior hadirnya 3 langsung.😁
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
lah malah ngetaawain yar Kamu sendiri yang di repotin Vin kalau Tristan kena Couvade sindromnya lama, kerjaan jadi numpuk dan kena amuk lho.🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
sedia minyak kayu putih saja Tristan sama masker sapa tau sedikit berguna.🤭🤭🤭
maklumin saja ya karna baby kayaknya lagi usil iseng8n papahnya tapi pada belum sadar kalau kamu sudah hadir.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Nah junior sudah hadir tuh.

Elvano masih bocil bicaranya kayak orang dewasa saja pake bahas jomblo segala.🤦‍♀️
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: anak sekarang kal, dewasa sebelum waktunya 🤣🤣🤣
total 1 replies
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
sabar ya Ali semoga secepatnya kamu dapet jodohmu pengganti Michell karrna dia memang milik Lorenzo.

dan satu persatu akhirnya para hama di posisi pada tempatnya.😁
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Uhuuuyyy Maldive membawa banyak cinta, cerita dan kebahagiaan.👍
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
takdir yang mengharukan buat semua orang, waktunya berkumpul dan bahagia.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Ih tuan Miller mah kurang seru masa ga di bikin bonyok dulu tuh nenek maen langsung di serahin ke polisi saja... ga adil dong, padahal kejahatannya pada keluargamu lebih ekstrim.🤣🫣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Tristan Lorenzo siap² kena amu Singa betina kalian karna aktingnya mancing² nih...🤣🤣🤣
Hajar saja tuan Miller tuh si nenek, Aku ikhlas ridho banget lah kalau dia babak belur kok sampe sekatart.😁✌️
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
kenapa ga sekalian saja kasih obat tidur atau racun sekalian tuh si nenek biar ga panjang drama balas dendamnya... kan ada pelayan jadi manfaatkan itu saja lah.. gatel rasanya pengen nabok kelamaan.🤣🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Curse//Curse//Curse//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
syukur deh Lorenzo jujur jadi tingga atur strategi saja supaya ga kemakan jebakan si nenek 🤭🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
dih malah di layanin harusnya kalau mau balas dendam pikirkan dulu Lorenzo dengan rundingin ke yang laen jangan asal ambil keputusan... tar Michele salah paham Kamu ga bakal bisa bujuknya lagi...
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
E busyeettt si nenek naksir Enzo.... sadar nek sudah beda level pake pengen daun pucuk... 🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
kalau memang bisa dan mudah mah hancurkan saja atuh Miranda biar ga ganggu lagi.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
nah yang di cari padahal ada di lingkup tempat yang sama.🤭🤭
Bunda
akhir yang bahagia,happy ending🥰🥰🥰
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
sama mertua kenapa mesti pake nama di sebutin Tristan, lebih bagus lagi kalau manggilnya cukup Ibu saja ga perlu Bu Mila karna itu kan ibu kandung Nanda bukan ibu tetangga.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
hadeuuuhhh ini satu lagi bukannya cari tau dulu malah ngakuin orang tanpa selidiki lebih detail belalang satu.😁
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
dah lah nurut bae Nanda ma suami.🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!