Tidak semua bidak catur bermimpi menjadi Raja. Yudi hanya ingin satu hal: bertahan hidup dan membangun wilayah kecilnya sendiri untuk kaum yang terbuang. Menjadi Pawn rendahan bagi Sona Sitri adalah langkah pertamanya. Dengan [Imperial Tiger Mantle] yang terikat di jiwanya, ia menahan auman sang harimau dan mengubahnya menjadi keheningan yang mencekik lawan.
update Harian 1 bab per harinya sambil menunggu keputusan kontrak., semoga berhasil ya, kalau udah fix dapet kontrak akan kembali normal. Kalau kelewat mungkin akan tambah satu bab di besoknya. semoga gak pernah terjadi dan kalian semua bisa terus membaca kisah ini dengan tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyudi0596, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14
Sona melepaskan cengkeraman dari rok seragamnya. Ia meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja, lalu perlahan mencondongkan tubuhnya ke depan. Cahaya dari jendela memantul pada lensa kacamatanya, menyembunyikan matanya sepenuhnya.
"Baiklah," ucap Sona. Suaranya terdengar sangat berat, menggema di seluruh sudut ruang OSIS. Udara di sekitarnya mulai beriak pelan. Hawa dingin yang tidak wajar mulai menyebar, membuat suhu ruangan anjlok beberapa derajat dalam hitungan detik. "Aku mengakui... kalau dalam situasi dan parameter di luar catur, kau berhasil memenangkannya. Tapi... karena kau telah menyatakan bahwa hasil dari pertarungan ini adalah seri mutlak..."
Aura berwarna ungu gelap mulai berpendar samar dari tubuh Sona, menciptakan distorsi visual di sekitar siluetnya. "...maka kita harus melakukan pertandingan ulang. Sekarang juga. Bagaimana?" tantang Sona, memberikan penekanan tajam pada setiap suku katanya.
Merasakan fluktuasi energi iblis yang menguar dari tubuh ketua mereka, anggota peerage lainnya tidak bisa menyembunyikan reaksi fisik mereka.
"Woah... ada tanding ulang secara langsung?!" seru Yura, matanya membelalak lebar, memegang tepian meja untuk menahan tubuhnya.
"Ini gila... kita akan melihat Kaichou bermain dalam mode paling serius dan mematikan tanpa menahan diri sama sekali," tambah Momo, suaranya sedikit bergetar, kedua tangannya saling meremas di depan dada.
"Apakah Yudi bisa mengikutinya jika Kaichou sudah mengeluarkan aura seperti itu?" sambung Reya Kusaka, melangkah mundur perlahan untuk menjauhi jangkauan aura dingin yang menyebar di lantai.
"Yudi-senpai..." gumam Nimura Ruruko dengan raut wajah sedih yang melukiskan kekhawatiran mendalam, matanya berkaca-kaca menatap punggung Yudi.
Di sudut lain, Saji Genshirou menutupi wajahnya dengan satu tangan. Keringat dingin mengalir deras dari pelipisnya. "Kali ini... kau benar-benar tamat, kawan," bisik Saji dengan suara putus asa, membayangkan kengerian yang akan terjadi di atas meja tersebut.
Namun, di tengah tekanan aura yang menyesakkan napas itu, semua orang di ruangan kembali dibuat terhenyak oleh respons sang anak baru. Yudi tidak membalas tatapan membunuh Sona. Ia hanya menghela napas panjang hingga bahunya merosot santai. Ia mengangkat tangan kanannya ke udara sejajar dengan telinga, telapak tangannya terbuka lebar.
"Anda terlalu serius menanggapi permainan ini, Kaichou," ucap Yudi dengan nada yang sangat ringan, seolah ia sedang berbicara tentang cuaca hari ini. "Aku menyerah sepenuhnya. Aku menarik kembali tantanganku. Dan aku akan menerima serta mengambil jabatan seksi Humas itu sesuai dengan instruksi awal Anda."
Yudi menurunkan tangannya, lalu melirik ke arah jendela yang menampilkan langit cerah siang hari. Ia perlahan bangkit dari kursinya, mendorong kursi tersebut ke belakang hingga terdengar suara decitan kayu.
"Lagipula..." Yudi memutar tubuhnya setengah arah menuju pintu keluar. Ia memiringkan kepalanya sedikit. "...bukankah bel masuk jam pelajaran berikutnya sudah berbunyi beberapa menit yang lalu? Apa kata orang-orang dan murid akademi nanti kalau anggota komite kedisiplinan tertinggi sekolah ini malah memberikan contoh yang tidak baik dengan membolos pada jam pelajaran reguler? Bukankah tindakan tidak disiplin seperti itu akan sangat mencoreng nama baik dan reputasi OSIS yang Anda bangun susah payah?"
Sona tidak menjawab. Mulutnya tertutup rapat, tubuhnya masih condong ke depan dengan aura ungu yang masih berpendar di sekelilingnya. Yudi tidak menunggu balasan. Ia meraih tasnya dan menyampirkannya di bahu. Ia memutar tubuhnya hingga sepenuhnya menghadap meja bundar tersebut, lalu merapatkan kedua tumit sepatunya.
Dengan gerakan yang teratur, Yudi membungkukkan tubuhnya ke depan membentuk sudut persis empat puluh lima derajat. Ia menahan postur penghormatan formal itu selama tepat dua detik tanpa bergerak sedikit pun.
"Kalau begitu, karena aku hanyalah bawahan baru, aku mohon pamit undur diri duluan ya, Kaichou, Fukukaichou, dan para Senpai," ucap Yudi dari posisi membungkuk. Ia kemudian menegakkan tubuhnya kembali.
"Ruang kelasku berada cukup jauh di lantai bawah, jadi sepertinya aku harus berlari sekencang mungkin dari sini agar bisa sampai di sana tepat waktu sebelum guru masuk. Jaa nee (Sampai jumpa), semuanya."
Tanpa memberikan jeda sedetik pun bagi siapa pun untuk merespons atau melarangnya pergi, Yudi memutar tubuhnya, mengambil langkah lebar, dan menyelosor cepat menuju pintu keluar. Tangannya meraih gagang pintu kayu ganda tersebut.
Srek! Brak.
Pintu terbuka dan tertutup kembali dalam satu tarikan napas. Suara langkah kaki Yudi yang berlari menyusuri lorong sayap barat terdengar menjauh, menyisakan keheningan absolut di dalam ruang klub OSIS.
Bagi Yudi, alasannya menolak tantangan ulang tersebut sangatlah sederhana dan pragmatis; ia sama sekali tidak mau rekor ajaib yang secara kebetulan berhasil ia torehkan hari ini di hadapan para kakak kelasnya yang arogan runtuh begitu saja dalam pertandingan kedua.
Oleh karena itu, melarikan diri tepat setelah mendapatkan high ground adalah satu-satunya taktik bertahan hidup yang paling masuk akal. Di dalam ruang OSIS, waktu seolah berhenti berdetak. Semua orang masih terpaku di posisi masing-masing, terlalu terkejut untuk sekadar berkedip.
Sona Sitri duduk mematung di kursinya. Tantangan yang ia lontarkan dengan penuh keseriusan dan penekanan aura iblis baru saja diabaikan begitu saja oleh seorang bawahan, dan menguap ditelan keheningan tanpa mendapat respons perlawanan apa pun.
Sona memutar lehernya secara patah-patah. Mata ungunya yang kini berkilat memandang tajam lurus ke arah pintu kayu tertutup tempat Yudi baru saja keluar.
Hawa di sekitarnya menjadi semakin mencekam, suhu ruangan terus menurun hingga uap tipis mulai keluar dari mulut beberapa anggota peerage saat mereka bernapas. Jari-jari Sona kembali mencengkeram rok seragamnya dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari sebelumnya.
Sona menggertakkan deretan giginya hingga terdengar suara gemeretak pelan. Matanya tidak berkedip menatap pintu tersebut. Ia masih tidak bisa memproses kenyataan bahwa undangan pertandingan ulangnya baru saja diabaikan dan ditepis mentah-mentah dengan menggunakan tameng berupa 'alasan logis' kedisiplinan sekolah.
Bayangan Yudi yang tersenyum tenang terlintas di kornea matanya. Napas Sona menjadi sedikit lebih berat. Rahangnya menegang kuat.
Melihat aura ketua mereka yang semakin gelap dan menekan, para gadis di seberang meja mulai berbisik-bisik tanpa berani mengeluarkan suara vokal.
"Woah... bocah itu benar-benar mengabaikan tantangan Kaichou dan kabur begitu saja," bisik Reya pada Momo, matanya melirik ngeri ke arah siluet Sona.
Momo menelan ludahnya dengan susah payah. Ia merapatkan kedua lengannya, menggosok-gosok kain blazernya untuk mengusir rasa dingin yang menembus kulit. "Tapi tindakannya barusan itu justru membuat kita semua yang tertinggal di ruangan ini berada dalam bahaya besar..." balas Momo dengan gerakan bibir seminimal mungkin.
"Suasana hati Sona Kaichou saat ini sedang berada di titik paling buruk yang pernah kulihat," bisik Yura dari dekat rak buku, keringat dingin mulai bermunculan di dahinya saat ia merasakan insting bahaya dari tubuh iblisnya.
Di sudut lain, Saji berdiri mematung. Bulir-bulir keringat dingin berukuran besar meluncur membasahi pelipis dan lehernya. Ia tidak berani menghapus keringat itu.
"Sialan... anak itu malah pergi meninggalkan ruangan ini tanpa menunjukkan rasa bersalah sama sekali..." rutuk Saji dalam kebisuan, merasakan udara di dalam ruang OSIS mendadak menjadi sangat padat dan sunyi, seakan kehangatan dan komedi yang tadi sempat menyebar telah lenyap seketika, digantikan secara paksa oleh tekanan gravitasi gaib yang memaksa seluruh sendi tubuh untuk tunduk berlutut.
Sumber dari seluruh penekanan absolut itu jelas memancar dari sosok Sona Sitri. Helaian rambut pendeknya sedikit melayang akibat fluktuasi energi di sekitarnya. Tangan kirinya masih mencengkeram roknya, namun ia memaksa tangan kanannya untuk terangkat dan mendorong kembali kacamata berbingkai tipisnya.
Sadar bahwa seluruh energi di ruangan itu telah berpusat padanya, dan seluruh anggota kelompoknya—minus Yudi yang sudah lenyap ditelan lorong—kini memperhatikan setiap pergerakan kecilnya dengan penuh ketakutan, Sona menutup matanya selama tiga detik.
Ia menarik napas panjang, menahan oksigen di paru-parunya, lalu menghembuskannya perlahan. Bersamaan dengan hembusan napas itu, aura ungu gelap yang menyelimuti tubuhnya ditarik masuk kembali ke dalam pori-pori kulitnya. Suhu ruangan secara berangsur-angsur merangkak naik menuju tingkat normal.
Sona membuka matanya. Tatapannya kembali datar dan sedingin es, meski sisa-sisa kilatan emosi masih tertinggal di dasar pupil matanya. Ia menyapu pandangan ke seluruh anggota peerage-nya.
"Kalau begitu, karena tidak ada lagi hal penting yang harus dibahas, pertemuan evaluasi siang ini secara resmi selesai," perintah Sona dengan nada suara yang teramat tenang namun memotong udara seperti silet. "Segera kembali ke ruang kelas kalian masing-masing, sebelum guru mata pelajaran mendapati kursi kalian kosong!"
Mendengar komando pembubaran tersebut, seluruh anggota, termasuk Saji, seketika menarik napas lega secara bersamaan.
"Baik, Kaichou!" balas mereka serempak.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Saji, Reya, Momo, Yura, dan Tomoe bergegas merapikan pakaian mereka, membungkuk sekilas ke arah Sona, lalu berbondong-bondong melesat keluar dari ruangan klub OSIS secepat kaki mereka bisa berlari, meninggalkan Nimura Ruruko yang juga berlari-lari kecil mengekor di belakang mereka.
Bunyi pintu yang ditutup dengan tergesa-gesa mengakhiri pelarian massal tersebut. Kini, di dalam ruangan yang luas itu, hanya tersisa Sona yang masih duduk di kursinya, dan Tsubaki Shinra yang berdiri tepat di sampingnya.
Suara detak jarum jam dinding kembali mendominasi pendengaran. Cahaya matahari perlahan bergeser, mengubah sudut bayangan meja bundar di atas lantai.
Tsubaki memasukkan kembali jam saku mekaniknya ke dalam saku blazer dengan gerakan teratur. Ia menundukkan wajahnya sedikit, memandangi sosok ketuanya yang masih terdiam membisu menatap papan catur yang berantakan.
"Anda sepertinya... merasa sangat kesal dengan kejadian barusan?" tanya Tsubaki. Pertanyaan kecil itu meluncur dari bibirnya dengan nada datar, namun terselip nada kehati-hatian di ujung kalimatnya.
Sona tidak memalingkan wajahnya dari papan catur. "Aku hanya tidak menyangka... kalau dia akan memilih untuk menolak dan melarikan diri dengan menggunakan cara yang sangat pengecut seperti itu," ucap Sona, suaranya terdengar bergetar sangat pelan.
Tsubaki menurunkan pandangannya ke arah meja. Tepat di atas paha Sona yang tertutup rok seragam, tangan kanan gadis berambut pendek itu sedang dikepalkan dengan sangat kuat.
Buku-buku jarinya memutih pasi, dan pergelangan tangannya terlihat bergetar halus tanpa bisa dikendalikan, sebuah manifestasi fisik dari emosi frustrasi yang selama ini selalu ia kubur dalam-dalam di balik topeng ketenangan seorang Ketua OSIS.
Melihat pemandangan tangan yang bergetar itu, kelopak mata Tsubaki berkedip satu kali. Ia tidak mengucapkan kalimat penghiburan atau pertanyaan lebih lanjut. Tsubaki hanya menganggukkan kepalanya dengan sangat pelan, sebuah gestur penerimaan diam-diam.
Tsubaki menarik napas tanpa suara, melepaskannya dalam wujud sebuah desahan tak kasat mata. Tangan kirinya bergerak naik, mendorong kembali bingkai kacamata di pangkal hidungnya yang tidak bergeser sama sekali.
Pandangannya kembali lurus ke depan, mengawasi ruang OSIS yang kosong, membiarkan keheningan dan cahaya siang itu menemani sang Ketua yang tengah berperang menaklukkan emosinya sendiri.
...* * *...