NovelToon NovelToon
Sujud Terakhir Sang Pemikat

Sujud Terakhir Sang Pemikat

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Iblis / Kutukan
Popularitas:981
Nilai: 5
Nama Author: Selie Noris

Nyai Seruni, seorang dukun yang menghabiskan masa mudanya menghancurkan kebahagiaan orang lain lewat racun petunduk karena rasa iri, kini terjebak dalam tubuh yang membusuk namun menolak mati. Di ambang sakaratul maut yang abadi, ia harus menyeret tubuhnya yang lumpuh untuk bersujud di kaki para korbannya—orang-orang yang hidupnya ia curi—hanya demi satu hal : izin untuk meninggal dunia.

Assalamualaikum semua, aku datang dengan tulisanku.
Bantu ramaikan dengan Like, komentar dan bagikan jika suka.
Insya Allah besok pagi jika banyak peminat, 😉
Mohon maaf jika ada kesamaan nama dan tempat, 🙏

#cerbung
#cerpen
#ceritahoror
#hobimenulis
Cerita Hantu
Cerita Misteri , Mitos , Sejarah Di Dunia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: Perjalanan Menuju Pelabuhan Bandan

Fajar merekah membias warna jingga di ufuk timur ketika rombongan kecil dari Karang Tumpuk mulai bergerak meninggalkan desa. Marno memikul tas perbekalan dan martil kesayangannya yang dibungkus kain terpal tebal di punggung, sementara Sari membawa bumbung-bumbung racikan obat darurat yang tersimpan rapi dalam tas kulitnya. Si Mbah duduk nyaman di atas tumpukan tas di punggung Marno, mengenakan ikatan kain merah baru pemberian Mbok Sumi yang diikatkan rapi di lehernya.

Perjalanan menuju pesisir selatan menembus Jalur Lembah Hijau yang dipenuhi pepohonan mahoni tua dan hamparan sawah bertingkat. Di sepanjang perjalanan, warga desa-desa tetangga yang mengenali Sari dan Marno menyapa dengan hangat, menyodorkan buah-buahan segar dan bekal nasi bungkus daun jati sebagai bentuk rasa terima kasih atas jasa mereka menumbangkan sekte ilmu hitam beberapa waktu lalu.

"Lihat itu, Kang," tunjuk Sari ke arah aliran Sungai Brantas kecil di bawah jembatan kayu. "Airnya begitu jernih. Padahal waktu Mbah Jiwo Suro masih berkuasa, air sungai ini selalu berbau belerang amis dan meninggalkan kerak hitam di tebing-tebing batu."

Marno tersenyum kecil melihat keceriaan Sari. "Tanah ini selalu tahu cara menyembuhkan dirinya sendiri jika orang-orang jahatnya sudah menyingkir, Sari. Sama seperti luka di tubuh manusia, jika racunnya dicabut, daging murni akan tumbuh kembali."

Namun, ketika memasuki hari kedua perjalanan—tepatnya saat menembus **Hutan Bakau Hitam** yang berada beberapa mil sebelum garis pantai Pelabuhan Bandan—suasana sekitar mendadak berubah redup dan lembap. Pohon-pohon bakau berduri raksasa tumbuh rapat dengan akar-akar menggantung yang aneh, menyerupai jemari raksasa yang mencengkeram tanah rawa. Bau garam laut bercampur uap lumpur busuk menyeruak tebal di udara, menggantikan aroma harum cemara gunung yang biasa menghirup paru-paru mereka.

Si Mbah mendadak melompat tegak di bahu Marno, menunjuk ke arah celah akar bakau dengan erangan rendah yang sarat akan kewaspadaan.

*Uuk... uuk-uuk...*

Marno menghentikan langkahnya di atas titian kayu tua, tangannya spontan memegang gagang martil besinya. "Ada yang mengintai kita dari balik akar bakau, Sari. Gerakannya tidak teratur, tapi jumlahnya lumayan banyak."

Sari mencium bau udara sekitar dengan cermat. "Ini bukan bau racun herbal atau belerang. Ini... bau minyak ikan amis bercampur mesiu dan karat besi tua."

Tiba-tiba, dari atas dahan-dahan bakau tinggi, belasan sosok pria bertubuh kurus kering dengan kulit bertato gurita hitam meluncur turun menggunakan tali serabut kelapa! Mereka memegang parang-parang bengkok bermata gerigi yang diolesi minyak hitam kelam, melompat dan mendarat mengepung titian kayu tempat Marno dan Sari berdiri.

"Hahaha! Lihat siapa yang melintas di jalur rawa kita!" gelak salah seorang pria berkulit hitam legam yang mengenakan penutup mata sebelah dari kain kusam. "Dua musafir gunung dan seekor kera kecil! Serahkan seluruh barang bawaan, bumbung bambu, dan tas terpalmu jika ingin lewat dengan selamat tanpa harus menjadi umpan kepiting rawa!"

Pria itu adalah **Laba-Laba Rawa**, pemimpin kelompok perompak pesisir yang sering menjarah pedagang sebelum mencapai gerbang Pelabuhan Bandan.

Sari melangkah tenang ke depan, tidak menunjukkan rasa gentar sedikit pun meski ujung parang bergerigi berjarak hanya beberapa jengkal dari dadanya. "Kami adalah tamu kehormatan Pangeran Arya Braja dari Kedatuan Pantai Selatan. Jangan cari masalah di wilayah yang sedang dijaga oleh prajurit kerajaan."

Laba-Laba Rawa tertawa terbahak-bahak bersama sepuluh anak buahnya, suaranya melengking parau memantul di antara akar-akar bakau. "Pangeran Arya Braja? Di dalam hutan bakau yang gelap ini, tidak ada pangeran, hukum, atau prajurit! Yang ada hanyalah parang kami dan hukum rawa!"

"Kau salah," sela Marno dengan suara dingin yang menggelegar dari balik punggung Sari.

Dengan satu gerakan cepat dan sangat bertenaga, Marno menghentakkan pangkal martil besinya ke tanah rawa yang berlumpur tepat di bawah titian kayu!

*BOMMM!*

Gelombang guncangan tanah yang luar biasa hebat menyemburkan air lumpur hitam setinggi dua meter ke udara, menghantam wajah dan mata para perompak hingga mereka terhuyung-huyung kaget sambil memaki murka!

Marno tidak memberikan kesempatan bagi kelompok perompak untuk menguasai keadaan kembali. Ia melangkah maju dengan gerakan mantap, memutar martil besinya di udara hingga menciptakan angin keras yang menyapu kepulan uap lumpur di sekitar mereka.

Para perompak rawa yang murka akibat semburan lumpur langsung menerjang maju secara liar. Parang-parang bengkok bergerigi digerakkan mengepung Marno dari tiga penjuru berbeda!

*CRANG! CRANG!*

Marno memutar martil besinya bagaikan baling-baling raksasa, menangkis setiap tebasan parang dengan presisi tinggi. Setiap benturan antara parang bergerigi dan kepala martil besi murni menciptakan percikan api yang menerangi pekatnya lorong hutan bakau. Kekuatan fisik Marno yang biasa memukul dan menempa besi membara di atas landasan membuat lengan para perompak gemetar hebat; beberapa di antaranya bahkan mendapati parang mereka terpelanting lepas dari genggaman karena tak kuat menahan getaran benturan!

Sari tidak tinggal diam di belakang. Ia mengambil segenggam serbuk **Lada Gunung** dan Bumbu Halus dari tas racikannya, lalu mengibaskannya ke udara dengan bantuan tiupan kipas bambu kecil yang selalu terselip di pinggangnya.

*PSSSSST!*

Serbuk pedas menyengat itu melayang ditiup angin, menghantam tepat di wajah lima perompak yang mencoba merayap memutari titian kayu dari arah belakang.

"Mata kami! Panas! Pedas sekali!" jerit para perompak itu seraya bergulingan di tanah lumpur sambil mengucek mata mereka yang merah membara dan perih luar biasa.

Si Mbah ikut beraksi dengan lincah. Kera hitam itu melompat dari satu kepala perompak ke kepala perompak lainnya, menarik telinga mereka keras-keras dan mengikatkan tali-tali bakau yang tergantung ke kaki musuh hingga mereka saling bertabrakan dan jatuh konyol ke dalam genangan rawa yang dalam.

Laba-Laba Rawa yang melihat seluruh anak buahnya ditumbangkan dalam hitungan menit menjadi panik dan kalap. Ia merogoh sebuah sumpit bambu beracun dari balik pinggangnya, mengarahkannya lurus ke arah leher Sari dari balik rimbunnya akar pohon bakau!

Namun, sebelum ia sempat meniup sumpit beracun tersebut, sebuah anak panah berbulu biru meluncur kilat membelah udara hutan!

*TREK!*

Anak panah biru itu menancap sangat akurat, mematahkan sumpit bambu Laba-Laba Rawa menjadi dua bagian sebelum sempat ditiup!

"Siapa yang berani mengacau dan memeras warga di wilayah perbatasan Kedatuan?!" sebuah teriakan membahana terdengar dari arah muara sungai bakau.

Puluhan prajurit berzirah perak yang dipimpin oleh seorang perwira muda melompat turun dari perahu layar kecil, menerjang masuk ke dalam hutan bakau dengan pedang terhunus. Melihat kedatangan pasukan resmi Kedatuan Pantai Selatan, Laba-Laba Rawa dan anak buahnya yang tersisa langsung melompat ketakutan ke dalam air rawa, berenang melarikan diri kocar-kacir meninggalkan senjata-senjata mereka.

Perwira muda pesisir itu segera menghampiri Marno dan Sari seraya membungkuk hormat dengan penuh penyesalan. "Nyi Sari, Ki Pande Marno! Mohon maaf sebesar-besarnya atas keterlambatan kami. Pangeran Arya Braja mengutus kami untuk menyambut kalian di batas hutan bakau ini, namun gelombang muara sempat menahan perahu kami."

Sari tersenyum lega sambil merapikan selendang dan tas racikannya. "Tidak apa-apa, Perwira. Teman saya ini sudah cukup cekatan menangani gangguan kecil seperti tadi."

Perwira itu menatap Marno dengan pandangan penuh kekaguman, mengamati martil besi raksasa yang dipegang pria perbukitan itu tanpa cela atau goresan sedikit pun. "Sungguh ketangkasan dan kekuatan yang amat luar biasa. Pelabuhan Bandan sudah sangat dekat dari sini, mari kami antar kalian langsung menuju Istana Pesisir."

1
MARQUES
coba bikin novel yang MC nya cewe KK pasti bagus dengan genre horor🙏
Selie Noris: Terima kasih masukannya ya kak, 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!