NovelToon NovelToon
DITALAK SESAAT SETELAH AKAD

DITALAK SESAAT SETELAH AKAD

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:58k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Raya Aprillia Safitri tidak pernah membayangkan bahwa hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaannya justru berubah menjadi awal dari kehancurannya.

Demi baktinya kepada sang ayah, Raya menerima perjodohan dengan seorang pria bernama Kamil. Ia menekan segala keraguan, meyakinkan dirinya bahwa pernikahan bisa tumbuh seiring waktu. Namun, takdir berkata lain.

Baru saja ijab kabul dinyatakan sah, belum sempat Raya menghela napas lega sebagai seorang istri, satu kata menghancurkan segalanya.

Talak.

Di hadapan saksi. Di detik yang sama ketika statusnya berubah menjadi seorang istri, ia juga sekaligus menjadi wanita yang diceraikan.

Lebih menyakitkan lagi, ayah yang begitu ia cintai tumbang saat itu juga, tak kuat menahan kenyataan pahit yang terjadi di depan matanya… dan menghembuskan napas terakhirnya.

Di tengah duka dan kehancuran, Raya hanya bisa terpaku… sementara Kamil berdiri dengan senyum penuh kemenangan, seolah semua ini adalah bagian dari rencana yang telah lama ia susun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Pertemuan Pertama

Sore itu, suasana rumah Pak Hasan masih dipenuhi aroma tanah basah dan bunga tabur yang terbawa dari pemakaman. Tamu-tamu berdatangan silih berganti, suara takziah dan bisik-bisik memenuhi setiap sudut rumah.

Namun di tengah keramaian itu, Kamil memilih mengurung diri di kamarnya.

Ia duduk di tepi ranjang, lalu perlahan merebahkan tubuhnya. Langit-langit kamar terasa kosong, tapi pikirannya justru penuh. Suara-suara dari luar samar terdengar—bisikan, tudingan, bahkan rasa iba yang entah kenapa justru menusuk lebih dalam.

Ia menutup mata.

Dan di sanalah, bayangan Bu Aida kembali hadir.

Wajah lembut itu, suara halusnya, dan tatapan penuh kasih yang dulu sering ia abaikan.

Empat bulan lalu…

Kamil terbaring santai di atas kasur, memainkan ponselnya tanpa tujuan. Hari itu terasa biasa saja, tanpa beban.

Tok… tok… tok…

Ketukan di pintu membuatnya menoleh.

"Masuk!" serunya.

Pintu terbuka perlahan. Bu Aida muncul dengan senyum hangatnya.

"Lagi apa, Nak?"

Kamil langsung bangkit, menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang.

"Lagi tiduran aja, Ma."

Ibunya melangkah masuk, duduk di kursi dekat ranjang sambil menatapnya penuh arti.

"Ada keperluan apa, Ma? Tumben nyamperin ke sini."

Bu Aida tersenyum kecil, lalu menarik napas sejenak.

"Ini, Nak… usia kamu kan sekarang sudah 27 tahun. Kapan mau bawa calon ke rumah? Mama sama Papa sudah pengin nimang cucu dari kamu, lho."

Kamil terkekeh pelan.

"Lah mama, kirain mau apaan, ternyata nanya itu."

"Iya," sahut Bu Aida lembut. "Sudah ada belum calonnya?"

"Belum, Ma… cariin dong!" jawab Kamil sambil menyeringai, nada suaranya jelas bercanda.

Namun di luar dugaan, Bu Aida justru mengangguk pelan.

"Kalau belum ada, mama kenalkan sama anak teman mama semasa SMA. InsyaAllah anaknya sholehah. Sudah lulus S1 Manajemen, tinggal nunggu wisuda. Cantik juga kok."

Senyum Kamil perlahan memudar.

"Nggak, Ma. Nggak usah. Sudah ada kok… tapi masih pendekatan. Cuma ya itu, sudah ditembak beberapa kali, belum juga ngasih jawaban."

"Berarti dia nggak suka kamu, Nak," ucap Bu Aida hati-hati. "Sudah, coba saja sama anak teman mama itu."

Kamil menghela napas, sedikit jengkel.

"Emang anak teman mama yang mana sih?"

"Itu… anaknya Om Santoso. Kamu tahu, kan?"

Kamil langsung duduk tegak.

"Anaknya dia? Ah, yang benar saja, Ma."

"Memangnya kenapa?" tanya Bu Aida, keningnya sedikit berkerut.

Kamil tersenyum miring.

"Dia kan dari keluarga biasa saja. Sementara kita… ya, mama tahu sendiri. Masa mama sama papa mau berbesan dengan mereka?"

Kalimat itu meluncur begitu saja, tanpa beban.

Namun Bu Aida terdiam sesaat. Tatapannya berubah—bukan marah, tapi ada sesuatu yang lebih dalam: kecewa.

"Kenapa nggak?" jawabnya pelan. "Yang penting akhlaknya, Nak. Harta itu cuma titipan. Allah tidak memandang harta hamba-Nya. Yang dilihat itu ketakwaannya… bagaimana dia menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya."

Kamil menggeleng, setengah tak peduli.

"Ah, mama selalu itu yang dibicarakan. Harta itu yang bikin kita dipandang orang, Ma. Aku maunya ya yang sepadan."

Bu Aida menatapnya lama.

"Jangan begitu, Nak… nggak baik."

"Jadi maunya mama gimana?" tanya Kamil, nada suaranya mulai datar.

"Ya… kamu kenalan dulu saja. Siapa tahu cocok."

Hening sejenak.

Kamil akhirnya mengangkat bahu.

"Ya sudah, kalau maunya mama seperti itu."

Seminggu setelah pembicaraan itu, hari-hari Kamil berjalan seperti biasa.

Sore itu, ia baru saja pulang kerja. Dengan wajah lelah, ia masuk ke kamar, melepas jasnya, lalu menjatuhkan tubuh ke atas kasur. Baru saja matanya hendak terpejam, suara ketukan terdengar.

Tok… tok…

"Masuk!" sahutnya.

Pintu terbuka, dan Bu Aida masuk dengan langkah tenang.

"Nak," ucapnya, "nanti malam kita silaturahmi ke rumah Om Santoso ya. Sekalian kenalan sama anaknya."

Kamil langsung membuka mata, sedikit terkejut.

"Secepat itu, Ma?"

"Ya iya lah," jawab Bu Aida santai. "Emang mau nunggu apalagi?"

Kamil menghela napas pendek.

"Ya sudah, terserah Mama."

Senyum Bu Aida mengembang.

"Kamu nggak akan nyesel kenalan sama dia, Mil. Anaknya cantik dan sholehah. Pakai hijab rapi juga."

Kamil langsung menoleh.

"Pakai hijab?" tanyanya, memastikan.

"Iya. Kok kamu seperti heran?"

Kamil mendengus kecil.

"Nggak cocok sama Kamil berarti."

Alis Bu Aida langsung berkerut.

"Kamu nggak suka wanita berhijab kayak mama gini?"

"Bukan gitu, Ma," jawab Kamil cepat. "Kalau wanita berhijab itu pasti ibadahnya bagus… nanti ke aku pasti ngelarang ini itu lah."

Bu Aida menghela napas panjang, berusaha sabar.

"Ya bagus kalau melarang ke arah yang baik. Kamu ini gimana sih?"

Kamil hanya diam, tak ingin berdebat panjang.

"Sudah ah, cepat siap-siap. Habis Isya kita langsung berangkat!"

"Iya, Ma."

Bu Aida pun keluar dari kamar.

Suasana kembali sunyi.

Kamil menatap langit-langit, lalu tersenyum miring.

"Gadis berhijab…" gumamnya pelan.

Bayangan wanita sederhana dengan pakaian tertutup langsung terlintas—dan entah kenapa, dalam benaknya itu terasa membosankan.

Namun tak lama, bayangan lain justru muncul.

Amanda.

Cantik. Modern. Menarik.

Dengan tubuh tinggi semampai, kulit putih bersih, dan rambut cokelat yang tergerai indah.

"Nah… itu baru," gumam Kamil.

"Kalau dibandingkan… jelas beda kelas."

Ia tersenyum tipis, merasa yakin dengan standar yang ia pegang.

Akhirnya, setelah selesai melaksanakan shalat Isya, Kamil berangkat bersama kedua orang tuanya menuju rumah Pak Santoso.

Di sepanjang perjalanan, Kamil lebih banyak diam. Ia bersandar di kursi, menatap keluar jendela tanpa minat. Sesekali ia hanya menyahut pendek saat ditanya. Selebihnya, ia membiarkan Pak Hasan dan Bu Aida mengobrol ringan di depan.

"Mil," suara Pak Hasan memecah keheningan, "menurut papa, Raya itu anaknya baik dan rajin ibadah. Harapan papa, nanti kamu bisa kebawa jadi lebih baik. Ya kan, Ma?" Ia melirik istrinya.

"Iya," sahut Bu Aida dengan senyum hangat. "Biar nanti Kamil nggak susah lagi kalau disuruh shalat. Adzan berkumandang, langsung berangkat ke masjid."

Kamil mendengus pelan, nyaris tak terdengar.

Dalam benaknya, bukan bayangan kebaikan yang muncul… justru sebaliknya.

Kehidupan yang terasa kaku. Penuh aturan. Membosankan.

"Ah…" batinnya, "nggak kebayang hidup kayak gitu."

Empat puluh lima menit kemudian, mobil yang dikemudikan Pak Hasan memasuki sebuah halaman rumah yang cukup luas.

Kamil memperhatikan sekilas.

Rumah itu sederhana. Bangunan lama bergaya peninggalan Belanda, dengan dinding tinggi dan jendela-jendela besar. Halamannya asri—beberapa pohon mangga berdiri kokoh di depan, dikelilingi aneka bunga yang tertata rapi. Suasananya sejuk dan tenang.

Namun di mata Kamil… semua itu terasa biasa saja.

Setelah dua kali mengucapkan salam, pintu terbuka.

Bu Rahma muncul dengan senyum ramah, diikuti suaminya.

"Silakan masuk," ucap Bu Rahma hangat. "Maaf, di sini hanya begini adanya, Nak Kamil."

Kamil tersenyum tipis, sekadar sopan.

Mereka dipersilakan duduk di ruang tamu yang cukup luas. Perabotannya sederhana, tapi bersih dan tertata rapi. Di atas meja sudah tersaji beberapa camilan—pisang goreng, kue basah, dan kacang rebus.

"Raya, sini Nak!" panggil Pak Santoso.

"Iya, Yah!" sahut suara dari dalam.

Tak lama, Bu Rahma kembali berbicara, "Sedang bikin jus mangga. Suka kan?"

"Wah, suka banget, Bu," jawab Bu Aida antusias.

"Iya, kebetulan lagi panen mangga. Nanti bawa ya!"

Suasana terasa hangat dengan obrolan ringan.

Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar mendekat.

"Nah ini Raya. Sini, Nak… kenalan dulu!"

Raya muncul dari arah dapur.

Dengan langkah tenang, ia mendekat. Wajahnya teduh, dibingkai hijab yang rapi. Ia menunduk sopan, lalu menyalami Pak Hasan dan Bu Aida satu per satu.

Saat dikenalkan pada Kamil, Raya hanya menangkupkan kedua tangannya di depan dada, memberi salam dengan sopan tanpa menyentuh.

Kamil menatap sekilas.

Hanya sekilas.

Dan dalam penilaiannya yang cepat dan dangkal, ia langsung memberi kesimpulan.

"Biasa saja…"

Tak ada yang menurutnya istimewa.

Jauh… jika dibandingkan dengan Amanda yang selama ini memenuhi pikirannya.

Raya kembali ke dapur sejenak.

Beberapa menit kemudian, ia datang lagi membawa nampan berisi gelas-gelas jus mangga segar. Warna kuningnya tampak menggoda, dengan butiran es yang masih menempel di permukaan gelas.

Satu per satu ia hidangkan dengan hati-hati.

Saat sampai di depan Kamil, ia sedikit menunduk.

"Silakan!"

Kamil menerima gelas itu tanpa benar-benar menatap wajahnya.

Namun entah kenapa…

ketika jemarinya tanpa sengaja bersentuhan singkat dengan nampan yang dipegang Raya—

ia merasakan sesuatu yang berbeda.

Bukan karena rasa.

Bukan juga karena ketertarikan.

Melainkan… ketenangan yang aneh.

Yang justru membuatnya cepat-cepat menarik tangannya, seolah menolak perasaan itu sendiri.

"Terima kasih," ucapnya singkat.

Lalu ia langsung menyesap jus mangga itu.

Dingin.

Manis.

Segar.

Namun di dalam hatinya—

ia tetap bersikukuh.

"Masih jauh… dari standar gue."

1
Anonim
SAHA AKMAL???
Barra Ayazzio: Maaf, author lagi gak fokus, dah diganti Kak. Makasih koreksinya. 🙏
total 1 replies
Yulya Muzwar
akmal atau kamil?
Barra Ayazzio: Maaf, author lagi gak fokus. Sudah diganti Kak. Makasih koreksinya 🙏.
total 2 replies
Sri Widiyarti
tungguin karma otw ke Kamil ...
Lee Mba Young
nnti bayi lahir sakit butuh donor ayah nya 🤣.
ingat karma tak semanis Kurma 🤣
sunaryati jarum
Awalnya kamu sangat bahagia Kamil,tetepi setelah tahu jika kau hanya dijadikan sebagai tumbal Amanda Untuk menutupi aib kehamilannya dengan pria lain, bagaimana?Kutunggu reaksimu ,ya Mil .
sunaryati jarum
Bu Anisa sepertinya sudah punya firasat jika kelak Kamil akan meninggalkan dengan menalaknya.Mungkin entar jika rahasia kehamilan terbongkar,dan itu benih Aldo.
Ma Em
Bu Anisa , Amanda bkn cinta yg tulus sama Kamil tapi demi menutupi aib karena Amanda SDH hamil dgn Reno dan agar anak yg dikandungnya ada yg bertanggung jawab makanya Amanda sengaja jebak Kamil agar mau menikah dgn Amanda .
Anonim
SALAH SENDIRI HAMIL LO MEMEQ
partini
bagus berjodoh tapi si dokter punya masa lalu yg sekarang lagi mengseddih dan menyesal so pasti nongol tuh Kunti bogel lah sedangkan raya murni wanita yg ga neko" takutnya sakit hati lagi udah lovely doply ❤️ si dokter oleng hati
sehat selalu buat mamanya Thor
Rusma Yulida
bisa kl g pernh kumpul
sunaryati jarum
Nah ibumu sepertinya memberi lampu hijau, segera mantabkan hatimu.Untuk Pdkt dan pastikan Raya juga ada hati padamu.Semoga kalian berjodoh
sunaryati jarum
Firasat orang tua, mungkin lusa setelah tahu Amanda menjebak dirinya telah hamil anak Aldo dan ditinggalkan Kamil akan menceraikan Amanda
sunaryati jarum
Kenapa.sih Nak Andra, menyangkalnya kakakmu ? Belum yakin ya.Yakinkan dulu baru ,baru jukur
Mundri Astuti
lampu hijau tuh ndra
Lee Mba Young
bagus tidak di restui, biar nikah tanpa restu dan gk bhgia 🤭.
Anonim: awokawok jadi tumbal hamil 🤣👉
total 1 replies
Yuni Ngsih
pastiiii nih Author klw lg asyik baca suka dipotong ,jd biar pembaca nunggu ceritramu yg bguuuuuus bangeeet Thor ,soalnya banyak contoh " bg kehidupan nyata ....mksh Thor jangan lupa terusannya ...ok
falea sezi
nunggu boom dan meledak kamil. nangis di. pojokan/Curse//Curse//Smug/
Yuni Ngsih
Rasakan Kamil atas perbuatanmu krn kau banyak kesalahanmu apalagi yg pertama menceraikan Rays di pelaminan sampai Ayah Raya meninggal itulah Karma buatmu .....lanjut Thor
Emily
gangguan jiwa itu ntar lagi masuk rsj
Emily
kamil tu oon kah..pikirannya kemana katanya S2 tapi macam gak punya otak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!