Keira Lo bukan siapa-siapa.
Yatim piatu, lulusan SMA, hidup dari upah serabutan di desa kecil Jawa Tengah. Satu-satunya alasan dia masih bertahan: Kiara — kembaran-nya yang mengalami kerusakan otak setelah diserang tiga tahun lalu. Keira butuh uang. Banyak. Dan satu-satunya jalan adalah menjadi pengasuh bayi di kediaman keluarga Ciu — konglomerat terkaya di Jakarta yang terkenal kejam.
Dia datang dengan koper lusuh dan tangan penuh luka. Mereka menatapnya seperti debu yang tersasar ke istana marmer.
Tapi ketika bayi keluarga Ciu nyaris meninggal di tangan pengasuh berpengalaman — dan Keira yang menyelamatkannya dengan tangan gemetar — segalanya berubah.
Empat pewaris. Empat hati yang berbeda. Semua jatuh pada gadis yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20: Pemahat Giok
Selimut kecil itu tidak pernah Keira pakai.
Ia melipatnya kembali setiap pagi, meletakkannya di sisi paling dalam lemari, lalu tetap menggunakan selimut tipis milik kamar pengasuh seperti biasa. Bukan karena ia tidak suka. Justru karena kain itu terlalu lembut, terlalu baik, terlalu tidak cocok berada di antara seragam kerja dan tas tuanya.
Di Kediaman Ciu, sesuatu yang datang tanpa nama tidak pernah sepenuhnya aman.
Memasuki minggu keempat, ritme rumah besar mulai berubah lagi.
Stephanie sudah dua kali meminta bayi dibawa ke dekat jendela saat matahari pagi. Ia belum berani lama-lama, tetapi ia tidak lagi memalingkan wajah setiap kali bayinya menangis. Ko Gilbert masih menjaga jarak. Pesannya datang singkat setiap malam, selalu sopan, selalu berhenti sebelum berubah menjadi desakan.
Keira mencatat semua itu dalam buku kecilnya.
Suhu kamar. Jam minum susu. Lama tidur bayi. Perubahan mood Stephanie. Semua ditulis rapi, karena dalam rumah ini ingatan manusia sering kalah oleh bukti tertulis.
Siang itu, setelah memastikan bayi tidur dan Stephanie beristirahat, Keira mendapat waktu kosong dua puluh menit. Jarang sekali ia memiliki jeda tanpa panggilan dari kamar mana pun.
Ia membawa botol minumnya ke taman belakang.
Taman itu berbeda dari halaman utama yang selalu rapi untuk tamu. Di sini, tanaman lebih padat, bayangan pohon lebih tebal, dan suara air dari kolam kecil terdengar pelan. Jalan setapaknya dibuat dari batu alam yang dingin di bawah sol sepatu.
Keira berjalan pelan, bukan untuk mencari udara segar saja.
Sejak malam selimut itu muncul, ia mulai memperhatikan sudut-sudut Kediaman Ciu dengan cara berbeda. Siapa yang bisa masuk ke paviliun belakang tanpa terdengar? Siapa yang tahu jadwalnya? Siapa yang cukup peduli untuk meninggalkan teh, biskuit, lalu selimut, tetapi cukup hati-hati untuk tidak meninggalkan nama?
Pertanyaan itu belum punya bentuk.
Lalu ia mendengar bunyi kecil dari arah sudut taman.
Tik.
Hening.
Tik.
Bukan suara gunting tanaman. Bukan bunyi piring dari dapur belakang. Suara itu lebih ringan, lebih tajam, seperti ujung logam menyentuh batu.
Keira berhenti di balik rumpun kamboja.
Di sudut taman, di bawah pohon yang daunnya menahan sinar matahari menjadi potongan-potongan kecil, seorang pria duduk di bangku batu.
Ia tidak seperti laki-laki Ciu lain yang pernah Keira lihat.
Ko Ethan selalu membawa udara dingin bahkan sebelum ia bicara. Ko Reynard berdiri seperti seseorang yang sejak lahir tahu semua orang akan membuka jalan untuknya. Ko Gilbert datang dengan kerapian yang terlalu lurus, seperti aturan berjalan dengan sepatu mahal.
Pria di bangku batu itu berbeda.
Ia mengenakan kemeja linen putih yang lengannya digulung sampai siku. Tidak ada jas. Tidak ada jam tangan besar. Di depannya terbentang selembar kain tua berwarna abu-abu, di atasnya ada beberapa alat kecil, serpihan halus, dan sepotong giok hijau sebesar dua ruas jari.
Tangan kanannya memegang pisau pahat tipis.
Tik.
Satu serpihan jatuh ke kain.
Sinar matahari lewat di antara daun, jatuh di punggung tangannya. Jari-jarinya panjang, gerakannya pelan, seolah ia sedang membujuk batu itu, bukan memaksanya berubah bentuk.
Keira tanpa sadar menahan napas.
Ada sesuatu pada laki-laki itu yang membuat taman terasa lebih tenang. Bukan karena ia lemah. Bukan juga karena ia tidak berbahaya. Justru karena ia terlihat seperti orang yang memilih diam ketika seluruh rumah ini berlomba-lomba menguasai suara.
Ia menunduk penuh perhatian. Ujung pahatnya menyentuh giok, berhenti, lalu bergerak lagi sedikit saja.
Dari jarak belasan meter, Keira tidak bisa melihat bentuk ukirannya. Mungkin daun. Mungkin bunga. Mungkin sesuatu yang bahkan belum jadi apa-apa.
Namun ia mencium aroma itu.
Samar. Nyaris tenggelam di antara bau tanah basah dan daun. Tetapi tetap ada.
Kayu cendana.
Jari Keira mengencang di leher botol minum.
Aroma yang sama seperti selimut.
Belum tentu dari orang yang sama, pikirnya cepat. Di rumah sebesar ini, banyak benda mahal bisa berbau sama. Banyak orang bisa memakai wewangian yang mirip. Ia tidak boleh melompat ke kesimpulan hanya karena satu bau.
Tetapi dadanya tetap bergerak lebih lambat.
Pria itu tiba-tiba berhenti memahat.
Seolah merasakan ada mata yang menatap, ia mengangkat wajah.
Keira tidak sempat bersembunyi.
Mata mereka bertemu.
Hanya satu detik.
Matanya tenang. Bukan kosong seperti Stephanie di hari pertama, bukan tajam seperti Ethan, bukan menilai seperti para Nyonya. Tenang seperti permukaan kolam sebelum disentuh angin.
Keira refleks menegakkan punggung. Ia sudah siap menunduk dan meminta maaf karena mengganggu.
Namun pria itu hanya mengangguk ringan.
Bukan anggukan tuan kepada staf.
Lebih seperti sapaan singkat pada seseorang yang kebetulan lewat.
Keira membalas dengan menundukkan kepala sedikit.
Tidak ada kata yang keluar.
Pria itu menurunkan pandangan kembali ke gioknya. Ujung pahat bergerak lagi, hati-hati, sabar.
Tik.
Suara itu kembali memenuhi sudut taman.
Keira berdiri beberapa detik lagi, lalu berbalik pergi.
Ia tidak tahu kenapa langkahnya terasa lebih pelan daripada saat datang.
Di koridor menuju dapur belakang, ia bertemu Bi Sari yang sedang memberi instruksi pada dua staf mengenai pengiriman linen bersih.
"Bi Sari," panggil Keira setelah para staf pergi.
Bi Sari menoleh. "Ya, Suster Keira?"
"Di taman belakang ada seseorang yang sedang memahat giok. Itu siapa?"
Wajah Bi Sari berubah sangat sedikit.
Kalau Keira tidak terbiasa memperhatikan perubahan kecil pada bayi dan pasien, ia mungkin tidak akan menyadarinya. Tapi ia melihat jelas bagaimana jari Bi Sari berhenti di atas buku daftar.
"Ko Kevin," jawab Bi Sari.
Nama itu membuat Keira berkedip.
Kevin.
Ia pernah mendengar nama itu di arisan keluarga, samar di antara percakapan para Nyonya. Putra rumah kedua. Anak Nyonya Kedua. Sosok yang jarang muncul di ruang utama, jarang disebut, seperti pintu yang sengaja tidak sering dibuka.
"Ko Kevin," ulang Keira pelan.
"Tuan Muda Kelima," tambah Bi Sari, lebih formal. "Dari rumah kedua."
"Beliau tinggal di sini?"
Bi Sari menutup buku daftar.
"Kadang di sini, kadang di studio. Jadwalnya tidak tetap."
Jawaban itu terdengar rapi. Terlalu rapi.
Keira menatapnya. "Beliau sering memahat di taman?"
"Kalau sedang ingin."
"Bi, saya mengganggu sesuatu?"
Kali ini Bi Sari menatap Keira lebih lama. Di wajah perempuan itu ada peringatan, tetapi bukan jenis peringatan yang biasa ia berikan saat menjelaskan aturan lantai empat atau ruang kerja Ethan.
Peringatan itu lebih lembut. Lebih seperti menjaga seseorang yang tidak hadir.
"Suster Keira," kata Bi Sari akhirnya, suaranya rendah, "kalau bertemu Ko Kevin, cukup beri salam. Jangan banyak tanya."
Keira tidak langsung menjawab.
"Apakah beliau tidak suka ditanya?"
"Bukan begitu."
Bi Sari berhenti, seperti menimbang kalimat yang boleh hidup dan kalimat yang harus mati di lidahnya.
"Rumah kedua punya urusan sendiri."
Kalimat itu menutup percakapan.
Keira tahu kapan harus mundur.
"Baik, Bi."
Ia kembali ke kamar pengasuh dengan lebih banyak pertanyaan daripada sebelumnya.
Di lemari, selimut kecil itu masih terlipat rapi. Keira membukanya sedikit, mendekatkan kainnya ke hidung, lalu menutupnya lagi. Aroma kayu cendana itu memang sama, atau setidaknya sangat mirip.
Ko Kevin.
Pemahat giok di taman.
Rumah kedua.
Bi Sari yang tiba-tiba berhati-hati.
Keira menutup lemari.
Ia belum punya bukti.
Dan di Kediaman Ciu, firasat tanpa bukti hanya akan membuat seseorang terlihat bodoh.
Sore itu, di sudut taman yang sama, Kevin Ciu masih duduk di bangku batu.
Keira sudah lama pergi.
Pisau pahatnya berhenti di atas giok.
Ia menatap arah jalan setapak yang tadi dilewati Keira, lalu pelan-pelan merogoh saku kemejanya.
Dari sana, ia mengeluarkan selembar kertas kecil yang sudah dilipat dua.
Kertas itu bukan catatan ukiran.
Bukan juga sketsa.
Di atasnya tertulis jadwal kerja Keira Lo selama satu minggu, lengkap dengan jam istirahat, giliran jaga bayi, dan waktu ia biasanya kembali ke paviliun belakang.
Kevin menatap tulisan itu lama.
Angin menggoyangkan daun di atas kepalanya.
Di atas kain tua, giok hijau yang belum selesai berkilau pelan.