Enam bulan menjadi "burung kenari" konglomerat paling berkuasa di Jakarta, Keira Salim menyelesaikan misinya -- membalas dendam untuk kakaknya yang koma akibat perundungan -- lalu pergi tanpa jejak.
Rayhan Hartono terbangun di apartemen kosong. Cincin berlian merah yang dipesan khusus dari Jerman masih di sakunya. Surat perpisahan Keira hanya berisi satu kalimat: *"Terima kasih. Kita impas."*
Baru saat kehilangan, sang pewaris Hartono Group menyadari -- dia bukan yang menyelamatkan Keira malam itu. Keira-lah yang merancang segalanya sejak awal.
Dan sekarang, pria yang tidak pernah berlutut di hadapan siapa pun... bersedia merangkak ke ujung dunia demi membawanya pulang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 18: Perang Dingin
Dan anehnya, justru dari kekosongan itu, marahnya menemukan bentuk.
Sore itu, Keira tidak pulang ke Hartono Estate.
Ia kembali ke apartemen kecil yang disediakan HEALER untuk staf eksekutif, mandi lama sampai kulitnya memerah, lalu berdiri di depan cermin tanpa kalung safir di leher. Bekas rantai tipis masih terasa meski tidak terlihat. Seolah tubuhnya mengingat benda itu lebih lama daripada pikirannya mengizinkan.
Ponselnya menyala.
Rayhan.
Keira menatap nama itu sampai panggilan berhenti. Lalu pesan masuk.
Kamu di mana?
Kei, jawab.
Jangan bikin aku cari sendiri.
Keira mengetik satu kalimat.
Malam ini aku tidak pulang.
Setelah itu ia memblokir nomor Rayhan, WhatsApp, dan email pribadinya. Ia memblokir nomor kantor yang biasa dipakai Farel menghubunginya. Ia bahkan mematikan notifikasi aplikasi internal HEALER karena tahu Rayhan bisa membeli terlalu banyak pintu.
Selama dua jam, apartemen itu sunyi.
Tari menawarkan datang. Keira menolak. Kevin mengirim pesan singkat menanyakan apakah teknisi sudah melepas modul dengan aman. Keira menjawab ya. Setelah itu ia meletakkan ponsel di meja, mengambil koper kecil, dan mulai memasukkan pakaian kerja untuk perjalanan Bali yang seharusnya baru ia siapkan besok.
Kesunyian itu tidak benar-benar kosong. Resepsionis apartemen menelepon sekali, bertanya apakah Keira sedang menerima tamu bernama Rayhan Hartono. Keira menjawab tidak. Lima belas menit kemudian, satpam mengirim pesan sopan bahwa ada kendaraan hitam menunggu di basement tetapi tidak masuk ke area lift karena akses penghuni tidak diberikan.
Keira berdiri di tengah kamar dengan kemeja kerja di tangan.
Rayhan tidak perlu berteriak untuk membuat ruangan terasa dikepung. Namanya saja sudah cukup untuk membuat semua pintu di gedung kecil ini ragu menolak.
Ia menutup koper lebih keras dari perlu.
Lalu ia menarik semua tirai sampai rapat. Untuk pertama kali, apartemen yang dulu terasa sementara kini terasa seperti satu-satunya ruang yang harus ia pertahankan.
Pukul sembilan lewat, terdengar suara dari jendela.
Keira berhenti.
Apartemennya berada di lantai tiga. Jendela ruang tamu menghadap sisi gedung yang punya balkon servis sempit. Hanya orang nekat atau orang yang tidak pernah diajari arti pintu yang akan memilih jalur itu.
Kunci jendela bergerak dari luar.
Rayhan masuk dengan napas berat, kemejanya sedikit robek di lengan. Di belakangnya, malam Jakarta terbentang gelap. Ia berdiri di ruang tamu Keira seperti pria yang merasa berhak masuk karena pernah menyelamatkan nyawa orang di dalamnya.
Keira menatapnya tanpa berkedip. "Keluar."
"Kamu memblokir semua kontakku."
"Itu petunjuk."
"Kamu tidak pulang setelah diculik dua hari lalu. Kamu pikir aku akan duduk manis?"
"Aku pikir kamu akan belajar mengetuk."
Rayhan melihat leher Keira.
Kosong.
Sesuatu di wajahnya berubah.
"Di mana kalungnya?"
"Dilepas."
"Siapa yang melepas?"
"Teknisi."
Rayhan berjalan mendekat. "Keira."
"Jangan maju."
Ia berhenti, tetapi rahangnya mengeras. "Itu untuk melindungimu."
"Itu untuk mengawasiku."
"Kalau tidak ada pelacak itu, kamu masih di bagasi mobil."
"Kalau kamu tidak memasangnya diam-diam, aku mungkin akan percaya saat kamu bilang ingin melindungi."
"Aku tidak pernah bermaksud menyakitimu."
"Niatmu tidak menghapus perbuatannya."
Rayhan mengusap wajahnya. Untuk pertama kalinya, ia tampak benar-benar tidak mengerti mengapa sesuatu yang menurutnya menyelamatkan justru membuat Keira marah. "Aku melihatmu hampir hilang, Kei. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi."
"Aku bukan barang yang bisa kamu tandai."
"Aku tahu."
"Tidak. Kamu tidak tahu. Kalau kamu tahu, kamu tidak akan memasukkan matamu ke perhiasan yang kamu pasang sendiri di leherku."
Kalimat itu menampar lebih keras daripada teriakan.
Rayhan menatapnya, mata merah oleh lelah dan marah. "Kamu hidup karena benda itu."
"Dan sekarang kepercayaanku mati karena benda itu."
Sunyi.
Keira mengambil koper kecil dari sofa. "Aku berangkat ke Bali besok pagi untuk seminar parfum. Tari ikut. Kamu tidak."
"Tidak."
"Itu bukan permintaan."
"Aku bilang tidak."
"Kamu tidak punya hak melarang."
"Aku punya hak khawatir."
"Khawatir bukan surat kuasa."
Rayhan bergerak lebih cepat daripada yang Keira perkirakan. Ia meraih pergelangan tangannya. Keira mencoba menarik diri, tetapi tubuhnya masih lemah setelah penculikan dan demam. Rayhan menahan tangannya di depan tubuhnya, bukan sampai menyakiti, tetapi cukup kuat untuk membuat Keira tidak bisa mundur.
"Lepas."
"Dengar dulu."
"Lepas, Rayhan."
Rayhan tidak melepas. Ketakutan yang tidak bisa ia akui berubah menjadi kontrol di jari-jarinya. Ia melihat dasi yang tergantung di lehernya, lalu dalam gerakan kacau, ia melilitkannya ke pergelangan Keira untuk menahan kedua tangan di depan, seolah jika tangan itu diam, Keira juga akan berhenti pergi.
Wajah Keira berubah sangat dingin.
"Kamu baru saja memilih menjadi alasan aku pergi."
Rayhan membeku.
Namun ia sudah terlalu jauh. Ia menunduk, mencoba mencium Keira, bukan dengan kelembutan, melainkan dengan panik. Keira memalingkan wajah. Bibir Rayhan hanya menyentuh sudut rahangnya.
"Jangan," kata Keira.
Kata itu tajam, jelas, tidak bisa disalahartikan.
Rayhan berhenti.
Satu detik terlambat, tetapi ia berhenti.
Keira menatapnya dari jarak dekat. Tidak ada takut di matanya. Hanya jijik pada pilihan Rayhan, dan rasa sakit yang membuat dada Rayhan seperti diremas.
"Kamu menyelamatkanku dari bagasi," katanya pelan. "Lalu sekarang kamu membuatku merasa terkurung di ruanganku sendiri."
Tangan Rayhan mengendur.
Keira menarik diri, tetapi dasi masih melilit pergelangan. Ia mengangkat lutut dan menendang dada Rayhan dengan seluruh tenaga yang tersisa. Rayhan jatuh ke sisi tempat tidur dengan napas terhenti.
Keira membuka lilitan dasi. Pergelangan tangannya memerah.
Rayhan bangkit setengah. "Kei..."
"Keluar."
"Aku..."
"Keluar."
Kali ini suara Keira tidak keras. Justru karena tidak keras, Rayhan berhenti mencoba mendekat.
Ia berdiri perlahan. Di ambang jendela, ia menoleh sekali lagi. Wajahnya pucat, matanya penuh sesuatu yang hampir mirip penyesalan tetapi belum cukup dewasa untuk disebut begitu.
"Aku hanya takut kehilangan kamu."
"Kalau begitu berhenti bersikap seperti orang yang membuatku ingin lari."
Rayhan tidak punya jawaban.
Ia keluar lewat pintu, bukan jendela. Setidaknya kali ini ia belajar satu hal yang sangat terlambat.
Keira mengunci pintu setelahnya. Tangannya baru gemetar ketika kunci sudah berputar. Ia duduk di lantai ruang tamu, menarik napas panjang, lalu mengirim pesan pada Tari.
Besok kita berangkat lebih pagi. Bali.
Tari membalas hampir seketika.
Siap, Ci. Aku ikut.
Keira menatap koper kecil di sofa. Lehernya kosong, pergelangan tangannya merah, dan apartemen itu masih menyimpan bau hujan dari jendela yang dibuka paksa.
Ia tidak menangis.
Ia hanya mengambil ponsel, memastikan semua nomor Rayhan tetap terblokir, lalu mematikan lampu.
Besok, ia akan menaruh laut di antara mereka.
Dan kali ini, tanpa izin Rayhan.