Bagi Adrian, Dira hanyalah seorang gadis jalanan yang pernah ia selamatkan. Namun bagi Dira, Adrian adalah alasan ia bertahan hidup, bangkit dari kemiskinan, dan mengubah takdirnya.
Malam itu, ia bertekad mengubah dirinya bukan sebagai gadis jalanan lagi, melainkan wanita yang siap melakukan apa saja demi memiliki pria yang telah menguasai hatinya.
"Sekecil apapun kesempatan itu, akan ku manfaatkan sebaik mungkin!" (Dira)
#CintaRomantis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
Ia tidak sekadar menjual. Ia belajar memahami pelanggan.
Jika ada teman yang memiliki kulit berminyak, ia akan merekomendasikan produk yang sesuai. Jika ada yang masih ragu, Dira tidak pernah memaksa. Baginya, kepercayaan jauh lebih penting daripada mendapatkan satu transaksi. Pelan tetapi pasti, usahanya mulai berkembang.
Teman-teman yang puas dengan produk yang dibelinya mulai merekomendasikan Dira kepada teman lain. Pesanan pun terus bertambah dari minggu ke minggu. Dalam waktu satu bulan, Dira membuka buku catatan keuangannya dan terdiam.
Ia menghitung sekali. Lalu menghitung untuk kedua kalinya. Matanya membelalak. "Sepuluh juta..." Tangannya sedikit gemetar.
Keuntungan penjualannya telah mencapai sepuluh juta rupiah. Jumlah uang yang dulu bahkan tidak pernah berani ia bayangkan.
Saat mengetahui pencapaian itu, Beri meminta Dira datang ke ruang kerjanya. "Bawa buku catatanmu."
Dira menyerahkannya dengan gugup.
Beri memeriksa setiap halaman dengan teliti. Catatan pemasukan, pengeluaran, stok barang, hingga daftar pelanggan tersusun rapi. Semakin lama membaca, semakin lebar senyum di wajahnya. Akhirnya ia menutup buku itu dan menatap Dira. "Kamu tahu?"
Dira menggeleng.
"Aku sudah membimbing banyak orang yang ingin belajar bisnis."
Dira menunggu kelanjutan kalimatnya.
"Tapi jarang ada yang bisa berkembang secepat kamu."
Dira tersipu malu. "Ini semua karena Kak Beri yang mengajari saya."
Beri menggeleng pelan. "Aku hanya menunjukkan jalannya. Yang berjalan sejauh ini adalah kamu sendiri." Ia tersenyum bangga. "Kamu punya sesuatu yang tidak bisa diajarkan.
"Apa itu?"
"Disiplin."
Beri melanjutkan, "Ilmu bisa dipelajari. Modal bisa dicari. Tapi disiplin, kemauan untuk terus belajar, dan keberanian memperbaiki kesalahan adalah hal yang membuat seorang pengusaha bertahan."
Dira mengepalkan tangannya dengan penuh semangat. Ia sadar, perjalanan ini baru saja dimulai. Namun untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar sedang membangun masa depannya dengan kedua tangannya sendiri.
Saya buat adegan ini tetap menunjukkan rasa terima kasih Dira sekaligus menggambarkan sifatnya yang hemat dan berpikir seperti pebisnis.
Sore itu, setelah salon tutup, Dira menghampiri Beri yang masih sibuk menatap layar laptopnya. "Kak Beri."
Beri mengangkat kepala. "Hm? Ada apa?"
Dira tersenyum canggung sambil menggenggam beberapa lembar uang di tangannya. "Aku... mau mentraktir Kak Beri."
Beri terkekeh. "Mentraktir aku?"
"Iya. Sebagai ucapan terima kasih karena Kak Beri sudah sabar mengajariku."
Beri menutup laptopnya. "Wah, boleh juga. Mau traktir apa? Restoran?"
Wajah Dira langsung memerah. "Maaf, Kak... kalau restoran aku belum sanggup."
"Lalu?"
Dira menunjuk sebuah gerai es krim yang berada di seberang jalan. "Es krim."
Beri spontan tertawa. "Serius cuma es krim?"
Dira ikut tersenyum. "Iya. Soalnya keuntungan usahaku mau aku putar lagi buat nambah stok. Kalau dipakai makan mahal, nanti modalnya berkurang."
Jawaban itu membuat Beri berhenti tertawa. Ia menatap Dira beberapa detik. "Jadi kamu lebih memilih mengembangkan usahamu daripada menghabiskan uang untuk bersenang-senang?"
Dira mengangguk mantap. "Aku sudah terlalu lama hidup tanpa uang. Sekarang setiap rupiah yang bisa menghasilkan rupiah lain rasanya sayang kalau dihabiskan."
Beri tersenyum kagum. "Kamu benar-benar berbeda."
Tak lama kemudian mereka duduk di bangku depan gerai es krim, masing-masing memegang satu cone es krim sederhana. Dira tersenyum puas. "Maaf ya, Kak. Baru bisa mentraktir beginian."
Beri menggigit sedikit es krimnya lalu tersenyum. "Justru ini traktiran paling berharga yang pernah aku terima."
Dira menatapnya bingung.
"Karena aku tahu, kamu membelinya bukan untuk pamer. Kamu membeli ini dari hasil kerja kerasmu sendiri."
Dira tersenyum kecil. Dalam hati, ia berjanji suatu hari nanti, ketika usahanya telah berhasil, ia akan mentraktir semua orang yang pernah membantunya dengan cara yang jauh lebih istimewa.
***
Usaha Dira yang selama ini berjalan mulus akhirnya mendapat ujian. Saat jam istirahat di sekolah, tiba-tiba seorang siswi bernama Rani berjalan cepat menghampirinya. Wajahnya tampak kesal. "Dira!"
Semua siswa yang berada di kantin langsung menoleh.
Dira berdiri. "Ada apa, Ran?"
Rani menunjuk wajahnya yang dipenuhi jerawat yang sedang meradang. "Lihat ini!"
Dira terkejut. "Kok bisa...?"
"Jangan pura-pura tidak tahu! Ini terjadi setelah aku memakai skincare yang kamu jual!"
Suasana kantin mendadak hening. Beberapa siswa mulai berbisik-bisik.
"Itu, kan, skincare yang dijual Dira."
"Pantas saja..."
"Apa produknya berbahaya?"
Jantung Dira berdegup kencang. Ia tidak pernah membayangkan kejadian seperti ini.
Rani menahan air mata. "Aku beli karena percaya sama kamu! Sekarang wajahku malah begini. Gimana kalau bekasnya tidak hilang?"
Dira menatap wajah temannya dengan rasa bersalah. "Aku benar-benar minta maaf, Ran. Aku tidak pernah berniat membuatmu seperti ini."
"Terus sekarang bagaimana?"
Dira menarik napas dalam-dalam. Ia teringat semua pelajaran yang diberikan Dokter Monik dan Beri. Jangan panik. Jangan menyalahkan pelanggan. Dengarkan keluhannya terlebih dahulu. Dengan suara tenang, Dira berkata, "Ran, aku tidak akan lari dari tanggung jawab. Setelah pulang sekolah, mau ikut denganku ke Salon Bu Monik? Dokter Monik bisa memeriksa langsung kondisi kulitmu dan mencari tahu penyebabnya."
Rani masih tampak kesal, tetapi melihat kesungguhan Dira, emosinya sedikit mereda. "Tapi aku nggak punya biaya untuk konsultasi dengan dokter!"
"Sebagai bentuk tanggung jawab, aku yang akan membayarnya."
"Kalau memang kamu bertanggung jawab... aku ikut."
Dira mengangguk mantap. "Aku janji kita cari solusinya bersama." Meski berusaha tetap tenang, di dalam hati Dira muncul rasa cemas yang luar biasa. Ini bukan hanya tentang satu pelanggan. Jika ia gagal menangani masalah ini dengan baik, kepercayaan yang selama ini ia bangun bisa runtuh dalam sekejap. Dan untuk pertama kalinya sejak memulai usahanya, Dira benar-benar merasakan bahwa dunia bisnis tidak hanya dipenuhi keuntungan, tetapi juga tanggung jawab yang besar, padahal Dira menyimpan harapan besar agar kelak usahanya menjadi besar.
Sepulang sekolah, Dira menepati janjinya. Ia mengantar Rani langsung ke salon milik Dokter Monik. Sepanjang perjalanan, Dira terus merasa bersalah. "Maaf ya, Ran," ucapnya pelan. "Apa pun hasil pemeriksaannya nanti, aku yang akan bertanggung jawab. Kalau memang perlu biaya perawatan, aku yang akan menanggungnya."
Rani memandang Dira beberapa saat. Kekesalannya memang belum hilang, tetapi ia bisa melihat bahwa Dira tidak sedang mencari alasan untuk lari dari masalah.
Sesampainya di salon, Dokter Monik segera memeriksa kondisi kulit Rani dengan saksama. Beliau mengajukan beberapa pertanyaan. "Sejak kapan mulai memakai produknya?"
"Sudah sekitar dua minggu, Dok."
"Apakah sebelumnya wajahmu memang sering berjerawat?"
"Iya, tapi tidak sebanyak sekarang."
Dokter Monik kemudian memeriksa kulit wajah Rani menggunakan alat pembesar. Beberapa menit kemudian, beliau tersenyum tipis. "Dira, kamu tidak perlu panik."
Dira yang sejak tadi menahan napas langsung menatap Dokter Monik. "Bagaimana, Dok?"