Tiga puluh tahun Liana Liem mengabdikan hidupnya untuk keluarga suaminya. Memasak, merawat mertua lumpuh, membesarkan anak — sampai tubuhnya aus dan hatinya kering.
Di usia lima puluh, ia menemukan kenyataan yang menghancurkan: suaminya, Albert Phua, telah berselingkuh selama sebelas tahun. Ada wanita lain. Ada anak lain.
Liana memilih cerai.
Tanpa uang, tanpa pengalaman kerja, tanpa tempat tinggal — Liana memulai hidup dari nol. Tapi takdir punya rencana lain. Sebuah kebaikan kecil membawanya masuk ke dunia Loh Group, konglomerat terbesar di Jakarta. Dan di sana, ia bertemu bosnya: Edwin Loh — pria yang ternyata sudah menunggunya selama tiga puluh tahun.
Tapi rahasia terbesar bukan soal cinta.Kevin, anak angkat Edwin yang selama ini memanggil Liana "Bu" — mungkinkah dia adalah. Lele, putra kandung Liana yang hilang dua puluh tahun lalu?
Siapa yang mencuri anaknya? Siapa yang merusak jodohnya? Dan apakah di usia lima puluh, takdir masih bisa memberikan keadilan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25: Undangan Gala Amal
Undangan itu datang dalam amplop putih tebal dengan logo emas Grand Hyatt Jakarta di sudut kanan.
Liana menemukannya di atas meja Arman, bersama folder jadwal akhir pekan Edwin. Ia hanya melihat sekilas, mengira itu urusan tamu VIP seperti biasa. Namun Arman memanggilnya sebelum ia kembali ke meja.
"Bu Liana, Sabtu malam ada gala amal tahunan."
"Baik. Saya siapkan rundown dan daftar tamu untuk Pak Edwin?"
"Bukan hanya itu." Arman menyerahkan satu lembar terpisah. "Boss meminta Ibu ikut hadir. Tugas utama: onsite interpreter untuk beberapa tamu asing dan donor luar negeri."
Jari Liana menahan kertas itu terlalu kuat.
"Saya?"
"Ya."
"Ko Arman, saya belum pernah datang ke acara seperti itu."
"Saya tahu."
"Kalau saya salah bersikap?"
"Maka kita koreksi sebelum acara." Arman bicara seperti sedang menjelaskan jadwal rapat, bukan membuat Liana masuk ke dunia yang selama ini hanya ia lihat dari layar televisi. "Ada briefing dress code, daftar tamu, dan materi pidato. Ibu sudah menangani kontrak, ini hanya panggung yang lebih ramai."
"Kontrak tidak menatap balik."
Arman hampir tersenyum. "Benar juga."
Pintu ruang Edwin terbuka. Pria itu keluar dengan tablet di tangan, tetapi jelas mendengar kalimat terakhir.
"Kamu khawatir?" tanya Edwin.
Liana berdiri lebih tegak. "Saya khawatir membuat perusahaan malu, Pak Edwin."
"Tugasmu menerjemahkan dengan baik. Yang lain biar saya yang urus."
Kalimat itu singkat, tetapi ada bobot yang membuat kegelisahan Liana turun sedikit. Seolah ia tidak diminta melompat sendirian, melainkan berjalan dengan seseorang yang sudah memeriksa jembatannya lebih dulu.
"Baik, Pak."
Edwin menatap daftar di tangannya. "Arman akan atur kebutuhanmu."
"Kebutuhan?"
"Dress code formal. Jangan pakai pakaian kantor."
Wajah Liana langsung panas. "Saya bisa cari sendiri."
"Bagus," kata Edwin datar. "Cari yang membuatmu nyaman."
Ia pergi sebelum Liana bisa menjawab. Arman menunduk ke tablet, tetapi sudut mulutnya bergerak.
"Ko Arman jangan tertawa."
"Saya tidak tertawa, Bu Liana."
"Wajah Ko Arman tertawa."
"Maaf."
Sore itu, Tiara muncul di lobi Loh Group dengan mata berbinar begitu Liana mengirim pesan meminta pendapat soal pakaian.
"Ci, ini bukan minta pendapat. Ini misi."
"Tia, aku hanya butuh baju yang sopan."
"Sopan iya. Tapi jangan seperti mau rapat RT."
Mereka pergi ke salah satu mal besar di Jakarta Pusat. Tiara berjalan seperti komandan kecil, masuk dari satu butik ke butik lain, memilih warna, memeriksa potongan, menolak gaun yang terlalu muda, terlalu ramai, terlalu terbuka, atau terlalu membuat Liana tampak seperti ingin bersembunyi di balik kain.
Liana mencoba tiga gaun dan merasa semuanya bukan dirinya.
Yang hitam terlalu kaku. Yang biru membuatnya tampak pucat. Yang abu-abu membuat Tiara langsung menggeleng sebelum ritsleting selesai ditutup.
"Ci Liana, ini gala amal, bukan sidang pajak."
"Aku memang berharap terlihat seperti orang yang boleh pulang cepat."
Tiara tertawa, lalu menarik satu gaun dari rak belakang.
Warnanya merah anggur. Tidak menyala, tetapi dalam. Potongannya sederhana, lengan pendek, jatuh mengikuti tubuh tanpa memaksa. Ada detail lipit halus di pinggang yang membuat postur Liana terlihat lebih panjang dan tenang.
"Coba ini."
Liana ingin menolak. Warna itu terlalu berani untuk dirinya yang tiga puluh tahun terbiasa memilih cokelat, krem, atau warna apa pun yang tidak membuat orang menoleh.
Namun Tiara sudah mendorongnya ke ruang ganti.
Ketika tirai terbuka, Tiara tidak langsung bicara.
Liana berdiri di depan cermin besar. Untuk sesaat, ia tidak mengenali perempuan di sana. Wajahnya masih sama, garis halus di sudut mata tetap ada, lehernya tidak lagi muda. Tetapi gaun itu tidak menyamarkan usianya. Justru membuatnya tampak seperti perempuan yang telah melewati banyak hal dan tetap berdiri.
Penjaga butik tersenyum tulus. "Ibu kelihatan anggun sekali."
Liana menunduk, gugup.
Tiara mendekat dari belakang, matanya sedikit berkaca. "Ci, ini."
"Terlalu mencolok."
"Tidak. Ini bukan mencolok. Ini terlihat seperti Ci akhirnya tidak minta maaf karena ada di ruangan."
Kalimat itu membuat Liana diam.
Selama ini ia memang seperti itu. Masuk ruangan dengan tubuh sedikit mengecil, suara sedikit ditahan, wajah selalu siap meminta maaf bahkan untuk hal yang bukan salahnya.
Di cermin, perempuan bergaun merah anggur itu tidak meminta maaf.
"Harganya pasti mahal," bisik Liana.
"Aku patungan sama Jessy."
"Tia."
"Jangan marah. Jessy sudah transfer sebelum aku ajak Ci pergi. Katanya kalau Ci menolak, aku disuruh pura-pura ini diskon sembilan puluh persen."
Liana menutup mata, antara ingin tertawa dan menangis.
Malamnya, di rumah Jessy, Liana menggantung gaun itu di pintu lemari. Jessy berputar mengelilinginya seperti kurator pameran.
"Nah, ini baru. Albert lihat bisa keselek."
"Jess."
"Apa? Aku cuma berharap semesta punya selera humor."
Mereka tertawa pelan. Setelah Jessy keluar, Liana berdiri sendirian di depan cermin. Ia menyentuh kain merah anggur itu. Untuk pertama kalinya setelah lama sekali, ia merasa gugup bukan karena takut dihina, tetapi karena ada kemungkinan ia akan dilihat.
Ponsel barunya berbunyi.
Arman mengirim file daftar tamu dan susunan acara. Liana membuka satu per satu. Nama hotel, jadwal sambutan, meja donor, daftar tamu asing, semua ia baca dengan serius.
Lalu matanya berhenti pada satu baris.
Lily Yao, CEO Dongsheng Group.
Entah kenapa, nama itu membuat dadanya menegang.
Liana belum pernah bertemu perempuan itu. Namun di samping nama Lily ada catatan singkat: kolega lama keluarga Loh, jaringan dekat Edwin Loh.
Kata dekat itu terasa dingin di layar.
Liana menatap gaun merah anggur di pintu lemari.
Malam gala tiba-tiba terasa tidak sekadar pekerjaan.
Halo kakak2, jangan lupa mampir dikarya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan
Terimakasih 🙏
Temen2, dukung dan baca karya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan
Terimakasih 🙏
/Pray/