Saat ajalnya tiba di tengah kobaran api dan puing Suku Serigala, Yana diberi kesempatan kedua oleh Dewa Binatang.
Ia terbangun di usianya yang ke-16—tepat dua bulan sebelum tragedi berdarah itu merenggut nyawa ayahnya dan meratakan tanah kelahirannya.
Namun, ancaman terbesar bukanlah monster, melainkan seorang gadis dari dunia lain yang mengaku sebagai "Wanita Suci". Berkedok kemajuan modern, ide-idenya justru merusak keseimbangan alam dan memicu perang antarsuku.
Siapakah sebenarnya sang Wanita Suci pilihan Dewa Binatang yang sesungguhnya? Mampukah Yana menyembunyikan identitasnya demi menyelamatkan sukunya tepat waktu?
Ikuti perjuangan Yana menembus batas takdir dan selamatkan dunia binatang sebelum semuanya terlambat! Baca selengkapnya sekarang di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Roditya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 — Firasat
Matahari perlahan bergeser ke arah barat, memancarkan warna jingga keemasan yang menembus sela-sela pepohonan pegunungan.
Udara dingin di sore hari mulai menyelimuti wilayah Suku Serigala, membawa aroma asap kayu bakar yang membumbung hangat dari perapian warga.
Di gerbang kayu pemukiman, sorak-sorai riuh bergema saat rombongan berburu yang dipimpin oleh Aron akhirnya kembali.
Para prajurit yang bertugas menjaga pos melambaikan tangan gembira. Meski kelompok Aron tidak membawa tumpukan daging sebanyak biasanya karena rute berburu yang mendadak dialihkan, ada sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekadar hasil buruan: seluruh sepuluh prajurit veteran kembali tanpa ada satu pun yang terluka.
"Aron! Bagaimana perburuan di Hutan Hitam?" panggil Paman Barek yang sedang berdiri menyandarkan tubuhnya pada tombak kayu di dekat gerbang.
Paman Bimo—yang berjalan di samping Aron—langsung membalas dengan wajah pucat yang belum sepenuhnya pulih dari rasa syok. "Hampir saja menjadi tempat pemakaman kita, Barek! Kau tidak akan percaya apa yang kami lihat di sana."
Beberapa prajurit muda dan warga suku yang mendengar ucapan Paman Bimo langsung mendekat karena penasaran.
"Apa yang terjadi, Bimo? Apakah kalian diserang kelompok beruang beracun?" tanya seorang tetua suku yang melangkah menghampiri mereka.
Aron melepaskan beban di pundaknya, lalu menatap warga dengan ekspresi tegang sekaligus bingung. "Kami menemukan sarang utama Babi Hutan Berduri di celah tebing bawah. Puluhan dari mereka mengamuk di tempat yang sangat sempit."
Desahan napas tertahan bergema di antara kerumunan.
Semua orang di Suku Serigala tahu betapa mematikannya Babi Hutan Berduri jika mengamuk di dalam celah sempit.
Duri-duri beracun mereka bisa menembus perisai kayu dan kulit tebal dalam sekejap.
"Dewa Binatang melindungi kalian..." gumam tetua itu sambil mengelus janggutnya. "Bagaimana kalian bisa tahu sarang itu ada di sana sebelum melangkah masuk?"
Paman Bimo menggelengkan kepala dengan mimik wajah misterius. "Itulah anehnya! Kami sebenarnya sudah hampir melangkah masuk ke celah itu. Tapi tiba-tiba ada bau darah segar di jalur atas. Saat kami memeriksa ke sana, Babi Hutan Berduri itu meledak dalam amukan di bawah. Jika bukan karena ceceran darah misterius itu... kami bersepuluh orang pasti sudah rata dengan tanah!"
"Darah misterius?"
Kerumunan mulai berbisik-bisik.
Para prajurit membicarakan keberuntungan ajaib yang menyelamatkan pimpinan suku mereka dari kehancuran.
Di tengah kehebohan warga suku, Yana berdiri agak jauh di bawah naungan pohon rindang, tampak sibuk membersihkan peralatan masak batu bersama para wanita lain. Ia sengaja membelakangi kerumunan, berpura-pura tidak mendengarkan percakapan hebat tersebut.
Kedua tangannya disembunyikan rapat di dalam balutan perban kain tebal yang melapisi telapak tangannya yang disayat tadi siang.
"Hei, Yana!"
Sebuah panggilan membuat Yana menghentikan kegiatannya. Ia menoleh dan mendapati Luka berjalan menghampirinya dengan raut wajah heran.
Luka baru saja kembali dari kelompok perburuan sungai barat bersama timnya.
"Aku dengar rombongan Kepala Suku baru saja selamat dari bencana di Hutan Hitam," kata Luka sambil menyilangkan tangan di dada. Matanya menatap Yana dengan selidik. "Bukankah tadi pagi kamu yang melarang Paman Aron pergi ke Hutan Hitam?"
Suara Luka yang tidak ditahan itu menarik perhatian beberapa prajurit yang berdiri tak jauh dari sana, termasuk Paman Bimo dan Aron.
Aron mendadak membeku di tempatnya. Ingatannya melayang kembali ke kejadian tadi pagi di depan Gua Utama. Putrinya—Yana—dengan tegas memintanya membatalkan rute Hutan Hitam karena merasa ada bahaya besar yang mengintai di sana.
Aron melangkah cepat menghampiri Yana, diikuti oleh Paman Bimo dan dua tetua suku.
"Yana..." panggil Aron dengan suara berat. "Tadi pagi... kamu memperingatkanku tentang bahaya di Hutan Hitam. Bagaimana kamu bisa begitu yakin?"
Yana menarik napas perlahan, menyembunyikan keterkejutannya. Ia membalikkan badan dan menatap ayahnya dengan tenang, meski dadanya berdebar agak kencang.
"Aku sudah bilang padamu tadi pagi, Ayah," jawab Yana dengan nada jujur yang dibuat-buat. "Aku mendapatkan firasat buruk. Hawa dingin dari utara terasa sangat tidak biasa saat aku bangun tidur, dan naluriku terus menyuruhku untuk melarang Ayah pergi ke sana."
"Hanya firasat?" sela Paman Bimo dengan mata membelalak heran. "Tapi firasatmu itu tepat sasaran! Jika bukan karena rute kita teralih oleh bau darah di jalur kanan, kita sudah tewas!"
"Tunggu dulu," panggil sebuah suara tua namun berwibawa dari arah belakang kerumunan.
Warga suku memberikan jalan saat seorang pria tua berambut putih panjang melangkah mendekat. Ia adalah Tetua Gordon—tetua tertua di Suku Serigala yang bertugas menjaga tradisi dan hukum suku.
Tetua Gordon berjalan perlahan menggunakan tongkat kayunya, matanya yang tajam dan kelabu menatap Yana dari kepala hingga ujung kaki. Tatapan itu terasa begitu menembus, seolah-olah sang tetua berusaha mencari tahu rahasia yang tersembunyi di balik mata gadis remaja tersebut.
"Firasat seekor serigala memang sering kali tajam," kata Tetua Gordon tenang, suaranya dalam dan bergema. "Namun, firasat yang secara tepat memprediksi bencana di wilayah yang jauh... itu bukanlah hal yang biasa."
Tetua Gordon menghentikan langkah tepat di depan Yana.
Matanya yang jeli tak sengaja menangkap balutan kain tebal yang melingkari telapak tangan kanan Yana.
"Tanganmu kenapa, Yana?" tanya Tetua Gordon mendadak, menunjuk ke arah tangan Yana dengan ujung tongkatnya.
Luka dan Aron ikut menoleh menatap tangan Yana.
"Yana? Tadi pagi tanganmu tidak diikat seperti itu. Kenapa terbungkus kain?" tanya Aron cemas, meraih tangan putrinya untuk diperiksa.
Yana dengan halus menahan tangannya agar tidak ditarik terlalu kuat oleh ayahnya, lalu tersenyum tipis tanpa rasa gugup.
"Tadi siang aku membantu Nenek Greta memotong kayu akar keras di gua obat. Pisau pemotongnya tergelincir dan menyayat telapak tanganku," kilah Yana cepat dan lancar. "Nenek Greta sendiri yang membungkusnya dengan obat penutup luka."
Mendengar nama Nenek Greta—yang terkenal ketat dan ahli obat-obatan suku—Aron menghembuskan napas lega dan tidak meragukannya lagi.
Namun, Tetua Gordon tidak begitu saja mengalihkan pandangannya. Sang tetua tetap memperhatikan Yana dengan raut wajah penuh teka-teki.
"Dewa Binatang sering kali memberikan petunjuk kepada orang-orang yang berjiwa murni," ujar Tetua Gordon pelan namun tegas, membuat seluruh warga suku diam mendengarkan. "Kadang firasat bukanlah sekadar kebetulan... melainkan sebuah petunjuk dari sang Pencipta bagi mereka yang terpilih."
Deg!
Kata 'terpilih' yang diucapkan Tetua Gordon membuat dada Yana berdesir ketat.
Di kehidupan sebelumnya, gelar "Wanita Suci yang Terpilih" direbut oleh gadis transmigrator asing itu karena keajaiban dan pengetahuan yang dibawanya.
Tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa Yana adalah pemilik kekuatan suci yang sebenarnya sampai semuanya terlambat.
Yana menundukkan kepalanya dengan sopan di depan Tetua Gordon. "Aku hanya seorang gadis suku yang tidak ingin Ayah dan suku kita terluka, Tetua. Aku bersyukur firasatku bisa membawa keselamatan bagi semua orang."
Tetua Gordon mengangguk-angguk pelan. "Apapun itu, suku kita harus berterima kasih pada firasatmu hari ini, Yana."
Warga suku mulai tersenyum dan mengangguk setuju. Beberapa prajurit menepuk pundak Aron, mengagumi kehebatan naluri putri sang Kepala Suku.
Luka yang berdiri di dekat sana menatap Yana dengan ekspresi campur aduk. Ada rasa takjub, namun juga rasa asing yang makin membesar. Yana yang ada di depannya hari ini terasa sangat berbeda dari Yana polos yang biasanya mengekor di belakangnya.
"Yana... kamu benar-benar hebat hari ini," gumam Luka, mencoba melangkah mendekat untuk mengelus kepala Yana seperti yang biasa ia lakukan.
Namun sebelum tangan Luka menyentuhnya, Yana bergeser selangkah ke samping, menghindari sentuhan pemuda itu secara terang-terangan.
"Aku harus melanjutkan pekerjaan membakar umbi bersama Bibi Nora. Permisi, Tetua, Ayah," pamit Yana dingin, lalu berbalik pergi meninggalkan kerumunan tanpa melirik Luka sedikit pun.
Luka membeku, tangannya menggantung di udara dengan rasa malu yang membakar pipinya.
Di tempatnya berdiri, Tetua Gordon terus memperhatikan langkah kaki Yana yang menjauh. Sang tetua mengelus janggut putihnya sambil berbisik sangat pelan pada dirinya sendiri.
"Perubahan pada jiwa gadis itu... terasa begitu cepat. Apakah Dewa Binatang telah mulai mengarahkan pandangannya pada suku kita?"
Dari kejauhan, Yana menyembunyikan telapak tangannya yang terluka di balik lipatan mantel kulit.
Ia tahu, kecurigaan Tetua Gordon adalah pertanda bahwa ia harus semakin berhati-hati dalam setiap tindakannya.
Menyelamatkan ayahnya hari ini adalah langkah awal yang berhasil, tetapi mengganti alur masa depan akan mendatangkan gelombang masalah baru yang tidak terduga.
Yana mendongak menatap langit sore yang mulai memerah.
"Aku telah berhasil menyelamatkan Ayah hari ini... tapi, apa harga yang harus kubayar untuk perubahan ini?" gumamnya lirih.
***
Bersambung ....