Kisah perjalanan Pendekar Naga dalam membasmi kejahatan yang di sebabkan oleh Pendekar Aliran Hitam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adih Supriadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 30
*SERANGAN MENDADAK*
Layang-Layang Raksasa
*Tengah laut. Angin kencang.*
Langit kelabu. Ombak tinggi.
Dari kejauhan muncul 3 kapal perang berjajar. Bendera tengkorak berkibar. Yang di tengah berwarna merah darah. Itu kapal utama musuh.
Tiba-tiba dari arah barat, 4 layang-layang besar meluncur di atas langit.
Kedatangan tak di sadari oleh para prajurit yang berada di atas kapal perang.
*20 menit kemudian.*
Mereka sudah tepat di atas 3 kapal perang. Berputar-putar. Mengawasi dari atas.
"Besar juga kapal nya Bang Oval.... Tapi prajurit nya sedikit.... Target yang mudah ini..." teriak Arden ke Oval.
"Iya, mereka tak menduga akan dapat serangan secara langsung." ucap Oval.
***
Di Atas Bukit.
Pendekar Naga Sakti berdiri memegang tongkat. Jubah putihnya berkibar.
Di depannya, *Pendekar Naga Hitam - Apis* duduk di batu. Kepalanya tertunduk. Raut wajahnya sedih.
Sudah lama Apis melamun di situ. Sejak kakak seperguruannya berangkat ke tengah laut tanpa dia.
Pendekar Naga Sakti menghela napas.
“Baiklah aku tak tega melihatmu...” katanya pelan.
“Silahkan kamu menyusul kakak seperguruanmu itu.”ucap Pendekar Naga Sakti yang akhirnya luluh dan mengijinkan Pendekar Naga Hitam untuk ikut bertarung.
Apis mendongak. Matanya langsung berbinar.
“Benar kah Guru?!” ucap Apis.
“Iya. Pergilah. Tapi hati-hati. Angin Laut sedang bergolak,” jawab Pendekar Naga Sakti.
*"SIAP GURU!!"*
Apis langsung meloncat senang. Langsung ambil pedangnya disandang.
Apis berlari ke lapangan. Di sana sudah siap *layangan raksasa berwarna hitam* dengan gambar naga melingkar.
“CEPAT! TARIK!” perintah Apis ke 2 prajurit.
Dua ekor *kuda hitam* dipasangkan ke tali layangan.
*"HIAAAT!!"*
Kuda berlari. Tali menegang. *WUSSSHHH!!!*
Layangan Naga Hitam terangkat tinggi ke langit.
Begitu sudah stabil di udara, tali dilepas.
Apis berdiri di atas rangka bambu layangan itu. Dengan 2 kemudi di tangan, dia mengemudikan dengan mahir.
“Guru! Aku berangkat!” teriak Apis dari atas.
Pendekar Naga Sakti mengangguk dari bawah.
Layangan hitam itu melesat. Menembus awan. Menuju tengah laut.
***
Gelap langit.
Di atas layangan paling depan, Jendral Garuda mengamati situasi. Di sampingnya Jendral Kerbau bertubuh besar bawa gada.
Di belakangnya Pendekar Naga Hijau dan Pendekar Naga Putih sama-sama pegang pedang pusaka.
Jendral Garuda menatap ke bawah.
“Lihat! Di Tiap perahu isi 10 prajurit saja berjaga.”
"Ada 3 kapal, kita bagi tugas."
Dia menunjuk ke kapal tengah yang merah.
“Kapal merah itu target utama. Pangeran Juling ada di sana.”
Jendral Garuda mengepalkan tangan.
“*Dengar!*”
“Pendekar Naga Hijau, Pendekar Naga Putih! Kalian berdua turun ke kapal merah. Tangkap Pangeran Juling hidup-hidup!”
“Siap!” jawab keduanya kompak.
“Jendral Kerbau! Kau hancurkan kapal sebelah kiri. Buat mereka panik!”
“Okeee! Siap Jendral!”
“*Aku yang urus kapal sebelah kanan. Jangan sampai ada yang lolos!”
Keempatnya saling pandang. Angguk.
Angin meraung.
*"SERANG!!"* teriak Jendral Garuda.
4 layang-layang raksasa langsung menukik ke bawah seperti elang menyambar mangsa.
*Wussshhh!!!*
- Pendekar Naga Hijau & Naga Putih terjun ke kapal merah, pedang menyala. Target: anjungan tempat Pangeran Juling.
- Jendral Garuda menukik ke kapal kanan,.
- Jendral Kerbau turun menghantam kapal kiri dengan gada raksasanya. Kayu kapal langsung pecah.
Di bawah, para prajurit teriak kaget.
“Musuh! Musuh dari atas!!”
“Siaga! Siaga!!”
Tapi terlambat.
Para Prajurit segera menyerang Naga Hijau dan Naga Putih.
Terjadi pertempuran sengit.
Satu prajurit masuk ke dalam untuk melapor ke Pangeran Juling.
Karena kalah kesaktian para prajurit berhasil di kalahkan oleh dua Pendekar Naga.
Pendekar Naga Hijau berdiri tegak. Jubah hijaunya berkibar. Pedang pusaka berpendar hijau.
Pangeran Juling segera keluar setelah mendapat laporan.
Pangeran Juling melihat Para pengawal sudah tergeletak.
Di depannya, Pangeran Juling. Tubuh kurus, mata juling, tapi aura jahatnya menusuk. Keris pusaka "Taring Ular".
“Beraninya kau naik ke kapalku, Pendekar!! ,” dengus Pangeran Juling.
“Menyerah. Kau sudah dikepung,” jawab Pendekar Naga Hijau dingin.
*"HYAAT!!"*
Pangeran Juling menyerang duluan. Kerisnya melesat 3 kali. Namun hanya mengenai angin, Pendekar Hijau dengan mudah menghindar.
Pendekar Naga Hijau menangkis. *TING! TING! TING!* Percikan api.
Pertarungan dimulai.
Mereka loncat ke tiang kapal, beradu di atas layar, lalu turun lagi menghantam geladak.
Kayu kapal pecah tiap kali kaki mereka menghantam.
Adren masih beradu senjata dengan 5 prajurit yang tersisa. Sambil mengawasi keadaan agar tidak ada yang membantu Pangeran Juling.
Di sisi lain geladak, 10 pengawal pribadi Pangeran Juling sudah mengepung. Pakai baju besi hitam, tombak di tangan.
Pendekar Naga Putih mencabut pedang
“Maju kalian!” teriak kepala pengawal.
*WUSHH!*
Pendekar Naga Putih berputar. Tebasan pertama menebas 3 tombak sekaligus. *BRAK!*
Jurus * Badai Naga"*. Embusan angin dingin membuat lantai licin. Para prajurit terpeleset satu-satu.
Tapi mereka bukan prajurit biasa. 2 orang dari belakang maju menyerang dengan pedang dan tombak.
Pendekar Naga Putih berguling, lalu membalikkan badan. *SRET!* Dua pengawal tumbang.
“Fokus! Jangan lengah!” teriaknya sambil terus menangkis.
Geladak jadi medan perang. Darah, kayu pecah, dan teriakan bercampur suara ombak.
Di tengah, Pendekar Naga Hijau mulai terdesak. Pangeran Juling sangat pintar bermain pedang.
Pangeran Juling dengan pedang nya dan Pendekar Naga Hijau sudah bersiap untuk mengeluarkan Jurus sakti.
Tiba-tiba dari atas.
"HIAAAAATTT.......!!!!"
BRAAAKKKKK..........!!!
Bahu Pangeran Juling di tendang oleh Apis.
Apis Turun dari Layangan sambil menendang dengan kecepatan tinggi.
Pangeran Juling ambruk terkapar.
Kaki Apis menginjak Pangeran Juling.
"Hahahah.... Segini saja kah... Bahkan untuk menghindar pun kau tak mampu!!" ucap Apis.
"Halo Bang Oval, halo juga Kak Adren..." ucap Apis menyapa.
"Hah... Apis.... Bikin saya kaget saja...." ucap Oval.
"Halo Bro... Selamat datang...." ucap Arden sambil tersenyum.
Pendekar Naga Putih sudah menumbangkan 7 pengawal. Tinggal 3 yang masih bertahan, gemetaran.
Dari atas langit terdengar teriakan
Jendral Garuda:
“Naga Hijau! Ikat dia! Jangan kasih lari!”
" Hmm gak bisa lari, untuk bangun pun sulit ini Pangeran Juling." ucap Pendekar Naga Hijau.
Di kapal sebelah kanan, mayat prajurit berserakan. Layar robek terbakar.
*Jendral Garuda* berdiri di atas tiang utama, pedang nya berlumur warna merah.
“Lapor! Kapal kanan sudah lumpuh! Tidak ada yang hidup!” teriaknya dari atas.
Di *kapal sebelah kiri*, lebih parah. Geladak hancur.
Jendral Kerbau mengangkat gada besar berlumuran merah, Dia menginjak pecahan tiang kapal.
“Selesai! Kapal kiri tenggelam 5 menit lagi!” teriak dengan suara kencang.
Kedua jendral langsung menoleh ke kapal tengah yang merah.
Dari sana masih terdengar benturan pedang antara Arden dan prajurit.
Apis dan Oval Pun membantu Arden untuk mengalahkan prajurit yang tersisa.
Jendral Kerbau dan Jendral Garuda pun sudah berhasil berpindah kapal dan bergabung dengan Pendekar Naga.
Di geladak kapal merah.
Pendekar Naga Hijau menginjak Pangeran Juling. Jubah emasnya robek, bibirnya pecah.
"Jangan mati dulu Pangeran, dirimu sangat berharga jika dalam kondisi hidup." ucap Oval.
Apis dan Arden berhasil mengalahkan prajurit yang tersisa.
Kini semua berkumpul dalam satu kapal.
Jendral Garuda dan Jenderal Kerbau mengikat Pangeran Juling di tiang kapal.
Tiba-tiba salah satu prajurit pengawal terakhir yang sekarat merangkak.
Dengan sisa tenaga dia cabut tabung bambu dari pinggang dan menyalakannya.
*SHUUUTTT... DUARR!!!*
*Kembang api merah* melesat tinggi ke langit. Meledak jadi bunga api berbentuk tengkorak.
Itu *kode darurat*. Tanda: _Pangeran dalam bahaya. Minta bantuan segera._
Pendekar Naga Putih menebas prajurit itu. “Sialan!”
Cruuushhh....
Prajurit tersebut pun gugur.
****
Di pantai markas utama.
*Jendral Tongji* sedang minum tuak. Wajahnya penuh bekas luka.
Begitu melihat kembang api tengkorak di langit, gelasnya langsung pecah di tangannya.
“ITU KODE PANGGILAN DARURAT!!” bentaknya.
Seluruh geladak langsung gaduh.
“Cepat! SIAPKAN 50 PRAJURIT TERBAIK!” perintah Jendral Tongji.
Dia sendiri melompat ke perahu kecil cepat. Ditarik 6 dayung.
“Ke kapal merah! Sekarang! Sebelum pangeran mati di tangan mereka!!”ucap Jendral Tongji yang tak menduga akan ada serangan.
Perahu itu melesat membelah ombak seperti anak panah. Bendera tengkorak berkibar di haluannya.