Semua orang bilang Dokter Sebastian Wijaya itu suci tanpa cela—dingin, jaga jarak, pewaris Amerta Medika yang tak pernah tersentuh perempuan mana pun.
Hanya Amaya yang tahu: pria itu bersih selama tiga puluh tahun, dan semua "kotornya" cuma untuk dia.
Amaya terlahir kembali sebagai tokoh utama sebuah novel siksaan—perempuan yang ditakdirkan dihancurkan pelan-pelan oleh kakak angkatnya, Selena, lalu mati mengenaskan. Kali ini, ia menolak jadi domba yang disembelih. Wajahnya manis seperti anak baik-baik; isinya, penata ulang permainan yang tak kenal ampun.
Masalahnya: tunangan hasil perjodohan keluarga adalah Nathan, si adik. Tapi yang membuatnya jatuh justru **kakak iparnya sendiri**—dokter bedah yang seharusnya tak boleh ia sentuh.
Di depan umum: "Koh Sebas." Di balik pintu: milik satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14
Sepatu yang Dipaksa Muat Pasti Menyakitkan Kaki
Kalau perlu, Jessica benar-benar akan mengatur tontonan besar.
Ia belum sempat melakukan apa pun ketika Selena memulai lebih dulu.
Di area duduk dekat panggung, Karina dikelilingi keluarga dan para istri rekan bisnis. Selena datang membawa kotak beludru hijau. Nathan berdiri di sampingnya, membantu membuka ruang ketika para tamu merapat.
"Selamat ulang tahun, Mama." Selena menyerahkan kotak itu dengan kedua tangan. "Semoga Mama selalu sehat."
Di dalamnya terbaring kalung giok imperial berwarna hijau bening. Pengait emasnya dibuat khusus oleh perajin Italia, sedangkan batu utamanya disebut berasal dari bahan lama berkualitas kaca.
Seorang tamu mengembuskan napas kagum. "Warnanya hidup sekali."
"Nilainya pasti lebih dari satu miliar," bisik yang lain.
Meihwa mengangguk puas. "Selena memang paling tahu selera mamanya."
Karina menerima kalung itu. "Terima kasih. Indah sekali."
Nathan ikut tersenyum. "Selena mencarinya berbulan-bulan."
Keduanya berdiri berdampingan dengan alami. Beberapa tamu lama saling bertukar tatapan.
"Sayang sekali perjodohannya malah jatuh ke nona kedua," ujar seseorang terlalu pelan untuk disebut terang-terangan, tetapi cukup keras untuk didengar.
"Yang terlihat cocok justru mereka."
Amaya berdiri beberapa langkah jauhnya. Ekspresinya tidak berubah.
Vanya Larasati datang menghampiri Selena. Selebgram itu mengenakan gaun perak dan senyum yang sudah terlatih untuk kamera.
Ia mengenal Selena sejak SMA. Saat itu Selena membangun citra sebagai kakak angkat yang sabar, sedangkan Vanya menjadi orang yang mengucapkan hinaan yang terlalu kasar untuk keluar dari mulut Selena sendiri. Setelah terkenal, pola mereka tidak berubah. Selena memberi arah, Vanya menyediakan suara, pengikut, dan kamera.
Malam ini dua staf konten Vanya menunggu di luar ballroom. Ia tidak merekam acara keluarga secara terbuka, tetapi setiap kalimatnya tetap disusun seolah potongannya bisa masuk ke sebuah video viral.
"Posisi itu memang rumit," katanya sambil memandang Amaya. "Punya nama belum tentu bisa memegang tempat. Tergantung kemampuan. Buah yang dipaksa dipetik nggak manis. Sepatu yang dipaksa muat juga pasti menyakitkan kaki."
Kalimatnya terdengar seperti nasihat umum. Semua orang tahu sasaran sebenarnya adalah perjodohan Amaya dan Nathan.
Sebastian menoleh kepada Amaya.
Tidak ada rasa malu atau sedih di wajah perempuan itu. Ia justru sedang menyesap minuman sambil mengamati batu giok, seolah menghitung berapa persen harga hadiah dipakai untuk membeli pujian.
Jessica meletakkan gelasnya. "Vanya, otakmu masih di bawah shower, ya?"
Vanya mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
"Dari SMA kerjamu nguntit di belakang Selena. Sampai sekarang masih jadi pengekor, cuma bajunya naik kelas jadi haute couture. Pantas cara berpikirmu belum kering."
Beberapa tamu menahan tawa. Seseorang gagal dan terbatuk di balik gelas.
"Aku cuma bicara fakta," Vanya membalas.
"Fakta perlu data. Kalau cuma iri yang dikasih metafora sepatu, itu caption murahan."
Wajah Vanya memerah.
Amaya menyentuh lengan Jessica. "Jess, jangan ganggu orang cari bahan konten."
"Tuh, aku malah bantu engagement."
Nathan menoleh karena suara tawa mereka. Pandangannya berhenti pada Amaya lebih lama dari yang seharusnya.
Gadis yang dulu selalu berdiri kaku di sudut kini terlihat ringan, terang, dan tidak terjangkau. Kemurungan yang biasa membayangi wajahnya menghilang. Gaun merah muda itu membuat matanya semakin hidup.
Untuk sesaat, Nathan lupa Selena berdiri di sampingnya.
Selena melihat arah pandangnya.
"Jess belum kasih hadiah, kan?" tanyanya cepat.
Jessica mengambil kotak kecil dari tas. Sebuah bros kupu-kupu bertabur berlian muncul saat Karina membukanya.
"Aku pesan dari desainer yang Mama suka," ujar Jessica. "Antreannya bikin ubanan."
Karina tertawa dan memeluknya. "Terima kasih, Jess. Cantik sekali."
Lalu perhatian beralih kepada Amaya dan kotak panjang di tangannya.
Meihwa menghela napas. "Hadiahmu mana? Jangan bilang belum siap."
"Sudah, Oma."
"Keluarkan saja," kata Selena. "Mama pasti menghargai apa pun."
Vanya menyentuh bibir gelas. "Asal bukan kejadian tas delapan tahun lalu."
Beberapa tamu lama langsung ingat. Pada pesta sekolah, Amaya pernah membawa tas bermerek yang ternyata barang palsu bekas. Ia ditertawakan di depan satu kelas dan tidak pernah lagi memberi hadiah di tempat ramai.
Tas itu dibeli Amaya dari akun penjual yang direkomendasikan Selena. Saat barang datang tanpa dust bag dan nomor serinya tampak aneh, Selena meyakinkannya bahwa koleksi lama memang berbeda. Amaya yang baru kembali dari daerah pegunungan tidak memahami pasar barang mewah dan mempercayai satu-satunya kakak di rumahnya.
Keesokan hari, Vanya meminta seorang teman memeriksa tas itu di depan banyak murid. Lapisan dalam dibuka, jahitan difoto, lalu kata `palsu` menyebar sebelum jam pelajaran kedua. Amaya pulang sambil memeluk tas tersebut dan tidak pernah menceritakan siapa yang memberinya akun penjual.
Semua orang hanya mengingat kebodohannya.
"Kalau memang nggak pantas," Meihwa berkata, "nggak usah dikeluarkan. Jangan merusak suasana."
Kotak di tangan Amaya terasa semakin berat. Bukan karena malu, melainkan karena ia bisa merasakan ketakutan lama pemilik tubuh ini hidup kembali di ujung jari.
Jessica bergerak hendak membalas, tetapi Amaya menggeleng tipis. Serangan kali ini tidak perlu dihentikan. Semakin tinggi Selena, Vanya, dan Meihwa mengangkat harga sebagai ukuran kasih sayang, semakin keras mereka akan jatuh ketika isi kotak dibuka.
Ia hanya tidak menyangka Sebastian akan melangkah lebih dulu.
Sebastian melangkah mendekat.
"Nilai hadiah tidak ditentukan label harga," katanya.
Meihwa menatapnya. "Anak muda mudah bilang begitu karena tidak melihat cara dunia menilai keluarga."
"Di meja operasi, giok imperial seharga miliaran kalah berguna dari satu suntikan adrenalin." Suara Sebastian tetap tenang. "Harga bergantung pada kebutuhan orang yang menerima, bukan keinginan penonton untuk menghitung."
"Ini pesta, bukan ruang operasi."
"Benar. Karena itu yang seharusnya ditanya adalah apakah Tante Karina menyukainya." Tatapannya bergerak dari Meihwa kepada Karina. "Kalau Oma hanya melihat harga, anggap saya tidak bicara."
Nathan berdiri beberapa langkah di belakangnya. Ia seharusnya menjadi orang yang membela calon istrinya. Namun Sebastian sudah mengambil posisi itu sebelum pikiran Nathan selesai memutuskan ke mana harus berpihak.
Amaya menatap sisi wajah pria di sampingnya. Seminggu lalu Sebastian mengancam mengeluarkannya dari proyek. Malam ini ia menantang kepala keluarga Halim demi sebuah hadiah yang bahkan belum dilihat.
Dokter itu ternyata lebih mudah dibaca lewat tindakannya daripada kata-katanya.
Wajah Meihwa mengeras. Tidak banyak orang berani memotong penilaiannya di depan para tamu.
Sebastian berhenti di samping Amaya. Pandangannya turun ke kotak panjang yang sejak tadi dipeluk perempuan itu.
Suaranya melunak sedikit.
Seolah di tengah seluruh penonton itu, keputusan terakhir tetap hanya berada di tangan Amaya.
Ia tidak menyelamatkan Amaya. Ia memberinya ruang untuk menyerang balik sendiri.
"Hadiahmu, keluarkan saja."