"Kadang yang paling kita cari, selalu ada di dekat kita, tapi tetap terasa begitu jauh."
Nayla Lauren Alveric dan Zavier Kael Mahendra berada dalam satu ruang lingkup yang sama, berjalan berdampingan, dan saling menatap mata satu sama lain setiap hari. Namun secara emosional, jarak tak kasat mata membentang begitu lebar di antara mereka.
Meskipun raganya dekat di mata, perasaan ragu, konflik masa lalu, dan rahasia yang tersembunyi membuat hati mereka terasa jauh di hati. Di tengah liku-liku takdir dan pergolakan rasa, dapatkah cinta mereka menemukan jalannya untuk menyatukan dua hati yang saling bertolak belakang ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BENIH BARU DI TANAH MERDEKA
Pagi di studio kecil daerah Jakarta Selatan terasa begitu berbeda. Tidak ada deretan sedan hitam yang berjajar di pelataran, tidak ada pengawal bertubuh tegap yang mencatat tiap pergerakan, dan tidak ada atmosfer tegang yang menekan dada. Bangunan dua lantai bersinding bata ekspos itu dikelilingi pepohonan rimbun, membiaskan pendar cahaya pagi yang hangat menerobos masuk melalui jendela-jendela kaca besar.
Nayla berdiri di depan kanvas putih polos yang tersangga di tengah ruangan. Di tangannya, sebuah palet kayu berisi adonan cat minyak berbagai warna tergenggam santai. Aromanya perpaduan khas minyak cat dan kayu segar menjadi aroma kebebasan yang selama ini hanya bisa ia impikan dari balik jendela Istana Alveric.
Di sudut ruangan lain, Zavier duduk di balik meja kayu sederhana, sibuk dengan laptop pribadinya. Meski kini berstatus independen dan melepas gelar anak emas Mahendra Group, aura kepemimpinannya sama sekali tak luntur. Ia tetap bekerja dengan fokus tinggi, mengelola portofolio Vanguard Capital yang kini kian diperhitungkan oleh para pelaku pasar modal.
Nayla menoleh pelan, memandangi sosok Zavier yang tengah serius mengamati grafik di layar. "Zav," panggil Nayla halus, menghentikan goresan kuas pertamanya.
Zavier mengalihkan pandangannya dari layar, menatap Nayla dengan binar mata kelam yang hangat. "Ya, Nay?"
"Tadi pagi Vanya kirim pesan lewat ponsel baru," ujar Nayla seraya mendekati meja Zavier. "Katanya di sekolah, suasana benar-benar gempar. Om Gatan dan Gadrian sibuk mengklarifikasi rumor soal pembekuan aset Barito di pasar Singapura, sementara Ayah... Ayah menutup rapat seluruh akses informasi Alveric Group."
Zavier menyunggingkan senyum tipis, sebuah senyuman dingin yang terukur secara cerdas. Ia menyandarkan punggungnya di kursi kayu, menatap gadis di hadapannya.
"Mereka sedang berusaha menyelamatkan muka di depan publik, Nayla," tutur Zavier dengan suara bass-nya yang tenang. "Saat dua klan besar yang biasa memegang kendali mendadak kehilangan cengkeramannya atas anak-anak mereka sendiri, pilihan mereka cuma dua: pura-pura tidak terjadi apa-apa, atau makin panik memperketat benteng yang sebenarnya sudah retak."
Nayla mendudukkan dirinya di tepi meja, memandangi jemari Zavier yang terpaut santai. "Apa Bang Raka atau Bang Ethan mencoba menghubungi Vanguard lagi?"
"Raka mencoba menelepon tiga kali tadi subuh," jawab Zavier datar. "Dia mulai paham kalau tanpa porsi saham independen yang kubeli, dia tidak akan bisa mengeksekusi proyek konsorsium sendirian. Tapi aku sengaja tidak mengangkatnya. Biarkan Papi dan Raka merasakan sendiri bagaimana rasanya berjalan tanpa arah."
Nayla tertawa pelan, sebuah tawa renyah tanpa rasa takut yang membuat Zavier terpaku sejenak menikmatinya. Sudah sangat lama Zavier tidak mendengar tawa lepas dari gadis yang selama ini terkurung dalam ekspektasi klan Alveric tersebut.
"Kenapa menatapku seperti itu, Zav?" tanya Nayla dengan pipi yang sedikit memerah.
Zavier mengulurkan tangannya, mengusap lembut jemari Nayla yang ternoda sedikit warna cat biru. "Aku cuma senang melihatmu tersenyum seperti ini. Tanpa harus berakting jadi putri sempurna Alveric di meja makan."
Nayla memandangi bintik cat di jarinya, lalu menatap lurus ke dalam manik mata Zavier. "Semua ini berkat kamu, Zav. Kalau malam itu kamu tidak nekat memanjat balkon kamarku, atau kalau kamu tidak berdiri di ruang rapat kemarin... aku mungkin sudah menyerah dan menandatangani surat penyerahan aset itu."
"Kamu tidak pernah menyerah, Nay," pangkas Zavier tegas namun penuh kelembutan. "Aku cuma membantumu membongkar kunci pintu. Yang melangkah keluar dan merobek dokumen itu adalah dirimu sendiri."
Zavier berdiri dari kursinya, melangkah mendekati kanvas putih Nayla yang baru tergores satu garis biru muda di tengahnya. Ia berdiri di samping Nayla, memandangi permukaan kanvas yang bersih itu.
"Apa yang mau kamu lukis pertama kali di sini?" tanya Zavier pelan.
Nayla meraih kuasnya kembali, menyapukan warna keemasan di atas garis biru tersebut. "Aku mau melukis Fajar di atas bukit utara. Momen saat kita duduk di kedai kopi kemarin... saat aku sadar kalau dunia ternyata seluas ini jika dilihat tanpa benteng klan."
Zavier menyunggingkan senyum tulusnya, berdiri tepat di belakang Nayla seraya memperhatikan tiap goresan jemari gadis itu.
"Lukislah sesukamu, Nayla," bisik Zavier tepat di samping telinganya, menyalurkan rasa aman yang mutlak. "Tembok Alveric dan Mahendra mungkin masih berdiri di luar sana, tapi di dalam studio ini... dan di sepanjang jalan yang kita pilih nanti, tidak ada satu pun orang yang bisa mendikte warnamu lagi."
Nayla mengangguk mantap. Dengan kuas di tangan dan Zavier yang selalu setia menjaga langkahnya dari balik kegelapan hingga terbit fajar, benih kehidupan baru itu kini telah tertanam kuat di atas tanah merdeka yang mereka rebut bersama.
Cahaya sore yang hangat membiaskan warna keemasan melintasi jendela studio, memantul di atas kanvas Nayla yang kini telah dipenuhi sapuan warna langit pegunungan. Aroma cat minyak yang khas menyatu udara tenang di dalam ruangan, menciptakan atmosfer kedamaian yang sebelumnya terasa begitu mustahil untuk digapai.
Suara denting halus dari cangkir keramik yang diletakkan di atas meja kecil membuat Nayla menghentikan goresan kuasnya. Ia menoleh dan mendapati Zavier berdiri di sampingnya, membawakan secangkir teh chamomile hangat yang uap tipisnya membubung pelan.
"Istirahat sebentar, Nay," ujar Zavier lembut, menatap jari-jemari Nayla yang kini ternoda beberapa titik cat berwarna kuning jingga. "Kamu sudah berdiri melukis hampir tiga jam tanpa henti."
Nayla meletakkan palet kayu dan kuasnya di atas meja tumpuan, lalu menerima cangkir teh tersebut dengan senyuman tipis yang merekah tulus di bibirnya. Ia menyesap teh hangat itu perlahan, merasakan rasa tenang menyelimuti dadanya.
"Aku cuma... terlalu bahagia, Zav," bisik Nayla seraya memandangi hasil lukisannya. "Selama ini di rumah Ayah, melukis selalu dianggap sebagai buang-buang waktu yang tidak punya nilai komersial. Tapi di sini, tiap kali kuas ini menyentuh kanvas, aku merasa benar-benar bernapas."
Zavier melangkah mendekat, berdiri tepat di sebelah Nayla dengan kedua tangan dimasukkan santai ke dalam saku celananya. Matanya menyapu detail lukisan fajar di atas bukit utara yang dibuat Nayla dengan sangat emosional.
"Sesuatu yang lahir dari ketulusan dan kebebasan akan selalu punya nilai yang jauh lebih tinggi daripada angka-angka saham yang dikejar Papi atau Om Alexander, Nay," sahut Zavier dengan suara bass-nya yang dalam dan menenangkan.
"Tapi Zav..." Nayla memutar tubuhnya, menatap wajah tegas pria di sampingnya itu. "Bagaimana denganmu sendiri? Kamu mendedikasikan seluruh waktumu untuk memegang Vanguard Capital dan melindungiku dari tekanan dua klan. Apa kamu tidak merindukan mimpimu sendiri?"
Zavier berpaling menatap lurus ke dalam manik mata jernih Nayla. Tatapannya begitu teduh, menghapus seluruh kesan dingin dan kaku yang biasa ia tunjukkan di hadapan publik korporat.
"Mimpiku dari dulu sederhana, Nayla," balasan Zavier mengalun amat pelan namun sarat akan penekanan yang tegas. "Aku cuma ingin membangun tempat di mana kita tidak perlu takut pada bayang-bayang orang tua kita. Memastikan kamu bisa tersenyum dan melukis dengan tenang seperti hari ini... itu adalah bagian terbanyak dari mimpiku yang sudah terwujud."
Mendengar pengakuan yang begitu jujur dan mendalam itu, pipi Nayla mendadak bersemu merah hangat. Ia menyenderkan kepalanya pelan di lengan tegap Zavier, menyerap kehangatan dan rasa aman yang tak pernah gagal disalurkan oleh pria Mahendra tersebut.
Zavier merapatkan posisinya, membiarkan Nayla bersandar padanya seraya mereka berdua bersama-sama menatap keluar jendela studio, menyaksikan matahari sore yang perlahan tenggelam, menyisakan langit malam yang luas tanpa batas di atas tanah bebas yang kini sepenuhnya menjadi milik mereka.
kekny zavier ini tipe aku 🤭