NovelToon NovelToon
Jangan Jatuh Cinta Pada Ku

Jangan Jatuh Cinta Pada Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Enhypen
Popularitas:184
Nilai: 5
Nama Author: rerevana

....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lo gak sendirian

Jayden masih berdiri di depan Cheyrin. Koridor yang tadi ramai kini hanya menyisakan mereka berdua.

"Yang di kafe kemarin..." Jay membuka suara, nadanya berhati-hati. "Lo kenapa nggak cerita ke gue, Chey?"

Cheyrin tidak langsung menjawab. Ia menatap lantai, lalu mengangkat bahunya ringan. "Udah selesai."

Dahi Jayden mengerut. Kata "udah selesai" itu terlalu cepat. Terlalu ringan untuk sesuatu yang membuat bahu Cheyrin bergetar semalam.

Jayden melangkah maju setengah langkah. Matanya menelusuri lengan Cheyrin, pergelangan tangan, sampai ujung jarinya. Gerakannya cepat tapi hati-hati, seperti memastikan sesuatu. Ia takut menemukan memar atau luka.

"Tangan lo sakit nggak?" tanya Jayden sambil nyaris menyentuh pergelangan Cheyrin, tapi urung. "Atau bahu lo? Mereka nyentuh bagian mana aja?"

Cheyrin mundur selangkah kecil, menjauh dari jangkauan Jayden. Tatapannya tetap datar. "Nggak. Nggak ada yang luka."

"Nggak luka di luar," balas Jay, suaranya mulai serak. "Di dalem gimana, Chey?"

Cheyrin mengangkat wajahnya menatap Jayden. Senyum tipis, tapi hambar, muncul di bibirnya. "Udah gue lupain, Jay. Nggak usah dibahas lagi."

Kalimat itu diucapkan seolah kejadian empat cowok kemarin cuma mimpi buruk yang hilang begitu bangun tidur. Datar. Tanpa emosi. Seperti Cheyrin memang sudah mengarsipkan semuanya ke laci paling belakang.

Jayden mengepalkan tangannya. Marah? Iya. Tapi lebih ke frustasi. Frustasi karena Cheyrin selalu begini. Menelan semuanya sendiri, lalu bilang "nggak apa-apa" dengan wajah paling tenang di dunia.

"Lo nggak bisa terus-terusan kayak gitu," kata Jayden pelan. "Nggak semua hal bisa lo pendam sendiri, Chey"

Cheyrin hanya mengangguk kecil. "Gue mau masuk. Ada kelas bentar lagi."

Ia melangkah melewati Jayden tanpa menunggu jawaban.

Pukul 16.30.

Area parkir mulai dipadati mahasiswa yang hendak pulang. Suara mesin kendaraan terdengar bersahutan.

Jay telah menunggu sejak lima belas menit sebelum waktu pulang. Helm hitam dof dipegangnya erat, sementara punggungnya bersandar pada motor Ninja miliknya seperti yang biasa ia lakukan setiap sore. Namun hari itu raut wajah Jayden tampak berbeda. Tatapannya lebih waspada, memperhatikan setiap mahasiswa yang melintas di sekitarnya.

Begitu melihat Cheyrin keluar dari gedung, Jayden segera berdiri dan menghampirinya. Ia berhenti pada jarak yang cukup aman, satu meter di depan Cheyrin. Sikap protektifnya terlihat jelas dari cara Jayden memindai lingkungan sekitar dengan cepat.

"Tasnya," ujar Jayden sambil mengulurkan tangan. Nadanya datar, tanpa nada gurauan seperti biasanya.

Cheyrin terdiam sejenak sebelum akhirnya menyerahkan tas selempangnya. Jayden menggantungkan tas tersebut di stang motor, lalu menyalakan mesin. Setiap gerakannya dilakukan dengan lebih hati-hati dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Sepanjang perjalanan, keduanya sama-sama diam. Hanya suara mesin motor dan desiran angin sore yang mengisi keheningan. Jayden beberapa kali melirik kaca spion untuk memastikan tidak ada yang mengikuti mereka dari belakang.

Saat berhenti di lampu merah, Jayden menoleh ke arah Cheyrin yang duduk di belakangnya.

"Chey," panggil Jayden. Suaranya terdengar pelan, hampir tertutup suara knalpot.

Cheyrin tidak menjawab. Ia hanya menatap punggung jaket Jayden dengan pandangan kosong.

"Kalau ada apa-apa itu cerita," lanjut Jayden, matanya tetap fokus ke depan. "Jangan dipendam sendiri. Karena lo nggak sendiri."

Kata-kata itu diucapkannya perlahan, namun memiliki beban yang dalam. Bukan perintah, bukan pula paksaan. Lebih menyerupai sebuah janji yang tulus.

Cheyrin tetap bungkam. Ia tidak menjawab, tidak pula mengangguk. Dari luar, ekspresinya masih datar seperti biasa. Dingin dan sulit ditebak.

Namun tanpa sepengetahuan Jayden, sudut bibir Cheyrin terangkat sedikit. Senyum tipis yang tidak sampai ke matanya, tersembunyi di balik helm dan desir angin.

Lampu berganti hijau. Jayden memutar gas perlahan. Ia tidak menyadari bahwa kalimatnya barusan telah membuat retakan kecil pada dinding es di hati Cheyrin.

--

Motor Ninja berhenti tepat di depan gerbang kos Cheyrin. Lampu teras kos menyala temaram. Udara malam terasa lebih dingin dari biasanya.

Jay mematikan mesin. Ia turun lebih dulu, lalu berjalan ke sisi Cheyrin. Tidak tergesa. Gerakannya tenang.

Cheyrin melepas sabuk helmnya sendiri, tapi tangannya berhenti di tengah jalan. Jay sudah lebih dulu mengulurkan tangan.

"Biar gue," kata Jay pelan.

Tanpa menunggu jawaban, Jayden dengan hati-hati melepaskan helm dari kepala Cheyrin. Jarinya sengaja tidak menyentuh rambut Cheyrin. Ia hanya memegang bagian pinggir helm, lalu mengangkatnya perlahan. Begitu helm terlepas, Jayden langsung mengibaskan rambut Cheyrin yang sedikit kusut karena tertindih helm.

Rambut hitam Cheyrin jatuh rapi ke bahu. Angin bertiup pelan, menerbangkan anak rambut Cheyrin. Jayden menatapnya sekilas, lalu segera memalingkan wajah. Telinganya memerah, tapi ia berusaha menutupinya dengan batuk kecil. "Ehhem"

"Udah sampe," ucap Jayden. Ia menyandarkan helm Cheyrin di stang motor, lalu menyerahkan tas selempang Cheyrin yang tadi digantung di situ.

Cheyrin menerima tas itu. Ia tidak berkata apa-apa, hanya menunduk.

Jayden merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebotol air mineral dingin. "Nih. Buat netralin tenggorokan lo habis kena angin." Botol itu disodorkan ke Cheyrin bersama tisu.

Cheyrin menerima airnya. Kali ini ia melirik Jayden sebentar. "Makasih."

Jayden tersenyum kecil, tapi tidak berlebihan. Hanya lengkungan tipis di bibirnya. "Istirahat ya, Chey. Pintu kos dikunci rapat. Kalau ada yang aneh, chat gue. Gue pasti langsung ke sini."

Ia tidak menuntut Cheyrin masuk dulu. Tidak juga bertanya macem-macem. Hanya berdiri di tempatnya sampai Cheyrin benar-benar membuka gerbang itu.

"Met istirahat, putri es," bisik Jayden sebelum akhirnya membalikkan badan dan menaiki motornya lagi.

Sopan. Manis. Tapi tahu batas.

Pukul 21.40.

Kamar kos Cheyrin sudah gelap. Hanya lampu meja belajar yang menyala temaram. Suara jangkrik dari luar jendela sesekali terdengar, mengisi keheningan.

Cheyrin baru selesai merapikan buku untuk tugas besok. Ia merebahkan tubuh di kasur tanpa melepas cardigan. Lelah hari ini terasa lebih berat dari biasanya. Bukan karena kerja rangkap di kafe. Tapi karena kalimat Jayden di lampu merah tadi sore masih berputar di kepalanya.

“Karena lo nggak sendiri.”

Cheyrin memejamkan mata, mencoba mengusir kalimat itu dari pikirannya. Ia sudah terbiasa sendiri. Sejak lama.

Tok. Tok. Tok.

Suara ketukan pelan terdengar dari pintu kos. Tiga kali, teratur, tidak terburu-buru.

Cheyrin langsung duduk. Jam segini, siapa? Ia melirik ponsel di meja. Tidak ada chat masuk. Jayden tidak mengatakan dia akan datang. Sudah selarut ini, dan Jayden tidak mungkin ngetuk pintu. Dia tau batas.

Cheyrin berdiri, merapikan cardigannya. Ia mengintip dari lubang pintu. Napasnya tercekat.

Di luar berdiri seorang wanita paruh baya. Rambutnya disanggul rapi, mengenakan blus sutra warna krem dan celana bahan hitam. Wajahnya mirip Cheyrin. Hanya matanya yang lebih lelah, lebih banyak menyimpan luka.

Mama.

Tangan Cheyrin gemetar saat membuka kunci pintu. Tapi ekspresinya tetap datar saat pintu terbuka.

"Ma," panggil Cheyrin pelan. Suaranya tidak kaget. Hanya... bingung. "Dari mana Mama tau alamat ini?"

Wanita itu langsung memeluk Cheyrin begitu pintu terbuka. Wangi parfum mahal yang sama seperti dulu langsung memenuhi indra Cheyrin. Pelukan itu hangat, tapi sesak.

"Kamu ga perlu nanyak itu chey," bisik mamanya di bahu Cheyrin. "Papa nyari kamu kemana-mana. Rumah sepi tanpa kamu. Pulang, Nak. Mama janji nggak akan berantem lagi sama Papa."

Cheyrin diam. Ia tidak membalas pelukan itu. Tangannya tergantung di sisi tubuh. Butuh beberapa detik sebelum ia akhirnya melangkah mundur, melepaskan diri dari pelukan mamanya.

Ia bersedekap, menyandarkan punggung ke kusen pintu. Sikapnya tetap sopan, tapi ada garis tegas di sana.

"Aku nggak mau, Ma," jawab Cheyrin. Nadanya datar. Tidak marah. Tidak sedih. Hanya pasti.

Mama Cheyrin mengerutkan dahi. "Jangan kekanak-kanakan. Kamu anak satu-satunya. Kamar kamu di rumah masih sama seperti dulu. Mama suruh ART bersihin tiap hari."

"Bukan soal kamar," potong Cheyrin pelan. Ia menatap mata mamanya. "Aku capek, Ma. Capek tiap hari harus denger barang pecah. Teriakan. Bentakan. Aku capek harus denger itu semua."

"Terus kamu mau hidup kayak gini? Ngekos, kerja jadi pelayan kafe?" Mamanya menatap ruangan kecil Cheyrin dengan pandangan meremehkan, lalu kembali ke wajah Cheyrin. "Kamu nggak pantas di sini, chey. Kamu anak Mahendra."

Cheyrin menarik napas. Ia menunduk sebentar, lalu mengangkat wajahnya lagi.

"Justru karena aku anak Mahendra, aku harus di sini," kata Cheyrin. "Biar aku tau rasanya jadi orang biasa. Biar aku nggak lupa dengan ketenangan."

Mamanya terdiam. Matanya berkaca-kaca, tapi Cheyrin tidak bergeming. Ia sudah terlalu sering melihat air mata itu. Dulu, tiap kali orang tuanya bertengkar.

"Aku nggak mau pulang, Ma," ucap Cheyrin lagi, lebih pelan tapi lebih tegas. "Tolong hargain keputusan aku."

Keheningan menggantung di antara mereka. Dari kejauhan terdengar suara motor melintas. Mungkin Jay, mungkin bukan.

Mama Cheyrin akhirnya mengangguk pelan. Ia merapikan kerah blusnya, menahan air mata. "Kamu... Memang mirip Papa kalau udah keras kepala."

Ia merogoh tas tangannya, mengeluarkan sebuah kartu nama dan meletakkannya di meja kecil dekat pintu. "Ini nomor Mama yang baru. Kalau kamu butuh apa-apa... atau kangen rumah, telpon ya."

Cheyrin tidak menyentuh kartu itu. Ia hanya mengangguk kecil.

Mamanya menatap Cheyrin sekali lagi, lama, seolah ingin memasukkan wajah putrinya ke ingatan. Lalu ia berbalik dan berjalan menuruni tangga kos tanpa menoleh lagi. Langkahnya pelan, punggungnya sedikit membungkuk.

Cheyrin menutup pintu perlahan. Ia mengunci dua kali. Lalu ia bersandar pada pintu, menutup mata.

Di luar, ia anak pengusaha besar yang kabur dari rumah. 

Di dalam kamar ini, ia hanya Cheyrin. Sendiri, tapi bebas. 

Dan untuk malam ini, ia memilih tetap bebas

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!