AL harus pergi dari rumahnya karena di usir oleh orangtuanya, mereka lebih menyayangi adiknya ketimbang dirinya.
Meskipun begitu, ia tatap bangkit untuk bertahan hidup. Takdir berkata lain, ia mendapatkan sebuah sistem yang mengubah hidupnya dan membuat orang tuanya menyesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
"Gila! Aku dapat rumah baru? Yang bener?!" Al setengah berteriak.
Matanya melotot tajam, menatap lurus ke sebuah layar hologram transparan yang mengambang tepat di depan wajahnya, layar sistem yang hanya bisa dilihat olehnya.
Di sana ada sebuah gambar 1 unit Rumah Hunian yang sangat mewah, bahkan lebih mewah dari rumah ibu angkatnya.
"Kamu kenapa, Al? Tiba-tiba histeris begitu," tanya Saka yang duduk di sampingnya itu.
Ia menghentikan kunyahan mienya, menatap Al dengan dahi berkerut heran.
Saka menoleh ke kiri dan ke kanan, bingung melihat sahabatnya melototi udara kosong.
Al tersentak. Ia segera mengerjapkan mata, membuat layar sistem itu menghilang seketika.
"Ah, bukan apa-apa! Aku... aku hanya baru ingat kalau kita punya PR matematika yang harus dikumpul jam pertama besok," kilah Al cepat, mencoba tertawa renyah meski terdengar sedikit kaku.
Saka mendengus, kembali menyumpit mienya. "Halah, kirain apaan. Bikin jantungan saja kamu ini."
Al tersenyum puas dalam hati. "Sebuah rumah baru? Jadi sekarang aku tidak perlu ngontrak lagi, dan aku juga mendapatka uang," pikirnya tak percaya.
Dengan uang sebanyak ini, ia bisa bayar SPP di sekolahnya dan tidak perlu nunggak lagi.
Lebih hebatnya lagi, sistem memberinya rumah hunian langsung.
Setelah menghabiskan sisa sarapannya dengan cepat, Al merogoh ponselnya, membayar makanan mereka ke ibu kantin melalui pindah code. Ia kemudian berdiri dan menepuk bahu Saka.
"Ayo, Ka. Sesuai janji tadi, temani aku ke ruang TU sekarang. Sebelum bel masuk bunyi," ajak Al, memberikan gestur kepala ke arah koridor.
Saka bangkit berdiri, mengikuti langkah Amirul.
"Uangmu beneran ada, Al? Jangan bilang kamu mau bayar pakai poin undian berhadiah motor yang kamu ikuti kemarin di internet?" canda Saka saat mereka berjalan keluar dari kantin yang mulai lengang.
Al terkekeh, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana abu-abunya dengan gaya sangat santai. "Uang tunai dong, asli tanpa rekayasa. Tenang saja, hari ini semua urusan administrasi kita berdua beres."
"Gaya bener bos satu ini," sahut Saka sambil tertawa, menganggap ucapan sahabatnya hanya sekadar bualan.
Mereka berdua berjalan menyusuri koridor lantai satu gedung utama.
Di sepanjang jalan, beberapa siswa tampak berlarian mengejar waktu sebelum bel masuk berbunyi.
Langkah Al mendadak terhenti tepat beberapa jengkal di depan pintu ruang Tata Usaha.
Melalui celah pintu yang sedikit terbuka, ia mendengar percakapan tersebut.
Itu adalah suara Ibu Widya, kepala bagian keuangan TU dan ibunya Jenny.
"Maaf ya, Bu. Ini sudah prosedur tetap dari yayasan sekolah. Jenny itu sudah menunggak SPP selama empat bulan berturut-turut. Hari ini adalah batas akhir dispensasi yang bisa kami berikan. Kalau tidak dilunasi sekarang juga oleh orang tua atau wali resminya, dengan berat hati namanya akan dicoret dari daftar siswa aktif per semester depan," kata Ibu Widya, suaranya terdengar tegas.
"Tolonglah, Bu Widya... saya memohon dengan sangat. Beri kami waktu satu minggu lagi saja," sebuah suara wanita paruh baya terdengar bergetar karena keputusasaan.
"Saya... saya benar-benar belum punya uangnya sekarang. Barang-barang rongsokan yang saya cari seminggu ini belum dibeli oleh pengepul besar. Tolong jangan keluarkan anak saya..." katanya memohon.
...⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️...